+62 821-1040-9641 [email protected]
Ping!
Layar ponsel Dompet Dhuafa (DD) Banten
berkedip, sebuah pesan BlackBerry
Messenger 
 dari seorang teman di friendlist DD
Banten membuyarkan konsentrasi saya siang itu. Di penghujung bulan seperti ini
biasanya pekerjaan saya sebagai Corporate
Communication
 agak padat—menulis berita untuk sejumlah media
lokal, mendesain komunikasi visual di sosial media untuk di-publish selama satu
bulan ke depan, mengatur jadwal menulis amil DD Banten, juga membalas semua
pertanyaan dari masyarakat yang ditujukan lewat nomor dan akun resmi DD Banten
yang saya pegang.
“Assalamualaikum…, Ustad, bisa ke rumah?”
Ada jeda beberapa detik sebelum saya
memutuskan mengetik jawaban di layar sentuh smartphone yang saat itu sudah berada di
tangan saya. Saya menarik napas agak dalam. Hingga detik ini saya merasa sangat
belum pantas disapa dengan kata ‘ustad’. Saya masih sangat jauh dari kriteria
seorang ustad. Bagi saya, kata ‘ustad’ adalah kata yang sangat sakral. Dan saya
masih dalam proses belajar, akan terus belajar.
“Waalaikumsalam, terima kasih, Mas. Dengan
Setiawan di sini, ada yang bisa saya bantu?”
Dalam beberapa menit percakapan di BBM
itu, Sahabat DD Banten yang
menyebut namanya Tedi ini ingin dijemput donasinya sekaligus berkonsultasi
seputar pembayaran fidyah.
Kami membuat janji di Ciruas, beberapa kilometer dari kantor Dompet Dhuafa
Banten di Kepandean. Saya memutuskan untuk berangkat ditemani Farhan, tim
fundraising DD Banten.
Langit Kota Serang tengah jingga ketika saya
dan Farhan membelah jalanan aspal Kota Serang menuju daerah Serang Timur,
Ciruas.
“Pelan-pelan aja, Han,” saya menepuk pundak
Farhan. Jalur menuju Ciruas adalah jalur padat lalu-lintas, lebih-lebih di jam
pulang kerja seperti ini, kepadatannya akan semakin menjadi-jadi.
Farhan memarkir kendaraan di depan alun-alun
Ciruas yang mulai kusam tak terawat. Saya men-dial nomor Kang Tedi yang sebelum
berangkat, saya sempatkan memintanya untuk mempermudah komunikasi.
“Kang, saya sudah di depan alun-alun, ya….”
Sebuah ruang sekira 3×4 meter persegi tanpa
perabotan. Seorang laki-laki muda menyilakan kami masuk. Saya taksir usianya
menjelang 27 atau 28 tahun, beberapa tahun di atas saya.
Saya dan Farhan bersila di tikar yang
dibentangkan pemilik rumah. Saya memilih duduk dekat pintu agar dapat menikmati
embusan angin sore yang bertiup sepoi. Dari arah dalam, langkah-langkah kecil
menghampirinya dan dalam selang beberapa detik sudah berada di pangkuan Kang
Tedi.
“Ayo salim dulu
sama Pak Ustad,” Kang Tedi membimbing tangan bocah itu untuk menyalami saya dan
Farhan. Ah, sebuah pemandangan yang haru. Seketika ada rindu yang menyergap
saya.
Punten,
Ustad. Keadaan rumahnya kayak gini, maklum masih ngontrak,” ujar Kang
Tedi sembari menyuguhkan dua teh botol ke hadapan kami. Saya mengulas
senyum takjub seraya berterima kasih. Dua teguk teh botol dingin mengaliri
tenggorokan saya.
“Sudah lama tinggal di sini, Kang?”
“Baru berapa bulan, Tad. Tadinya saya kerja
jadi karyawan. Tapi lama-lama kok capek juga, berangkat pagi pulang malam. Waktu
ketemu anak jadi sedikit,” jawabnya panjang-lebar.

Saya mencerna kalimatnya. Ah, benar adanya.…
saya menganguk-ngangguk.
“Bulan lalu saya mutusin buat resign dan buka
usaha server pulsa. Alhamdulillah berjalan, pelanggannya teman-teman dekat
dulu. Hehehe,” lanjutnya.
“Wah, hebat, Kang Tedi. Saya sampai hari ini
malah masih tahap rencana buat buka usaha. Belum berani eksekusi,” saya
menganggapi dengan pengakuan yang sejatinya cukup membuat malu.
“Hehehe. Memang harus berani action, Tad. Tadinya saya
juga banyak takutnya. Tapi setelah ikutan seminar Ippho Santosa yang diadain DD
(Dompet Dhuafa Banten.red) waktu itu, saya jadi makin pede,” akunya.
Subhanallah… alhamdulillah, diam-diam saya bersyukur, kegiatan seminar
Percepatan Rezeki yang digelar DD Banten waktu itu bermanfaat untuk peserta,
salah satunya Sahabat
DD Banten
 yang saat ini ada di depan saya.
Kang Tedi beranjak dari duduknya, “Oh, ya,
Tad, sebentar, ya….”
Selang beberapa menit, ayah muda itu kembali
dengan seperangkat netbook di
tangannya.
“Jadi begini, Tad. Saya mau donasikan netbook ini lewat
DD. Mudah-mudahan bermanfaat…,” ungkapnya.
“Alhamdulillah, insya Allah akan sangat
bermanfaat, Kang.”
Kang Tedi mulai membuka cerita yang semestinya
saya tidak perlu tahu….
“Sebenernya saya masih punya utang beberapa
juta sama temen waktu mau buka usaha ini….,” katanya sembari mengelap debu yang
menempel di netbook.
“Tadinya mau dijual, tapi setelah saya diskusi sama istri, kalaupun dijual,
uangnya tetep nggak
akan bisa lunasin utangnya,” lanjutnya.
“Oh…, tapi paling nggak bisa mengurangi
utangnya, Kang.”
Kang Tedi tersenyum. Saya dibalut banyak tanya.
“Hehehe. Iya, sih. Tapi nggak apa-apa, biar
Allah saja yang ngelunasin utang saya, Tad.”
Aamiin! Saya terdiam. Ada haru dan perasaan salut yang
tiba-tiba membuncah. Saya seperti pengarang yang kehilangan kata. Ah, malu…
saya merasa amat malu dan kerdil di hadapan Kang Tedi.
***
Cerita Kang Tedi menyisakan kesan mendalam di
hati dan pikiran saya, tentu juga di hati pembaca semua. Seringkali kita
mengadapi bergulatan batin ketika  dihadapkan pada situasi untuk berbagi
ketika dalam keadaan tidak ‘berlebih’. Kita masih sering mengomel apabila
ongkos angkutan umum kurang kembalian atau mengumbar kekecewaan di sosial media
ketika membayar suatu barang yang harganya agak lebih dari yang biasanya kita
bayar. Kita masih berat untuk menyedekahkan uang Rp50 ribu rupiah ke kotak amal
masjid ketimbang membawa uang dengan jumlah itu ke mall yang akan habis dalam
satu kali transaksi di kedai kopi. Ah, kita lupa, Allah yang Mahakaya telah
berjanji, tidak akan miskin orang-orang yang berbagi di kala dia sulit.
Mari kita renungi firmanNya di Surah Al
Baqarah ayat 261 ini: “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang
yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah
melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . Dan Allah Mahaluas
(kurniaNya) lagi Maha Mengetahui.”
Demikian Sang Pemilik Hidup telah menjamin
bahwa ada keberkahan di setiap rezeki yang kita bagikan. Sesuatu yang kita
bagikan bukannya berkurang, tapi justru akan terus bertambah… bertambah… dan
bertambah, seperti itu wasiat kekasihNya dalam hadist. Tentu kita tidak mau
menungkiri, bukan? Ketika ada kelegaan yang menghampiri kita, dada terasa
demikian lapang setiap kali kita usai berbagi. Itulah salah satu berkah yang
Allah hadiahkan kepada orang yang senantiasa rindu untuk berbagi, sekalipun
tidak dalam keadaan berkecukupan.
Saya teringat sebuah artikel yang pernah saya
baca tentang publikasi Prof. Dr. David McClelland, di sana dituliskan,
melakukan sesuatu yang positif terhadap orang lain akan memperkuat sistem
kekebalan tubuh. Sebaliknya, orang kikir cenderung terserang penyakit. Mengapa
demikian? Karena orang kikir biasanya cinta materi (seperti uang). Bila uangnya
berkurang, maka dia akan stres, tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol yang
mengurangi kekebalan tubuhnya.
Menolong orang lain secara sukarela meningkatkan
kebugaran tubuh dan angka harapan hidup. Kisah nyata tentang Rockeffeler, orang
kaya yang tidak bahagia dan sulit tidur. Dokter memvonis hidupnya tidak akan
lama. Lalu Rockeffeler memutuskan mengubah hidupnya untuk menolong kaum miskin.
Lalu apa yang terjadi? Kesehatannya membaik dan berlawanan dengan perkiraan
dokter. Ia hidup sampai 98 tahun dan dikenal sebagai ahli filantropi dan
dermawan. Dengan demikian, keindahan dan kekuatan bersedekah bersifat
universal, dapat dirasakan oleh siapapun, baik Muslim maupun non-Muslim yang
melakukannya. Sekaligus hal ini membuktikan bahwa ajaran Islam yang
kebenarannya bersifat universal.
***
Ping!
“Assalamualaikum, Tad… alhamdulillah, barusan
saya transfer zakat penghasilan ke rekening DD Banten, ya, semoga berkah.”
Sebuah pesan BlackBerry Messenger  dari Kang Tedi.
Saya mengulas senyum, mengetikkan sebait doa untuknya. Semoga Allah memberi pahala atas apa
yang engkau berikan dan menjadikannya suci bagimu, memberikan keberkahan
terhadap hartamu yang tinggal. Aamiin. 
[*]

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Swara Cinta edisi 50, April-Mei 2015
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Aku Ingin Tua dan Mati di Kampung Kita Tahun-tahun usai dan datang kembali, dan aku kian tua di sini. Di dadaku, Mak, tumbuh subur sebatang pohon. Pohon berdaun lebat dan akar kokoh m...
Biar Tak Hilang, Menulislah… Sebuah pertanyaan menggelitik mampir ke kuping saya dalam satu kali waktu. “Mengapa hanya ada Hari Kartini, sih? Kok nggak ada Hari Cut Nyak Dien, ata...
Taksi Goyang VS Taksi Songong Dudul Note  episode Taksi Goyang VS Taksi Songong Gue punya banyak cerita duka dan suka (atau suka duka? sama aja!) tentang taksi. Dan du...
Bro, Saya Takut Dibilang Sombong Bro, Saya Takut Dibilang Sombong Kadang, saya pengin ngegigitin pohon jambu di halaman rumah tetangga saya setiap kali m...
Mak … Aku Segera Pulang 1:20 AM.Aku rasa malam mulai keriput pada kombinasi angka yang tertera di pojok kanan komputer basecamp. Sementara mata masih benderang menera...
ADSC, GalNas, 18 Desember; Ini Ceritaku Aku tidak tahu ingin memulai dari mana ceritaku ini. Aku bingung, aku ingin menceritakan banyak hal, banyak kejutan, dan…, hmmm, aku rasa lebih baik...
Catatan Pascawisuda: Menjadi Baringin di Tangah Pa... 22 November 2014 SUBUH masih pekat, kedua bola mata saya menjelma purnama, bulat, mengusir kantuk yang sebenarnya jauh sebelum subuh datang pun dia...