Allah Akan Bayar Utang Saya

Allah Akan Bayar Utang Saya

Ping!
Layar ponsel Dompet Dhuafa (DD) Banten
berkedip, sebuah pesan BlackBerry
Messenger 
 dari seorang teman di friendlist DD
Banten membuyarkan konsentrasi saya siang itu. Di penghujung bulan seperti ini
biasanya pekerjaan saya sebagai Corporate
Communication
 agak padat—menulis berita untuk sejumlah media
lokal, mendesain komunikasi visual di sosial media untuk di-publish selama satu
bulan ke depan, mengatur jadwal menulis amil DD Banten, juga membalas semua
pertanyaan dari masyarakat yang ditujukan lewat nomor dan akun resmi DD Banten
yang saya pegang.
“Assalamualaikum…, Ustad, bisa ke rumah?”
Ada jeda beberapa detik sebelum saya
memutuskan mengetik jawaban di layar sentuh smartphone yang saat itu sudah berada di
tangan saya. Saya menarik napas agak dalam. Hingga detik ini saya merasa sangat
belum pantas disapa dengan kata ‘ustad’. Saya masih sangat jauh dari kriteria
seorang ustad. Bagi saya, kata ‘ustad’ adalah kata yang sangat sakral. Dan saya
masih dalam proses belajar, akan terus belajar.
“Waalaikumsalam, terima kasih, Mas. Dengan
Setiawan di sini, ada yang bisa saya bantu?”
Dalam beberapa menit percakapan di BBM
itu, Sahabat DD Banten yang
menyebut namanya Tedi ini ingin dijemput donasinya sekaligus berkonsultasi
seputar pembayaran fidyah.
Kami membuat janji di Ciruas, beberapa kilometer dari kantor Dompet Dhuafa
Banten di Kepandean. Saya memutuskan untuk berangkat ditemani Farhan, tim
fundraising DD Banten.
Langit Kota Serang tengah jingga ketika saya
dan Farhan membelah jalanan aspal Kota Serang menuju daerah Serang Timur,
Ciruas.
“Pelan-pelan aja, Han,” saya menepuk pundak
Farhan. Jalur menuju Ciruas adalah jalur padat lalu-lintas, lebih-lebih di jam
pulang kerja seperti ini, kepadatannya akan semakin menjadi-jadi.
Farhan memarkir kendaraan di depan alun-alun
Ciruas yang mulai kusam tak terawat. Saya men-dial nomor Kang Tedi yang sebelum
berangkat, saya sempatkan memintanya untuk mempermudah komunikasi.
“Kang, saya sudah di depan alun-alun, ya….”
Sebuah ruang sekira 3×4 meter persegi tanpa
perabotan. Seorang laki-laki muda menyilakan kami masuk. Saya taksir usianya
menjelang 27 atau 28 tahun, beberapa tahun di atas saya.
Saya dan Farhan bersila di tikar yang
dibentangkan pemilik rumah. Saya memilih duduk dekat pintu agar dapat menikmati
embusan angin sore yang bertiup sepoi. Dari arah dalam, langkah-langkah kecil
menghampirinya dan dalam selang beberapa detik sudah berada di pangkuan Kang
Tedi.
“Ayo salim dulu
sama Pak Ustad,” Kang Tedi membimbing tangan bocah itu untuk menyalami saya dan
Farhan. Ah, sebuah pemandangan yang haru. Seketika ada rindu yang menyergap
saya.
Punten,
Ustad. Keadaan rumahnya kayak gini, maklum masih ngontrak,” ujar Kang
Tedi sembari menyuguhkan dua teh botol ke hadapan kami. Saya mengulas
senyum takjub seraya berterima kasih. Dua teguk teh botol dingin mengaliri
tenggorokan saya.
“Sudah lama tinggal di sini, Kang?”
“Baru berapa bulan, Tad. Tadinya saya kerja
jadi karyawan. Tapi lama-lama kok capek juga, berangkat pagi pulang malam. Waktu
ketemu anak jadi sedikit,” jawabnya panjang-lebar.

Saya mencerna kalimatnya. Ah, benar adanya.…
saya menganguk-ngangguk.
“Bulan lalu saya mutusin buat resign dan buka
usaha server pulsa. Alhamdulillah berjalan, pelanggannya teman-teman dekat
dulu. Hehehe,” lanjutnya.
“Wah, hebat, Kang Tedi. Saya sampai hari ini
malah masih tahap rencana buat buka usaha. Belum berani eksekusi,” saya
menganggapi dengan pengakuan yang sejatinya cukup membuat malu.
“Hehehe. Memang harus berani action, Tad. Tadinya saya
juga banyak takutnya. Tapi setelah ikutan seminar Ippho Santosa yang diadain DD
(Dompet Dhuafa Banten.red) waktu itu, saya jadi makin pede,” akunya.
Subhanallah… alhamdulillah, diam-diam saya bersyukur, kegiatan seminar
Percepatan Rezeki yang digelar DD Banten waktu itu bermanfaat untuk peserta,
salah satunya Sahabat
DD Banten
 yang saat ini ada di depan saya.
Kang Tedi beranjak dari duduknya, “Oh, ya,
Tad, sebentar, ya….”
Selang beberapa menit, ayah muda itu kembali
dengan seperangkat netbook di
tangannya.
“Jadi begini, Tad. Saya mau donasikan netbook ini lewat
DD. Mudah-mudahan bermanfaat…,” ungkapnya.
“Alhamdulillah, insya Allah akan sangat
bermanfaat, Kang.”
Kang Tedi mulai membuka cerita yang semestinya
saya tidak perlu tahu….
“Sebenernya saya masih punya utang beberapa
juta sama temen waktu mau buka usaha ini….,” katanya sembari mengelap debu yang
menempel di netbook.
“Tadinya mau dijual, tapi setelah saya diskusi sama istri, kalaupun dijual,
uangnya tetep nggak
akan bisa lunasin utangnya,” lanjutnya.
“Oh…, tapi paling nggak bisa mengurangi
utangnya, Kang.”
Kang Tedi tersenyum. Saya dibalut banyak tanya.
“Hehehe. Iya, sih. Tapi nggak apa-apa, biar
Allah saja yang ngelunasin utang saya, Tad.”
Aamiin! Saya terdiam. Ada haru dan perasaan salut yang
tiba-tiba membuncah. Saya seperti pengarang yang kehilangan kata. Ah, malu…
saya merasa amat malu dan kerdil di hadapan Kang Tedi.
***
Cerita Kang Tedi menyisakan kesan mendalam di
hati dan pikiran saya, tentu juga di hati pembaca semua. Seringkali kita
mengadapi bergulatan batin ketika  dihadapkan pada situasi untuk berbagi
ketika dalam keadaan tidak ‘berlebih’. Kita masih sering mengomel apabila
ongkos angkutan umum kurang kembalian atau mengumbar kekecewaan di sosial media
ketika membayar suatu barang yang harganya agak lebih dari yang biasanya kita
bayar. Kita masih berat untuk menyedekahkan uang Rp50 ribu rupiah ke kotak amal
masjid ketimbang membawa uang dengan jumlah itu ke mall yang akan habis dalam
satu kali transaksi di kedai kopi. Ah, kita lupa, Allah yang Mahakaya telah
berjanji, tidak akan miskin orang-orang yang berbagi di kala dia sulit.
Mari kita renungi firmanNya di Surah Al
Baqarah ayat 261 ini: “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang
yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah
melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . Dan Allah Mahaluas
(kurniaNya) lagi Maha Mengetahui.”
Demikian Sang Pemilik Hidup telah menjamin
bahwa ada keberkahan di setiap rezeki yang kita bagikan. Sesuatu yang kita
bagikan bukannya berkurang, tapi justru akan terus bertambah… bertambah… dan
bertambah, seperti itu wasiat kekasihNya dalam hadist. Tentu kita tidak mau
menungkiri, bukan? Ketika ada kelegaan yang menghampiri kita, dada terasa
demikian lapang setiap kali kita usai berbagi. Itulah salah satu berkah yang
Allah hadiahkan kepada orang yang senantiasa rindu untuk berbagi, sekalipun
tidak dalam keadaan berkecukupan.
Saya teringat sebuah artikel yang pernah saya
baca tentang publikasi Prof. Dr. David McClelland, di sana dituliskan,
melakukan sesuatu yang positif terhadap orang lain akan memperkuat sistem
kekebalan tubuh. Sebaliknya, orang kikir cenderung terserang penyakit. Mengapa
demikian? Karena orang kikir biasanya cinta materi (seperti uang). Bila uangnya
berkurang, maka dia akan stres, tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol yang
mengurangi kekebalan tubuhnya.
Menolong orang lain secara sukarela meningkatkan
kebugaran tubuh dan angka harapan hidup. Kisah nyata tentang Rockeffeler, orang
kaya yang tidak bahagia dan sulit tidur. Dokter memvonis hidupnya tidak akan
lama. Lalu Rockeffeler memutuskan mengubah hidupnya untuk menolong kaum miskin.
Lalu apa yang terjadi? Kesehatannya membaik dan berlawanan dengan perkiraan
dokter. Ia hidup sampai 98 tahun dan dikenal sebagai ahli filantropi dan
dermawan. Dengan demikian, keindahan dan kekuatan bersedekah bersifat
universal, dapat dirasakan oleh siapapun, baik Muslim maupun non-Muslim yang
melakukannya. Sekaligus hal ini membuktikan bahwa ajaran Islam yang
kebenarannya bersifat universal.
***
Ping!
“Assalamualaikum, Tad… alhamdulillah, barusan
saya transfer zakat penghasilan ke rekening DD Banten, ya, semoga berkah.”
Sebuah pesan BlackBerry Messenger  dari Kang Tedi.
Saya mengulas senyum, mengetikkan sebait doa untuknya. Semoga Allah memberi pahala atas apa
yang engkau berikan dan menjadikannya suci bagimu, memberikan keberkahan
terhadap hartamu yang tinggal. Aamiin. 
[*]

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Swara Cinta edisi 50, April-Mei 2015
Catatan Pascawisuda: Menjadi Baringin di Tangah Padang

Catatan Pascawisuda: Menjadi Baringin di Tangah Padang

22 November 2014

SUBUH masih pekat, kedua bola mata saya menjelma purnama, bulat, mengusir kantuk yang sebenarnya jauh sebelum subuh datang pun dia hanya mengintip malu-malu. Semalaman saya tidak bisa tidur. Memang, sejak beberapa tahun yang lalu saya menderita insomnia akut, dan meski kini sudah bekerja, “musuh tengah malam” itu masih enggan beranjak dari tubuh saya yang kata orang kian cungkring ini.

Hfff! Memang kebiasaan saya sejak dulu, setiap kali akan ada momen penting dalam hidup, satu malam sebelum hari itu datang saya pasti berubah resah, gelisah, dan tak bisa tidur. Padahal saya masih jomblo, lho. Oke, lupakan itu!

Bait terakhir kumandang azan Subuh baru saja usai, saya menyiapkan kemeja putih dan celana bahan yang akan saya pakai hari ini. Ini adalah hari istimewa untuk saya dan keluarga, terlalu istimewa. Betapa tidak, hari ini adalah hari di mana keluarga besar kami akan mencatat sejarah baru dalam rentang hidup yang panjang keturunan Mak Wak (nenek). Saya akan menjadi sarjana pertama dari keluarga persukuan nenek, karena kami di Minang menganut sistem kekerabatan matrilineal. 

Saya telah selesai mandi. Ruang tengah rumah Ante Yen (tempat saya tinggal dan menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar di Serang) pun mulai sibuk. Empat pasang mata memperhatikan saya memakai pakaian wisuda dan toga. Ada binar di mata Amak, Abak, Ante Us, juga Mak Wak. Ah, saya merasa berdosa demikian terlambat mempersembahkan ini pada mereka. Enam tahun menghabiskan waktu untuk kuliah bukanlah masa yang sebentar. Tapi tidak apa-apa, saya pun tahu mereka pasti bisa memahami.

Saya tidak pernah mengira, pamandangan pagi ini akan kembali dapat saya saksikan, melihat kedua sosok manusia paling berjasa dalam hidup saya—Amak dan Abak. Tidak ada yang perlu saya tutup-tutupi, kedua orangtua saya berpisah 2005 silam. Kala itu saya baru lulus SMP. Barangkali atas dasar sakitnya perpisahan itu yang membuat saya betah di rantau. Terlebih keadaan ekonomi Abak yang tak mungkin saya andalkan untuk menumpangkan cita-cita, juga Amak yang hidup dengan penghasilan warung yang pas-pasan, saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman.

Masa SMA saya lalui di kaki Lembah Harau dan pinggir Danau Maninjau, Sumatra Barat. Di Tanjung Pati saya tinggal bersama Tak Rus dan membantu usaha fotokopinya sepulang sekolah dan di Maninjau saya mendapat beasiswa selama 2,5 tahun. Gerbang remaja terbuka lebar saat itu. Segala rasa dan pengalaman bebas keluar masuk, namun di masa “pemulihan jiwa” pasca-perpisahan Abak dan Amak itu, duka mengambil tempat lebih banyak. Tak jarang saya meratapi nasib, memandang langit tengah malam, dan tersedu mengadu pada Tuhan. Entahlah, saya sendiri telah lupa bagaimana cara saya bertahan di masa itu. Yang pasti—hari ini saya masih hidup dan akan diwisuda dalam beberapa jam ke depan dalam keadaan bahagia. 

Tol masih sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melaju. Matahari pagi menemani perjalanan saya dan keluarga ke The Royale Krakatau Hotel, tempat diselenggarakannya acara wisuda gelombang III tahun 2014 oleh kampus saya, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Langkah saya terasa gagah. Hati pun demikian lapangnya. Ya, kesakitan masa lalu itu telah hilang. Saya yang mengusirnya. Itu juga yang membuat kadar kekecewaan saya yang lama tercatat sebagai mahasiswa menjadi berkurang. Enam tahun di Banten, demikian banyak pengamanan yang saya cicipi. Demikian banyak jiwa-jiwa yang tenyata lebih sakit dari kesakitan saya, yang pada akhirnya menyadarkan saya bahwa tiada guna menyimpan sakit. Sakit yang dipelihara dalam jiwa seperti menanam benalu di pohon mangga. Sia-sia. 

Senyum bangga kedua orangtua saya jauh lebih berharga. Dan saya lebih memilih itu.

***

Sepuluh. Dua puluh. Lima puluh. Ah, saya tak mampu lagi mengitung. Banyak tangan melambai di depan saya. Banyak mata yang memerah dan sembab. Banyak sedu haru-biru. Ada bapak yang memeluk putrinya. Ada ibu mencium putranya. Saya mencari-cari Amak dan Abak, saya ingin diperlakukan serupa.

Aroma lumpur di badan Abak masih seperti dulu. Aroma baju tua Amak juga tak berubah. Meski dari subuh Amak telah dibaluti kebaya merah dan Abak berbatik warna senada—yang baru lepas segel, aroma mereka tetap seperti dulu. Yang berbeda hanya kerutan di wajah yang kini kian jelas, terlebih Abak, beberapa giginya telah tanggal. Abak terlihat lebih tua dari usianya. Sudahlah, tak ada yang perlu disesali, demikian kata Abak pada saya dalam beberapa kali percakapan kami di telepon.

Tab saya berdentang. Ucapan selamat dari kawan-kawan di BBM, SMS, WhatsApp, dan Facebook membanjiri. Di depan saya beberapa tangan melambai-lambai. Hilal, Ali, Naminist, Bembi, Asep, Ayah Rusli, Dhiva… ah, tiba-tiba saya merasa demikian kaya. 

“Selamat ya… akhirnya wisudaaa!!!” 

“Bangga dong, Sarjana Teknik. Maju ke level selanjutnya, ya!” 

Banyak doa yang datang. Doa-doa yang saya kumpulkan untuk bahan bakar agar kapal impian terus melaju. Karena perjalanan menuju pulau impian yang sesungguhnya baru saja dimulai. Kapal tempat impian keluarga besar pun ditumpangkan. Kapal yang membawa bibit “baringin di tangah padang”. (Baringin di tangah padang adalah kutipan pepatah adat Minangkabau yang menggambarkan sosok seorang laki-laki dalam menjalani kehidupan). 

Baringin di tangah padang
Beringin di tengah padang
Baurek cakam ka tanah
Berakar menghujam tanah
Jauah tahunjam ka pitalo
Jauh terhujam ke dasar bumi
Panuahlah bumi dek rumpunnyo
Penuhlah bumi karena rumpunnya
Dek gampo indak tabongkehkan
Tak akan tumbang oleh gempa
Karano badai alun taoleang
Tak akan goyah oleh badai
Kununlah guyang angin lalu
Hanya bergerak karena angin berembus
Taguah pandirian
Teguh pendirian
Batauhid sarato istiqomah
Bertauhid dan istiqomah
Kukuah sarato yakin
Kokoh dan teguh pendirian
Kok yakin tumbuah dipaham
Ketika yakin pada sesuatu yang benar
Sajangka duduak indak bakisa
Sejengkal duduk pun tidak akan bergeser
Satampok tagak indak bapaliang
Tegak tidak akan berpaling
Walau baalah bujuak rayu
Walau bagaimanapun bujuk serta rayuan
Haram kuniang karano kunyik
Tidak akan kuning dilumuri kunyit
Pantang lamak ulah dek santan
Pantang enak biar pun disantani
Rugi jo pitih indak ditimbang
Rugi dan uang tidak menjadi pertimbangan
Jariah jo payah soal biaso
Susah dan payah bukanlah masalah

Dedi Setiawan, S.T. Saya yang masih terus belajar menjadi baringin di tangah padang


Guru Saya itu Bernama Imam Baihaqi

Guru Saya itu Bernama Imam Baihaqi

Serang, 23 September 2014

Barangkali inilah yang disebut relativitas oleh Einstein. Saya mencatat, persis 8 bulan yang lalu saya datang dan melamar pekerjaan di kantor ini—Dompet Dhuafa Banten, pelabuhan terakhir yang saya singgahi setelah mencoba peruntungan di beberapa perusahaan dengan berbagai jenis pekerjaan. Namun, rasa-rasanya baru hitungan hari saya di sini.

Slide kenangan 8 bulan yang lalu itu kembali hadir silih-berganti di kepala saya, tadi siang. Seperti biasa, di lokasi tempat saya bekerja saat ini lumayan sulit mencari tempat makan. Sengaja saya berjalan-jalan ke kawasan Royal di jam istirahat makan siang, sekitar 1 kilometer lebih dari kantor Dompet Dhuafa Banten di Kepandean.

Mungkin sudah kebiasaan sejak kecil, mata saya paling gampang akrab dengan tulisan, begitupun tadi siang ketika dia berserobok dengan stiker kecil di etalase rumah makan tempat saya menjatuhkan pilihan. Hanya satu kalimat yang tertera di sana, namun begitu pas dan melambungkan ingatan saya kembali ke masa-masa kesakitan yang pernah hadir menyapa hidup. Masa-masa sebelum di sini, masa-masa ketika saban malam pikiran saya berkecamuk. Masa-masa saya harus berpikir tujuh kali memutuskan untuk memilih makan—itulah masa-masa pengangguran!

“Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji.” – (H.R. Bukhari)

Demikianlah sebait kalimat yang menohok ulu hati itu, menampar dengan begitu lembut. Saya tak kuasa membendung pikiran saya berlari ke sana-kemari. Sampai pada titik saya berkesimpulan, inilah jalan terbaik yang telah Allah siapkan untuk saya melangkah di atasnya.

Seumur-umur, tak pernah di kepala saya terpikir untuk bekerja di lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa. Masa depan gemilang saya bangun di kepala menyerupai istana megah. Benar, saya bermimpi untuk bekerja di belakang meja dengan jas dan dasi. Bekerja sembari menyaksikan jari jemari menari di atas tuts keyboard, mengarang cerita, dan berbagi inspirasi dengan banyak orang. Tapi itu bukan di lembaga sosial.

Perjalanan saya dalam mewujudkan istana masa depan penuh tunggang-langgang. Luka di mana-mana. Sakit? Tak perlu saya ceritakan. Tapi apalah arti luka bila mimpi telah menjadi candu, bukan?

Dari sakit yang tak kunjung pergi selamanya itu, saya jadi tahu, rencana Allah lebih megah dibanding khayalan saya. Sebuah proses yang saya ikut di dalamnya hingga sampai pada satu titik pemahaman bahwa hidup bukanlah sekadar senang-senang, bukanlah sebuah proses yang bisa saya anggap biasa. Allah mempertemukan saya dengan Dompet Dhuafa, lalu saya diberikan kesempatan untuk melihat segala sesuatu di dalamnya, meresapi dan menyesuaikan nilai-nilai yang saya anut dengan nilai-nilai yang ditebar oleh sebuah lembaga amil zakat seperti Dompet Dhuafa, saya berhenti
pada satu kata—BERBAGI.

Ya, berbagi. Saya bahagia ketika mengucapkan kata tunggal itu. Satu kata dengan seribu definisi yang lidah saya barangkali tak akan mampu merapalnya.

Rasa syukur saya berlipat-lipat, beranak-pinak, ketika saya sadar betapa indahnya rencana Allah, memberikan Dompet Dhuafa sebagai tempat saya singgah setelah sempat terengah. Ternyata tenaga saya tak akan pernah cukup bila terus memburu tanpa pernah memberi. Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang serupa pincuran air dan saya menengadah di bawahnya—menyesapi setiap jengkal kesegaran yang merambat dari ujung kepada, dada, hingga perut saya.

Ah, saya kembali terkenang pada sesosok laki-laki muda berperawakan kurus yang pertama kali saya temui di sini. Dia yang menunjukkan kepada saya sisi-sisi terbaik untuk melihat rupa kehidupan. Saya baru tahu, di satu sisi saya sering meratapi nasib sial yang menimpa saya, ternyata ketika saya mau berpindah untuk melihat penderitaan dari sisi lain, maka keindahanlah yang akan tampak.

Minggu-minggu pertama bergabung di DD Banten. 🙂

Imam Baihaqi. Saya belajar banyak dari Anda. Tentang apa sesungguhnya yang disebut sabar oleh banyak manusia. Tentang apa sebenarnya yang diteriakkan sederhana oleh banyak mulut. Tentang apa yang sebetulnya digembor bekerja dan mengabdi oleh banyak aktivis. Juga tentang apa yang disebut keberanian sejati.

Saya berkeyakinan, antara saya dan Mas Imam barangkali hanya terpaut beberapa tahun. Tapi Mas Imam beberapa tingkat di atas saya di banyak sisi kehidupan. Beliau menang banyak. Dan saya sangat menghormati beliau.

Kita harus menjadi orang yang pro-aktif, jangan reaktif. Orang pro-aktif itu adalah orang yang memiliki prinsip teguh dalam hidupnya. Kebalikan dengan orang reaktif yang mood-mood-an, dan mudah terpengaruh.”

Foto bersama dengan Mas Imam di hari terakhirnya ke kantor kecil kami.

“Jika kamu tidak suka terhadap pekerjaanmu, maka sukailah suasana yang ada dalam pekerjaanmu. Jika kamu tidak suka terhadap suasana yang ada dalam pekerjaan, maka sukailah ruangan atau kantormu seperti interior, dinding kantor, aksesoris pendukung kantor dan foto-foto yang menghiasi dinding dan mejamu. Jika kamu masih tidak suka terhadap ruangan kerjamu, maka sukailah orang-orang yang ada dalam lingkungan kerjamu yang selalu menyapamu dengan penuh kehangatan setiap masuk dan pulang kerja. Jika kamu tidak suka terhadap orang-orang yang ada di lingkungan kerjamu, maka sukailah setiap perjalanan berangkat dan pulang kerjamu, di mana setiap hari kamu selalu disuguhkan dengan  pemandangan indah. Jika kamu tetap tidak suka terhadap semua itu, bergegas pergi dan carilah suasana pekerjaan yang menurutmu nyaman dan membuatmu bahagia.”

Mas Imam digantikan Kang Usman. Keduanya menjadi guru terbaik. Alhamdulillah. 🙂

Kalimat-kalimat itu hanya beberapa dari sekian banyak yang saya tulis kembali di buku catatan harian saya. Belum lagi contoh-contoh sikap beliau yang saya amati diam-diam. Diam-diam pula saya merasa malu tentang apa yang telah saya tahu dan lakukan selama ini. Saya mesti banyak belajar.

Great leader doesn’t tell you what to do, he show you how its done. Tugas dan pekerjaan saya di Dompet Dhuafa Banten berkaitan dengan tulis-menulis. Satu hal yang membuat saya merasa beruntung pernah dipimpin dan bekerja sama dengan Mas Imam, beliau adalah tipe pemimpin yang bekerja dengan memberi contoh. Mas Imam cukup aktif menulis di blog pribadinya, menuangkan buah pikirannya di sana. Dari sosok Mas Imam saya belajar bagaimana membuat hidup tak lagi sekadar hidup, bagaimana membuat hidup menjadi lebih berarti, dan bagaimana memupuk semangat berbagi meski diri tak pada posisi berlebih. Namun, Allah tak mengizinkan saya untuk belajar lama dengan Mas Imam. Guru saya itu harus pulang kampung ke Semarang, karena didapuk menjadi Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Tengah. Tapi bak kata guru mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau waktu saya menduduki bangku SMP, “Nan satitiak jadikan lawuik, nan sakapa jadikan gunuang, setetes jadikan laut, sekepal jadikan gunung.” Nilai-nilai hidup yang pernah ditransfer Mas Imam dalam waktu belajar yang singkat itu, saya berjanji akan memeliharanya baik-baik sebagai azimat peneguh cara pandang terhadap hidup yang masih sering goyah.

Dan tentang pekerjaan saya saat ini, ah…benih angan yang dulu saya semai di kepala kini bertunas, berdaun lebat, dan berbuah manis. Manis yang ingin saya bagikan kepada teman-teman di sini. Manisnya BERBAGI. Berbagi dalam kebaikan. Sungguh saya tak berdusta, lega hati ini setiap kali usai berbagi bersama Dompet Dhuafa, meski saya tahu, posisi saya hanya sebagai jembatan, penghubung bantuan dari muzzaki kepada mustahik.

(*Tulisan ini saya dedikasikan sebagai prasasti rasa terima kasih saya kepada salah satu guru kehidupan. Thanks, Kang Mas Imam. Sukses dan bermanfaat di manapun Mas Imam berpijak. 


Tentang Setiawan Chogah

Tentang Setiawan Chogah



Setiawan Chogah lahir di Atar, Batusangkar, Sumatra Barat, pada 2 Desember. Chogah adalah alumni SMAN Agam Cendekia angkatan kedua. Jingga Langit Pusara
(2006) merupakan cerpen pertamanya yang dimuat di sisipan koran Padang Ekspres
(P’Mails). 

Tulisannya berupa cerpen dan artikel tersebar di beberapa media
lokal dan nasional, seperti Majalah Annida, Majalah Story, Koran Fiksi,
Singgalang, Radar Banten, Tribun Jabar, Tabloid Top Idol Indonesia, Tabloid
Gaul, Majalah HAI, Majalah Sabili, Majalah Imut, berita99.com, sepocikopi.com,
KabarIndonesia.com, dsb. 

Selain di media, cerpen dan kisah inspirasinya pun
terangkum dalam antologi Gilalova #2 bersama Gol A Gong (2010), E-Love Story
(2011), Para Guru Kehidupan (2011), Fragmentasi Ciuman di Bawah Hujan (2012),
Seorang Nenek di Bawah Pohon Kasturi (2012). Setiawan C terpilih sebagai salah
satu dari best Indonesian writers mystery and horror versi Universal Nikko
dalam antologi Dua Sisi Susi (2011). Kisah hidupnya pun diterbitkan oleh
Bentang Pustaka dalam kumpulan kisah inspirasi Berjalan Menembus Batas; bersama
A. Fuadi (2012), buku ini terpilih sebagai nominasi kategori buku non fiksi
terfavorit dan desain sampul buku non fiksi terfavorit di ajang Anugerah
Pembaca Indonesia 2012. 

Pengalaman menulisnya juga terekam dalam antologi A Cup
Of Tea For Writer (2012); bersama Reda Gaudiamo, Triani Retno, dkk, yang
diterbitkan oleh Stiletto Book. 

Lulusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, ini sempat bekerja di perusahaan fabrikasi di Kota Baja, Cilegon, namun pada akhirnya lebih memilih menekuni dunia tulis-menulis dengan mengabdi sebagai corporate communications di Non-Govermental Organization (NGO) Dompet Dhuafa Banten hingga saat ini. Di tengah kesibukannya, Chogah menyempatkan mengelola website literasi dan gaya hidup www.biem.co sebagai Editor In Chief. Untuk berinteraksi dengan Chogah, follow
Twitter-nya @setiawanchogah.

#TalkWith Setiawan Chogah

#TalkWith Setiawan Chogah


Geis, ini kutipan obrolan saya dengan Ailsa dari Sekolah Menulis Kreatif Indonesia beberapa waktu lalu. Sttt, kita ngobloin banyak hal. Kepo? Kepo? Kepo? Yuk, simak, yuk! 

*********
#TalkWith Setiawan Chogah
Haloooo! Malam ini ada kabar gembira! Tapi, tenang ini bukan tentang kulit manggis yang ada ekstraknya. Segmen #TalkWith kembali! Yeay! Setelah hampir 2 bulan segmen ini di biarkan begitu saja, sekarang #TalkWith kembali! Yeay!
Loh kok tayangnya malam Jumat? Biasanya kan malam Minggu…
Yap, untuk Minggu ini ada sedikit perubahan karena kondisi yang tidak memadai jika gue harus posting malam Minggu. 
Ciyee, Ail ceritanya malam Minggu sibuk, ya? Udah taken? Ciyeee…. 
Plis deh, taken sama siapaaa? Udahlah, pokoknya gitu aja. Cuma buat minggu ini aja, kok. 
Okay, malam ini #TalkWith kedatangan seorang cerpenis muda. Sudah mempunyai 10 buku yang dibuat bersama-sama dan 1 buku tunggal yang berisikan kumpulan cerpen. Buku perdananya hasil kumpulan cerpennya yang pernah dimuat di beberapa media. Kebetulan gue kenal sama penulis ini beberapa bulan yang lalu, saat itu gue mengundang dia ke acara yang gue dan teman-teman Sekolah Menulis Kreatif Indonesia adakan, ceritanya bisa dibaca di sini. Cerpennya keren-keren, ada yang mampu meneteskan air mata sampai bikin ngakak guling-guling. 
Oke, langsung aja ya kita simak perbicangan gue dengan Kak Chogah siang tadi, lengkapnya, Setiawan Chogah. Selamat membacaaa! 
Kak Setiawan Chogah book signing usai bedah buku SMS Terakhir di toko buku Leksika Kalibata City
*************
Halo, Kak. Apa kabar? Makasih, ya, sudah mau mampir di #TalkWith
Hallo, Ailsa. Alhamdulillah, kabar sangat baik. Sama-sama, senang bisa ngobrol lagi.
Kemarin baru ngeluarin kumcer SMS Terakhir, ya? Ceritain dong, buku ini menceritakan apa saja?
Hehehe, iya, alhamdulillah. Ini buku tunggal pertama saya. Sebelumnya cuma punya buku keroyokan. SMS Terakhir adalah kumpulan cerpen pilihan dari 15 cerpen saya yang pernah dimuat media massa. Ceritanya tentang cinta secara universal, cinta kepada orangtua, sahabat, alam, kekasih. Pokoknya everything is a about love gitulah. Hehehe.
Wiiih! Oh iya, buku keroyokan apa saja, Kak?
Alhamdulillah, ada 10 buku keroyokan, bikinnya rame-rame. Kebanyakan dari audisi naskah atau lomba kepenulisan.

Waaah, banyak banget! Diabsen dong beberapa bukunya…
Aduh jadi malu, nih. Beberapa di antaranya ada Orang Bunian, E-Love Story, Para Guru Kehidupan, Gilalova 2 (Satu buku sama Mas Gol A Gong), Seorang Nenek di Bawah Pohon Kasturi, Dua Sisi Susi, Fragmentasi Ciuman di Bawah Hujan, A Cup of Tea for Writer, Berjalan Menembus Batas; Man Jadda the Series (Satu buku dengan A. Fuadi Negeri 5 Menara). 
Wah, asik nih pernah nulis bareng penulis-penulis keren. Cerpen sering majang di mana aja, Kak?
Paling sering Majalah Story dan Annida. Pernah juga di Majalah Hai, Tabloid Gaul, TOP Idol Indonesia dan koran-koran.
Di SMS Terakhir, yang aku perhatikan bahasanya dicampur dengan bahasa Minang. Apa alasannya Kak Chogah mencampurkan bahasa Minang ke dalam tulisan Kakak?
Alasannya, karena saya orang Minang, hehe. Dalam menulis, saya menuliskan apa yang saya tahu. Dari kecil sudah sering dengan cerita legenda yang banyak bahasa Minang-nya. Jadi kebawa deh dengan gaya bercerita di cerpen. 
Oh iya, sejak kapan mulai berkecimpung di dunia kepenulisan? 
Hehehe, ini kecelakaan sejarah dalam hidup saya. Saya kan kuliah di jurusan Teknik Industri, tapi malah nulis fiksi. Suka nulis sejak SMP, tapi baru berani kirim ke media pas SMA. Dan, saat kuliah jadi kecanduan. Akses ke media makin mudah dengan teknologi internet. Keranjingan nulis pas semester 2, sampai nilai kuliah anjlok, hahaha. 
Wahaha. Tapi kecelakaan yang satu ini nggak bikin celaka, kan. Sekarang lagi nyiapin naskah apa nih? 
Lagi kelarin skripsi sama lagi nikmatin kerjaan aja. Hehehe. Kebetulan sekarang lagi nyusun biografi seseorang. Kebetulan kisahnya cukup inspiratif. 

Wih, semoga cepat rampungnya, ya! 
Aamiin! Makasih doanya, Ail…. 
Balik lagi ke SMS Terakhir. Di buku ini, semua cerpennya anti mainstream. Salah satunya yang aku suka ‘Kado Valentine Istimewa’, ini cerpen terkampret yang pernah aku baca, ngakak! Cara menulis anti mainstream ala Kak Chogah gimana, sih? 
Hahaha, dalam menulis saya nggak pakai aturan. Suka-suka aja. Nanti juga akan menemukan gaya sendiri. Dengan gaya monolog seperti itu saya seperti bercerita sendiri. Seakan-akan ikut menemani si tokoh dalam kesehariannya. 
Punya idola penulis nggak? Siapa dan kenapa? 
Saya suka Lang Fang. Suka saja sama gaya berceritanya. Ceritanya juga sederhana, namun tetap apik dan meninggalkan kesan. 
Selain aktif nulis, kesehariannya Kak Chogah ngapain aja? 
Sekarang kerja di Dompet Dhuafa Banten sebagai corcom (Corporate Communication. Red). Salah satu kerjaannya juga nulis. Kerja sekalian cari berkah, aamiin. Oh ya, dalam waktu dekat saya mau launching website yang bisa menampung tulisan anak-anak muda. Nanti kamu ikutan nulis, ya! 
Wah, siaap! Selama nulis, ada nggak hal yang paling berkesan? 
Hmmm… saya paling senang, semenjak nulis punya teman di mana-mana. Lalu, SMS Terakhir sudah sampai Malaysia. Saya malah belum pernah ke sana, hahaha. 

Wah keren! Kasih pesan-pesan dong buat teman-teman di sini, siapa tahu ada yang sedang menyelesaikan naskah perdananya juga. Promosi bukunya juga boleeeh…. 
Pesannya, menulislah untuk mengabadikan sejarahmu, keluargamu, bangsamu. – untuk membantah dan mengoreksi apa-apa yang orang tulis salah tentang kamu. 
Buku ini cocok banget buat oleh-oleh mudik, untuk sanak saudara. Kalau katanya Majalah Story: Buku SMS Terakhir bisa dijadikan referensi buat yang ingin nulis di media lho. Hehehe. Kebetulan pernah masuk rubrik Info Buku di Majalah Story. 
Okay, makasih buat ngobrol serunya siang ini, Kak. Sukses terus buat nulisnya, ditunggu buku berikutnya, ya! Jangan lupa tetap main ke blog ini, ya. Hahaha. 
Oke, tengkyu, Ailsa. Sukses dan bermanfaat terus, ya! Maaf lahir dan batin…. 
Sumber: Ailsa
Menembus Batas dengan Mimpi

Menembus Batas dengan Mimpi

Menembus Batas dengan Mimpi
Oleh: Rindang Yuliani

Buku ini sangat inspiratif. Berisi tentang kisah-kisah nyata bagaimana orang-orang meraih impiannya di tengah keterbatasan. Keterbatasan harta, keterbatasan fisik, dan keterbatasan kondisi. Semua cerita dalam buku ini membuktikan bahwa mantra man jadda wajada itu benar. Siapa yang sungguh-sungguh dia akan berhasil. 

Seperti pada tulisan Bernando J. Sujibto tentang betapa lelahnya berjuang untuk menuntut ilmu. Bernando mengalami sendiri apa yang ia ceritakan dalam tulisannya yang berjudul “Dari Sumenep ke Kolombia” tersebut. Terlahir di keluarga yang papa, tidak menyurutkan mimpi dan semangat Bernando untuk menuntut ilmu. Dari belajar di pesantren terbesar di Madura dengan “mengencangkan tali sarung” hingga berjuang di Yogyakarta saat ia kuliah sambil membanting tulang mencari sesuap nasi. Lalu kesempatan itu datang, tentu saja bukan karena kebetulan, ia berhasil mendapatkan beasiswa belajar bahasa dan budaya ke Amerika! Subhanallah.

Ada pula cerita dari seorang penulis bernama Rina Shu. Sejak lahir, ia menderita muscullar distrophy yaitu kelainan genetik yang menyebabkannya lumpuh seumur hidup. Satu hal yang memotivasinya tetap semangat untuk melanjutkan hidup adalah kehadiran orang tuanya yang bermental nrimo. Mereka memasukkannya ke SLB jenjang SD, namun setelah memasuki SMP dan SMA ia dimasukkan ke sekolah umum. Tidak banyak teman di sekolah yang mengganggunya, karena Rina Shu juga merupakan pribadi yang percaya diri dan senang membantu ketika temannya kesulitan dalam belajar.

Namun, kenikmatan bersekolah ini harus ia lepaskan saat kelas 2 SMA karena kelelahan fisik dan mental yang dideritanya sebagai pelajar tak sebanding dengan kemampuan tubuhnya. Dalam ketidakberdayaannya dirawat di rumah sakit, Rina Shu melakukan hobinya yaitu menulis dengan tekun. Sayang, ketika novel pertama terbit ayahnya telah tiada. Kini, Rina Shu bertekad membantu teman-temanya sesama penyandang disabilitas agar mereka tetap semangat melanjutkan hidup. Ia berharap ia bisa membantu menyemangati mereka dengan tulisan-tulisannya. Rina Shu berkata, “Yang Kubutuhkan Semangat, Bukan Kaki”, seperti judul tulisannya tersebut.

Lain lagi cerita tentang seorang Setiawan Chogah. Ia menulis betapa ia harus melebihkan usaha untuk menggapai cita-citanya menjadi sarjana. Terlahir di sebuah nagari (desa), 125 kilometer dari Kota Padang, ia melihat bahwa cita-citanya menjadi sarjana sangatlah mustahil. Betapa tidak, jarak sekolah dengan gubuk reyotnya jauh sekali. Ketika SD, ia harus berjalan kaki menyusuri tepi sungai dan pematang sawah sejauh 3 kilometer. Amak-nya yang mengantar selalu bilang pada tetangga yang menyapa mereka di perjalanan, bahwa ia sedang mengantar calon sarjana untuk sekolah. Subhanallah, jlebb sekali.

Ketika SMP, ia mendapatkan beasiswa. Meskipun ia juga tetap harus bekerja untuk menambah uang saku. Ketika SMA, ia harus merantau ke Kota Padang dan menjadi karyawan toko fotokopi milik tetangganya di kampung. Di tengah-tengah semangat belajar dan bekerjanya, terdengar pula berita perih dari kampung, amak-abak-nya bercerai! Meski begitu, ia tak patah semangat. Kini ia berhasil kuliah di Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten. Ia siap menembus mimpinya, menjadi sarjana.

Itulah beberapa contoh cerita dari mereka yang berusaha menembus batas. Batas yang berupa kemiskinan, ketidaksempurnaan fisik, serta tak adanya dukungan dari lingkungan. Cerita tentang perjuangan Ahmad Fuadi sendiri untuk menggapai kesuksesannya yang sekarang sudah kubaca di trilogi novelnya; Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara.

Seperti yang kubaca dalam pengantar bukunya, 13 tulisan di dalam buku ini terpilih dari 80 lebih tulisan lainnya yang dikirim oleh penulis dari seluruh penjuru tanah air. Setelah kucermati, aku mengira faktor pertimbangan dimuat tidaknya tulisan dalam buku ini adalah dari seberapa menginspirasi tidaknya kejadian yang dialami oleh penulis atau orang-orang di dekatnya. Karena ada beberapa tulisan yang secara bahasa sangat sederhana, namun isinya sangat menyentuh.

Bagi kamu yang masih terlena dengan segala kelebihan yang dimiliki atau pun bagi kamu yang masih terpuruk oleh keterbatasan yang diciptakan oleh dunia, wajib membaca buku ini. Mari belajar menembus batas dengan buku ini!

Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada indahnya mimpi-mimpi mereka.” (Eleanor Roosevelt)