+62 821-1040-9641 chogah.dd@gmail.com
Banten Muda dalam Semangat Kekinian

Banten Muda dalam Semangat Kekinian

Pertengahan Agustus 2014 lalu, tablet murahan saya berdering. Sebuah panggilan masuk dari mantan atasan saya di Banten Muda, Kang Irvan Hq. Seingat saya, sudah lama sekali saya tidak berkirim kabar kepada beliau pascapindah bekerja ke perusahaan fabrikasi di Cilegon dulu. Lagi pula, setahu saya, Kang Irvan dipindahtugaskan oleh perusahaannya ke Lampung.

Dalam sapaan singkat, beliau mengundang saya untuk ngobrol. Saya penuhi undangan terhormat itu.

“Lagi pulang ke Serang, Kak? Katanya sekarang tugas di Lampung, ya?” saya membuka obrolan dengan Ketua Umum Banten Muda Community itu—yang sudah seperti kakak saya sendiri.

Kang Irvan bertanya perihal kuliah saya (yang alhamdulillah waktu itu tinggal sidang Tugas Akhir), juga tentang kesibukan saya yang serabutan. Ya, kebetulan waktu itu saya masih aktif di Kremov Pictures, juga jadi volunteer di Dompet Dhuafa cabang Banten untuk mengisi waktu luang sampai wisuda. Lalu setelah lulus, baru akan mencari pekerjaan tetap di Jakarta,
mengejar cita-cita untuk bekerja sesuai kecintaan saya. Seperti itu rencana yang saya susun waktu itu.

“Bikin Banten Muda versi website, yuk!” seru Kang Irvan, usai beliau bercerita tentang pekerjaannya dan tentang tabloid Banten Muda yang harus berhenti terbit lantaran beliau sering bolak-balik Serang-Lampung—membuat tabloid yang “dilahirkannya” pada 2007 lalu itu “kurang perhatian”.

Saya setuju. Paling tidak, Banten Muda tetap berwujud di dunia maya. Lagi pula, setahu saya, banyak sekali media cetak yang telah bertransformasi dari media konvensional menjadi media online. Seperti yang terjadi di Amerika, Tempo.co memberitakan bahwa sekitar 40 koran di Amerika menghadapi kebangkrutan dan tidak mampu bertahan dalam versi cetak. Seperti majalah Newsweek yang setelah 80 tahun menyebarkan berita di Amerika Serikat, harus mengakhiri edisi cetaknya pada akhir tahun 2012. Ada pula surat kabar Tribune Co, The New York Times, majalah Reader’s Digest,  dan si raksasa Rocky Mountain News ikut mengisi daftar media yang gulung tikar.

Hal serupa pun terjadi di dalam negeri kita sendiri. Beberapa majalah dan tabloid yang pernah menemani masa remaja saya turut hilang di loper koran langganan saya. Majalah Annida, Aneka Yess!, tabloid Gaul, Top Idol Indonesia, juga majalah Story yang pernah “melahirkan” saya itu. 🙁

Ya…, tentu saja saya paham, tanpa iklan, media mau hidup dari mana? Ongkos produksi mau dibayar pakai apa? Dan karyawan mau digaji dari mana?

Saya mendukung niat Kang Irvan untuk menggarap Banten Muda versi online. Mendukung penuh! Kenapa?

Dengan pekerjaan Kang Irvan yang demikian menyita waktu, media online memberikan solusi agar semangat “berkarya dan berbagi inspirasi” beliau tetap terwadahi. Terus tersalurkan.

Ongkos produksi media online jauh lebih murah, juga whole package alias multimedia capability. Selain teks, tentunya bisa memuat moving image, suara, dan video. Media online juga dapat dibaca kapan saja dan di mana saja, menjangkau seisi dunia pula. Kapasitasnya juga tidak terbatas, gampang diedit kalau ada salah ketik, gampang di-share, sangat dapat dibaca sambil tidur atau waktu mati lampu di malam hari, dan tidak membutuhkan karyawan yang banyak. Berita dan artikel pun bisa diproduksi sambil nongkrong di toilet kafe. Sesederhana dan semenyenangkan itu! (Dan memang media seperti itu, bukan, yang tengah dibutuhkan oleh generasi saat ini?)

Obrolan berakhir dengan kesepakatan untuk melahirkan Banten Muda versi online. Tapi siapakah yang akan dimintai pertolongan untuk mewujudkan rencana ini selain Allah Swt?

Diam.

Kang Irvan bertanya, tepatnya menawarkan…, “Iwan kan sering ngeblog, tuh. Pasti bisalah urusin website. Waktu luangnya masih banyak, kan?”

Saya diam aja.

Hmmm, baiklah. Tak kuasa rasanya melihat semangat yang demikian menyala di mata “kakak” saya itu tiba-tiba harus redup. Bukan! Bukan karena saya merasa yang paling pantas mengurus Banten Muda online, apalagi merasa yang paling bisa mewujudkan keinginan Kang Irvan itu. Tapi ini adalah tentang amanah besar yang beliau berikan dan percayakan pada saya. Saya tidak punya pilihan jawaban lain selain “Siaap, Jendral!”

Proses pembuatan website rupanya memakan waktu yang lumayan lama. Menyusun rubrikasi (kanal/channel dalam istilah media online), membuat sitemap, mengurus persyaratan melahirkan perusahaan media yang diwajibkan pemerintah, pemilihan font, tampilan website, dan kesepakatan nama dan logo ada baiknya diperbarui. Jadilah, setelah 6 bulan diutak-atik, Banten Muda versi online lahir dengan wajah yang baru dan lebih interaktif dibanding kakaknya yang pernah saya urus (blog Banten Muda).

biem.co, adalah wujud Banten Muda (BM dibaca bi-em) dalam semangat kekinian. Hari ini, tak hanya orang Banten yang bisa membaca Banten Muda dengan sangat mudahnya. biem.co bisa menyebarkan inspirasinya ke berbagai tempat di belahan dunia.

So, Kawan-kawan hebat di luar sana, yang saya tahu, pasti mempunyai keinginan untuk bercerita, untuk bersuara, dan untuk mengispirasi dunia, karena itu adalah fitrahnya manusia. Mari menulis, dan biem.co siap menyebarkan pemikiran-pemikiran luar biasa kalian kepada dunia.

Ayo periksa folder-folder di PC dan laptopmu! Buka laci meja belajarmu, atau map-map tua di rak buku dan lemari di kamarmu. Adakah tulisan-tulisan melow yang pernah kalian tulis menjadi berkas terbengkalai di sana? Mungkin ada beberapa cerpen dan puisi yang gagal tampil di media lantaran kalian belum berani mengirimkannya, atau ada catatan-catatan perjalanmu yang sangat sayang bila hanya dibaca dan di-kelonin sendiri. Kirim saja ke redaksi@biem.com dan cc ke redaksi@biem.co. Lalu biarkan tulisanmu hidup di dunia maya, membuat jutaan mata terbuka. Ah, hidup kita ini singkat bukan?

Ayolah, jangan mau kita menua tanpa makna. Mari berkarya dan berbagi inspirasi!


 

 

Bagikan tulisan ini:
Hai, Mimpi-mimpiku, Apa Kabar Kalian Sekarang?

Hai, Mimpi-mimpiku, Apa Kabar Kalian Sekarang?

Rantau
berkalang rindu, 26 Juni 2015
Saya
merasa berdosa pada halaman yang dulu saya bangga-banggakan ini. Halaman yang
pernah begitu setia mendengar semua ceracau kacau saya, tanpa protes. Tapi…
lihat! Update-an terakhir saja beberapa bulan yang lalu, itu pun bekas artikel
yang pernah dimuat di Majalah Swara Cinta yang kembali saya posting. Anjaaai,
ke mana diri saya yang dulu? Saya kehilangan dia.
“Udah
lama, ih, Annis gak main ke blog Kak Chogah, ada postingan baru gak, Kak?”
tanya Annisa Sofiah Wardah, adik kelas di Untirta yang mengaku pembaca blog ini
dari dulu. Tapi sekarang Annis jadi keluarga saya di Dompet Dhuafa Banten.
Alhamdulillah, dia sangat antusias ketika saya share info open recruitment
Sahabat Ramadhan DD Banten 1436 H.
Saya
ngakak keras. Kemudian malu sendiri. “Ya ampun, sudah lama sekali saya nggak
nge-blog, thanks, Annis, sudah mengingatkan,” saya membatin dalam hati.
“Hahaha…
nanti, insya Allah Kakak update, ya. Mampir, dong!”
ucap
saya ketika tadi selepas berbuka puasa di kantor Dompet Dhuafa kepada Annis.
***
Sekian
lama melupakan blog ini, sekian lama pula saya mengendapkan mimpi-mimpi. Entah
kini separti apa rupa mereka. Barangkali sudah mengeras, menjelma bebatuan
keras di dunia tak nyata sana.
Saya
adalah lelaki yang terlahir sebagai seorang pemimpi. Aduhai, tanpa mimpi,
apalah saya ini….
Mimpi…
ya, mimpi. Mimpi yang pernah menjadi napas. Mimpi yang pernah menjadi alasan
kuat bagi saya untuk bertahan hidup di rantau ini, tak pulang-pulang sekian
kali Lebaran.
Eh,
sekarang umur saya berapa tahun, ya? Hahaha. Beberapa kali ulang tahun dalam
rentang dua, tiga tahun terakhir saya tak mau mengingat umur. Sebentar, saya
pinjam jari-jemari saya untuk menghitungnya…. (diam)… hei, saya masih 26
tahun! (diam lagi). Arg! Itu angka yang tua, Saudara-saudara!
Hfff,
di 26 tahun ini apa yang sudah saya capai? Sejauh mana saya menepati
janji-janji saya kepada mimpi yang kami pernah hidup harmonis itu?
Main Film
Mungkin
ini mimpi paling konyol dari si anak kampung ini. Dulu, ketika saya belum
insaf, bermain film (saya malu menyebutnya pengin jadi artis) adalah salah satu
mimpi yang pernah bersarang di dada kempes ini. Beberapa kali saya pernah
ikutan audisi pencarian bakat. Lokal maupun nasional. Hasilnya? Ya… sukses,
dong! Sukses ditolak. Hahaha. Tapi, paling tidak, saya punya cerita konyol yang
kelak akan saya bagikan kepada anak-anak saya. (Doakan saya cepat nikah, ya).
Eh,
omong-omong main film, 2013 lalu saya pernah terlibat dalam project pembuatan
film pendek yang digagas Komunitas Kremov Pictures. Film yang mengangkat
sejarah pahlawan Banten Ki Wasyid. Kalau mau melihat akting jelek saya, bisa
ditonton di di bawah, ya!

Lalu
sekarang apa? Sudahlah, bukan saatnya lagi saya larut dalam angan yang
sepertinya sulit terwujud itu. Saya juga udah tobat. Apalah hidup ini, hanya
sementara. Yang penting bahagia, toh? Anjaaai! ^_^
Punya Buku Solo
Yeah!
Jelek-jelek begini, nama saya pernah menghiasi beberapa majalah remaja ibu
kota, lho. (Yang mau muntah silakan, yang mau pesen buku SMS Terakhir, silakan
mention saya di Twitter, ya! Hihihi).
Ya,
saya sedih, beberapa majalah yang pernah memuat cerpen-cerpen saya harus kolaps
aka. gulung tikar. Kenyataan itu diperparah dengan hasrat menulis saya yang
ngedrop drastis. Menulis fiksi maksud saya. Entahlah, saya berpikir hidup saya
ini udah terlalu drama, tidak perlu didramatisir lagi, kali, ya…. Wkwkwkwk.
Tapi
meski demikian, orang jelek ini pernah juga merasakan memiliki buku tunggal.
Yes! SMS Terakhir, kumpulan cerpen saya dipinang Sheila (imprint Penerbit Andi)
dan terbit di sana. Setahun kemarin buku itu mejeng di toko buku. Bangga?
Jangan ditanya!
 

Buku Kumpulan Cerpen saya yang diterbitkan Penerbit Andi, Yogyakarta, 2013.
Lalu
sekarang apa? Saya membiarkan hidup saya mengalir. Keinginan untuk melahirkan
buku-buku selanjutnya tetap panas di dalam dada saya. Soal kapankah itu, sekali
lagi, biarkan mengalir dan tunggu indah pada waktunya. Ciaelllah!
Saya
tengah menikmati keseharian saya di Dompet Dhuafa. Dompet Dhuafa itu adalah
sekolah, dan saya salah seorang murid yang haus menimba ilmu di sana.
Saya
ceritakan sedikit ya, mengapa saya bisa “terdampar” di non-govermental
organization ini.
Setahun
lebih yang lalu, persisnya Februari 2014 saya melamar di Dompet Dhuafa.
Ceritanya bermula ketika kesuliatan hidup saat itu datang menyapa, saya baru
saja resign dari perusahaan fabrikasi di Kota Baja, Cilegon. Padahal saat itu
saya lagi butuh-butuhnya biaya, tak sekadar untuk melanjutkan hidup, tapi Tugas
Akhir saya sebagai mahasiswa tua juga tengah di ujung tanduk saat itu.
Dalam
keadaan kelaparan, saya mengirim pesan via inbox Facebook Dompet Dhuafa Banten.
Seperti ini bunyi pesan inbox itu:

Assalamualkum. Selamat
pagi, Dompet Dhuafa Banten. Apakah di DDB masih ada lowongan pekerjaan yang
bisa saya kerjakan. ^_^ Oh ya, perkenalkan, saya Iwan, mahasiswa
tingkat akhir Teknik Industri Untirta dan tinggal di Serang. Saya berniat di
masa pengerjaan Tugas Akhir saya punya kegiatan lain. Saya bisa mengoperasikan
komputer (Ms. Office, blogging). Di samping itu saya pernah bekerja part time
sebagai staf administasi di sebuah perusahaan, serta memiliki beberapa
pengalaman menulis di media massa. Sekiranya di DDB ada pekerjaan yang bisa
saya kerjakan, dengan senang hati Admin mau mengabari. Terima kasi sebelumnya.
Wassalam. – Setiawan C

Ya,
pesan itu saya copas, murni tanpa edit. Barangkali di sanalah Allah meletakkan
rezeki si anak malang, inbox itu langsung dibalas, yang intinya meminta saya
untuk datang ke kantor Dompet Dhuafa Banten untuk walk-interview. What? Saya
sempat terperanjat, Allah demikian cepat menjawab doa saya. Alhamdulillah.
Singkat
cerita, di hari wawancara, saya angkut semua majalah dan koran yang memuat
tulisan saya. Di hadapan Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten saat itu, Mas
Imam Baihaqi, saya ceritakan bahwa saya bisa menulis dan biasa nge-blog.
“Kamu
bisa desain grafis?” tanya Mas Imam waktu itu.
Saya
diam beberap detik. Memang, meski gak pintar-pintar amat, saya tahu kalau
software olah foto itu namanya Photoshop.
“Bisa,
Mas!” jawab saya lantang. Soal bisa atau tidak, itu urusan nanti, yang penting
saya bisa bekerja di Dompet Dhuafa.
Usai
interwiew, saya pulang dengan segudang kekhawatiran. Ya, bagaimana tidak
khawatir. Kan saya nggak bisa Photoshoooooop! >,<. Oke, kita masuk ke
sesi pengakuan doa. Sore itu saya langsung ke toko buku di salah satu mall di
tanah rantau ini. Sekitar 3 jam saya mojok cantik ditemani beberapa buku
Photoshop dan Corel Draw. Saya baca lamat-lamat. Beberapa bagian penting
seperti membuat teks, cropping, membuat ukuran workspace, dll, saya foto. Kan
saya sudah bilang kalau kondisi saya lagi kere, jadi mana mungkin membawa buku
itu ke kasir? >,<
Alhamdulillah,
sudah dua kali Ramadhan saya di Dompet Dhuafa. Setahun pernah menjadi relawan
yang pekerjaan saya menulis, admin website (eh, bukan, ding, waktu itu DD
Banten masih pakai blog gratis dari Google, aka. blogspot). Tapi jangan anggap
remeh, blog itu pernah dinobatkan sebagai penyumbang nomor satu brand awardness
Dompet Dhuafa secara nasional. Tepuk tangan!
Selain
jadi admin blog, saya juga tukang cetak-mencetak; spanduk, backdrop, dll
(tentunya dengan desain ala kadarnya waktu itu).
Tapi,
bukan saya kalau bukan gila-gilaan belajarnya. Banyak tutorial Photoshop saya
unduh dari Youtube. Saya tonton berulang-ulang, saya praktikkan, ah,
menyenangkan sekali.
Setahun
berlalu, saya diangkat ke posisi corporate communicatios, yang notabene tugas
saya tentu lebih menantang dan menyenangkan. Saya berurusan dengan press
release, bertemu dengan teman-teman wartawan, mewawancara penerima manfaat
program Dompet Dhuafa. Ah, hati ini rasanya penuh sesak oleh kisah-kisah haru
biru mereka. Awalnya., saya mengira adalah makhluk paling malang yang diciptakan
Allah, tapi di luar sana? (Hening).
Enam
bulan kemudian, Pimpinan Cabang yang baru memberikan tantangan baru. Entah apa
alasan beliau menawarkan jabatan yang membuat saya merinding itu ditawarkan
kepada saya; Resource Mobilization Manager. What?!! Manager, Boy! Manager!
Wait!
Saya menolak. Buka jabatan yang saya kejar. Saya sadar tentang siapa diri saya,
yang me-manage diri sendiri saja masih belum mampu. Saya diberi waktu satu
minggu untuk berpikir.
  
Oh
tidaaak!? What should I do? Hah?!!
Di
hari terakhir saya letakkan surat penawaran itu di meja atasan. Coba tebak apa
jawaban saya! OKE, SAYA TERIMA. Hahaha. Ya, mungkin saat itu pikiran saya
tengah error.
Diamanahi
sebagai Manajer REMO, mau tidak mau saya kudu belajar semakin keras. Buku-buku
bertema leadership berserakan di kamar saya. Kenangan masa-masa kuliah kembali
saya bongkar. Di situlah kadang saya merasa sedih, pengin meraung-raung.
Andai… andai dulu saya rajin masuk kelas mata kuliah Strategi Korporasi, atau
Manajemen Bisnis, Manajemen Risiko, dan jemen-jemen yang lain, tentunya itu
akan sangat membantu. Untungnya, materi-materi itu bisa saya baca kembali di
buku-buku yang ada di toko buku (terima kasih, toko buku). Beruntung pula, Mas
Usman, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa saat ini begitu mendukung timnya untuk
terus belajar, entah itu melalui training, seminar, maupun capacity building
yang diadakan lembaga.
Lalu
apa sekarang? Ya, waktu saya habis di DD. Hidup saya saat ini untuk DD. Saya
tersiksa? Tidak… justru inilah salah satu mimpi yang Allah wujudkan (padahal
saya tidak pernah memimpikan ini). Ah, Allah Mahabaik, SisBro… Mahabaik.
Mimpi…
saya masih terus bermimpi. Mimpi punya buku kedua, ketiga, keempat, dan
seterusnya. Mimpi kelak bisa seperti para muzzaki yang menjadi donatur Dompet
Dhuafa. Mimpi menghabiskan mata tua di kampung. Dan tentunya yang paling urgent
untuk segera di-aamiin-kan, mimpi untuk membina rumah tangga. Anjaaai! Hihihi.
Aamiin.
Kepada SisBro yang rela menyumbangkan waktu berharga kalian untuk
membaca postingan ini, rawatlah mimpi-mimpi kalian. Karena apa yang tidak
kalian mimpikan saja Allah pasti akan kasih, apalagi yang kalian mimpikan, dan
kalian mengerahkan effort yang besar untuk mewujudkan mimpi itu. Keajaiban itu
nyata adanya! 
Bagikan tulisan ini:
Allah Akan Bayar Utang Saya

Allah Akan Bayar Utang Saya

Ping!
Layar ponsel Dompet Dhuafa (DD) Banten
berkedip, sebuah pesan BlackBerry
Messenger 
 dari seorang teman di friendlist DD
Banten membuyarkan konsentrasi saya siang itu. Di penghujung bulan seperti ini
biasanya pekerjaan saya sebagai Corporate
Communication
 agak padat—menulis berita untuk sejumlah media
lokal, mendesain komunikasi visual di sosial media untuk di-publish selama satu
bulan ke depan, mengatur jadwal menulis amil DD Banten, juga membalas semua
pertanyaan dari masyarakat yang ditujukan lewat nomor dan akun resmi DD Banten
yang saya pegang.
“Assalamualaikum…, Ustad, bisa ke rumah?”
Ada jeda beberapa detik sebelum saya
memutuskan mengetik jawaban di layar sentuh smartphone yang saat itu sudah berada di
tangan saya. Saya menarik napas agak dalam. Hingga detik ini saya merasa sangat
belum pantas disapa dengan kata ‘ustad’. Saya masih sangat jauh dari kriteria
seorang ustad. Bagi saya, kata ‘ustad’ adalah kata yang sangat sakral. Dan saya
masih dalam proses belajar, akan terus belajar.
“Waalaikumsalam, terima kasih, Mas. Dengan
Setiawan di sini, ada yang bisa saya bantu?”
Dalam beberapa menit percakapan di BBM
itu, Sahabat DD Banten yang
menyebut namanya Tedi ini ingin dijemput donasinya sekaligus berkonsultasi
seputar pembayaran fidyah.
Kami membuat janji di Ciruas, beberapa kilometer dari kantor Dompet Dhuafa
Banten di Kepandean. Saya memutuskan untuk berangkat ditemani Farhan, tim
fundraising DD Banten.
Langit Kota Serang tengah jingga ketika saya
dan Farhan membelah jalanan aspal Kota Serang menuju daerah Serang Timur,
Ciruas.
“Pelan-pelan aja, Han,” saya menepuk pundak
Farhan. Jalur menuju Ciruas adalah jalur padat lalu-lintas, lebih-lebih di jam
pulang kerja seperti ini, kepadatannya akan semakin menjadi-jadi.
Farhan memarkir kendaraan di depan alun-alun
Ciruas yang mulai kusam tak terawat. Saya men-dial nomor Kang Tedi yang sebelum
berangkat, saya sempatkan memintanya untuk mempermudah komunikasi.
“Kang, saya sudah di depan alun-alun, ya….”
Sebuah ruang sekira 3×4 meter persegi tanpa
perabotan. Seorang laki-laki muda menyilakan kami masuk. Saya taksir usianya
menjelang 27 atau 28 tahun, beberapa tahun di atas saya.
Saya dan Farhan bersila di tikar yang
dibentangkan pemilik rumah. Saya memilih duduk dekat pintu agar dapat menikmati
embusan angin sore yang bertiup sepoi. Dari arah dalam, langkah-langkah kecil
menghampirinya dan dalam selang beberapa detik sudah berada di pangkuan Kang
Tedi.
“Ayo salim dulu
sama Pak Ustad,” Kang Tedi membimbing tangan bocah itu untuk menyalami saya dan
Farhan. Ah, sebuah pemandangan yang haru. Seketika ada rindu yang menyergap
saya.
Punten,
Ustad. Keadaan rumahnya kayak gini, maklum masih ngontrak,” ujar Kang
Tedi sembari menyuguhkan dua teh botol ke hadapan kami. Saya mengulas
senyum takjub seraya berterima kasih. Dua teguk teh botol dingin mengaliri
tenggorokan saya.
“Sudah lama tinggal di sini, Kang?”
“Baru berapa bulan, Tad. Tadinya saya kerja
jadi karyawan. Tapi lama-lama kok capek juga, berangkat pagi pulang malam. Waktu
ketemu anak jadi sedikit,” jawabnya panjang-lebar.

Saya mencerna kalimatnya. Ah, benar adanya.…
saya menganguk-ngangguk.
“Bulan lalu saya mutusin buat resign dan buka
usaha server pulsa. Alhamdulillah berjalan, pelanggannya teman-teman dekat
dulu. Hehehe,” lanjutnya.
“Wah, hebat, Kang Tedi. Saya sampai hari ini
malah masih tahap rencana buat buka usaha. Belum berani eksekusi,” saya
menganggapi dengan pengakuan yang sejatinya cukup membuat malu.
“Hehehe. Memang harus berani action, Tad. Tadinya saya
juga banyak takutnya. Tapi setelah ikutan seminar Ippho Santosa yang diadain DD
(Dompet Dhuafa Banten.red) waktu itu, saya jadi makin pede,” akunya.
Subhanallah… alhamdulillah, diam-diam saya bersyukur, kegiatan seminar
Percepatan Rezeki yang digelar DD Banten waktu itu bermanfaat untuk peserta,
salah satunya Sahabat
DD Banten
 yang saat ini ada di depan saya.
Kang Tedi beranjak dari duduknya, “Oh, ya,
Tad, sebentar, ya….”
Selang beberapa menit, ayah muda itu kembali
dengan seperangkat netbook di
tangannya.
“Jadi begini, Tad. Saya mau donasikan netbook ini lewat
DD. Mudah-mudahan bermanfaat…,” ungkapnya.
“Alhamdulillah, insya Allah akan sangat
bermanfaat, Kang.”
Kang Tedi mulai membuka cerita yang semestinya
saya tidak perlu tahu….
“Sebenernya saya masih punya utang beberapa
juta sama temen waktu mau buka usaha ini….,” katanya sembari mengelap debu yang
menempel di netbook.
“Tadinya mau dijual, tapi setelah saya diskusi sama istri, kalaupun dijual,
uangnya tetep nggak
akan bisa lunasin utangnya,” lanjutnya.
“Oh…, tapi paling nggak bisa mengurangi
utangnya, Kang.”
Kang Tedi tersenyum. Saya dibalut banyak tanya.
“Hehehe. Iya, sih. Tapi nggak apa-apa, biar
Allah saja yang ngelunasin utang saya, Tad.”
Aamiin! Saya terdiam. Ada haru dan perasaan salut yang
tiba-tiba membuncah. Saya seperti pengarang yang kehilangan kata. Ah, malu…
saya merasa amat malu dan kerdil di hadapan Kang Tedi.
***
Cerita Kang Tedi menyisakan kesan mendalam di
hati dan pikiran saya, tentu juga di hati pembaca semua. Seringkali kita
mengadapi bergulatan batin ketika  dihadapkan pada situasi untuk berbagi
ketika dalam keadaan tidak ‘berlebih’. Kita masih sering mengomel apabila
ongkos angkutan umum kurang kembalian atau mengumbar kekecewaan di sosial media
ketika membayar suatu barang yang harganya agak lebih dari yang biasanya kita
bayar. Kita masih berat untuk menyedekahkan uang Rp50 ribu rupiah ke kotak amal
masjid ketimbang membawa uang dengan jumlah itu ke mall yang akan habis dalam
satu kali transaksi di kedai kopi. Ah, kita lupa, Allah yang Mahakaya telah
berjanji, tidak akan miskin orang-orang yang berbagi di kala dia sulit.
Mari kita renungi firmanNya di Surah Al
Baqarah ayat 261 ini: “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang
yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah
melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . Dan Allah Mahaluas
(kurniaNya) lagi Maha Mengetahui.”
Demikian Sang Pemilik Hidup telah menjamin
bahwa ada keberkahan di setiap rezeki yang kita bagikan. Sesuatu yang kita
bagikan bukannya berkurang, tapi justru akan terus bertambah… bertambah… dan
bertambah, seperti itu wasiat kekasihNya dalam hadist. Tentu kita tidak mau
menungkiri, bukan? Ketika ada kelegaan yang menghampiri kita, dada terasa
demikian lapang setiap kali kita usai berbagi. Itulah salah satu berkah yang
Allah hadiahkan kepada orang yang senantiasa rindu untuk berbagi, sekalipun
tidak dalam keadaan berkecukupan.
Saya teringat sebuah artikel yang pernah saya
baca tentang publikasi Prof. Dr. David McClelland, di sana dituliskan,
melakukan sesuatu yang positif terhadap orang lain akan memperkuat sistem
kekebalan tubuh. Sebaliknya, orang kikir cenderung terserang penyakit. Mengapa
demikian? Karena orang kikir biasanya cinta materi (seperti uang). Bila uangnya
berkurang, maka dia akan stres, tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol yang
mengurangi kekebalan tubuhnya.
Menolong orang lain secara sukarela meningkatkan
kebugaran tubuh dan angka harapan hidup. Kisah nyata tentang Rockeffeler, orang
kaya yang tidak bahagia dan sulit tidur. Dokter memvonis hidupnya tidak akan
lama. Lalu Rockeffeler memutuskan mengubah hidupnya untuk menolong kaum miskin.
Lalu apa yang terjadi? Kesehatannya membaik dan berlawanan dengan perkiraan
dokter. Ia hidup sampai 98 tahun dan dikenal sebagai ahli filantropi dan
dermawan. Dengan demikian, keindahan dan kekuatan bersedekah bersifat
universal, dapat dirasakan oleh siapapun, baik Muslim maupun non-Muslim yang
melakukannya. Sekaligus hal ini membuktikan bahwa ajaran Islam yang
kebenarannya bersifat universal.
***
Ping!
“Assalamualaikum, Tad… alhamdulillah, barusan
saya transfer zakat penghasilan ke rekening DD Banten, ya, semoga berkah.”
Sebuah pesan BlackBerry Messenger  dari Kang Tedi.
Saya mengulas senyum, mengetikkan sebait doa untuknya. Semoga Allah memberi pahala atas apa
yang engkau berikan dan menjadikannya suci bagimu, memberikan keberkahan
terhadap hartamu yang tinggal. Aamiin. 
[*]

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Swara Cinta edisi 50, April-Mei 2015
Bagikan tulisan ini:
Catatan Pascawisuda: Menjadi Baringin di Tangah Padang

Catatan Pascawisuda: Menjadi Baringin di Tangah Padang

22 November 2014

SUBUH masih pekat, kedua bola mata saya menjelma purnama, bulat, mengusir kantuk yang sebenarnya jauh sebelum subuh datang pun dia hanya mengintip malu-malu. Semalaman saya tidak bisa tidur. Memang, sejak beberapa tahun yang lalu saya menderita insomnia akut, dan meski kini sudah bekerja, “musuh tengah malam” itu masih enggan beranjak dari tubuh saya yang kata orang kian cungkring ini.

Hfff! Memang kebiasaan saya sejak dulu, setiap kali akan ada momen penting dalam hidup, satu malam sebelum hari itu datang saya pasti berubah resah, gelisah, dan tak bisa tidur. Padahal saya masih jomblo, lho. Oke, lupakan itu!

Bait terakhir kumandang azan Subuh baru saja usai, saya menyiapkan kemeja putih dan celana bahan yang akan saya pakai hari ini. Ini adalah hari istimewa untuk saya dan keluarga, terlalu istimewa. Betapa tidak, hari ini adalah hari di mana keluarga besar kami akan mencatat sejarah baru dalam rentang hidup yang panjang keturunan Mak Wak (nenek). Saya akan menjadi sarjana pertama dari keluarga persukuan nenek, karena kami di Minang menganut sistem kekerabatan matrilineal. 

Saya telah selesai mandi. Ruang tengah rumah Ante Yen (tempat saya tinggal dan menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar di Serang) pun mulai sibuk. Empat pasang mata memperhatikan saya memakai pakaian wisuda dan toga. Ada binar di mata Amak, Abak, Ante Us, juga Mak Wak. Ah, saya merasa berdosa demikian terlambat mempersembahkan ini pada mereka. Enam tahun menghabiskan waktu untuk kuliah bukanlah masa yang sebentar. Tapi tidak apa-apa, saya pun tahu mereka pasti bisa memahami.

Saya tidak pernah mengira, pamandangan pagi ini akan kembali dapat saya saksikan, melihat kedua sosok manusia paling berjasa dalam hidup saya—Amak dan Abak. Tidak ada yang perlu saya tutup-tutupi, kedua orangtua saya berpisah 2005 silam. Kala itu saya baru lulus SMP. Barangkali atas dasar sakitnya perpisahan itu yang membuat saya betah di rantau. Terlebih keadaan ekonomi Abak yang tak mungkin saya andalkan untuk menumpangkan cita-cita, juga Amak yang hidup dengan penghasilan warung yang pas-pasan, saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman.

Masa SMA saya lalui di kaki Lembah Harau dan pinggir Danau Maninjau, Sumatra Barat. Di Tanjung Pati saya tinggal bersama Tak Rus dan membantu usaha fotokopinya sepulang sekolah dan di Maninjau saya mendapat beasiswa selama 2,5 tahun. Gerbang remaja terbuka lebar saat itu. Segala rasa dan pengalaman bebas keluar masuk, namun di masa “pemulihan jiwa” pasca-perpisahan Abak dan Amak itu, duka mengambil tempat lebih banyak. Tak jarang saya meratapi nasib, memandang langit tengah malam, dan tersedu mengadu pada Tuhan. Entahlah, saya sendiri telah lupa bagaimana cara saya bertahan di masa itu. Yang pasti—hari ini saya masih hidup dan akan diwisuda dalam beberapa jam ke depan dalam keadaan bahagia. 

Tol masih sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melaju. Matahari pagi menemani perjalanan saya dan keluarga ke The Royale Krakatau Hotel, tempat diselenggarakannya acara wisuda gelombang III tahun 2014 oleh kampus saya, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Langkah saya terasa gagah. Hati pun demikian lapangnya. Ya, kesakitan masa lalu itu telah hilang. Saya yang mengusirnya. Itu juga yang membuat kadar kekecewaan saya yang lama tercatat sebagai mahasiswa menjadi berkurang. Enam tahun di Banten, demikian banyak pengamanan yang saya cicipi. Demikian banyak jiwa-jiwa yang tenyata lebih sakit dari kesakitan saya, yang pada akhirnya menyadarkan saya bahwa tiada guna menyimpan sakit. Sakit yang dipelihara dalam jiwa seperti menanam benalu di pohon mangga. Sia-sia. 

Senyum bangga kedua orangtua saya jauh lebih berharga. Dan saya lebih memilih itu.

***

Sepuluh. Dua puluh. Lima puluh. Ah, saya tak mampu lagi mengitung. Banyak tangan melambai di depan saya. Banyak mata yang memerah dan sembab. Banyak sedu haru-biru. Ada bapak yang memeluk putrinya. Ada ibu mencium putranya. Saya mencari-cari Amak dan Abak, saya ingin diperlakukan serupa.

Aroma lumpur di badan Abak masih seperti dulu. Aroma baju tua Amak juga tak berubah. Meski dari subuh Amak telah dibaluti kebaya merah dan Abak berbatik warna senada—yang baru lepas segel, aroma mereka tetap seperti dulu. Yang berbeda hanya kerutan di wajah yang kini kian jelas, terlebih Abak, beberapa giginya telah tanggal. Abak terlihat lebih tua dari usianya. Sudahlah, tak ada yang perlu disesali, demikian kata Abak pada saya dalam beberapa kali percakapan kami di telepon.

Tab saya berdentang. Ucapan selamat dari kawan-kawan di BBM, SMS, WhatsApp, dan Facebook membanjiri. Di depan saya beberapa tangan melambai-lambai. Hilal, Ali, Naminist, Bembi, Asep, Ayah Rusli, Dhiva… ah, tiba-tiba saya merasa demikian kaya. 

“Selamat ya… akhirnya wisudaaa!!!” 

“Bangga dong, Sarjana Teknik. Maju ke level selanjutnya, ya!” 

Banyak doa yang datang. Doa-doa yang saya kumpulkan untuk bahan bakar agar kapal impian terus melaju. Karena perjalanan menuju pulau impian yang sesungguhnya baru saja dimulai. Kapal tempat impian keluarga besar pun ditumpangkan. Kapal yang membawa bibit “baringin di tangah padang”. (Baringin di tangah padang adalah kutipan pepatah adat Minangkabau yang menggambarkan sosok seorang laki-laki dalam menjalani kehidupan). 

Baringin di tangah padang
Beringin di tengah padang
Baurek cakam ka tanah
Berakar menghujam tanah
Jauah tahunjam ka pitalo
Jauh terhujam ke dasar bumi
Panuahlah bumi dek rumpunnyo
Penuhlah bumi karena rumpunnya
Dek gampo indak tabongkehkan
Tak akan tumbang oleh gempa
Karano badai alun taoleang
Tak akan goyah oleh badai
Kununlah guyang angin lalu
Hanya bergerak karena angin berembus
Taguah pandirian
Teguh pendirian
Batauhid sarato istiqomah
Bertauhid dan istiqomah
Kukuah sarato yakin
Kokoh dan teguh pendirian
Kok yakin tumbuah dipaham
Ketika yakin pada sesuatu yang benar
Sajangka duduak indak bakisa
Sejengkal duduk pun tidak akan bergeser
Satampok tagak indak bapaliang
Tegak tidak akan berpaling
Walau baalah bujuak rayu
Walau bagaimanapun bujuk serta rayuan
Haram kuniang karano kunyik
Tidak akan kuning dilumuri kunyit
Pantang lamak ulah dek santan
Pantang enak biar pun disantani
Rugi jo pitih indak ditimbang
Rugi dan uang tidak menjadi pertimbangan
Jariah jo payah soal biaso
Susah dan payah bukanlah masalah

Dedi Setiawan, S.T. Saya yang masih terus belajar menjadi baringin di tangah padang


Bagikan tulisan ini:
Guru Saya itu Bernama Imam Baihaqi

Guru Saya itu Bernama Imam Baihaqi

Serang, 23 September 2014

Barangkali inilah yang disebut relativitas oleh Einstein. Saya mencatat, persis 8 bulan yang lalu saya datang dan melamar pekerjaan di kantor ini—Dompet Dhuafa Banten, pelabuhan terakhir yang saya singgahi setelah mencoba peruntungan di beberapa perusahaan dengan berbagai jenis pekerjaan. Namun, rasa-rasanya baru hitungan hari saya di sini.

Slide kenangan 8 bulan yang lalu itu kembali hadir silih-berganti di kepala saya, tadi siang. Seperti biasa, di lokasi tempat saya bekerja saat ini lumayan sulit mencari tempat makan. Sengaja saya berjalan-jalan ke kawasan Royal di jam istirahat makan siang, sekitar 1 kilometer lebih dari kantor Dompet Dhuafa Banten di Kepandean.

Mungkin sudah kebiasaan sejak kecil, mata saya paling gampang akrab dengan tulisan, begitupun tadi siang ketika dia berserobok dengan stiker kecil di etalase rumah makan tempat saya menjatuhkan pilihan. Hanya satu kalimat yang tertera di sana, namun begitu pas dan melambungkan ingatan saya kembali ke masa-masa kesakitan yang pernah hadir menyapa hidup. Masa-masa sebelum di sini, masa-masa ketika saban malam pikiran saya berkecamuk. Masa-masa saya harus berpikir tujuh kali memutuskan untuk memilih makan—itulah masa-masa pengangguran!

“Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji.” – (H.R. Bukhari)

Demikianlah sebait kalimat yang menohok ulu hati itu, menampar dengan begitu lembut. Saya tak kuasa membendung pikiran saya berlari ke sana-kemari. Sampai pada titik saya berkesimpulan, inilah jalan terbaik yang telah Allah siapkan untuk saya melangkah di atasnya.

Seumur-umur, tak pernah di kepala saya terpikir untuk bekerja di lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa. Masa depan gemilang saya bangun di kepala menyerupai istana megah. Benar, saya bermimpi untuk bekerja di belakang meja dengan jas dan dasi. Bekerja sembari menyaksikan jari jemari menari di atas tuts keyboard, mengarang cerita, dan berbagi inspirasi dengan banyak orang. Tapi itu bukan di lembaga sosial.

Perjalanan saya dalam mewujudkan istana masa depan penuh tunggang-langgang. Luka di mana-mana. Sakit? Tak perlu saya ceritakan. Tapi apalah arti luka bila mimpi telah menjadi candu, bukan?

Dari sakit yang tak kunjung pergi selamanya itu, saya jadi tahu, rencana Allah lebih megah dibanding khayalan saya. Sebuah proses yang saya ikut di dalamnya hingga sampai pada satu titik pemahaman bahwa hidup bukanlah sekadar senang-senang, bukanlah sebuah proses yang bisa saya anggap biasa. Allah mempertemukan saya dengan Dompet Dhuafa, lalu saya diberikan kesempatan untuk melihat segala sesuatu di dalamnya, meresapi dan menyesuaikan nilai-nilai yang saya anut dengan nilai-nilai yang ditebar oleh sebuah lembaga amil zakat seperti Dompet Dhuafa, saya berhenti
pada satu kata—BERBAGI.

Ya, berbagi. Saya bahagia ketika mengucapkan kata tunggal itu. Satu kata dengan seribu definisi yang lidah saya barangkali tak akan mampu merapalnya.

Rasa syukur saya berlipat-lipat, beranak-pinak, ketika saya sadar betapa indahnya rencana Allah, memberikan Dompet Dhuafa sebagai tempat saya singgah setelah sempat terengah. Ternyata tenaga saya tak akan pernah cukup bila terus memburu tanpa pernah memberi. Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang serupa pincuran air dan saya menengadah di bawahnya—menyesapi setiap jengkal kesegaran yang merambat dari ujung kepada, dada, hingga perut saya.

Ah, saya kembali terkenang pada sesosok laki-laki muda berperawakan kurus yang pertama kali saya temui di sini. Dia yang menunjukkan kepada saya sisi-sisi terbaik untuk melihat rupa kehidupan. Saya baru tahu, di satu sisi saya sering meratapi nasib sial yang menimpa saya, ternyata ketika saya mau berpindah untuk melihat penderitaan dari sisi lain, maka keindahanlah yang akan tampak.

Minggu-minggu pertama bergabung di DD Banten. 🙂

Imam Baihaqi. Saya belajar banyak dari Anda. Tentang apa sesungguhnya yang disebut sabar oleh banyak manusia. Tentang apa sebenarnya yang diteriakkan sederhana oleh banyak mulut. Tentang apa yang sebetulnya digembor bekerja dan mengabdi oleh banyak aktivis. Juga tentang apa yang disebut keberanian sejati.

Saya berkeyakinan, antara saya dan Mas Imam barangkali hanya terpaut beberapa tahun. Tapi Mas Imam beberapa tingkat di atas saya di banyak sisi kehidupan. Beliau menang banyak. Dan saya sangat menghormati beliau.

Kita harus menjadi orang yang pro-aktif, jangan reaktif. Orang pro-aktif itu adalah orang yang memiliki prinsip teguh dalam hidupnya. Kebalikan dengan orang reaktif yang mood-mood-an, dan mudah terpengaruh.”

Foto bersama dengan Mas Imam di hari terakhirnya ke kantor kecil kami.

“Jika kamu tidak suka terhadap pekerjaanmu, maka sukailah suasana yang ada dalam pekerjaanmu. Jika kamu tidak suka terhadap suasana yang ada dalam pekerjaan, maka sukailah ruangan atau kantormu seperti interior, dinding kantor, aksesoris pendukung kantor dan foto-foto yang menghiasi dinding dan mejamu. Jika kamu masih tidak suka terhadap ruangan kerjamu, maka sukailah orang-orang yang ada dalam lingkungan kerjamu yang selalu menyapamu dengan penuh kehangatan setiap masuk dan pulang kerja. Jika kamu tidak suka terhadap orang-orang yang ada di lingkungan kerjamu, maka sukailah setiap perjalanan berangkat dan pulang kerjamu, di mana setiap hari kamu selalu disuguhkan dengan  pemandangan indah. Jika kamu tetap tidak suka terhadap semua itu, bergegas pergi dan carilah suasana pekerjaan yang menurutmu nyaman dan membuatmu bahagia.”

Mas Imam digantikan Kang Usman. Keduanya menjadi guru terbaik. Alhamdulillah. 🙂

Kalimat-kalimat itu hanya beberapa dari sekian banyak yang saya tulis kembali di buku catatan harian saya. Belum lagi contoh-contoh sikap beliau yang saya amati diam-diam. Diam-diam pula saya merasa malu tentang apa yang telah saya tahu dan lakukan selama ini. Saya mesti banyak belajar.

Great leader doesn’t tell you what to do, he show you how its done. Tugas dan pekerjaan saya di Dompet Dhuafa Banten berkaitan dengan tulis-menulis. Satu hal yang membuat saya merasa beruntung pernah dipimpin dan bekerja sama dengan Mas Imam, beliau adalah tipe pemimpin yang bekerja dengan memberi contoh. Mas Imam cukup aktif menulis di blog pribadinya, menuangkan buah pikirannya di sana. Dari sosok Mas Imam saya belajar bagaimana membuat hidup tak lagi sekadar hidup, bagaimana membuat hidup menjadi lebih berarti, dan bagaimana memupuk semangat berbagi meski diri tak pada posisi berlebih. Namun, Allah tak mengizinkan saya untuk belajar lama dengan Mas Imam. Guru saya itu harus pulang kampung ke Semarang, karena didapuk menjadi Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Tengah. Tapi bak kata guru mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau waktu saya menduduki bangku SMP, “Nan satitiak jadikan lawuik, nan sakapa jadikan gunuang, setetes jadikan laut, sekepal jadikan gunung.” Nilai-nilai hidup yang pernah ditransfer Mas Imam dalam waktu belajar yang singkat itu, saya berjanji akan memeliharanya baik-baik sebagai azimat peneguh cara pandang terhadap hidup yang masih sering goyah.

Dan tentang pekerjaan saya saat ini, ah…benih angan yang dulu saya semai di kepala kini bertunas, berdaun lebat, dan berbuah manis. Manis yang ingin saya bagikan kepada teman-teman di sini. Manisnya BERBAGI. Berbagi dalam kebaikan. Sungguh saya tak berdusta, lega hati ini setiap kali usai berbagi bersama Dompet Dhuafa, meski saya tahu, posisi saya hanya sebagai jembatan, penghubung bantuan dari muzzaki kepada mustahik.

(*Tulisan ini saya dedikasikan sebagai prasasti rasa terima kasih saya kepada salah satu guru kehidupan. Thanks, Kang Mas Imam. Sukses dan bermanfaat di manapun Mas Imam berpijak. 


Bagikan tulisan ini: