+62 821-1040-9641 [email protected]
 Belajar Menulis dari TEORI? 
Itu Salah!
Manusia punya sifat-sifat alamiah dalam belajar. Kadal dan kambing juga punya sifat alamiah dalam belajar. Waduh, tapi soal cara belajar alamiah untuk berbagai margasatwa, bukanlah urusan kita. Urusan kita: manusia atau orang.
____Bagi setiap orang, ketrampilan menulis, pada dasarnya sama saja dengan ketrampilan lainnya, berbahasa, main gitar, berenang, mempiloti pesawat luar angkasa, seterusnya. Kebetulan saya pernah mempelajari bagaimana proses belajar atau ‘learning process’ pada saat menyelesaikan pendidikan master di bidang manajemen, dan berikut ini ijinkanlah saya berbagi.
____Okelah, mungkin tidak semuanya seratus persen dapat diaplikasikan, untuk kasus anda masing-masing, silakan disesuaikan lagi, mana yang bisa diaplikasikan, mana yang tidak.
____Premis yang saya ajukan: anda janganlah belajar menulis (cerpen, novel) dengan diawali dari membaca buku (teori ‘how to write a novell or short story’ atau yang semacamnya itu). Itu menurut saya cara yang salah. Secara alaminya, manusia tidak belajar ketrampilan dengan cara itu. 
____Buku, amat besar gunanya, untuk memperkaya khasanah pengetahuan kita. Itu tidak saya pungkiri. Kalau kita sudah ‘bisa’, maka teori-teori yang diuraikan di buku-buku, atau di internet, atau di seminar, atau dimanapun, akan amat mempertajam cara kita dalam meningkatkan ketrampilan menulis kita. TAPI, itu bukanlah hal yang perlu diprioritaskan dalam tahap awal penguasaan ketrampilan.
____Suatu ketrampilan… adalah sesuatu hal yang diserap dan dikuasai di alam SADAR DAN BAWAH SADAR kita. Jadi, bukan hanya untuk ‘alam sadar’ (terpikir langsung), tapi juga untuk ‘alam bawah sadar’ (refleks).
____Alam sadar kita bisa ‘diajari’ dengan membaca buku, dengan mendengar ceramah, dengan duduk di kelas workshop penulis, atau sebangsanya. Di pihak lain, alam bawah sadar tidak bisa membaca buku. Alam bawah sadar adalah alam pikiran primitif manusia yang belajar dengan caranya sendiri. Wuih, ini sudah beberapa paragraf tapi kebanyakan teori melulu. Jadi kongkritnya gimana?  
_Sekedar ilustrasi klasik.
____Anda pasti sudah tahu. Kita kalau mau belajar bahasa Arab, terasa waduh, susah. Belajar tiga tahun, lima tahun, nggak bisa-bisa. Bener nggak? Atau bahasa Inggris, mulai dari SD, terus sampai perguruan tinggi, berapa jam saja kita habiskan untuk belajar bahasa Inggris. Begitu dilepas di Amerika, banyak yang tetap bletak-bletuk keliru-keliru melulu.
____Di pihak lain, di Arab, anak-anak kecil, tiga tahun, sudah nricis, cas, cis, cus, Bahasa Arab-nya fasih banget! Ya, iyalah. Demikian pula, di Inggris, anak tiga tahun Bahasa Inggrisnya fasih sekali. Bahasa Inggris itu merasuk ke alam pikiran sadar mereka, maupun ke alam pikiran bawah sadar.
____Mimpi pun, anak-anak Inggris… akan pakai Bahasa Inggris! Jelas banget. Ajaib kalau ada anak Inggris, mimpinya malah pakai Bahasa Madura! Iya nggak?!
____Anak Arab maupun anak Inggris itu, kita bisa pastikan bersama: menguasai ketrampilan mereka tidak diawali dengan membaca buku “Mengenal Bahasa Inggris”, atau “Mengenal Bahasa Arab”. Jenius banget, anak tiga tahun sok-sokan membaca buku segala! 
Nah, dengan cara seperti anak-anak kecil itulah kita mesti belajar bahasa, dengan cara itulah juga kita mesti belajar menulis. Karena dengan cara itulah ketrampilan dan pengetahuan bisa masuk ke alam pikiran bawah sadar kita. Ketrampilan yang sudah terkuasai, akan menjadi suatu refleks. Anak-anak Inggris, udah nggak usah mikir lagi, seolah refleks saja, cas-cis-cus. Kita pun begitu, begitu sudah menguasai benar ketrampilan berbahasa Inggris, cas-cis-cus-nya enak. Kalau kita menguasai benar ketrampilan menulis, membuat tulisan yang baik, itu juga sudah seperti refleks, tidak mesti memikirkan subject, predikat, obyek. Anak kalimat, tanda baca,… duar! Kesuwen.
Namanya terampil menulis, maka menulis itu sebagian ‘digerakkan’ oleh alam bawah sadar kita. Menulis sebagiannya sudah menjadi suatu refleks. Sambil terkantuk-kantuk atau diajak ngobrol, tulisan tetap bisa menulis dengan baik. Itulah namanya kita menguasai ketrampilan menulis.  
____Dengan cara seperti anak kecil belajar bahasa itulah kita mesti belajar suatu ketrampilan (termasuk menulis). Yaitu kalau mau sampai benar-benar terampil. Metoda-metoda-nya adalah metoda-metoda primitif, tapi itu adalah satu-satunya cara. Sebab apa? Sebab yang mau diajari adalah alam bawah sadar kita, yang dalam ilmu kognitif, disebut juga sebagai otak primitif. (YW)
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Banten Muda dalam Semangat Kekinian Pertengahan Agustus 2014 lalu, tablet murahan saya berdering. Sebuah panggilan masuk dari mantan atasan saya di Banten Muda, Kang Irvan Hq. Seingat sa...
Ramuan Menjaga Gairah Menulis  *Kang Arul “Lemes gue, Kang.” “Loh, kenapa?” “Kerjaan banyak numpuk. Bla… bla….” “Namanya juga orang kerja.” “Ya, tapi bikin lemes nih. Sa...
Jadi Pemilih Cerdas, Yuk, SisBrew! Jadi Pemilih Cerdas, Yuk, SisBrew!  Pemilihan presiden dan wakil presiden negara kita tercinta ini, Indonesia, akan berlangsung kurang dar...
Belajar dari Nurul F. Huda Malam belum lagi larut. Tetapi sudah cukup untuk membuat mata seorang gadis kecil berusia empat tahun terasa berat dan ingin mengatup. Terlebih ia...
Tidak Ada yang Tidak Mungkin Tidak Adayang Tidak Mungkin(*Dimuat di rublik Dapur Penulis Annida, 11 Juni 2011   Sebenernya saya malu untuk ikut ‘nimbrung’ di rublik baru Nid...
Jangan Putus Asa, Percayalah dengan Kemampuanmu! Jangan Putus Asa, Percayalah dengan Kemampuanmu!  Bib... bib...  Hape cakep saya berdering dua kali. Ada SMS masuk, seperti ...
Stop Berteriak yang Tidak Penting! Stop Berteriak yang Tidak Penting! (Sabili No 9/ XIX, 2012) Saya percaya Sobat telah membaca artikel saya di Teropong eLKa No. 5 TH. XIX 8 D...
Irvanisme, Sebuah Cara Memandang Hidup Hallo, Dunia! Sudah lama sekali saya tidak berkeluh kesah di sini, apalagi show off *whats?!, atau sekadar curhat nggak penting tentang hari-h...