Guru Saya itu Bernama Imam Baihaqi

Guru Saya itu Bernama Imam Baihaqi

Serang, 23 September 2014

Barangkali inilah yang disebut relativitas oleh Einstein. Saya mencatat, persis 8 bulan yang lalu saya datang dan melamar pekerjaan di kantor ini—Dompet Dhuafa Banten, pelabuhan terakhir yang saya singgahi setelah mencoba peruntungan di beberapa perusahaan dengan berbagai jenis pekerjaan. Namun, rasa-rasanya baru hitungan hari saya di sini.

Slide kenangan 8 bulan yang lalu itu kembali hadir silih-berganti di kepala saya, tadi siang. Seperti biasa, di lokasi tempat saya bekerja saat ini lumayan sulit mencari tempat makan. Sengaja saya berjalan-jalan ke kawasan Royal di jam istirahat makan siang, sekitar 1 kilometer lebih dari kantor Dompet Dhuafa Banten di Kepandean.

Mungkin sudah kebiasaan sejak kecil, mata saya paling gampang akrab dengan tulisan, begitupun tadi siang ketika dia berserobok dengan stiker kecil di etalase rumah makan tempat saya menjatuhkan pilihan. Hanya satu kalimat yang tertera di sana, namun begitu pas dan melambungkan ingatan saya kembali ke masa-masa kesakitan yang pernah hadir menyapa hidup. Masa-masa sebelum di sini, masa-masa ketika saban malam pikiran saya berkecamuk. Masa-masa saya harus berpikir tujuh kali memutuskan untuk memilih makan—itulah masa-masa pengangguran!

“Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji.” – (H.R. Bukhari)

Demikianlah sebait kalimat yang menohok ulu hati itu, menampar dengan begitu lembut. Saya tak kuasa membendung pikiran saya berlari ke sana-kemari. Sampai pada titik saya berkesimpulan, inilah jalan terbaik yang telah Allah siapkan untuk saya melangkah di atasnya.

Seumur-umur, tak pernah di kepala saya terpikir untuk bekerja di lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa. Masa depan gemilang saya bangun di kepala menyerupai istana megah. Benar, saya bermimpi untuk bekerja di belakang meja dengan jas dan dasi. Bekerja sembari menyaksikan jari jemari menari di atas tuts keyboard, mengarang cerita, dan berbagi inspirasi dengan banyak orang. Tapi itu bukan di lembaga sosial.

Perjalanan saya dalam mewujudkan istana masa depan penuh tunggang-langgang. Luka di mana-mana. Sakit? Tak perlu saya ceritakan. Tapi apalah arti luka bila mimpi telah menjadi candu, bukan?

Dari sakit yang tak kunjung pergi selamanya itu, saya jadi tahu, rencana Allah lebih megah dibanding khayalan saya. Sebuah proses yang saya ikut di dalamnya hingga sampai pada satu titik pemahaman bahwa hidup bukanlah sekadar senang-senang, bukanlah sebuah proses yang bisa saya anggap biasa. Allah mempertemukan saya dengan Dompet Dhuafa, lalu saya diberikan kesempatan untuk melihat segala sesuatu di dalamnya, meresapi dan menyesuaikan nilai-nilai yang saya anut dengan nilai-nilai yang ditebar oleh sebuah lembaga amil zakat seperti Dompet Dhuafa, saya berhenti
pada satu kata—BERBAGI.

Ya, berbagi. Saya bahagia ketika mengucapkan kata tunggal itu. Satu kata dengan seribu definisi yang lidah saya barangkali tak akan mampu merapalnya.

Rasa syukur saya berlipat-lipat, beranak-pinak, ketika saya sadar betapa indahnya rencana Allah, memberikan Dompet Dhuafa sebagai tempat saya singgah setelah sempat terengah. Ternyata tenaga saya tak akan pernah cukup bila terus memburu tanpa pernah memberi. Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang serupa pincuran air dan saya menengadah di bawahnya—menyesapi setiap jengkal kesegaran yang merambat dari ujung kepada, dada, hingga perut saya.

Ah, saya kembali terkenang pada sesosok laki-laki muda berperawakan kurus yang pertama kali saya temui di sini. Dia yang menunjukkan kepada saya sisi-sisi terbaik untuk melihat rupa kehidupan. Saya baru tahu, di satu sisi saya sering meratapi nasib sial yang menimpa saya, ternyata ketika saya mau berpindah untuk melihat penderitaan dari sisi lain, maka keindahanlah yang akan tampak.

Minggu-minggu pertama bergabung di DD Banten. 🙂

Imam Baihaqi. Saya belajar banyak dari Anda. Tentang apa sesungguhnya yang disebut sabar oleh banyak manusia. Tentang apa sebenarnya yang diteriakkan sederhana oleh banyak mulut. Tentang apa yang sebetulnya digembor bekerja dan mengabdi oleh banyak aktivis. Juga tentang apa yang disebut keberanian sejati.

Saya berkeyakinan, antara saya dan Mas Imam barangkali hanya terpaut beberapa tahun. Tapi Mas Imam beberapa tingkat di atas saya di banyak sisi kehidupan. Beliau menang banyak. Dan saya sangat menghormati beliau.

Kita harus menjadi orang yang pro-aktif, jangan reaktif. Orang pro-aktif itu adalah orang yang memiliki prinsip teguh dalam hidupnya. Kebalikan dengan orang reaktif yang mood-mood-an, dan mudah terpengaruh.”

Foto bersama dengan Mas Imam di hari terakhirnya ke kantor kecil kami.

“Jika kamu tidak suka terhadap pekerjaanmu, maka sukailah suasana yang ada dalam pekerjaanmu. Jika kamu tidak suka terhadap suasana yang ada dalam pekerjaan, maka sukailah ruangan atau kantormu seperti interior, dinding kantor, aksesoris pendukung kantor dan foto-foto yang menghiasi dinding dan mejamu. Jika kamu masih tidak suka terhadap ruangan kerjamu, maka sukailah orang-orang yang ada dalam lingkungan kerjamu yang selalu menyapamu dengan penuh kehangatan setiap masuk dan pulang kerja. Jika kamu tidak suka terhadap orang-orang yang ada di lingkungan kerjamu, maka sukailah setiap perjalanan berangkat dan pulang kerjamu, di mana setiap hari kamu selalu disuguhkan dengan  pemandangan indah. Jika kamu tetap tidak suka terhadap semua itu, bergegas pergi dan carilah suasana pekerjaan yang menurutmu nyaman dan membuatmu bahagia.”

Mas Imam digantikan Kang Usman. Keduanya menjadi guru terbaik. Alhamdulillah. 🙂

Kalimat-kalimat itu hanya beberapa dari sekian banyak yang saya tulis kembali di buku catatan harian saya. Belum lagi contoh-contoh sikap beliau yang saya amati diam-diam. Diam-diam pula saya merasa malu tentang apa yang telah saya tahu dan lakukan selama ini. Saya mesti banyak belajar.

Great leader doesn’t tell you what to do, he show you how its done. Tugas dan pekerjaan saya di Dompet Dhuafa Banten berkaitan dengan tulis-menulis. Satu hal yang membuat saya merasa beruntung pernah dipimpin dan bekerja sama dengan Mas Imam, beliau adalah tipe pemimpin yang bekerja dengan memberi contoh. Mas Imam cukup aktif menulis di blog pribadinya, menuangkan buah pikirannya di sana. Dari sosok Mas Imam saya belajar bagaimana membuat hidup tak lagi sekadar hidup, bagaimana membuat hidup menjadi lebih berarti, dan bagaimana memupuk semangat berbagi meski diri tak pada posisi berlebih. Namun, Allah tak mengizinkan saya untuk belajar lama dengan Mas Imam. Guru saya itu harus pulang kampung ke Semarang, karena didapuk menjadi Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Tengah. Tapi bak kata guru mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau waktu saya menduduki bangku SMP, “Nan satitiak jadikan lawuik, nan sakapa jadikan gunuang, setetes jadikan laut, sekepal jadikan gunung.” Nilai-nilai hidup yang pernah ditransfer Mas Imam dalam waktu belajar yang singkat itu, saya berjanji akan memeliharanya baik-baik sebagai azimat peneguh cara pandang terhadap hidup yang masih sering goyah.

Dan tentang pekerjaan saya saat ini, ah…benih angan yang dulu saya semai di kepala kini bertunas, berdaun lebat, dan berbuah manis. Manis yang ingin saya bagikan kepada teman-teman di sini. Manisnya BERBAGI. Berbagi dalam kebaikan. Sungguh saya tak berdusta, lega hati ini setiap kali usai berbagi bersama Dompet Dhuafa, meski saya tahu, posisi saya hanya sebagai jembatan, penghubung bantuan dari muzzaki kepada mustahik.

(*Tulisan ini saya dedikasikan sebagai prasasti rasa terima kasih saya kepada salah satu guru kehidupan. Thanks, Kang Mas Imam. Sukses dan bermanfaat di manapun Mas Imam berpijak. 


Tentang Setiawan Chogah

Tentang Setiawan Chogah



Setiawan Chogah lahir di Atar, Batusangkar, Sumatra Barat, pada 2 Desember. Chogah adalah alumni SMAN Agam Cendekia angkatan kedua. Jingga Langit Pusara
(2006) merupakan cerpen pertamanya yang dimuat di sisipan koran Padang Ekspres
(P’Mails). 

Tulisannya berupa cerpen dan artikel tersebar di beberapa media
lokal dan nasional, seperti Majalah Annida, Majalah Story, Koran Fiksi,
Singgalang, Radar Banten, Tribun Jabar, Tabloid Top Idol Indonesia, Tabloid
Gaul, Majalah HAI, Majalah Sabili, Majalah Imut, berita99.com, sepocikopi.com,
KabarIndonesia.com, dsb. 

Selain di media, cerpen dan kisah inspirasinya pun
terangkum dalam antologi Gilalova #2 bersama Gol A Gong (2010), E-Love Story
(2011), Para Guru Kehidupan (2011), Fragmentasi Ciuman di Bawah Hujan (2012),
Seorang Nenek di Bawah Pohon Kasturi (2012). Setiawan C terpilih sebagai salah
satu dari best Indonesian writers mystery and horror versi Universal Nikko
dalam antologi Dua Sisi Susi (2011). Kisah hidupnya pun diterbitkan oleh
Bentang Pustaka dalam kumpulan kisah inspirasi Berjalan Menembus Batas; bersama
A. Fuadi (2012), buku ini terpilih sebagai nominasi kategori buku non fiksi
terfavorit dan desain sampul buku non fiksi terfavorit di ajang Anugerah
Pembaca Indonesia 2012. 

Pengalaman menulisnya juga terekam dalam antologi A Cup
Of Tea For Writer (2012); bersama Reda Gaudiamo, Triani Retno, dkk, yang
diterbitkan oleh Stiletto Book. 

Lulusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, ini sempat bekerja di perusahaan fabrikasi di Kota Baja, Cilegon, namun pada akhirnya lebih memilih menekuni dunia tulis-menulis dengan mengabdi sebagai corporate communications di Non-Govermental Organization (NGO) Dompet Dhuafa Banten hingga saat ini. Di tengah kesibukannya, Chogah menyempatkan mengelola website literasi dan gaya hidup www.biem.co sebagai Editor In Chief. Untuk berinteraksi dengan Chogah, follow
Twitter-nya @setiawanchogah.

#TalkWith Setiawan Chogah

#TalkWith Setiawan Chogah


Geis, ini kutipan obrolan saya dengan Ailsa dari Sekolah Menulis Kreatif Indonesia beberapa waktu lalu. Sttt, kita ngobloin banyak hal. Kepo? Kepo? Kepo? Yuk, simak, yuk! 

*********
#TalkWith Setiawan Chogah
Haloooo! Malam ini ada kabar gembira! Tapi, tenang ini bukan tentang kulit manggis yang ada ekstraknya. Segmen #TalkWith kembali! Yeay! Setelah hampir 2 bulan segmen ini di biarkan begitu saja, sekarang #TalkWith kembali! Yeay!
Loh kok tayangnya malam Jumat? Biasanya kan malam Minggu…
Yap, untuk Minggu ini ada sedikit perubahan karena kondisi yang tidak memadai jika gue harus posting malam Minggu. 
Ciyee, Ail ceritanya malam Minggu sibuk, ya? Udah taken? Ciyeee…. 
Plis deh, taken sama siapaaa? Udahlah, pokoknya gitu aja. Cuma buat minggu ini aja, kok. 
Okay, malam ini #TalkWith kedatangan seorang cerpenis muda. Sudah mempunyai 10 buku yang dibuat bersama-sama dan 1 buku tunggal yang berisikan kumpulan cerpen. Buku perdananya hasil kumpulan cerpennya yang pernah dimuat di beberapa media. Kebetulan gue kenal sama penulis ini beberapa bulan yang lalu, saat itu gue mengundang dia ke acara yang gue dan teman-teman Sekolah Menulis Kreatif Indonesia adakan, ceritanya bisa dibaca di sini. Cerpennya keren-keren, ada yang mampu meneteskan air mata sampai bikin ngakak guling-guling. 
Oke, langsung aja ya kita simak perbicangan gue dengan Kak Chogah siang tadi, lengkapnya, Setiawan Chogah. Selamat membacaaa! 
Kak Setiawan Chogah book signing usai bedah buku SMS Terakhir di toko buku Leksika Kalibata City
*************
Halo, Kak. Apa kabar? Makasih, ya, sudah mau mampir di #TalkWith
Hallo, Ailsa. Alhamdulillah, kabar sangat baik. Sama-sama, senang bisa ngobrol lagi.
Kemarin baru ngeluarin kumcer SMS Terakhir, ya? Ceritain dong, buku ini menceritakan apa saja?
Hehehe, iya, alhamdulillah. Ini buku tunggal pertama saya. Sebelumnya cuma punya buku keroyokan. SMS Terakhir adalah kumpulan cerpen pilihan dari 15 cerpen saya yang pernah dimuat media massa. Ceritanya tentang cinta secara universal, cinta kepada orangtua, sahabat, alam, kekasih. Pokoknya everything is a about love gitulah. Hehehe.
Wiiih! Oh iya, buku keroyokan apa saja, Kak?
Alhamdulillah, ada 10 buku keroyokan, bikinnya rame-rame. Kebanyakan dari audisi naskah atau lomba kepenulisan.

Waaah, banyak banget! Diabsen dong beberapa bukunya…
Aduh jadi malu, nih. Beberapa di antaranya ada Orang Bunian, E-Love Story, Para Guru Kehidupan, Gilalova 2 (Satu buku sama Mas Gol A Gong), Seorang Nenek di Bawah Pohon Kasturi, Dua Sisi Susi, Fragmentasi Ciuman di Bawah Hujan, A Cup of Tea for Writer, Berjalan Menembus Batas; Man Jadda the Series (Satu buku dengan A. Fuadi Negeri 5 Menara). 
Wah, asik nih pernah nulis bareng penulis-penulis keren. Cerpen sering majang di mana aja, Kak?
Paling sering Majalah Story dan Annida. Pernah juga di Majalah Hai, Tabloid Gaul, TOP Idol Indonesia dan koran-koran.
Di SMS Terakhir, yang aku perhatikan bahasanya dicampur dengan bahasa Minang. Apa alasannya Kak Chogah mencampurkan bahasa Minang ke dalam tulisan Kakak?
Alasannya, karena saya orang Minang, hehe. Dalam menulis, saya menuliskan apa yang saya tahu. Dari kecil sudah sering dengan cerita legenda yang banyak bahasa Minang-nya. Jadi kebawa deh dengan gaya bercerita di cerpen. 
Oh iya, sejak kapan mulai berkecimpung di dunia kepenulisan? 
Hehehe, ini kecelakaan sejarah dalam hidup saya. Saya kan kuliah di jurusan Teknik Industri, tapi malah nulis fiksi. Suka nulis sejak SMP, tapi baru berani kirim ke media pas SMA. Dan, saat kuliah jadi kecanduan. Akses ke media makin mudah dengan teknologi internet. Keranjingan nulis pas semester 2, sampai nilai kuliah anjlok, hahaha. 
Wahaha. Tapi kecelakaan yang satu ini nggak bikin celaka, kan. Sekarang lagi nyiapin naskah apa nih? 
Lagi kelarin skripsi sama lagi nikmatin kerjaan aja. Hehehe. Kebetulan sekarang lagi nyusun biografi seseorang. Kebetulan kisahnya cukup inspiratif. 

Wih, semoga cepat rampungnya, ya! 
Aamiin! Makasih doanya, Ail…. 
Balik lagi ke SMS Terakhir. Di buku ini, semua cerpennya anti mainstream. Salah satunya yang aku suka ‘Kado Valentine Istimewa’, ini cerpen terkampret yang pernah aku baca, ngakak! Cara menulis anti mainstream ala Kak Chogah gimana, sih? 
Hahaha, dalam menulis saya nggak pakai aturan. Suka-suka aja. Nanti juga akan menemukan gaya sendiri. Dengan gaya monolog seperti itu saya seperti bercerita sendiri. Seakan-akan ikut menemani si tokoh dalam kesehariannya. 
Punya idola penulis nggak? Siapa dan kenapa? 
Saya suka Lang Fang. Suka saja sama gaya berceritanya. Ceritanya juga sederhana, namun tetap apik dan meninggalkan kesan. 
Selain aktif nulis, kesehariannya Kak Chogah ngapain aja? 
Sekarang kerja di Dompet Dhuafa Banten sebagai corcom (Corporate Communication. Red). Salah satu kerjaannya juga nulis. Kerja sekalian cari berkah, aamiin. Oh ya, dalam waktu dekat saya mau launching website yang bisa menampung tulisan anak-anak muda. Nanti kamu ikutan nulis, ya! 
Wah, siaap! Selama nulis, ada nggak hal yang paling berkesan? 
Hmmm… saya paling senang, semenjak nulis punya teman di mana-mana. Lalu, SMS Terakhir sudah sampai Malaysia. Saya malah belum pernah ke sana, hahaha. 

Wah keren! Kasih pesan-pesan dong buat teman-teman di sini, siapa tahu ada yang sedang menyelesaikan naskah perdananya juga. Promosi bukunya juga boleeeh…. 
Pesannya, menulislah untuk mengabadikan sejarahmu, keluargamu, bangsamu. – untuk membantah dan mengoreksi apa-apa yang orang tulis salah tentang kamu. 
Buku ini cocok banget buat oleh-oleh mudik, untuk sanak saudara. Kalau katanya Majalah Story: Buku SMS Terakhir bisa dijadikan referensi buat yang ingin nulis di media lho. Hehehe. Kebetulan pernah masuk rubrik Info Buku di Majalah Story. 
Okay, makasih buat ngobrol serunya siang ini, Kak. Sukses terus buat nulisnya, ditunggu buku berikutnya, ya! Jangan lupa tetap main ke blog ini, ya. Hahaha. 
Oke, tengkyu, Ailsa. Sukses dan bermanfaat terus, ya! Maaf lahir dan batin…. 
Sumber: Ailsa
Menembus Batas dengan Mimpi

Menembus Batas dengan Mimpi

Menembus Batas dengan Mimpi
Oleh: Rindang Yuliani

Buku ini sangat inspiratif. Berisi tentang kisah-kisah nyata bagaimana orang-orang meraih impiannya di tengah keterbatasan. Keterbatasan harta, keterbatasan fisik, dan keterbatasan kondisi. Semua cerita dalam buku ini membuktikan bahwa mantra man jadda wajada itu benar. Siapa yang sungguh-sungguh dia akan berhasil. 

Seperti pada tulisan Bernando J. Sujibto tentang betapa lelahnya berjuang untuk menuntut ilmu. Bernando mengalami sendiri apa yang ia ceritakan dalam tulisannya yang berjudul “Dari Sumenep ke Kolombia” tersebut. Terlahir di keluarga yang papa, tidak menyurutkan mimpi dan semangat Bernando untuk menuntut ilmu. Dari belajar di pesantren terbesar di Madura dengan “mengencangkan tali sarung” hingga berjuang di Yogyakarta saat ia kuliah sambil membanting tulang mencari sesuap nasi. Lalu kesempatan itu datang, tentu saja bukan karena kebetulan, ia berhasil mendapatkan beasiswa belajar bahasa dan budaya ke Amerika! Subhanallah.

Ada pula cerita dari seorang penulis bernama Rina Shu. Sejak lahir, ia menderita muscullar distrophy yaitu kelainan genetik yang menyebabkannya lumpuh seumur hidup. Satu hal yang memotivasinya tetap semangat untuk melanjutkan hidup adalah kehadiran orang tuanya yang bermental nrimo. Mereka memasukkannya ke SLB jenjang SD, namun setelah memasuki SMP dan SMA ia dimasukkan ke sekolah umum. Tidak banyak teman di sekolah yang mengganggunya, karena Rina Shu juga merupakan pribadi yang percaya diri dan senang membantu ketika temannya kesulitan dalam belajar.

Namun, kenikmatan bersekolah ini harus ia lepaskan saat kelas 2 SMA karena kelelahan fisik dan mental yang dideritanya sebagai pelajar tak sebanding dengan kemampuan tubuhnya. Dalam ketidakberdayaannya dirawat di rumah sakit, Rina Shu melakukan hobinya yaitu menulis dengan tekun. Sayang, ketika novel pertama terbit ayahnya telah tiada. Kini, Rina Shu bertekad membantu teman-temanya sesama penyandang disabilitas agar mereka tetap semangat melanjutkan hidup. Ia berharap ia bisa membantu menyemangati mereka dengan tulisan-tulisannya. Rina Shu berkata, “Yang Kubutuhkan Semangat, Bukan Kaki”, seperti judul tulisannya tersebut.

Lain lagi cerita tentang seorang Setiawan Chogah. Ia menulis betapa ia harus melebihkan usaha untuk menggapai cita-citanya menjadi sarjana. Terlahir di sebuah nagari (desa), 125 kilometer dari Kota Padang, ia melihat bahwa cita-citanya menjadi sarjana sangatlah mustahil. Betapa tidak, jarak sekolah dengan gubuk reyotnya jauh sekali. Ketika SD, ia harus berjalan kaki menyusuri tepi sungai dan pematang sawah sejauh 3 kilometer. Amak-nya yang mengantar selalu bilang pada tetangga yang menyapa mereka di perjalanan, bahwa ia sedang mengantar calon sarjana untuk sekolah. Subhanallah, jlebb sekali.

Ketika SMP, ia mendapatkan beasiswa. Meskipun ia juga tetap harus bekerja untuk menambah uang saku. Ketika SMA, ia harus merantau ke Kota Padang dan menjadi karyawan toko fotokopi milik tetangganya di kampung. Di tengah-tengah semangat belajar dan bekerjanya, terdengar pula berita perih dari kampung, amak-abak-nya bercerai! Meski begitu, ia tak patah semangat. Kini ia berhasil kuliah di Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten. Ia siap menembus mimpinya, menjadi sarjana.

Itulah beberapa contoh cerita dari mereka yang berusaha menembus batas. Batas yang berupa kemiskinan, ketidaksempurnaan fisik, serta tak adanya dukungan dari lingkungan. Cerita tentang perjuangan Ahmad Fuadi sendiri untuk menggapai kesuksesannya yang sekarang sudah kubaca di trilogi novelnya; Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara.

Seperti yang kubaca dalam pengantar bukunya, 13 tulisan di dalam buku ini terpilih dari 80 lebih tulisan lainnya yang dikirim oleh penulis dari seluruh penjuru tanah air. Setelah kucermati, aku mengira faktor pertimbangan dimuat tidaknya tulisan dalam buku ini adalah dari seberapa menginspirasi tidaknya kejadian yang dialami oleh penulis atau orang-orang di dekatnya. Karena ada beberapa tulisan yang secara bahasa sangat sederhana, namun isinya sangat menyentuh.

Bagi kamu yang masih terlena dengan segala kelebihan yang dimiliki atau pun bagi kamu yang masih terpuruk oleh keterbatasan yang diciptakan oleh dunia, wajib membaca buku ini. Mari belajar menembus batas dengan buku ini!

Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada indahnya mimpi-mimpi mereka.” (Eleanor Roosevelt)

Jadi Pemilih Cerdas, Yuk, SisBrew!

Jadi Pemilih Cerdas, Yuk, SisBrew!

Jadi Pemilih Cerdas, Yuk, SisBrew! 



Pemilihan presiden dan wakil presiden negara kita tercinta ini, Indonesia, akan berlangsung kurang dari 1 bulan lagi, SisBrew! Udah yakin dengan pilihan lo? Memutuskan siapa yang akan jadi pemimpin negara kita untuk 5 tahun ke depan bukanlah hal yang remeh, lho, ya. 


Kita perlu benar-benar mempertimbangkan banyak hal sebelum menjatuhkan pilihan.



Kali ini gue sengaja posting artikel yang gue copas dari Hipwee. Soalnya gue lagi males ngetik, yaudah, ambil dari sumber yang gue yakini bagus dan netral aja. Hahaha. 


Nah, SisBrew, artikel ini insya Allah akan memaparkan hal-hal apa yang perlu lo tahu dari kandidat calon pemimpin bangsa ini. Plus, hal-hal apa yang perlu lo acuhkan dari mereka. Sudah siap jadi calon pemilih yang cerdas? Yuk, mareee!

Sebelum menjatuhkan pilihan, lo kudu melakukan hal-hal di bawah ini:
Cari Tahu Visi-Misi Kandidat Capres dan Cawapres! 
Janji manis adalah hal yang sering dilontarkan menjelang pemilihan umum. Kandidat bisa menjanjikan berbagai hal, namun pada akhirnya visi-misinyalah yang akan menjadi penyambung lidah bagi aksi yang benar-benar akan dia lakukan. Dari visi-misi itu lah kita bisa melihat komitmen calon pasangan terhadap berbagai isu.


Takut bosen baca visi dan misi yang bertele-tele? Sekarang lo udah nggak perlu khawatir lagi. Kedua tim sudah mempersiapkan web asyik yang bisa lo kunjungi. Untuk mengetahui visi dan misi Jokowi dan JK lo bisa akses ke laman ini. Sementara visi dan misi pasangan Prabowo-Hatta dituangkan dalam laman ini.

Udah nggak ada lagi alasan buat lo males memilih karena nggak mengenal kandidat yang akan maju ke Pemilu Presiden 2014. Semua informasi tentang komitmen program mereka telah tersedia di depan mata. Tinggal browsing internet, sebentar juga ketemu, kok.

Gali Dulu Idealisme lo!

Anak muda Indonesia kadang tidak peduli pada pentingnya idealisme. Kita kerap terseret arus populer, sehingga menentukan pilihan hanya berdasar apa yang lagi in atau hip saat itu. Mengikuti apa yang paling banyak diminati orang jadi hal yang paling normal untuk dilakukan. Padahal, krusial untuk benar-benar mengetahui hal yang paling penting buat lo. Tanpa harus mengindahkan pendapat orang lain.
Setelah mengetahui visi dan misi kandidat, tanyakan pada diri lo sendiri sebelum memutuskan memilih: “Apa yang paling gue harapkan dari kandidat presiden selanjutnya?” ; “Indonesia seperti apa yang pengin gue lihat di masa depan?”. Kalau lo belum atau enggak mau mengasosiasikan diri dengan idealisme manapun, pertanyaan mendasar tersebut bisa jadi panduanmu untuk menentukan pilihan.


Cari kandidat yang lo rasa paling mungkin mewujudkan harapan lo. Sesuaikan keinginan lo dengan program dan visi mereka. Pilihlah kandidat yang secara rasional paling dekat dengan idealisme yang lo yakini.
Jangan Malas Luangkan Waktu Buat Nonton Debat Capres-Cawapres!


Sekarang perkembangan media memberikan kita kemudahan untuk melihat secara langsung bagaimana calon presiden dan wakil presiden kita memberikan pandangannya tentang sebuah isu. Selama bulan Juni hingga pertengahan Juli mendatang, akan diselenggarakan 5 kali debat Capres-Cawapres (jadwal selengkapnya, di sini). Luangkan waktu untuk nonton debat ini. Jangan cuma nonton acara yang isinya joget-joget sama bagi duit itu.
Dalam setiap debat, kandidat presiden dan wakil presiden akan dihadapkan pada isu yang berbeda. Di situlah kita bisa secara jelas mengetahui bagaimana program-program nyata yang akan ia laksanakan kelak jika terpilih. Kalau perlu, catat poin dari setiap debat dan elaborasikan lagi di debat selanjutnya. Lo akan bisa melihat mana yang cuma pintar bicara dan mana yang benar-benar konsisten terhadap komitmennya.
Kalau ketinggalan siaran langsungnya di televisi, sekarang juga sudah ada Youtube tempat lo bisa menonton ulang debat yang sudah berlangsung. Banyak sekali jalan untuk mengetahui sudut pandang calon pemimpin yang akan mengomandani negeri ini. Tinggal kita saja yang harus pintar-pintar memanfaatkan.


Kepo-In Mereka Di Media Sosial
Semua kandidat capres dan cawapres punya akun di jejaring sosial. Mereka juga sama seperti kita, menggunakan akun media sosial untuk menyampaikan ide, curhatan dan gagasannya. Bedanya bapak-bapak ini kebetulan sedang mencalonkan diri untuk jadi orang nomor 1 dan 2 di republik ini.


Belum tahu apa akun Twitter mereka? Nih ya tak kasih tahu: Prabowo (@Prabowo08), Jokowi (@Jokowi_do2), Hatta Rajasa (@hattarajasa) dan Jusuf Kalla (@Pak_JK). Nggak ada salahnya jika mulai sekarang lo follow akun mereka untuk mendapatkan perkembangan informasi tentang masing-masing kubu secara real time. Kalau punya pertanyaan lo pun bisa langsung mention ke bapak-bapak ini. Keempat kandidat capres dan cawapres kita ini cukup ramah kok meladeni pertanyaan konstituen via jejaring sosial.
Ketahui Rekam Jejak Kandidat


Janji manis bisa menipu, namun apa yang sudah pernah dilakukan akan jadi bukti nyata bagaimana kinerja calon presiden dan calon wakil presiden kita. Kedua pasang calon kandidat pernah punya jabatan: ada yang sipil (jabatan publik), ada yang militer. Mereka adalah pribadi yang bisa dinilai secara rasional dari rekam jejak yang mereka miliki.
Dari web masing-masing calon lo bisa mengetahui riwayat kerja yang pernah mereka lakukan. Prestasi apa yang pernah dicapai, permasalahan apa yang dihadapi dan diselesaikan, plus kegagalan apa yang pernah terjadi selama masa jabatan. Apa yang pernah mereka lakukan saat menduduki jabatan akan jadi peta yang baik untuk menunjukkan bagaimana mereka akan bertindak saat memegang pucuk komando tertinggi di negara ini.
Cari Sumber Berita yang Netral. Biasakan Bersikap Kritis dan Kroscek Informasi!


Sekarang ini black campaign bertebaran di mana-mana. Informasi ngawur yang disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab demi menjatuhkan pihak lawan kerap jadi sumber data yang menyesatkan. Ngerinya, gak cuma oknum aja. Media cetak dan elektronik juga kerap ditunggangi oleh kepentingan.
Demi menjaga objektivitas lo sebagai pemilih, pastikan lo punya sumber informasi yang lo bisa bandingkan dulu dengan pemberitaan di media lain. Terlebih jika informasi tersebut lo dapetin dari kicauan di sosial media. Selalu cari data yang bisa mendukung informasi tersebut. Informasi viral yang banyak dibicarakan oleh orang-orang di sekitar lo itu belum tentu valid, loh.
Kalau hal hi atas tadi penting untuk dilakukan, ini adalah hal yang sepatutnya nggak jadi pertimbangan lo dalam memilih capres dan cawapres:
Agamanya Apa/Agamanya Bagaimana?


Keyakinan kepada Tuhan adalah hal paling personal yang dimiliki oleh seseorang. Akan nggak adil jika kita sebagai manusia berusaha menilai seseorang dari hubungan vertikalnya dengan Sang Maha. Siapa kita sih, bisa menilai keimanan seseorang?
Secara konstitusi, siapapun yang berkewarganegaraan Indonesia dengan latar belakang agama apapun berhak mencalonkan diri menjadi presiden dan wakil presiden. Satu-satunya syarat tentang agama hanya tercantum pada pasal 6 poin (a) yaitu “Bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa”. Selengkapnya soal Undang-Undang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden bisa lo lihat di sini.


Selain berangkat dari sudut pandang Hak Asasi Manusia dan pemahaman bahwa keimanan tidak bisa diukur oleh manusia, mengesampingkan urusan agama juga jadi bukti bahwa lo memercayai sistem check and balance dalam demokrasi Indonesia. Tidak peduli agamanya apa, seorang pemimpin tidak akan bisa semena-mena menjalankan pemerintahan sesuai keinginannya sendiri. Dalam sebuah negara demokrasi, keinginan rakyat akan didengar dan disuarakan lewat wakil-wakil kita yang terhormat di DPR. Belajar memilih secara objektif dan meletakkan isu agama disamping bisa jadi awal yang baik bagi sistem demokrasi kita.
Punya Istri Atau Enggak / Bagaimana Anak-Anaknya?

Isu soal keluarga juga bukan jadi hal yang relevan untuk jadi bahan pertimbanganmu memilih. Capres dan cawapres ini adalah manusia biasa yang juga punya kelemahan dalam kehidupan personal. Walau ada Zhang Xin yang sempurna dalam kehidupan personal dan karir, namun banyak juga kok pemimpin yang kehidupan personalnya tidak mulus.
Obama dan Michelle saja melewati masa-masa curam dalam pernikahan mereka. Punya keluarga dan anak-anak yang tanpa cela itu tentu kebahagiaan bagi setiap individu, namun jika masih ada kekurangan maka bukan berarti dia buruk sebagai calon pemimpin.
Suku X Ya? Iiih Kalau Orang Suku X Kan Gini (Kemudian Berspekulasi)

Kultur tempat seseorang dibesarkan memang bisa membentuk nilai-nilai dalam dirinya. Namun, kultur nggak serta merta membentuk perilaku. Semuanya kembali pada karakter dan integritas diri orang tersebut. Lagian udah bukan jamannya banget nggak sih memilih seseorang berdasar suku? Kita sepatutnya sudah harus lebih dewasa menghadapi perbedaan.
Dia Kaya Atau Enggak Sih?


Katanya, kalau milih calon pemimpin yang udah settle secara finansial maka kemungkinan korupsi bisa diperkecil. Well, mau sekaya apapun orang itu kalau nggak punya integritas ya tetap saja bisa tergoda untuk korupsi.
Lebih baik pilih dia yang berintegritas dan mau diaudit secara terbuka, terlepas dari jumlah kekayaan yang sudah dimiliki saat ini.
Nah, itu tadi beberapa cara yang bisa lo terapin agar jadi pemilih cerdas di pemilu mendatang. Sudah lebih siap dong menghadapi pesta demokrasi Indonesia? Yuk, mari jadi pemilih yang cerdas! [*]