+62 821-1040-9641 [email protected]

Pertengahan Agustus 2014 lalu, tablet murahan saya berdering. Sebuah panggilan masuk dari mantan atasan saya di Banten Muda, Kang Irvan Hq. Seingat saya, sudah lama sekali saya tidak berkirim kabar kepada beliau pascapindah bekerja ke perusahaan fabrikasi di Cilegon dulu. Lagi pula, setahu saya, Kang Irvan dipindahtugaskan oleh perusahaannya ke Lampung.

Dalam sapaan singkat, beliau mengundang saya untuk ngobrol. Saya penuhi undangan terhormat itu.

“Lagi pulang ke Serang, Kak? Katanya sekarang tugas di Lampung, ya?” saya membuka obrolan dengan Ketua Umum Banten Muda Community itu—yang sudah seperti kakak saya sendiri.

Kang Irvan bertanya perihal kuliah saya (yang alhamdulillah waktu itu tinggal sidang Tugas Akhir), juga tentang kesibukan saya yang serabutan. Ya, kebetulan waktu itu saya masih aktif di Kremov Pictures, juga jadi volunteer di Dompet Dhuafa cabang Banten untuk mengisi waktu luang sampai wisuda. Lalu setelah lulus, baru akan mencari pekerjaan tetap di Jakarta,
mengejar cita-cita untuk bekerja sesuai kecintaan saya. Seperti itu rencana yang saya susun waktu itu.

“Bikin Banten Muda versi website, yuk!” seru Kang Irvan, usai beliau bercerita tentang pekerjaannya dan tentang tabloid Banten Muda yang harus berhenti terbit lantaran beliau sering bolak-balik Serang-Lampung—membuat tabloid yang “dilahirkannya” pada 2007 lalu itu “kurang perhatian”.

Saya setuju. Paling tidak, Banten Muda tetap berwujud di dunia maya. Lagi pula, setahu saya, banyak sekali media cetak yang telah bertransformasi dari media konvensional menjadi media online. Seperti yang terjadi di Amerika, Tempo.co memberitakan bahwa sekitar 40 koran di Amerika menghadapi kebangkrutan dan tidak mampu bertahan dalam versi cetak. Seperti majalah Newsweek yang setelah 80 tahun menyebarkan berita di Amerika Serikat, harus mengakhiri edisi cetaknya pada akhir tahun 2012. Ada pula surat kabar Tribune Co, The New York Times, majalah Reader’s Digest,  dan si raksasa Rocky Mountain News ikut mengisi daftar media yang gulung tikar.

Hal serupa pun terjadi di dalam negeri kita sendiri. Beberapa majalah dan tabloid yang pernah menemani masa remaja saya turut hilang di loper koran langganan saya. Majalah Annida, Aneka Yess!, tabloid Gaul, Top Idol Indonesia, juga majalah Story yang pernah “melahirkan” saya itu. 🙁

Ya…, tentu saja saya paham, tanpa iklan, media mau hidup dari mana? Ongkos produksi mau dibayar pakai apa? Dan karyawan mau digaji dari mana?

Saya mendukung niat Kang Irvan untuk menggarap Banten Muda versi online. Mendukung penuh! Kenapa?

Dengan pekerjaan Kang Irvan yang demikian menyita waktu, media online memberikan solusi agar semangat “berkarya dan berbagi inspirasi” beliau tetap terwadahi. Terus tersalurkan.

Ongkos produksi media online jauh lebih murah, juga whole package alias multimedia capability. Selain teks, tentunya bisa memuat moving image, suara, dan video. Media online juga dapat dibaca kapan saja dan di mana saja, menjangkau seisi dunia pula. Kapasitasnya juga tidak terbatas, gampang diedit kalau ada salah ketik, gampang di-share, sangat dapat dibaca sambil tidur atau waktu mati lampu di malam hari, dan tidak membutuhkan karyawan yang banyak. Berita dan artikel pun bisa diproduksi sambil nongkrong di toilet kafe. Sesederhana dan semenyenangkan itu! (Dan memang media seperti itu, bukan, yang tengah dibutuhkan oleh generasi saat ini?)

Obrolan berakhir dengan kesepakatan untuk melahirkan Banten Muda versi online. Tapi siapakah yang akan dimintai pertolongan untuk mewujudkan rencana ini selain Allah Swt?

Diam.

Kang Irvan bertanya, tepatnya menawarkan…, “Iwan kan sering ngeblog, tuh. Pasti bisalah urusin website. Waktu luangnya masih banyak, kan?”

Saya diam aja.

Hmmm, baiklah. Tak kuasa rasanya melihat semangat yang demikian menyala di mata “kakak” saya itu tiba-tiba harus redup. Bukan! Bukan karena saya merasa yang paling pantas mengurus Banten Muda online, apalagi merasa yang paling bisa mewujudkan keinginan Kang Irvan itu. Tapi ini adalah tentang amanah besar yang beliau berikan dan percayakan pada saya. Saya tidak punya pilihan jawaban lain selain “Siaap, Jendral!”

Proses pembuatan website rupanya memakan waktu yang lumayan lama. Menyusun rubrikasi (kanal/channel dalam istilah media online), membuat sitemap, mengurus persyaratan melahirkan perusahaan media yang diwajibkan pemerintah, pemilihan font, tampilan website, dan kesepakatan nama dan logo ada baiknya diperbarui. Jadilah, setelah 6 bulan diutak-atik, Banten Muda versi online lahir dengan wajah yang baru dan lebih interaktif dibanding kakaknya yang pernah saya urus (blog Banten Muda).

biem.co, adalah wujud Banten Muda (BM dibaca bi-em) dalam semangat kekinian. Hari ini, tak hanya orang Banten yang bisa membaca Banten Muda dengan sangat mudahnya. biem.co bisa menyebarkan inspirasinya ke berbagai tempat di belahan dunia.

So, Kawan-kawan hebat di luar sana, yang saya tahu, pasti mempunyai keinginan untuk bercerita, untuk bersuara, dan untuk mengispirasi dunia, karena itu adalah fitrahnya manusia. Mari menulis, dan biem.co siap menyebarkan pemikiran-pemikiran luar biasa kalian kepada dunia.

Ayo periksa folder-folder di PC dan laptopmu! Buka laci meja belajarmu, atau map-map tua di rak buku dan lemari di kamarmu. Adakah tulisan-tulisan melow yang pernah kalian tulis menjadi berkas terbengkalai di sana? Mungkin ada beberapa cerpen dan puisi yang gagal tampil di media lantaran kalian belum berani mengirimkannya, atau ada catatan-catatan perjalanmu yang sangat sayang bila hanya dibaca dan di-kelonin sendiri. Kirim saja ke [email protected] dan cc ke [email protected]. Lalu biarkan tulisanmu hidup di dunia maya, membuat jutaan mata terbuka. Ah, hidup kita ini singkat bukan?

Ayolah, jangan mau kita menua tanpa makna. Mari berkarya dan berbagi inspirasi!


 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Terimakasih Estin Terimakasih Estin Hari ini saya lagi bete. Bete se-bete-bete-nya! Apa pasal? Banyak! Pertama; saya lagi emphet banget sama layanan pro...
Wasiat Uni Tila Wasiat Uni Tila Bojonegara, 10 Oktober 2013 Hari ini saya bertemu lagi dengan satu guru kehidupan. Tila namanya. Saya menanggilnya Uni...
Hai, Mimpi-mimpiku, Apa Kabar Kalian Sekarang? Rantau berkalang rindu, 26 Juni 2015 Saya merasa berdosa pada halaman yang dulu saya bangga-banggakan ini. Halaman yang pernah begitu set...
Biar Tak Hilang, Menulislah… Sebuah pertanyaan menggelitik mampir ke kuping saya dalam satu kali waktu. “Mengapa hanya ada Hari Kartini, sih? Kok nggak ada Hari Cut Nyak Dien, ata...
Ketika Saya Mengaku Kalah Ketika Saya Mengaku Kalah Semalaman saya berpikir, sebuah kejadian yang boleh saya katakan sangat langka dalam beberapa tahun terakhir ini....
Kepada Za #1; Tentang Dia & Lelaki Penjual Sa... Kepada Za #1 Tentang Dia & Lelaki Penjual Sandal Serang, Desember tinggal 10 Za, lagi apa? Di sini masih kuyup. Kotaku diserbu huja...
Teera-Perempuan Hebat yang Aku Kenal Secara Tak Se... Perempuan datang atas nama cintaBunda pergi karena cinta Digenangi air racun jingga adalah wajahmu Seperti bulan lelap tidur dihatimu Yang berdindin...
Satu Tahun Lagi, Mak Dang Satu Tahun Lagi, Mak Dang  Naskah ini saya ikutsertakan dalam Menulis Kisah Reflektif “Man Jadda Wajada” bareng A. Fuadi 2011 lalu. ...