+62 821-1040-9641 [email protected]

Sebuah pertanyaan menggelitik mampir ke kuping saya dalam satu kali waktu. “Mengapa hanya ada Hari Kartini, sih? Kok nggak ada Hari Cut Nyak Dien, atau Hari Rasuna Said?” cerocos teman saya, sembari mengunyah pisang goreng hangat yang menemani obrolan kala itu.

Pertanyaan “nggak penting-penting amat” itu cukup mengganggu pikiran saya beberapa saat lamanya. Memang, kalau membandingkan antara kepahlawanan Cut Nyak Dien dan R.A. Kartini, tentu akan mengundang beragam pendapat. Ada yang bilang, “Cut Nyak Dien, kan, lebih berani, dia ikut perang, lho, bersama masyarakat Aceh. Sementara R.A. Kartini, kan, cuma ibu-ibu biasa….”

Saya jadi teringat kata-kata Winston Churchill, “Pena lebih tajam daripada pedang.” Sementara Napoleon Bonaparte pun pernah berujar, “Saya lebih takut pada sebuah pena daripada seratus meriam.”

Ah, pantas saja. Kini saya tahu mengapa nama Kartini lebih “hidup” dan dikenang setiap tahun. Ya, barangkali karena Kartini berperang dengan penanya. 

Menjadi Kartini ataupun Cut Nyak Dien sama-sama baik. Sama halnya dengan kita—yang manusia biasa—yang masih belajar dan terus belajar menjadi lebih baik dari hari ke hari. Lantas, kelak bila kita tiada, akankah kita kembali dikenang sebagi orang baik, paling tidak oleh cucu dan cicit kita?

Aktivitas menulis telah membuat nama Kartini dikenal. Surat-surat yang ia tulis telah menjadi artefak sejarah bahwa dia pernah ada, pernah berbuat baik, lalu menginspirasi begitu banyak orang.

Dan kini, mari kita bicarakan sedikit tentang beberapa sosok yang tadinya bukan sesiapa, lalu menjadi tokoh, bahkan menciptakan tren. Bukan cerita bohong, kegelisahan, ide-ide, fantasi, dan pengalaman sehari-hari yang mereka tulis telah menggugah banyak jiwa untuk berubah. Mereka dilabel dengan profesi yang dinamai “penulis”. Ya, penulis semakin terdengar “seksi” akhir-akhir ini. Katanya, penulis itu sebelas-dua belas dengan selebritas—terkenal, tajir juga tentunya. Meski tak selamanya anggapan itu benar, karena penulis sejati tak pernah memburu popularitas dan materi. Bagi mereka, melahirkan tulisan yang bermakna dan menginspirasi adalah tujuan utama. Tapi kita tak boleh juga tutup mata, Raditya Dika, Andrea Hirata, atau Asma Nadia adalah “model” penulis sukses Tanah Air yang telah membuktikan bahwa dengan menulis, mereka dikenal lewat buku-buku mereka, bahkan sampai diadopsi ke layar lebar. Dari mereka kita jadi tahu bahwa penulis bukanlah profesi yang sia-sia. 

Mari ajak diri kita bicara! Apakah perjuangan atas nama kemanusiaan ini hilang sirna begitu saja seiring lenyapnya kita dari dunia? Ah, jangan begitu. Tinggalkanlah sebait dua bait cerita yang kelak bisa dibaca oleh anak-cucu kita.

Memang berat untuk memulai menulis. Halangan dan rintangan datang silih berganti—naskah selalu ditolak dan diledek teman-teman. Belum Tidak hanya kalian yang mengalami itu. Saya teringat cerita motivator yang melambung dengan istilah “sukses mulia”-nya—tentang ia yang di masa lalu tak pernah bisa menulis tanpa kalimat pembuka “pada suatu hari”, lalu tentu karena usaha pantang menyerah dan jam terbangnya, Jamil Azzaini bertransformasi menjadi penulis “sungguhan” dengan sederet buku-buku karyanya yang best selling. Tak hanya Jamil Azzaini, penulis tersohor seperti J.K. Rowling pun mengerti banget perasaan kita yang bolehlah mengatakan diri sebagai penulis pemula, sebab, dia pun pernah berada pada posisi itu, mungkin jauh lebih tragis.

J.K. Rowling, penulis novel Harry Potter yang fenomenal ini, dalam cuitannya di Twitter pada 15 Agustus 2015 lalu, memberikan semangat kepada seorang pengguna sosmed burung biru itu, yang tengah menghadapi permasalahan untuk menjadi penulis.

Pemilik akun @potterimortal curhat kepada Rowling, bahwa orangtuanya bilang penulis bukan profesi yang layak.

Dalam akun @jk_rowling, Rowling menjawab, “Lakukan apa yang kulakukan: berpura-puralah kamu ingin melakukan sesuatu yang lain dan menulislah secara diam-diam sampai kamu bebas melakukan apa pun yang kamu inginkan.”

 
http://cdn.klimg.com/newshub.id/real/2015/08/17/39725/rowling_1.jpg
 Rowling bisa menerapkan nasihatnya itu pada diri sendiri sampai akhirnya dia menjadi penulis bergengsi seperti sekarang. Hanya dalam kurun waktu lima tahun dia meraih kesuksesan dan lepas dari pengangguran. Ini fakta! Bahwa sebelum Harry Potter “meledak” di pasaran.

Memang, di dunia ini tidak ada kesuksesan yang gratis. Selalu ada harga yang harus kita bayar untuk sebuah kesuksesan, yaitu pengorbanan. Jadi, mulai sekarang, fokuslah melangkah, biarkan hati kita bicara, tulislah kisah yang memang ingin kita ciptakan. Jangan pernah lelah berlatih menulis, membaca, membaca, membaca, dan mengamati sekeliling kita.

Tentu kita setuju, tujuan kita menulis bukan atas nama popularitas, tapi, paling tidak, tulisan-tulisan itulah kelak yang akan menjadi bukti sejarah bahwa kita pernah berbuat sesuatu untuk kemanusiaan, di dunia ini.

Setiawan Chogah, Resource Mobilization Manager Dompet Dhuafa Banten, serta Pemimpin Redaksi di media dalam jaringan biem.co.


 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Sabtu Pagi di Bhayangkara Sabtu Pagi di BhayangkaraBeberapa minggu ini saya menjadi 'mandul' dalam menulis. Tidak tahu kenapa, saya menjadi larut dan terkurung di fase...
IPK atau SARJANA? IPK atau SARJANA?Seharian ini saya kembali dibuat galau oleh yang namanya perkuliahan. Yaa! KULIAH. Saya sengaja membuat kata itu uppercase b...
Gak Pede? Self Talk Aja Lagi! Gak Pede? Self Talk Aja Lagi!Oleh Setiawan ChogahSobat, jangan katakan kalau kalian belum pernah menonton film besutan hollywood yang dib...
Irvanisme, Sebuah Cara Memandang Hidup Hallo, Dunia! Sudah lama sekali saya tidak berkeluh kesah di sini, apalagi show off *whats?!, atau sekadar curhat nggak penting tentang hari-h...
Jangan Putus Asa, Percayalah dengan Kemampuanmu! Jangan Putus Asa, Percayalah dengan Kemampuanmu! Bib... bib... Hape cakep saya berdering dua kali. Ada SMS masuk, seperti ...
Ketika Saya Mengaku Kalah Ketika Saya Mengaku KalahSemalaman saya berpikir, sebuah kejadian yang boleh saya katakan sangat langka dalam beberapa tahun terakhir ini....
Allah Akan Bayar Utang Saya Ping!Layar ponsel Dompet Dhuafa (DD) Banten berkedip, sebuah pesan BlackBerry Messenger  dari seorang teman di...
Catatan Pascawisuda: Menjadi Baringin di Tangah Pa... 22 November 2014 SUBUH masih pekat, kedua bola mata saya menjelma purnama, bulat, mengusir kantuk yang sebenarnya jauh sebelum subuh datang pun dia...
Bagikan tulisan ini: