+62 821-1040-9641 [email protected]
Aku, Mimpi, dan
Tuhan

Kadang aku berpikir, Tuhan ternyata begitu telaten memprogram hidup setiap ciptaanNya. Semuanya
terencana dengan begitu manis, begitu indah. Seperti adanya siang yang
bergandengan dengan malam, atau bumi yang dinaungin langit. Sama halnya dengan
hidup manusia yang tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya
esok hari. Pun demikian denganku. Aku paling tidak bisa menjawab ketika ada
bertanya mengapa aku begitu santai menjalani hidup ini. Aku sendiri tidak
terlalu mengerti apa definisi santai yang mereka maksudkan. Yang jelas, bagiku
kini hidup adalah sebuah skenario Tuhan dan kita sebagai manusia sudah mendapat
jatah peran masing-masing. Tinggal bagaimana kita menjalankan peran itu
sebaik-baiknya.
Baiklah, aku ingin
menceritakan sedikit kisah hidupku yang ‘santai’ itu pada kalian. Bila pada
kisahku ini tumbuh tunas-tunas hikmah yang bisa kalian panen, tentu dengan
senang hati aku persilakan kalian untuk memetiknya. Kalaupun tidak, yah, anggap
saja aku tengah bercerita pada kalian, atau hanya sebatas dongeng pengantar
tidur, barangkali tidur kalian bisa lebih nyenyak dari biasanya.
Hmm, Kawan. Dengan melihat
diriku yang sekarang, aku suka tersenyum cukup lama ketika membandingkannya
dengan aku yang tiga atau bahkan sepuluh tahun yang lalu. Yah, semuanya berawal
dari ketidaksengajaan. Maksudku begini; sebagian dari kalian mungkin pernah
membaca cerpenku di majalah, koran, atau mungkin di internet. Oh, mungkin aku
terlalu pede dengan pernyataan ini. Kalian pasti mengira aku over convidence. Aku ingin meluruskan dulu, kalau cerpen-cerpenku memang tidak
begitu banyak, apalagi aku bukanlah seorang cerpenis papan atas yang wara-wari
di media nasional. Aku baru memulai kecintaanku pada menulis semenjak tragedi
‘tidak sengaja’ itu menimpaku di pertengahan 2010 lalu.
Bukan! Tepatnya bukan 2010.
Sebenarnya tanda-tanda itu sudah terbaca beberapa tahun sebelumnya, ketika ibu
membuatku seorang yang haus akan bacaan. Kebetulan aku terlahir sebagai anak
laki-laki yang handal menyulam mimpi. Yah, aku sendiri tahu tahu mengapa itu
bisa terjadi. Barangkali karena keadaan yang menuntut seperti itu, atau bahkan
sudah takdir tang ditetapkan Tuhan memang begitu? Entahlah….
Aku lahir dari rahim
seorang ibu juara satu yang pernah ada. Ibu yang tak seorang pun aku biarkan
untuk menyakitinya. Siapapun! Begitu fanatiknya cintaku pada ibu. Bagaimana
tidak, dia satu-satunya wanita yang mampu membuat aku jatuh cinta. Ibu yang
membuat aku tergila-gila dengan kata-kata. Ibu yang rela tidak jadi membeli
ikan asalkan bisa membawakan majalah bekas untukku. Cintaku pada ibu melebihi
cinta Romeo pada Juliet. Ah, aku rasa itu bukan bandingannya. Anak mana yang
tidak cinta pada ibunya bukan? Jangankan manusia, seekor anak ayam pun akan
menciap-ciap sepanjang pagi ke petang ketika terpisah dari induknya. Tapi cintaku pada ibu melebihi itu
semua. Apalagi semenjak dinasti keluargaku runtuh di akhir tahun 2005 silam,
kecintaanku pada ibu makin menjadi-jadi.
Tepat beberapa hari
menjelang ulang tahunku yang ke tujuh belas, ayah dan ibu bercerai! Kado
(sweet) seventeen yang begitu manis. Hingga detik ini pun aku tidak pernah tahu
apa alasan perceraian ayah dan ibu yang menyisakan luka mendalam di hatiku kala
itu. Luka itu semakin menganga ketika aku menyadari kalau kini keluargaku tidak
utuh lagi. Ibu menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, sementara ada
empat mulut kelaparan yang harus diberi makan oleh ibu. Aku berada dalam
lingkaran galau yang amat sangat. Masih segar betul di benakku, pernah di suatu
hari aku membantu ibu menggali kunyit di belakang rumah peninggalan ayah.
Kunyit-kunyit itu untuk dititipkan di warung-warung. Tapi hingga malam
menjelang, dagangan kami tidak satu pun ada yang laku. Ngilu! Betapa ngilunya
hatiku melihat ibu bermuram di ruang dapur rumah panggung kami. Dengan mata
yang berpendar, ibu menemani kami makan dengan nasi seadanya. Tidak biasanya
ibu menasihati kami untuk makan secukupnya, entah mengapa malam itu, satu
kaliamat ibu yang masih terngiang-ngiang di telingaku. “Nak, anak sekolah itu
ndak baik makan banyak-banyak. Nantinya bodoh.” Ah, padahal bukan itu alasan
ibu melarang kami makan banyak-banyak. Aku tahu perasaan ibu. Aku tahu betul
risau yang melanda hati ibu kala itu, ketika persediaan beras kami kian
menipis.
Sekolahku terancam putus.
Aku pasrah kalau hal paling buruk itu benar-benar terjadi. Bagiku sekolah bukan
lagi menjadi prioritas, apalagi ada Ap, Icen, dan Ayib – ketiga adikku yang
lebih butuh perhatian. Saat itu aku bilang sama ibu, “Bu, aku berhenti sekolah
saja, ya. Biar adik-adik saja yang sekolah. Aku bantuin ibu menyadap karet ya…”
Jawaban ibu hanya air mata. Selalu itu yang menjadi andalan ibu ketika aku
membuka cerita soal putus sekolah. Air mata….
Seperti yang aku sebutkan
tadi, Tuhan begitu piawai memprogram hidup makhlukNya. Dari SD aku menerima
beasiswa prestasi dari sekolah. Dengan modal Rp 150.000,- kami membuka warung
kopi dan rokok yang dijual ketengan di beranda rumah. Rezeki memang tidak
ke mana, dan ajaibnya dengan itu kami bisa bertahan hidup hingga sampai saat
ini.
2008 aku lulus SMA. Sebagai
keturunan Minangkabau, darah merantauku membuncah. Apalagi kini usiaku sudah
bukan anak-anak lagi. Aku sudah siap untuk menjalankan kebiasaan yang menjadi
tradisi di kampungku itu.
Awalnya ibu keberatan
ketika aku mengungkapkan niat untuk kuliah ke pulau Jawa. Tapi dengan
penjelasan yang panjang lebar akhirnya restu ibu aku dapatkan juga. Aku
mengikuti tes SNMPTN di Padang, mengambil pilihan Universitas di pulau Jawa.
Dalam pikiranku, aku harus keluar dari Sumatra Barat. Aku harus membawa
perubahan bagi keluargaku. Itu saja!
Lagi-lagi Tuhan memberikan
jawaban. Aku lulus di Universitas Negeri di daerah Banten. Dengan uang pinjaman
satu juta lima ratus ribu, aku berangkat ke Banten. Menitipkan ibu pada ketiga
adikku. Aku percaya, Tuhan pasti melindungi mereka. Aku percaya itu.
Kuliah di pulau Jawa
ternyata tidak seindah yang aku bayangkan. Aku memasuki episode baru dalam
hidupku. Hidup jauh dari ibu di rantau orang, tidaklah gampang, Kawan. Pilu
rasanya ketika aku tiba-tiba rindu masakan ibu tapi aku hanya bisa mencicipi
dalam mimpi. Amat perih rasanya ketika lebaran tiba, tapi aku tidak pulang ke
Padang. Dan yang paling membuat aku selalu tidak kuasa menahan bening itu
tumpah dari kelopak mataku ketika aku sakit, meriang, demam, dan tanpa ada ibu
di sisiku. Duhai, aku rasa itulah puncak kesedihan seorang anak yang jauh dari
ibu-ketika dia sakit di rantau orang.
Tapi sejauh itu, aku tetap
bertahan. Semua itu demi ibu. Demi perempuan bernilai 10 dalam hidupku itu,
demi satu-satunya perempuan yang saat ini mampu membuat aku benar-benar jatuh
cinta.
Entah karena sebuah
ketidaksengajaan atau memang lagi-lagi Tuhan yang punya rencana, aku masih
tidak tahu. Aku terjebak dalam kesalahan besar. Salah jurusan! Ya, aku
mengambil jurusan teknik yang saban hari berjibaku dengan angka dan analisis.
Sementara aku terlahir dengan jiwa yang melow dan mencintai kata-kata.
Kesalahan itu semakin jelas terlihat ketika aku berhasil menorehkan angka 1,8
di transkrip nilaiku. Seorang mahasiswa luar daerah sukses mendirikan dinasti
galau dengan IP 1,8. Bah! Aku sungguh berada dalam kekalutan luar biasa.
Kepergianku ke tanah Jawa sia-sia belaka. Aku gagal total! Aku ingin pulang
saja ke Padang, dan hidup seperti biasa dengan ibu, lalu mengubur mimpiku untuk
menjadi sarjana pertama di keluarga kami. Mimpi ibu.
Beberapa hari sebelum aku
benar-benar berniat hengkang dari kampus teknik, lagi-lagi Tuhan menegurku
dengan cara yang sangat cerdas. Di suatu malam, secara iseng aku membuka
catatanku selama berada di Banten. Sudah enam bulan aku berpisah dari ibu,
ternyata telah menggoreskan kisah yang panjang. Aku baca teliti pengeluaranku
selama bertarung di negeri orang. Ongkos keberangkatanku ke Jawa, biaya selama
kuliah, SPP, uang buku, kost-kostan, transportasi. Oh Tuhan! Aku menggigil.
Sebuah angka yang tidak kecil telah aku habiskan, dan itu akan sia-sia tanpa
makna ketika aku mengundurkan diri dari teknik dan memilih pulang ke Padang.
Tidak! Pilihan itu sama saja aku telah durhaka pada ibu. Bahkan lebih durhaka
dari Malin Kundang. Ibu telah mengorbankan segalanya untukku demi mimpi-mimpiku
ke tanah Jawa, lalu aku menyerah dengan kesalahan yang sebetulnya belum tentu
benar-benar salah? Oh, tidak! Aku tidak sedurhaka itu, Kawan.
2010. Aku masih di Serang,
sebuah kota yang menjadi saksi lika-liku hidupku selama dua tahun menjadi pendatang
di sini. Statusku masih saja sama, seorang mahasiswa yang mempunyai masa depan
suram dengan IP di bawah dua. Alamak! Apa yang bisa aku banggakan?
Saat itu aku benar-benar
berada pada zona paling kritis. Aku bertransformasi menjadi makhluk melankolis.
Merasa lebih nyaman bercerita dengan buku harianku. Aku ceritakan semuanya,
tentang kerinduanku yang memuncak akan hijaunya kebun karet di belakang
rumahku, tentang senyum ibu yang selalu membayang dalam tidurku, tentang
keinginanku untuk segera pulang, tentang semuanya. Kadang aku iseng
menjadikannya materi untuk andai-andai, membauri kenyataan pahit dengan
imajinasiku. Maka lahirlah cerpen-cerpen cengeng itu di buku harianku. Hei! Aku
menulis cerpen, Kawan. Ya, seperti kataku tadi, kegilaanku pada bacaan telah
membuat hatiku peka dan terkadang tergoda juga untuk menjadi seseorang yang
namanya terpampang di koran atau majalah. Heeeu! Ada-ada saja! Keinginan yang
mustahil.
Tapi ternyata Tuhan
berencana lain. Tidak ada yang mustahil di dunia ini ketika Dia berkehendak.
Kunfayakuun! Jadi, maka jadilah dia. Pun demikian dengan aku. Ketika aku
mengirimkan tugas-tugas kuliahku di warung internet melalui surat elektronik,
iseng-iseng aku sempatkan mengirim cerpen-cerpen cengeng itu ke beberapa media.
Iseng-iseng saja, Kawan.
April 2010. Aku sungguh
kehabisan kata-kata. Lidahku kelu dan tubuhku bergetar hebat. Andai kalian bisa
melihatku kala itu, tentulah kalian akan keget melihat pipiku tiba-tiba merah
bak strawberry masak, dadaku menggelembung dan berteriak macam orang kesurupan.
Cerpenku dimuat di sebuah website majalah remaja. Ai! Mimpi apa aku semalam?
Semenjak itu aku kecanduan
menulis. Kepalaku penuh dengan ide-ide dan aku ledakkan dengan pulpen, kertas,
lalu menyalin kembali di laptop teman satu kostku ke Microsoft Word, kemudian
mengirimkannya lagi ke media. Oh Tuhan, lagi-lagi dimuat. Aku tidak dapat
menggambarkan bagaimana perasaanku kala menerima honor tulisan pertamaku. Yang
jelas, saat itu aku merasa bahwa aku adalah orang paling kaya di dunia. Titik!
Hari-hari berikutnya aku
makin gila. Aku mencoba mengirimkan cerpen-cerpenku ke media nasional. Gengsiku
naik tahta. Beuh! Tapi ternyata sampai 2010 berakhir pun tak satu pun di antara
cerpen-cerpen itu yang berhasil tembus.
Kegagalan itu tidak
serta-merta membuat aku harus mengangkat bendera putih. Aku sudah nyaman
dengan caraku membunuh galau. Menulis! Ya, dengan menulis beban pikiranku
menjadi sedikit lebih ringan, lalu dimuat media dan aku dapat uang. Hmmm,
ternyata hidup begitu sederhana.
Aku mulai mengikuti
pelatihan menulis cerpen. Uang honor tulisan yang dimuat media lokal aku
sisihkan. Sementara aktivitas kuliah tetap berjalan seperti biasa dan pekerjaan
paruh waktuku sebagai pekerja fotokopi masih aku lakoni. Semua berjalan
dengan manis. Aku mulai bertemu beberapa nama yang dulu aku kenal di majalah.
Aku bersalaman dengan mereka, berdiskusi tentang cara mengarang yang baik. Ah,
ternyata kebanyakan dari mereka begitu terbuka membagi ilmu denganku.
Hasil dari pelatihan dan
diskusi di forum kepenulisan membuahkan hasil yang membuat aku sumringah.
Penghujung Februari 2011 cerpenku masuk majalah remaja terbitan ibukota.
Cerpenku dibaca orang di seluruh Indonesia. Permintaan pertemanan di Facebook
membludak. Begitupun pesan yang masuk di inbox Facebook-ku.
“Mas…, aku baca cerpenmu di
Story. Kereeen. Aku sampai nangis lho :)”
“Hallo Mas Chogah, aku
Dinar dari Surabaya. Kiaramu apik tenan yo Mas, aku ngefans lho sama Mas Cho.”
Ah, Kawan. Aku dibuai
hal-hal semacam itu. Tapi aku selalu mengingatkan diriku bahwa aku bukan
siapa-siapa! Aku baru orang yang bisa menulis kemarin sore dan akan terus
belajar bagaimana menjadi penulis yang baik. Aku selalu menekankan itu pada
diriku ketika aku lengah dan lupa pada asalku.
Sekarang aku sudah semester
delapan. Itu artinya sebentar lagi aku harus menyudahi sesuatu yang dulu aku
anggap sebuah kesalahan. Aku akan segera menjadi sarjana. Sarjana, Kawan! Tiga
onggok kata yang dari dulu begitu keramat ketika ibu mengucapkannya. Kini aku
baru sadar, kesalahan yang aku lakukan tiga tahun yang lalu kini mebuahkan
hasil yang manis. Cerpen dan artikelku dimuat di berbagai media, buku-buku
antologiku pun beberapa telah terbit, dan sebentar lagi aku akan jadi seorang
sarjana. Ah, Kawan. Nikmat yang mana lagi yang pantas untuk aku dustakan?
Begitulah sedikit kisah
hidupku dalam meraih mimpi. Penuh lika-liku dan kejutan-kejutan manis dari
Tuhan. Aku sadar, bahwa kejutan-kejutan itu diberikan Tuhan bukan untukku
seorang. Kejutan itu juga untuk ibu, untuk sahabat-sahabatku. Pengalaman
tentang menulis aku bagikan kepada sahabatku yang membutuhkan dan mereka mau
mendengarkan ceritaku lewat diskusi di Facebook dan pelatihan kecil-kecilan.
Inilah jalan hidup yang direncakan Tuhan untukku. Menjadi seorang sarjana
teknik dan mengabadikan mimpi serta imajinasi dalam tulisan. Bagaimana, Kawan?
Masih sangsikah kalian tentang kekuatan sebuah mimpi yang Tuhan ikut campur
tangan? (*)
(*Terima kasih buat
wanita-wanita hebat yang pernah aku temui. Amak, Mak Wak, Bunda Guru, Mbak
Achi, Bunda Erin, dan mereka yang tak dapat aku tuliskan satu per satu di sini.
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Bokek gak ada pulsa, tapi mau SMS-an? GAMPANG!!! Bokek gak ada pulsa, tapi mau SMS-an? GAMPANG!!!Paling bete kalo di saat darurat butuh SMS tapi hape gak ada pulsa  . Tenang sodara²… Si...
Alhamdulillah Yah, Teparnya Sesuatu Banget Arrgh, kalo kata-kata lain selain tepar, sekarat, mual, dan mencret-mencret yang bisa menggambarkan keadaan gue saat ini, GUE pilih kata itu! (╯︵╰) ...
Hai, Mimpi-mimpiku, Apa Kabar Kalian Sekarang? Rantau berkalang rindu, 26 Juni 2015Saya merasa berdosa pada halaman yang dulu saya bangga-banggakan ini. Halaman yang pernah begitu set...
HepiBesDe, DR Bego! Gue oon banget dah;  Kenapa gue ampe lupa , kalo hari ini sodara gue si Kancut ulang taon (tu anak ternyata pernah lahir juga, heheee),&nbs...
Ketika Saya Mengaku Kalah Ketika Saya Mengaku KalahSemalaman saya berpikir, sebuah kejadian yang boleh saya katakan sangat langka dalam beberapa tahun terakhir ini....
Di Rumah Kami, Di Banten Muda Banyak CintaDi Rumah Kami, Di Banten MudaBeberapa hari yang lalu saya mengirim SMS ke Mak di kampung. Seingat saya, terakhir kali kami ...
Satu Tahun Lagi, Mak Dang Satu Tahun Lagi, Mak Dang Naskah ini saya ikutsertakan dalam Menulis Kisah Reflektif “Man Jadda Wajada” bareng A. Fuadi 2011 lalu....
Bagikan tulisan ini: