+62 821-1040-9641 [email protected]
Biar Tak Hilang, Menulislah…

Biar Tak Hilang, Menulislah…

Sebuah pertanyaan menggelitik mampir ke kuping saya dalam satu kali waktu. “Mengapa hanya ada Hari Kartini, sih? Kok nggak ada Hari Cut Nyak Dien, atau Hari Rasuna Said?” cerocos teman saya, sembari mengunyah pisang goreng hangat yang menemani obrolan kala itu.

Pertanyaan “nggak penting-penting amat” itu cukup mengganggu pikiran saya beberapa saat lamanya. Memang, kalau membandingkan antara kepahlawanan Cut Nyak Dien dan R.A. Kartini, tentu akan mengundang beragam pendapat. Ada yang bilang, “Cut Nyak Dien, kan, lebih berani, dia ikut perang, lho, bersama masyarakat Aceh. Sementara R.A. Kartini, kan, cuma ibu-ibu biasa….”

Saya jadi teringat kata-kata Winston Churchill, “Pena lebih tajam daripada pedang.” Sementara Napoleon Bonaparte pun pernah berujar, “Saya lebih takut pada sebuah pena daripada seratus meriam.”

Ah, pantas saja. Kini saya tahu mengapa nama Kartini lebih “hidup” dan dikenang setiap tahun. Ya, barangkali karena Kartini berperang dengan penanya. 

Menjadi Kartini ataupun Cut Nyak Dien sama-sama baik. Sama halnya dengan kita—yang manusia biasa—yang masih belajar dan terus belajar menjadi lebih baik dari hari ke hari. Lantas, kelak bila kita tiada, akankah kita kembali dikenang sebagi orang baik, paling tidak oleh cucu dan cicit kita?

Aktivitas menulis telah membuat nama Kartini dikenal. Surat-surat yang ia tulis telah menjadi artefak sejarah bahwa dia pernah ada, pernah berbuat baik, lalu menginspirasi begitu banyak orang.

Dan kini, mari kita bicarakan sedikit tentang beberapa sosok yang tadinya bukan sesiapa, lalu menjadi tokoh, bahkan menciptakan tren. Bukan cerita bohong, kegelisahan, ide-ide, fantasi, dan pengalaman sehari-hari yang mereka tulis telah menggugah banyak jiwa untuk berubah. Mereka dilabel dengan profesi yang dinamai “penulis”. Ya, penulis semakin terdengar “seksi” akhir-akhir ini. Katanya, penulis itu sebelas-dua belas dengan selebritas—terkenal, tajir juga tentunya. Meski tak selamanya anggapan itu benar, karena penulis sejati tak pernah memburu popularitas dan materi. Bagi mereka, melahirkan tulisan yang bermakna dan menginspirasi adalah tujuan utama. Tapi kita tak boleh juga tutup mata, Raditya Dika, Andrea Hirata, atau Asma Nadia adalah “model” penulis sukses Tanah Air yang telah membuktikan bahwa dengan menulis, mereka dikenal lewat buku-buku mereka, bahkan sampai diadopsi ke layar lebar. Dari mereka kita jadi tahu bahwa penulis bukanlah profesi yang sia-sia. 

Mari ajak diri kita bicara! Apakah perjuangan atas nama kemanusiaan ini hilang sirna begitu saja seiring lenyapnya kita dari dunia? Ah, jangan begitu. Tinggalkanlah sebait dua bait cerita yang kelak bisa dibaca oleh anak-cucu kita.

Memang berat untuk memulai menulis. Halangan dan rintangan datang silih berganti—naskah selalu ditolak dan diledek teman-teman. Belum Tidak hanya kalian yang mengalami itu. Saya teringat cerita motivator yang melambung dengan istilah “sukses mulia”-nya—tentang ia yang di masa lalu tak pernah bisa menulis tanpa kalimat pembuka “pada suatu hari”, lalu tentu karena usaha pantang menyerah dan jam terbangnya, Jamil Azzaini bertransformasi menjadi penulis “sungguhan” dengan sederet buku-buku karyanya yang best selling. Tak hanya Jamil Azzaini, penulis tersohor seperti J.K. Rowling pun mengerti banget perasaan kita yang bolehlah mengatakan diri sebagai penulis pemula, sebab, dia pun pernah berada pada posisi itu, mungkin jauh lebih tragis.

J.K. Rowling, penulis novel Harry Potter yang fenomenal ini, dalam cuitannya di Twitter pada 15 Agustus 2015 lalu, memberikan semangat kepada seorang pengguna sosmed burung biru itu, yang tengah menghadapi permasalahan untuk menjadi penulis.

Pemilik akun @potterimortal curhat kepada Rowling, bahwa orangtuanya bilang penulis bukan profesi yang layak.

Dalam akun @jk_rowling, Rowling menjawab, “Lakukan apa yang kulakukan: berpura-puralah kamu ingin melakukan sesuatu yang lain dan menulislah secara diam-diam sampai kamu bebas melakukan apa pun yang kamu inginkan.”

 
http://cdn.klimg.com/newshub.id/real/2015/08/17/39725/rowling_1.jpg

 Rowling bisa menerapkan nasihatnya itu pada diri sendiri sampai akhirnya dia menjadi penulis bergengsi seperti sekarang. Hanya dalam kurun waktu lima tahun dia meraih kesuksesan dan lepas dari pengangguran. Ini fakta! Bahwa sebelum Harry Potter “meledak” di pasaran.

Memang, di dunia ini tidak ada kesuksesan yang gratis. Selalu ada harga yang harus kita bayar untuk sebuah kesuksesan, yaitu pengorbanan. Jadi, mulai sekarang, fokuslah melangkah, biarkan hati kita bicara, tulislah kisah yang memang ingin kita ciptakan. Jangan pernah lelah berlatih menulis, membaca, membaca, membaca, dan mengamati sekeliling kita.

Tentu kita setuju, tujuan kita menulis bukan atas nama popularitas, tapi, paling tidak, tulisan-tulisan itulah kelak yang akan menjadi bukti sejarah bahwa kita pernah berbuat sesuatu untuk kemanusiaan, di dunia ini.

Setiawan Chogah, Resource Mobilization Manager Dompet Dhuafa Banten, serta Pemimpin Redaksi di media dalam jaringan biem.co.

Aku Ingin Tua dan Mati di Kampung Kita

Aku Ingin Tua dan Mati di Kampung Kita

Tahun-tahun usai dan datang kembali, dan aku kian tua di sini.

Di dadaku, Mak, tumbuh subur sebatang pohon.

Pohon berdaun lebat dan akar kokoh menghujam jantung. 

Dedaunnya terus saja membisikiku, “Pulanglah.” 

Sadar diriku ini, Mak. Kelak, pun aku tak ingin jasadku bersemayam di pandam-pandam yang aku sendiri tak mengenalnya ini.

 

Di kepalaku, Mak, tumbuh pula pohon angan berdaun lebat.

Hijau serupa daun-daun talau yang kerap memiangiku di masa bocah.

Di masa menjelang petang seperti ini, daun-daunnya kususun, menjelma rumah sederhana kita dengan anak sungai di belakangnya. 

Rumah yang kuperuntukkan untukmu, menantu, dan cucu-cucumu. Di sana kita hidup bersama, ditemani dendang uwie-uwie dan cekikik kawanan simpai yang berlompanan di pohon-pohon karet.

Mak, aku ingin tua, dan mati di kampung kita.

Rantau, 27/05/2015


 

Kisah Perjalanan Tiga Kaleng Coke, Kita yang Mana?

Kisah Perjalanan Tiga Kaleng Coke, Kita yang Mana?

Saya kembali gemar ngadem di Path. Path itu kesannya lebih seru aja dibanding Facebook yang ke sini-sini, kok, kesannya makin crowded banget. Ya, meski setiap kali share moment di Path, paling banter saya dapet 5 loves. *Nasib. Tapi bukan itu toh tujuan kita ber-Path ria?

Sama seperti ketika main Fesbuk, di Path saya suka memperhatikan (ternayata yang benar itu ‘memperhatikan’, bukan ‘ memerhatikan’. Rujukannya KBBI IV) kegiatan teman-teman saya di “jalanan sempit” (baca: Path). Ada yang lucu, seru, menyedihkan, mengerikan, dan yang saya
suka ketika ada yang nge-share cerita-cerita inspiratif. Salah satunya kisah tentang perjalanan tiga kaleng coke di bawah ini, yang saya copas dari akun sahabat nge-Path saya, Kawula Banyu. 

***

Pada suatu hari, sebuah mobil distribusi coke datang untuk mengangkut minuman kaleng tersebut dengan tiga tujuan berbeda. Pemberhentian pertama di Indomaret. Kaleng coke diturunkan, dipajang di rak, diberi label harga Rp4.000,00. Kemudian, mobil melanjutkan perjalanannya, dan sampai di pemberhentian kedua, Sogo Super Store. Kaleng coke diturunkan, disimpan di kulkas, dijual Rp7.500,00.

Mobilterus berjalan, berhenti di pemberhentian ketiga, Hotel Sheraton. Kaleng coke diturunkan, tidak ditaruh di kulkas. Ketika ada yang memesan, baru coke dikeluarkan dari tempat penyimpannya bersama gelas kristal, ditambah es batu cube block. Pelayan meletakkannya di atas baki, mengantarkannya ke meja pemesan seraya membuka tutup kaleng coke dan menuangkan ke dalam gelas dengan sangat sopan dan hati-hati. Harga dibanderol Rp40.000,00.

Mengapa harga ketiga kaleng coke itu berbeda? Padahal ketiganya diproduksi di satu pabrik yang sama, diantar dengan mobil yang sama, kemasan pun sama, dan aroma serta rasanya juga sama.

 Jawawabnya, lingkunganlah yang membedakannya.

 Begitulah,ketika kita berada di lingkungan yang mendorong kita untuk berbuat baik, niscaya kita akan cemerlang. Sebaliknya, jika kita berada di lingkungan yang mengerdilkan kita, maka kerdillah kita. 

Bakat dan kemampuan yang sama di lingkungan yang berbeda akan menghasilkan nilai yang berbeda pula. So, pastikan diri kita berada di lingkungan yang mendorong kita untuk memiliki nilai lebih. Berteman dan bergaullah dengan orang-orang positif, lalu lihat apa yang terjadi! 🙂

 

Banten Muda dalam Semangat Kekinian

Banten Muda dalam Semangat Kekinian

Pertengahan Agustus 2014 lalu, tablet murahan saya berdering. Sebuah panggilan masuk dari mantan atasan saya di Banten Muda, Kang Irvan Hq. Seingat saya, sudah lama sekali saya tidak berkirim kabar kepada beliau pascapindah bekerja ke perusahaan fabrikasi di Cilegon dulu. Lagi pula, setahu saya, Kang Irvan dipindahtugaskan oleh perusahaannya ke Lampung.

Dalam sapaan singkat, beliau mengundang saya untuk ngobrol. Saya penuhi undangan terhormat itu.

“Lagi pulang ke Serang, Kak? Katanya sekarang tugas di Lampung, ya?” saya membuka obrolan dengan Ketua Umum Banten Muda Community itu—yang sudah seperti kakak saya sendiri.

Kang Irvan bertanya perihal kuliah saya (yang alhamdulillah waktu itu tinggal sidang Tugas Akhir), juga tentang kesibukan saya yang serabutan. Ya, kebetulan waktu itu saya masih aktif di Kremov Pictures, juga jadi volunteer di Dompet Dhuafa cabang Banten untuk mengisi waktu luang sampai wisuda. Lalu setelah lulus, baru akan mencari pekerjaan tetap di Jakarta,
mengejar cita-cita untuk bekerja sesuai kecintaan saya. Seperti itu rencana yang saya susun waktu itu.

“Bikin Banten Muda versi website, yuk!” seru Kang Irvan, usai beliau bercerita tentang pekerjaannya dan tentang tabloid Banten Muda yang harus berhenti terbit lantaran beliau sering bolak-balik Serang-Lampung—membuat tabloid yang “dilahirkannya” pada 2007 lalu itu “kurang perhatian”.

Saya setuju. Paling tidak, Banten Muda tetap berwujud di dunia maya. Lagi pula, setahu saya, banyak sekali media cetak yang telah bertransformasi dari media konvensional menjadi media online. Seperti yang terjadi di Amerika, Tempo.co memberitakan bahwa sekitar 40 koran di Amerika menghadapi kebangkrutan dan tidak mampu bertahan dalam versi cetak. Seperti majalah Newsweek yang setelah 80 tahun menyebarkan berita di Amerika Serikat, harus mengakhiri edisi cetaknya pada akhir tahun 2012. Ada pula surat kabar Tribune Co, The New York Times, majalah Reader’s Digest,  dan si raksasa Rocky Mountain News ikut mengisi daftar media yang gulung tikar.

Hal serupa pun terjadi di dalam negeri kita sendiri. Beberapa majalah dan tabloid yang pernah menemani masa remaja saya turut hilang di loper koran langganan saya. Majalah Annida, Aneka Yess!, tabloid Gaul, Top Idol Indonesia, juga majalah Story yang pernah “melahirkan” saya itu. 🙁

Ya…, tentu saja saya paham, tanpa iklan, media mau hidup dari mana? Ongkos produksi mau dibayar pakai apa? Dan karyawan mau digaji dari mana?

Saya mendukung niat Kang Irvan untuk menggarap Banten Muda versi online. Mendukung penuh! Kenapa?

Dengan pekerjaan Kang Irvan yang demikian menyita waktu, media online memberikan solusi agar semangat “berkarya dan berbagi inspirasi” beliau tetap terwadahi. Terus tersalurkan.

Ongkos produksi media online jauh lebih murah, juga whole package alias multimedia capability. Selain teks, tentunya bisa memuat moving image, suara, dan video. Media online juga dapat dibaca kapan saja dan di mana saja, menjangkau seisi dunia pula. Kapasitasnya juga tidak terbatas, gampang diedit kalau ada salah ketik, gampang di-share, sangat dapat dibaca sambil tidur atau waktu mati lampu di malam hari, dan tidak membutuhkan karyawan yang banyak. Berita dan artikel pun bisa diproduksi sambil nongkrong di toilet kafe. Sesederhana dan semenyenangkan itu! (Dan memang media seperti itu, bukan, yang tengah dibutuhkan oleh generasi saat ini?)

Obrolan berakhir dengan kesepakatan untuk melahirkan Banten Muda versi online. Tapi siapakah yang akan dimintai pertolongan untuk mewujudkan rencana ini selain Allah Swt?

Diam.

Kang Irvan bertanya, tepatnya menawarkan…, “Iwan kan sering ngeblog, tuh. Pasti bisalah urusin website. Waktu luangnya masih banyak, kan?”

Saya diam aja.

Hmmm, baiklah. Tak kuasa rasanya melihat semangat yang demikian menyala di mata “kakak” saya itu tiba-tiba harus redup. Bukan! Bukan karena saya merasa yang paling pantas mengurus Banten Muda online, apalagi merasa yang paling bisa mewujudkan keinginan Kang Irvan itu. Tapi ini adalah tentang amanah besar yang beliau berikan dan percayakan pada saya. Saya tidak punya pilihan jawaban lain selain “Siaap, Jendral!”

Proses pembuatan website rupanya memakan waktu yang lumayan lama. Menyusun rubrikasi (kanal/channel dalam istilah media online), membuat sitemap, mengurus persyaratan melahirkan perusahaan media yang diwajibkan pemerintah, pemilihan font, tampilan website, dan kesepakatan nama dan logo ada baiknya diperbarui. Jadilah, setelah 6 bulan diutak-atik, Banten Muda versi online lahir dengan wajah yang baru dan lebih interaktif dibanding kakaknya yang pernah saya urus (blog Banten Muda).

biem.co, adalah wujud Banten Muda (BM dibaca bi-em) dalam semangat kekinian. Hari ini, tak hanya orang Banten yang bisa membaca Banten Muda dengan sangat mudahnya. biem.co bisa menyebarkan inspirasinya ke berbagai tempat di belahan dunia.

So, Kawan-kawan hebat di luar sana, yang saya tahu, pasti mempunyai keinginan untuk bercerita, untuk bersuara, dan untuk mengispirasi dunia, karena itu adalah fitrahnya manusia. Mari menulis, dan biem.co siap menyebarkan pemikiran-pemikiran luar biasa kalian kepada dunia.

Ayo periksa folder-folder di PC dan laptopmu! Buka laci meja belajarmu, atau map-map tua di rak buku dan lemari di kamarmu. Adakah tulisan-tulisan melow yang pernah kalian tulis menjadi berkas terbengkalai di sana? Mungkin ada beberapa cerpen dan puisi yang gagal tampil di media lantaran kalian belum berani mengirimkannya, atau ada catatan-catatan perjalanmu yang sangat sayang bila hanya dibaca dan di-kelonin sendiri. Kirim saja ke [email protected] dan cc ke [email protected]. Lalu biarkan tulisanmu hidup di dunia maya, membuat jutaan mata terbuka. Ah, hidup kita ini singkat bukan?

Ayolah, jangan mau kita menua tanpa makna. Mari berkarya dan berbagi inspirasi!


 

 

Hai, Mimpi-mimpiku, Apa Kabar Kalian Sekarang?

Hai, Mimpi-mimpiku, Apa Kabar Kalian Sekarang?

Rantau
berkalang rindu, 26 Juni 2015
Saya
merasa berdosa pada halaman yang dulu saya bangga-banggakan ini. Halaman yang
pernah begitu setia mendengar semua ceracau kacau saya, tanpa protes. Tapi…
lihat! Update-an terakhir saja beberapa bulan yang lalu, itu pun bekas artikel
yang pernah dimuat di Majalah Swara Cinta yang kembali saya posting. Anjaaai,
ke mana diri saya yang dulu? Saya kehilangan dia.
“Udah
lama, ih, Annis gak main ke blog Kak Chogah, ada postingan baru gak, Kak?”
tanya Annisa Sofiah Wardah, adik kelas di Untirta yang mengaku pembaca blog ini
dari dulu. Tapi sekarang Annis jadi keluarga saya di Dompet Dhuafa Banten.
Alhamdulillah, dia sangat antusias ketika saya share info open recruitment
Sahabat Ramadhan DD Banten 1436 H.
Saya
ngakak keras. Kemudian malu sendiri. “Ya ampun, sudah lama sekali saya nggak
nge-blog, thanks, Annis, sudah mengingatkan,” saya membatin dalam hati.
“Hahaha…
nanti, insya Allah Kakak update, ya. Mampir, dong!”
ucap
saya ketika tadi selepas berbuka puasa di kantor Dompet Dhuafa kepada Annis.
***
Sekian
lama melupakan blog ini, sekian lama pula saya mengendapkan mimpi-mimpi. Entah
kini separti apa rupa mereka. Barangkali sudah mengeras, menjelma bebatuan
keras di dunia tak nyata sana.
Saya
adalah lelaki yang terlahir sebagai seorang pemimpi. Aduhai, tanpa mimpi,
apalah saya ini….
Mimpi…
ya, mimpi. Mimpi yang pernah menjadi napas. Mimpi yang pernah menjadi alasan
kuat bagi saya untuk bertahan hidup di rantau ini, tak pulang-pulang sekian
kali Lebaran.
Eh,
sekarang umur saya berapa tahun, ya? Hahaha. Beberapa kali ulang tahun dalam
rentang dua, tiga tahun terakhir saya tak mau mengingat umur. Sebentar, saya
pinjam jari-jemari saya untuk menghitungnya…. (diam)… hei, saya masih 26
tahun! (diam lagi). Arg! Itu angka yang tua, Saudara-saudara!
Hfff,
di 26 tahun ini apa yang sudah saya capai? Sejauh mana saya menepati
janji-janji saya kepada mimpi yang kami pernah hidup harmonis itu?
Main Film
Mungkin
ini mimpi paling konyol dari si anak kampung ini. Dulu, ketika saya belum
insaf, bermain film (saya malu menyebutnya pengin jadi artis) adalah salah satu
mimpi yang pernah bersarang di dada kempes ini. Beberapa kali saya pernah
ikutan audisi pencarian bakat. Lokal maupun nasional. Hasilnya? Ya… sukses,
dong! Sukses ditolak. Hahaha. Tapi, paling tidak, saya punya cerita konyol yang
kelak akan saya bagikan kepada anak-anak saya. (Doakan saya cepat nikah, ya).
Eh,
omong-omong main film, 2013 lalu saya pernah terlibat dalam project pembuatan
film pendek yang digagas Komunitas Kremov Pictures. Film yang mengangkat
sejarah pahlawan Banten Ki Wasyid. Kalau mau melihat akting jelek saya, bisa
ditonton di di bawah, ya!

Lalu
sekarang apa? Sudahlah, bukan saatnya lagi saya larut dalam angan yang
sepertinya sulit terwujud itu. Saya juga udah tobat. Apalah hidup ini, hanya
sementara. Yang penting bahagia, toh? Anjaaai! ^_^
Punya Buku Solo
Yeah!
Jelek-jelek begini, nama saya pernah menghiasi beberapa majalah remaja ibu
kota, lho. (Yang mau muntah silakan, yang mau pesen buku SMS Terakhir, silakan
mention saya di Twitter, ya! Hihihi).
Ya,
saya sedih, beberapa majalah yang pernah memuat cerpen-cerpen saya harus kolaps
aka. gulung tikar. Kenyataan itu diperparah dengan hasrat menulis saya yang
ngedrop drastis. Menulis fiksi maksud saya. Entahlah, saya berpikir hidup saya
ini udah terlalu drama, tidak perlu didramatisir lagi, kali, ya…. Wkwkwkwk.
Tapi
meski demikian, orang jelek ini pernah juga merasakan memiliki buku tunggal.
Yes! SMS Terakhir, kumpulan cerpen saya dipinang Sheila (imprint Penerbit Andi)
dan terbit di sana. Setahun kemarin buku itu mejeng di toko buku. Bangga?
Jangan ditanya!
 

Buku Kumpulan Cerpen saya yang diterbitkan Penerbit Andi, Yogyakarta, 2013.
Lalu
sekarang apa? Saya membiarkan hidup saya mengalir. Keinginan untuk melahirkan
buku-buku selanjutnya tetap panas di dalam dada saya. Soal kapankah itu, sekali
lagi, biarkan mengalir dan tunggu indah pada waktunya. Ciaelllah!
Saya
tengah menikmati keseharian saya di Dompet Dhuafa. Dompet Dhuafa itu adalah
sekolah, dan saya salah seorang murid yang haus menimba ilmu di sana.
Saya
ceritakan sedikit ya, mengapa saya bisa “terdampar” di non-govermental
organization ini.
Setahun
lebih yang lalu, persisnya Februari 2014 saya melamar di Dompet Dhuafa.
Ceritanya bermula ketika kesuliatan hidup saat itu datang menyapa, saya baru
saja resign dari perusahaan fabrikasi di Kota Baja, Cilegon. Padahal saat itu
saya lagi butuh-butuhnya biaya, tak sekadar untuk melanjutkan hidup, tapi Tugas
Akhir saya sebagai mahasiswa tua juga tengah di ujung tanduk saat itu.
Dalam
keadaan kelaparan, saya mengirim pesan via inbox Facebook Dompet Dhuafa Banten.
Seperti ini bunyi pesan inbox itu:

Assalamualkum. Selamat
pagi, Dompet Dhuafa Banten. Apakah di DDB masih ada lowongan pekerjaan yang
bisa saya kerjakan. ^_^ Oh ya, perkenalkan, saya Iwan, mahasiswa
tingkat akhir Teknik Industri Untirta dan tinggal di Serang. Saya berniat di
masa pengerjaan Tugas Akhir saya punya kegiatan lain. Saya bisa mengoperasikan
komputer (Ms. Office, blogging). Di samping itu saya pernah bekerja part time
sebagai staf administasi di sebuah perusahaan, serta memiliki beberapa
pengalaman menulis di media massa. Sekiranya di DDB ada pekerjaan yang bisa
saya kerjakan, dengan senang hati Admin mau mengabari. Terima kasi sebelumnya.
Wassalam. – Setiawan C

Ya,
pesan itu saya copas, murni tanpa edit. Barangkali di sanalah Allah meletakkan
rezeki si anak malang, inbox itu langsung dibalas, yang intinya meminta saya
untuk datang ke kantor Dompet Dhuafa Banten untuk walk-interview. What? Saya
sempat terperanjat, Allah demikian cepat menjawab doa saya. Alhamdulillah.
Singkat
cerita, di hari wawancara, saya angkut semua majalah dan koran yang memuat
tulisan saya. Di hadapan Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten saat itu, Mas
Imam Baihaqi, saya ceritakan bahwa saya bisa menulis dan biasa nge-blog.
“Kamu
bisa desain grafis?” tanya Mas Imam waktu itu.
Saya
diam beberap detik. Memang, meski gak pintar-pintar amat, saya tahu kalau
software olah foto itu namanya Photoshop.
“Bisa,
Mas!” jawab saya lantang. Soal bisa atau tidak, itu urusan nanti, yang penting
saya bisa bekerja di Dompet Dhuafa.
Usai
interwiew, saya pulang dengan segudang kekhawatiran. Ya, bagaimana tidak
khawatir. Kan saya nggak bisa Photoshoooooop! >,<. Oke, kita masuk ke
sesi pengakuan doa. Sore itu saya langsung ke toko buku di salah satu mall di
tanah rantau ini. Sekitar 3 jam saya mojok cantik ditemani beberapa buku
Photoshop dan Corel Draw. Saya baca lamat-lamat. Beberapa bagian penting
seperti membuat teks, cropping, membuat ukuran workspace, dll, saya foto. Kan
saya sudah bilang kalau kondisi saya lagi kere, jadi mana mungkin membawa buku
itu ke kasir? >,<
Alhamdulillah,
sudah dua kali Ramadhan saya di Dompet Dhuafa. Setahun pernah menjadi relawan
yang pekerjaan saya menulis, admin website (eh, bukan, ding, waktu itu DD
Banten masih pakai blog gratis dari Google, aka. blogspot). Tapi jangan anggap
remeh, blog itu pernah dinobatkan sebagai penyumbang nomor satu brand awardness
Dompet Dhuafa secara nasional. Tepuk tangan!
Selain
jadi admin blog, saya juga tukang cetak-mencetak; spanduk, backdrop, dll
(tentunya dengan desain ala kadarnya waktu itu).
Tapi,
bukan saya kalau bukan gila-gilaan belajarnya. Banyak tutorial Photoshop saya
unduh dari Youtube. Saya tonton berulang-ulang, saya praktikkan, ah,
menyenangkan sekali.
Setahun
berlalu, saya diangkat ke posisi corporate communicatios, yang notabene tugas
saya tentu lebih menantang dan menyenangkan. Saya berurusan dengan press
release, bertemu dengan teman-teman wartawan, mewawancara penerima manfaat
program Dompet Dhuafa. Ah, hati ini rasanya penuh sesak oleh kisah-kisah haru
biru mereka. Awalnya., saya mengira adalah makhluk paling malang yang diciptakan
Allah, tapi di luar sana? (Hening).
Enam
bulan kemudian, Pimpinan Cabang yang baru memberikan tantangan baru. Entah apa
alasan beliau menawarkan jabatan yang membuat saya merinding itu ditawarkan
kepada saya; Resource Mobilization Manager. What?!! Manager, Boy! Manager!
Wait!
Saya menolak. Buka jabatan yang saya kejar. Saya sadar tentang siapa diri saya,
yang me-manage diri sendiri saja masih belum mampu. Saya diberi waktu satu
minggu untuk berpikir.
  
Oh
tidaaak!? What should I do? Hah?!!
Di
hari terakhir saya letakkan surat penawaran itu di meja atasan. Coba tebak apa
jawaban saya! OKE, SAYA TERIMA. Hahaha. Ya, mungkin saat itu pikiran saya
tengah error.
Diamanahi
sebagai Manajer REMO, mau tidak mau saya kudu belajar semakin keras. Buku-buku
bertema leadership berserakan di kamar saya. Kenangan masa-masa kuliah kembali
saya bongkar. Di situlah kadang saya merasa sedih, pengin meraung-raung.
Andai… andai dulu saya rajin masuk kelas mata kuliah Strategi Korporasi, atau
Manajemen Bisnis, Manajemen Risiko, dan jemen-jemen yang lain, tentunya itu
akan sangat membantu. Untungnya, materi-materi itu bisa saya baca kembali di
buku-buku yang ada di toko buku (terima kasih, toko buku). Beruntung pula, Mas
Usman, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa saat ini begitu mendukung timnya untuk
terus belajar, entah itu melalui training, seminar, maupun capacity building
yang diadakan lembaga.
Lalu
apa sekarang? Ya, waktu saya habis di DD. Hidup saya saat ini untuk DD. Saya
tersiksa? Tidak… justru inilah salah satu mimpi yang Allah wujudkan (padahal
saya tidak pernah memimpikan ini). Ah, Allah Mahabaik, SisBro… Mahabaik.
Mimpi…
saya masih terus bermimpi. Mimpi punya buku kedua, ketiga, keempat, dan
seterusnya. Mimpi kelak bisa seperti para muzzaki yang menjadi donatur Dompet
Dhuafa. Mimpi menghabiskan mata tua di kampung. Dan tentunya yang paling urgent
untuk segera di-aamiin-kan, mimpi untuk membina rumah tangga. Anjaaai! Hihihi.
Aamiin.
Kepada SisBro yang rela menyumbangkan waktu berharga kalian untuk
membaca postingan ini, rawatlah mimpi-mimpi kalian. Karena apa yang tidak
kalian mimpikan saja Allah pasti akan kasih, apalagi yang kalian mimpikan, dan
kalian mengerahkan effort yang besar untuk mewujudkan mimpi itu. Keajaiban itu
nyata adanya!