+62 821-1040-9641 [email protected]
Hunida, Tegarlah Seperti Bayimu

Hunida, Tegarlah Seperti Bayimu

Coz’s Bazar, Bangladesh Hari Ke-10

Perkenalkan, saya Rosita Rivai. Ya, saya seorang perempuan. Sehari-hari saya bekerja sebagai dokter, dan tentu, saya yang pernah mengurus persalinan, saya tahu bagaimana sakit dan menderitanya saat itu. Terlebih saat melihat adik saya melahirkan anak-anaknya. Masih terbayang wajah pucatnya di meja operasi yang seakan hendak meregang nyawa.

Bagi saya, perjuangan seorang perempuan dalam melindungi anaknya dalam kandungan adalah gelanggang pertaruhan hidup dan mati. Hal itu pula yang membuat saya sentimentil ketika melihat ibu dalam setiap perjuangan melahirkan.

Peristiwa heroik itu kembali saya saksikan saat menunaikan tugas kemanusiaan di Thangkaling Cox’s Bazar, Bangladesh, Sabtu, 30 September 2017. Hunida nama perempuan itu. Usianya 25 tahun. Dalam usia kehamilannya 4 bulan, ia bersama empat orang anaknya dan suami berhasil lolos dari bencana kemanusiaan di kampung halamannya. Ya, kita semua tahu, hampir saban hari kita saksikan, sebulan yang lalu, peluru-peluru menembus dinding rumah penduduk di Desa Tula Toli, Rakhine, desanya Hunida. Orang-orang di luar rumahnya berteriak sekuat tenaga. Beberapa di antara mereka kaku bersimbah darah. Mencekam!

Di antara serbuan ketakutan, kala itu, Hunida berlari menuju bukit, doa terhambur dari mulutnya. Di atas bukit, dia melihat desanya terbakar lalu lenyap bersama dingin angin nan gelap yang melarutkan bara dan amarah.

Ya Rabbi… saya hanya mampu memejamkan mata menyimak cerita Hunida. Tak kuasa nalar saya mencerna dan membayangkan bahwa saat itu Hunida dengan perut berisi bayi dan rentan gugur itu mampu berlari. Menembus liarnya hutan dan terjalnya jalan. Ya Rabbi, sungguh Engkau Maha Pelindung.

Kekagetan saya bertambah-tambah, Hunida dan calon anaknya selamat hingga ke Cox’s Bazar, melewati perjalanan dalam keterbatasan penganan dan air bersih. Betapa kuat janin itu.

Membayangkan itu, tubuh saya bergetar. Amarah apa yang membuat peluru memburu ratusan ibu dan janin yang tidak bersalah ini?

Di bawah tenda pengungsian, dia masih berjuang. Berjuang menghadapi kenyataan bahwa kebahagiaannya terempas dalam trauma. Ketika matahari mulai tergelincir dan malam menjelang, saat itu ia tidak bisa tertidur, bayangan kematian kerap hadir dan seperti hendak menjemputnya.

Di tenda pengungsian, terkadang dia harus merelakan diri dalam lapar. Ya, bahan makanan adalah kemewahan bagi para pengungsi di sini. Kala itu, di depan saya, Hunida mengelus perutnya sembari tersenyum kecil menatap nanar. Nanar yang tak mampu saja terjemahkan.

Saya datang mengunjungi tendanya untuk memberikan paket bantuan dari donatur Dompet Dhuafa untuk mengamankan bayi dan dirinya. Kembali ia tersenyum, penuh makna. Ada bening berpendar di matanya, bibirnya bergerak-gerak. Ya, saya tahu ia mengucapkan terima kasih. Saya genggam tanganya sembari berbisik, “Kuatlah, Hunida, sekuat bayi ini!”

Betul, itu bisa meringankan beban derita. Namun apalah artinya itu? Belum tentu bingkisan itu bisa mengobati duka dan trauma yang dirasakannya. Satu generasi telah hilang, dan bisa jadi kebencian akan diwariskan. Entah sampai kapan.

Dari kamp pengungsian etnis Rohingya, izinkan saya mengajak Anda semua untuk bersimpati dan membantu saudara kita melalui humanesia.org/saverohingya

BCA 245.4000.551
BSM 146.006.4444
Muamalat 308.001.3157
Mega Syariah 1000.1000.54
an. Yayasan Dompet Dhuafa Republika.

Informasi dan Konfirmasi:
0859 6655 3585 
donasi.ddbanten.org

Perihal Hati yang Sepi di Belantara Kota

Perihal Hati yang Sepi di Belantara Kota

KEDATANGANKU ke Serang hanya ingin bertemu denganmu, Buyung. Tak lain! Kalau bukan karena ingin kembali merajut hari-hari indah bersamamu, buah hatiku, tak mungkin aku akan kuat meninggalkan Taratak Duo Baleh yang berkabut di kala pagi menyapa, atau ketika pemandangan hijau dari kebun-kebun karet di belakang dangau kita itu digantikan dengan hamparan hutan kota yang pekak. Kalau bukan karenamu, Buyung. Sungguh aku tidak akan pernah rela.

Di sini, Buyung. Di kota yang kau katakan bernama Serang ini, aku kau tinggalkan sendirian. Kesepian di tengah hiruk-pikuk kota ini tentu membuat aku bertanya-tanya. Tapi aku tak pernah persoalkan itu, lagi-lagi kerena aku terlalu merindukan masa-masa kita duduk di dapua[1], menikmati makan malam bersama Abak kalian. Tak ada kebahagian lain, Buyung. Ketika melihatmu begitu ulung memindahkan butir-butir nasi ke piringmu yang baru saja kosong. Aku girang betul melihatmu begitu lahap menyantap nasi putih yang berasal dari sawah kita di Kumanis itu, dengan ikan asin yang digoreng masiak[2], serta uwok potai dan samba lado hijau, kau akan semakin tak terkendalikan melahap nasi di piringmu. Tapi malam ini, Buyung. Ketika aku menunggumu dengan hidangan makan malam yang sama, kau juga belum kembali dari kesibukanmu.

Kalau tahu aku akan sesepi ini. Enggan aku mengikuti maumu ketika kau menguratakan niat memboyongku ke kota di barat pulau Jawa ini. Ah, lagi-lagi karena kau, Buyung. Aku tak kuasa menolak.

“Mak, ikutlah bersamaku ke Serang! Kebun karet kita yang di Pincuran Tinggi itu biarlah Tek Siyus yang menyadap. Amak tinggal mererima uang pangkalnya saja dari beliau. Lagi pula, tak perlulah Amak risaukan soal kebun itu. Di Serang kita bisa tinggal bersama, Amak bisa menemani Cleo bermain.”

Masih segar betul di ingatanku, Buyung. Kalimatmu itu begitu membuat hatiku sumringah, merasa paling beruntung memiliki anak laki-laki yang tak sia-sia aku sekolahkan sampai sarjana, membayangkan hidup bersamamu di rantau ini, meninabobokkan cucuku Si Cleo itu, ah, nama anakmu susah betul untuk diucapkan, Buyung. Aku tidak habis pikir, mengapa kau berikan nama yang terdengar aneh itu kepada cucuku? Kenapa tidak kau beri saja dia nama si Puti Andam Dewi? Atau Nurzahara Amalia pun tak apa, bila kau enggan menamainya Nurbama atau si Sabai Jalito.

Buyung, apakah engkau tahu, Nak? Betapa setiap malam aku menanti kepulanganmu dengan perasaan riang tak terkira. Bagai menanti kelahiran anak pertama, kata orang-orang. Menyambutmu di pintu rumah mewah ini, lalu kau mencium telapak tanganku yang mulai mengkerut dimakan usia. Kemudian kita makan bersama di meja makan yang sejujurnya sangat asing bagiku. Ah, Buyung, asal kau tahu, Nak. Dulu aku memberimu makan bukan di tempat seperti ini, dan kau lihat sendiri kan hasilnya? Kini kau menjadi orang sukses, beristri cantik dan aku pun kau beri cucu nan sangat jelita. Namun, amakmu ini rindu betul rasanya suasana makan malam kita waktu kau masih bocah itu, Buyung. Kau begitu bersemangat menungguku menghidangkan uwok potai dan goreng ikan asin di tikar pandan di dapur kita.

Lihatlah, Buyung! Lihatlah malam telah semakin larut. Ketika aku menautkan pandangan ke benda bundar yang menggantung di dinding itu, jarum pendeknya sudah menunjukkan angka sembilan, namun tanda-tanda kau akan pulang belum juga dapat aku merasakannya.

“Pulanglah agak sore hari ini! Amak ingin memasak gulai jariang kesukaanmu,” ujarku tadi pagi padamu.

Insya Allah, Mak. Kalau hari ini pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak.”

Hanya itu jawabanmu. Tapi aku cukup senang mendengarnya, Buyung. Aku tahu kata Insya Allah itu adalah janji tertinggi yang bisa kau ucapkan.

Berjam-jam aku menunggumu. Dan tengoklah, gulai jariang dengan kuah yang kental telah aku siapkan khusus untuk manyambut kau pulang dari kesibukanmu bekerja. Apa kau mengetahuinya, Buyung? Bagaimana ceritanya aku mendapatkan sepuluh keping jariang itu di kota ini? Begini ceritanya;

Setelah kau berlalu dengan mobil sedanmu pagi tadi, aku diajak Si Lilis, anak gadis yang kau minta untuk membantu membereskan pekerjaan di rumah sebesar ini. Dia katakan betapa dia iba melihatku bermuram tiap hari menunggumu di beranda rumah. Lalu dia ajak aku menemaninya berbelanja ke pasar Rau namanya. Dia ajak aku ke tempat penjual sayur, penjual ikan, dan macam-macam dagangan orang lainnya. Aku jadi teringat rumah mungil kita, Buyung. Dulu pun kau sering aku suruh memetik daun singkong atau sayur bayam di pekarangan belakang rumah kita.

Ah, aku senang betul bisa berkarip dengan Si Lilis. Setidaknya dia bisa membuat aku sedikit melupakan sepi dan janji yang tak pernah kau tepati. Janjimu dulu bahwa kedatangku ke Serang untuk bermain dengan cucuku Si Cleo pun tak pernah aku merasakannya. Sejak kapan kau jadi pembohong, Buyung? Dari kecil aku tak pernah mengajarkanmu berbohong. Kau sibuk dengan pekerjaanmu, begitupun dengan istrimu. Dan Cleo, anak sekecil itu sudah kau paksa dia bersekolah. Entah apa yang ada di pikiranmu, Buyung. Padahal sudah berkali-kali aku katakan, biarlah cucuku itu bermain denganku di rumah. Tapi lagi-lagi aku hanya bisa mengelus dada.

“Amaaak, memang sudah seharusnya Cleo aku sekolahkan. Coba Amak lihat teman-teman sebayanya, mereka juga bersekolah di play group tempat Cleo aku sekolahkan. Biar Cleo bisa mengimbangi teman-teman sebayanya. Biar dia pun pintar macam papa dan mamanya, Maak.” Plai grup? Sekolah macam apa lagi itu, Buyung? Sepanjang sejarah aku mengandungmu, melahirkan, dan membesarkamu dengan kasih sayang, tak pernah aku memasukkanmu ke sekolah macam itu. Kau hanya aku suruh mengaji ke surau, bersolah di esde, es-em-pe, lalu es-em-a, dan akhirnya kau berkuliah ke pulau Jawa. Itu saja, tapi buktinya kau bisa juga jadi orang kan, Buyung?

***

Aku benar-benar tak mengira. Setelah sekian jam aku menunggumu di meja makan ini, sementara cacing-cacing renta di dalam perut tuaku semakin berteriak saja dari tadi. Namun ketika aku menyambut kepulanganmu, kau katakan kalau kau sudah makan di luar bersama teman-teman sekantormu. Ah, ngilu hati Amakmu ini mendengar kau berkata sejujur itu, Buyung.

“Maaak, Amak makan saja dulu ya, nanti ditemani Lilis. Tapi kebetulan setelah meeting aku sekalian makan malam di luar.” Begitu katamu padaku.

Aku hanya bisa menangis setelah kau berlalu masuk ke kamarmu. Aku merasakan betapa malangnya nasib orang tuamu ini, Buyung. Besarnya harapku bisa makan satu meja denganmu menjadi hancur berkeping-keping setelah kau berkata demikian.

***

Semalaman aku menangisi nasibku ini. Maka ketika kau pulang nanti malam, tak akan lagi kau dapatkan aku mematung menunggumu di meja makan. Aku lebih baik pulang, Buyung. Lebih baik aku menghabiskan hari tuaku di kampung kita. Kota ini terlalu sepi untuk wanita setua aku. Amakmu tidak terbiasa hidup tanpa mendengar kicauan burung, mendengar cericit kelelawar ketika malam mulai menjelang, tapi aku lebih tak terbiasa lagi hidup dengan Iskandar, buah hatiku yang ternyata kini begitu sukses menjadi orang sibuk. Tapi suatu hari nanti, Buyung. Ketika kau tidak lagi sibuk di belantara kota ini, tengok jualah aku ke kampung halaman kita. Atar nama nagari kita itu, Buyung, sampai kapanpun akan tetap bernama Atar. Aku berharap kau tak akan melupakan nama itu. Ajaklah istri dan cucuku turut serta. Biar dia bisa melihat bagaimana perbedaannya aku di kala sepi ketika berkunjung ke kotamu dan ketika aku berada di tengah-tengah karibku di kampung ini. Di Padang Ganting (*)

Serang, 2 April 2011 – 12:33 AM

(*Entah mengapa, malam ini aku begitu merindukanmu, Mak.[i]

[1] Dapur

[2] Kering

Cerpen ini pernah dimuat di koran Tribun Jabar (2011) dengan judul Penantian.

Biar Tak Hilang, Menulislah…

Biar Tak Hilang, Menulislah…

Sebuah pertanyaan menggelitik mampir ke kuping saya dalam satu kali waktu. “Mengapa hanya ada Hari Kartini, sih? Kok nggak ada Hari Cut Nyak Dien, atau Hari Rasuna Said?” cerocos teman saya, sembari mengunyah pisang goreng hangat yang menemani obrolan kala itu.

Pertanyaan “nggak penting-penting amat” itu cukup mengganggu pikiran saya beberapa saat lamanya. Memang, kalau membandingkan antara kepahlawanan Cut Nyak Dien dan R.A. Kartini, tentu akan mengundang beragam pendapat. Ada yang bilang, “Cut Nyak Dien, kan, lebih berani, dia ikut perang, lho, bersama masyarakat Aceh. Sementara R.A. Kartini, kan, cuma ibu-ibu biasa….”

Saya jadi teringat kata-kata Winston Churchill, “Pena lebih tajam daripada pedang.” Sementara Napoleon Bonaparte pun pernah berujar, “Saya lebih takut pada sebuah pena daripada seratus meriam.”

Ah, pantas saja. Kini saya tahu mengapa nama Kartini lebih “hidup” dan dikenang setiap tahun. Ya, barangkali karena Kartini berperang dengan penanya. 

Menjadi Kartini ataupun Cut Nyak Dien sama-sama baik. Sama halnya dengan kita—yang manusia biasa—yang masih belajar dan terus belajar menjadi lebih baik dari hari ke hari. Lantas, kelak bila kita tiada, akankah kita kembali dikenang sebagi orang baik, paling tidak oleh cucu dan cicit kita?

Aktivitas menulis telah membuat nama Kartini dikenal. Surat-surat yang ia tulis telah menjadi artefak sejarah bahwa dia pernah ada, pernah berbuat baik, lalu menginspirasi begitu banyak orang.

Dan kini, mari kita bicarakan sedikit tentang beberapa sosok yang tadinya bukan sesiapa, lalu menjadi tokoh, bahkan menciptakan tren. Bukan cerita bohong, kegelisahan, ide-ide, fantasi, dan pengalaman sehari-hari yang mereka tulis telah menggugah banyak jiwa untuk berubah. Mereka dilabel dengan profesi yang dinamai “penulis”. Ya, penulis semakin terdengar “seksi” akhir-akhir ini. Katanya, penulis itu sebelas-dua belas dengan selebritas—terkenal, tajir juga tentunya. Meski tak selamanya anggapan itu benar, karena penulis sejati tak pernah memburu popularitas dan materi. Bagi mereka, melahirkan tulisan yang bermakna dan menginspirasi adalah tujuan utama. Tapi kita tak boleh juga tutup mata, Raditya Dika, Andrea Hirata, atau Asma Nadia adalah “model” penulis sukses Tanah Air yang telah membuktikan bahwa dengan menulis, mereka dikenal lewat buku-buku mereka, bahkan sampai diadopsi ke layar lebar. Dari mereka kita jadi tahu bahwa penulis bukanlah profesi yang sia-sia. 

Mari ajak diri kita bicara! Apakah perjuangan atas nama kemanusiaan ini hilang sirna begitu saja seiring lenyapnya kita dari dunia? Ah, jangan begitu. Tinggalkanlah sebait dua bait cerita yang kelak bisa dibaca oleh anak-cucu kita.

Memang berat untuk memulai menulis. Halangan dan rintangan datang silih berganti—naskah selalu ditolak dan diledek teman-teman. Belum Tidak hanya kalian yang mengalami itu. Saya teringat cerita motivator yang melambung dengan istilah “sukses mulia”-nya—tentang ia yang di masa lalu tak pernah bisa menulis tanpa kalimat pembuka “pada suatu hari”, lalu tentu karena usaha pantang menyerah dan jam terbangnya, Jamil Azzaini bertransformasi menjadi penulis “sungguhan” dengan sederet buku-buku karyanya yang best selling. Tak hanya Jamil Azzaini, penulis tersohor seperti J.K. Rowling pun mengerti banget perasaan kita yang bolehlah mengatakan diri sebagai penulis pemula, sebab, dia pun pernah berada pada posisi itu, mungkin jauh lebih tragis.

J.K. Rowling, penulis novel Harry Potter yang fenomenal ini, dalam cuitannya di Twitter pada 15 Agustus 2015 lalu, memberikan semangat kepada seorang pengguna sosmed burung biru itu, yang tengah menghadapi permasalahan untuk menjadi penulis.

Pemilik akun @potterimortal curhat kepada Rowling, bahwa orangtuanya bilang penulis bukan profesi yang layak.

Dalam akun @jk_rowling, Rowling menjawab, “Lakukan apa yang kulakukan: berpura-puralah kamu ingin melakukan sesuatu yang lain dan menulislah secara diam-diam sampai kamu bebas melakukan apa pun yang kamu inginkan.”

 
http://cdn.klimg.com/newshub.id/real/2015/08/17/39725/rowling_1.jpg

 Rowling bisa menerapkan nasihatnya itu pada diri sendiri sampai akhirnya dia menjadi penulis bergengsi seperti sekarang. Hanya dalam kurun waktu lima tahun dia meraih kesuksesan dan lepas dari pengangguran. Ini fakta! Bahwa sebelum Harry Potter “meledak” di pasaran.

Memang, di dunia ini tidak ada kesuksesan yang gratis. Selalu ada harga yang harus kita bayar untuk sebuah kesuksesan, yaitu pengorbanan. Jadi, mulai sekarang, fokuslah melangkah, biarkan hati kita bicara, tulislah kisah yang memang ingin kita ciptakan. Jangan pernah lelah berlatih menulis, membaca, membaca, membaca, dan mengamati sekeliling kita.

Tentu kita setuju, tujuan kita menulis bukan atas nama popularitas, tapi, paling tidak, tulisan-tulisan itulah kelak yang akan menjadi bukti sejarah bahwa kita pernah berbuat sesuatu untuk kemanusiaan, di dunia ini.

Setiawan Chogah, Resource Mobilization Manager Dompet Dhuafa Banten, serta Pemimpin Redaksi di media dalam jaringan biem.co.

Aku Ingin Tua dan Mati di Kampung Kita

Aku Ingin Tua dan Mati di Kampung Kita

Tahun-tahun usai dan datang kembali, dan aku kian tua di sini.

Di dadaku, Mak, tumbuh subur sebatang pohon.

Pohon berdaun lebat dan akar kokoh menghujam jantung. 

Dedaunnya terus saja membisikiku, “Pulanglah.” 

Sadar diriku ini, Mak. Kelak, pun aku tak ingin jasadku bersemayam di pandam-pandam yang aku sendiri tak mengenalnya ini.

 

Di kepalaku, Mak, tumbuh pula pohon angan berdaun lebat.

Hijau serupa daun-daun talau yang kerap memiangiku di masa bocah.

Di masa menjelang petang seperti ini, daun-daunnya kususun, menjelma rumah sederhana kita dengan anak sungai di belakangnya. 

Rumah yang kuperuntukkan untukmu, menantu, dan cucu-cucumu. Di sana kita hidup bersama, ditemani dendang uwie-uwie dan cekikik kawanan simpai yang berlompanan di pohon-pohon karet.

Mak, aku ingin tua, dan mati di kampung kita.

Rantau, 27/05/2015