Jadi Pemilih Cerdas, Yuk, SisBrew!

Jadi Pemilih Cerdas, Yuk, SisBrew!

Jadi Pemilih Cerdas, Yuk, SisBrew! 



Pemilihan presiden dan wakil presiden negara kita tercinta ini, Indonesia, akan berlangsung kurang dari 1 bulan lagi, SisBrew! Udah yakin dengan pilihan lo? Memutuskan siapa yang akan jadi pemimpin negara kita untuk 5 tahun ke depan bukanlah hal yang remeh, lho, ya. 


Kita perlu benar-benar mempertimbangkan banyak hal sebelum menjatuhkan pilihan.



Kali ini gue sengaja posting artikel yang gue copas dari Hipwee. Soalnya gue lagi males ngetik, yaudah, ambil dari sumber yang gue yakini bagus dan netral aja. Hahaha. 


Nah, SisBrew, artikel ini insya Allah akan memaparkan hal-hal apa yang perlu lo tahu dari kandidat calon pemimpin bangsa ini. Plus, hal-hal apa yang perlu lo acuhkan dari mereka. Sudah siap jadi calon pemilih yang cerdas? Yuk, mareee!

Sebelum menjatuhkan pilihan, lo kudu melakukan hal-hal di bawah ini:
Cari Tahu Visi-Misi Kandidat Capres dan Cawapres! 
Janji manis adalah hal yang sering dilontarkan menjelang pemilihan umum. Kandidat bisa menjanjikan berbagai hal, namun pada akhirnya visi-misinyalah yang akan menjadi penyambung lidah bagi aksi yang benar-benar akan dia lakukan. Dari visi-misi itu lah kita bisa melihat komitmen calon pasangan terhadap berbagai isu.


Takut bosen baca visi dan misi yang bertele-tele? Sekarang lo udah nggak perlu khawatir lagi. Kedua tim sudah mempersiapkan web asyik yang bisa lo kunjungi. Untuk mengetahui visi dan misi Jokowi dan JK lo bisa akses ke laman ini. Sementara visi dan misi pasangan Prabowo-Hatta dituangkan dalam laman ini.

Udah nggak ada lagi alasan buat lo males memilih karena nggak mengenal kandidat yang akan maju ke Pemilu Presiden 2014. Semua informasi tentang komitmen program mereka telah tersedia di depan mata. Tinggal browsing internet, sebentar juga ketemu, kok.

Gali Dulu Idealisme lo!

Anak muda Indonesia kadang tidak peduli pada pentingnya idealisme. Kita kerap terseret arus populer, sehingga menentukan pilihan hanya berdasar apa yang lagi in atau hip saat itu. Mengikuti apa yang paling banyak diminati orang jadi hal yang paling normal untuk dilakukan. Padahal, krusial untuk benar-benar mengetahui hal yang paling penting buat lo. Tanpa harus mengindahkan pendapat orang lain.
Setelah mengetahui visi dan misi kandidat, tanyakan pada diri lo sendiri sebelum memutuskan memilih: “Apa yang paling gue harapkan dari kandidat presiden selanjutnya?” ; “Indonesia seperti apa yang pengin gue lihat di masa depan?”. Kalau lo belum atau enggak mau mengasosiasikan diri dengan idealisme manapun, pertanyaan mendasar tersebut bisa jadi panduanmu untuk menentukan pilihan.


Cari kandidat yang lo rasa paling mungkin mewujudkan harapan lo. Sesuaikan keinginan lo dengan program dan visi mereka. Pilihlah kandidat yang secara rasional paling dekat dengan idealisme yang lo yakini.
Jangan Malas Luangkan Waktu Buat Nonton Debat Capres-Cawapres!


Sekarang perkembangan media memberikan kita kemudahan untuk melihat secara langsung bagaimana calon presiden dan wakil presiden kita memberikan pandangannya tentang sebuah isu. Selama bulan Juni hingga pertengahan Juli mendatang, akan diselenggarakan 5 kali debat Capres-Cawapres (jadwal selengkapnya, di sini). Luangkan waktu untuk nonton debat ini. Jangan cuma nonton acara yang isinya joget-joget sama bagi duit itu.
Dalam setiap debat, kandidat presiden dan wakil presiden akan dihadapkan pada isu yang berbeda. Di situlah kita bisa secara jelas mengetahui bagaimana program-program nyata yang akan ia laksanakan kelak jika terpilih. Kalau perlu, catat poin dari setiap debat dan elaborasikan lagi di debat selanjutnya. Lo akan bisa melihat mana yang cuma pintar bicara dan mana yang benar-benar konsisten terhadap komitmennya.
Kalau ketinggalan siaran langsungnya di televisi, sekarang juga sudah ada Youtube tempat lo bisa menonton ulang debat yang sudah berlangsung. Banyak sekali jalan untuk mengetahui sudut pandang calon pemimpin yang akan mengomandani negeri ini. Tinggal kita saja yang harus pintar-pintar memanfaatkan.


Kepo-In Mereka Di Media Sosial
Semua kandidat capres dan cawapres punya akun di jejaring sosial. Mereka juga sama seperti kita, menggunakan akun media sosial untuk menyampaikan ide, curhatan dan gagasannya. Bedanya bapak-bapak ini kebetulan sedang mencalonkan diri untuk jadi orang nomor 1 dan 2 di republik ini.


Belum tahu apa akun Twitter mereka? Nih ya tak kasih tahu: Prabowo (@Prabowo08), Jokowi (@Jokowi_do2), Hatta Rajasa (@hattarajasa) dan Jusuf Kalla (@Pak_JK). Nggak ada salahnya jika mulai sekarang lo follow akun mereka untuk mendapatkan perkembangan informasi tentang masing-masing kubu secara real time. Kalau punya pertanyaan lo pun bisa langsung mention ke bapak-bapak ini. Keempat kandidat capres dan cawapres kita ini cukup ramah kok meladeni pertanyaan konstituen via jejaring sosial.
Ketahui Rekam Jejak Kandidat


Janji manis bisa menipu, namun apa yang sudah pernah dilakukan akan jadi bukti nyata bagaimana kinerja calon presiden dan calon wakil presiden kita. Kedua pasang calon kandidat pernah punya jabatan: ada yang sipil (jabatan publik), ada yang militer. Mereka adalah pribadi yang bisa dinilai secara rasional dari rekam jejak yang mereka miliki.
Dari web masing-masing calon lo bisa mengetahui riwayat kerja yang pernah mereka lakukan. Prestasi apa yang pernah dicapai, permasalahan apa yang dihadapi dan diselesaikan, plus kegagalan apa yang pernah terjadi selama masa jabatan. Apa yang pernah mereka lakukan saat menduduki jabatan akan jadi peta yang baik untuk menunjukkan bagaimana mereka akan bertindak saat memegang pucuk komando tertinggi di negara ini.
Cari Sumber Berita yang Netral. Biasakan Bersikap Kritis dan Kroscek Informasi!


Sekarang ini black campaign bertebaran di mana-mana. Informasi ngawur yang disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab demi menjatuhkan pihak lawan kerap jadi sumber data yang menyesatkan. Ngerinya, gak cuma oknum aja. Media cetak dan elektronik juga kerap ditunggangi oleh kepentingan.
Demi menjaga objektivitas lo sebagai pemilih, pastikan lo punya sumber informasi yang lo bisa bandingkan dulu dengan pemberitaan di media lain. Terlebih jika informasi tersebut lo dapetin dari kicauan di sosial media. Selalu cari data yang bisa mendukung informasi tersebut. Informasi viral yang banyak dibicarakan oleh orang-orang di sekitar lo itu belum tentu valid, loh.
Kalau hal hi atas tadi penting untuk dilakukan, ini adalah hal yang sepatutnya nggak jadi pertimbangan lo dalam memilih capres dan cawapres:
Agamanya Apa/Agamanya Bagaimana?


Keyakinan kepada Tuhan adalah hal paling personal yang dimiliki oleh seseorang. Akan nggak adil jika kita sebagai manusia berusaha menilai seseorang dari hubungan vertikalnya dengan Sang Maha. Siapa kita sih, bisa menilai keimanan seseorang?
Secara konstitusi, siapapun yang berkewarganegaraan Indonesia dengan latar belakang agama apapun berhak mencalonkan diri menjadi presiden dan wakil presiden. Satu-satunya syarat tentang agama hanya tercantum pada pasal 6 poin (a) yaitu “Bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa”. Selengkapnya soal Undang-Undang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden bisa lo lihat di sini.


Selain berangkat dari sudut pandang Hak Asasi Manusia dan pemahaman bahwa keimanan tidak bisa diukur oleh manusia, mengesampingkan urusan agama juga jadi bukti bahwa lo memercayai sistem check and balance dalam demokrasi Indonesia. Tidak peduli agamanya apa, seorang pemimpin tidak akan bisa semena-mena menjalankan pemerintahan sesuai keinginannya sendiri. Dalam sebuah negara demokrasi, keinginan rakyat akan didengar dan disuarakan lewat wakil-wakil kita yang terhormat di DPR. Belajar memilih secara objektif dan meletakkan isu agama disamping bisa jadi awal yang baik bagi sistem demokrasi kita.
Punya Istri Atau Enggak / Bagaimana Anak-Anaknya?

Isu soal keluarga juga bukan jadi hal yang relevan untuk jadi bahan pertimbanganmu memilih. Capres dan cawapres ini adalah manusia biasa yang juga punya kelemahan dalam kehidupan personal. Walau ada Zhang Xin yang sempurna dalam kehidupan personal dan karir, namun banyak juga kok pemimpin yang kehidupan personalnya tidak mulus.
Obama dan Michelle saja melewati masa-masa curam dalam pernikahan mereka. Punya keluarga dan anak-anak yang tanpa cela itu tentu kebahagiaan bagi setiap individu, namun jika masih ada kekurangan maka bukan berarti dia buruk sebagai calon pemimpin.
Suku X Ya? Iiih Kalau Orang Suku X Kan Gini (Kemudian Berspekulasi)

Kultur tempat seseorang dibesarkan memang bisa membentuk nilai-nilai dalam dirinya. Namun, kultur nggak serta merta membentuk perilaku. Semuanya kembali pada karakter dan integritas diri orang tersebut. Lagian udah bukan jamannya banget nggak sih memilih seseorang berdasar suku? Kita sepatutnya sudah harus lebih dewasa menghadapi perbedaan.
Dia Kaya Atau Enggak Sih?


Katanya, kalau milih calon pemimpin yang udah settle secara finansial maka kemungkinan korupsi bisa diperkecil. Well, mau sekaya apapun orang itu kalau nggak punya integritas ya tetap saja bisa tergoda untuk korupsi.
Lebih baik pilih dia yang berintegritas dan mau diaudit secara terbuka, terlepas dari jumlah kekayaan yang sudah dimiliki saat ini.
Nah, itu tadi beberapa cara yang bisa lo terapin agar jadi pemilih cerdas di pemilu mendatang. Sudah lebih siap dong menghadapi pesta demokrasi Indonesia? Yuk, mari jadi pemilih yang cerdas! [*]

Penulis yang Bukan Sekadar Menulis Cerita

Penulis yang Bukan Sekadar Menulis Cerita


Penulis yang Bukan
Sekadar Menulis Cerita
 (Pengantar Buku SMS Terakhir oleh Mbak Reni Erina)
Seseorang tertarik untuk menulis karena ia gemar
membaca. Apa yang dibaca sangat mempengaruhi tulisannya. Ketika ia gemar
membaca novel-novel roman, maka tulisannya pun tak jauh dari jenis itu. Begitu
juga ketika ia membaca buku-buku detektif, 
komedi, dsb.  Sementara buku-buku
lain berguna sebagai referensi untuk bahan tulisannya.  Membaca karya seseorang, kita bisa menilai
dari mana dia belajar. Tidak mutlak, tetapi biasanya penulis terpengaruh dengan
penulis idolanya.  Pun ketika saya
membaca naskah Setiawan Chogah, seseorang yang mengirimi banyak karyanya ke
email majalah yang saya asuh, untuk kali pertama. Saya merasakan betul napas
seorang penulis di era 90-an.

Kultur pun mempengaruhi karya penulis yang berasal dari
Sumatra Barat ini. “Batusangkar, Mbak,” kata Chogah pada saya.
Chogah—demikian saya biasa memanggilnya. Memiliki
kekuatan penceritaan bergaya tanah melayu. Tidak sekuat penulis-penulis melayu,
namun saya mendapati itu di karyanya yang berjudul Kiara, Berdejavu, dan Gadis Palasik. Namun dia sebagai penulis
remaja, saya pernah menyarankannya untuk mencoba berbaur dengan gaya kekinian;
cerpen remaja popular, agar tulisannya lebih berwarna dan bisa masuk ke segmen
majalah remaja manapun.
Menulis, bukan sekadar menulis. Etika kepenulisan dan attitude serta personality sebagai seorang pencipta cerita, adalah faktor-faktor
yang akan menguatkannya berkibar di dunia literasi. 

Dan Chogah; sahabatku,
adikku dan penulis kebanggaanku, sudah membuktikannya. Karya-karyanya ‘padat’
dan indah. Dia bukan saja mengenalkan pembaca akan kultur daerah—kebanyakan
dari mana dia berasal, tetapi juga menyuguhkan kekayaan ide dan kekuatan
bermain imajinasi, dan juga tentunya kalimat-kalimati indahnya.  Senang sekali melihatnya melahirkan banyak
cerita lewat karya-karya cerpennya yang memenuhi berbagai majalah remaja, dan
kemudian menjadikannya tumbuh sebagai seseorang yang eksis dalam dunia menulis,
bukan saja cerpen tetapi juga tulisan lainnya seperti liputan dan artikel.

Buku  ini adalah
bukti eksistensinya dalam menulis cerpen.
Reni Erina

Managing Editor
Story Teenlit Magazine



Sahabat pengin buku ini? 
Buku SMS Terakhir sudah beredar di toko buku. Atau bisa pesan langsung lewat penerbitnya @SheilaFiksi (Penerbit Andi, Yogyakarta) atau bisa juga lewat saya (+ tanda tangan ^____^) , silakan SMS/ WhatsApp ke 0821 1040 9641, ya! 

Yihaaa!!! #SMSTerakhir Sudah Terbit!

Yihaaa!!! #SMSTerakhir Sudah Terbit!

Wujud anak saya, #SMSTerakhir :))


Yihaaa! 


Buku SMS Terakhir Sudah Terbit!!!












Alhamdulillahi
rabbil ‘alamin…
setelah melewati perjuangan lika-liku dunia kepenulisan yang
masih seumur jagung, akhirnya buku tunggal yang sedari lama saya nantikan
kehadirannya ini terbit juga (Meski Tugas Akhir saya sudah saya garap dari satu tahun yang lalu belum juga terbit). Semoga kehadirannya pun menularkan rasa bahagia
kepada kawan-kawan semua. Buku SMS Terakhir dengan
pengantar dari Mbak Reni Erina (Managing Editor Story Teenlit Magazine) ini
sudah dapat dipesan secara online melalui penerbitnya, Andi Publisher: Klik di sini dan
juga sudah beredar di toko buku.

Kawan-kawan, ini dia identitas anak saya, #SMSTerakhir:

Kategori (Sub) : Fiksi (Novel)

ISBN :
978-979-29-2135-9
Penulis :
Setiawan Chogah
Ukuran⁄ Halaman
: 13×19 cm² ⁄ xii+164 hl halaman
Edisi⁄ Cetakan
: I, 1st Published
Tahun
Terbit : 2014
Berat :
10.14 gram
Harga : Rp
35.000,-
Diskon 20%
Harga Diskon : Rp 28.000,-

Endorsement:

“Setiawan Chogah memang kurang ajar! Kisah cinta yang begitu rumit dapat ia urai
dengan sangat sederhana, renyah, dan gurih. Bumbu bahasa lokal, cerita legenda,
misteri, pesan moral, dan kejutan-kejutan di akhir cerita mampu ia ramu menjadi
hidangan yang nikmat dan bergizi. Ondeh mande, lamak bana!” – Irvan Hq,
Pemimpin Umum Tabloid Banten Muda
“Tak
banyak cerita remaja bernuansa lokalitas. Dan Setiawan Chogah mengisi
kekosongan itu. Cerita-cerita dalam SMS Terakhir tak hanya bercerita tentang
cinta ala remaja saja, tapi bercerita tentang cinta yang lebih luas. Sepertinya
penulis sengaja ingin menunjukkan hal yang berbeda dari dunia remaja.” –
Guntur Alam, penulis novel Jurai, Solely You, Sebenarnya Cinta, dan My Curly
Love.
“Gila! Gue
nggak tau mau kasih komentar apa. SMS Terakhir membuat gue merinding sekaligus
berdecak kagum dengan gaya tutur lokal penulis yang romantis, namun tetap
unyu!” – Nando, penulis Beautiful Boy dan Genk Kompor.
“Siapa
bilang cerita remaja selalu nge-pop, metropolis, atau alay? Setiawan Chogah
menjawab itu semua melalui buku ini. Ya, buku ini isinya bercerita tentang
remaja namun disajikan dengan gaya bertutur yang beda dengan nuansa lokalitas
yang kental, banyak catatan kaki namun nyaman dikonsumsi. Sangat layak buat
dikoleksi.” – Adnan Buchori, penulis buku Paperplane Of Love dan FLU, Fallin’
Love with U
“Membaca
kumpulan cerpen ini membuat saya semakin rindu pada seseorang. Udah, buang aja
yang namanya gengsi, bingung, dan malu. Percaya, deh, tidak ada yang lebih
indah dari cinta, dan semuanya ada di buku ini.” – Eva Riyanty Lubis, penulis
novel Me And My Heart.
Buku ini
saya persembahkan sebagai ungkapan cinta mendalam kepada:

Amak, Abak, dan seluruh keluarga saparuik Suku Patopang Guguak Puluiktan, guru
dan kawan-kawan tercinta alumni SDN 15 Taratak XII Atar, SMPN 2 Padang Ganting,
SMAN 1 Harau 50 Kota, SMAN Agam Cendekia, Teknik Industri Untirta angkatan
2008, LPM Reaksi FT Untirta, HMTI Untirta, Banten Muda Commununity, Rumah
Dunia, Komunitas Cendol, CK Writing, Storylovers, B’Ders Banten Pos,
Kremov Pictures (Semua cast dan crew film Ki Wasyid – Di Balik Jihad Sang
pejuang 1888), Dompet Dhuafa Banten, dan tentunya untuk kawan-kawan
“ngerumpi” saya di Facebook, Twitter, juga blog kece ini. Ayo beli
dan baca buku sayaaa di siniiii!  ^_^/
Perihal Menjaga Bakat

Perihal Menjaga Bakat


Perihal Menjaga Bakat

Ini
adalah curhatan terjujur dari sekian ratus kali saya curhat ke kamu. Oke, saya
tahu bagian ini tidak terlalu penting kita bicarakan, Alfonso. Langsung saja.
Jadi begini, tiba-tiba saja malam ini saya teringat pada satu kalimat hebat
yang pernah diucapkan oleh sahabat saya, sebut saja Beringin. Beringin bilang
gini, “Chogah, kamu tahu? Hal-hal besar yang dialami oleh orang-orang
besar di dunia ini, berasal dari kumpulan hal-hal kecil yang pernah mereka
lakukan secara terus-menerus.”  

Waktu
itu saya ngangguk-nganggguk aja kayak sapi mabuk, menanggapinya dengan santai,
“Kayak pepatah nenek saya, dong, sedikit-demi sedikit lama-lama jadi
buncit.” 
“Ya,
kurang lebihnya seperti itu. Tapi, swear, itu pepatah paling buruk yang pernah
aku dengar. Jangan ucapkan lagi!”
Beringin
memang ceplas-ceplos kalau ngomong. Tapi saya suka apa adanya Beringin.
Beringin yang jujur. 
 =========O==========
Mbak,
guru, sekaligus sahabat saya, Mbak Erin pernah bilang ke saya. Saya yakin hal
yang saya juga sering beliau sampaikan kepada orang lain, terlebih kepada peserta
pelatihan menulis beliau. “Chogah, teruslah menulis. Apapun,
tuliskanlah!” kata Mbak Erin dalam satu pertemuan.
  
=========O==========
  
Alfonso,
malam ini saya ingin kamu menjadi saksi bahwa apa yang pernah diucapkan
Beringin dan Mbak Erin kepada saya adalah ucapan yang benar! Kamu harus
bersaksi untuk saya. Okey?
Saya
tahu kamu adalah orang kiri yang butuh penjelasan dari setiap perkataan saya.
Dasar orang kiri! :p
Sebagai
orang kanan, begini penjelasan dari saya, Alfonso. Lebih tepatnya, ini
ceritanya:
Dulu,
sekira tahun 2010, saat saya lagi suka-sukanya menulis. Yang konon, saya pernah
lho tiap hari posting curcolan nggak jelas saya di blog. Ah, kamu mana tahu,
orang kiri sukanya angka-angka, sih. :p
  
Saat
itu, menuliskan apa saja rasanya gampang banget. Dampaknya apa? Dalam menulis
cerpen-cerpen murahan dengan kualitas KW, saya hanya butuh waktu sekitar satu
jam, lho! Iya, satu jam. Tapi kamu harus catat, cerpen-cerpen KW atau artikel
dangkal yang saya tulis itu dimuat di media. Hihihihi. Novel Blablabla penulis
kondang yang waktu itu memakai jasa saya, saya menulisnya dalam 12 hari, kok.
Tuh, bisa kan, saya? Iya dong. 
 Oke,
tolong toyor kepala saya!
Alfonso.
Sekarang saya sudah jarang menulis. Jaraaaaaaaaang! Blog saya yang dulu pernah update
tiap hari sekarang saya perbarui postingan sekali tiga bulan. Menulis cerpen
juga udah nggak pernah. Opini, artikel, puisi, pantun, syair, gurindam, ah,
apalagi! Hahaha. Ini gara-gara kelakuan para pesohor dan tetua dunia sastra di
negara kita sih. Tabiat mereka membuat saya takut dan ngeri. Eh, bahkan saya
sempat berpikir lho sastrawan negara kita telah dikutuk oleh Tuhan. Hahahaha.
Iya, soalnya heboh banget. Sikut sana, sikut sini. Mereka itu kayak barisan
orang-orang yang kerjanya mengkritik, memprotes, membuat petisi, ah, rumpi!
  
Oke,
kita tinggalkan dunia sastra yang sempat membuat saya ngeri dan berhenti
membeli buku-buku sastra. Hahahaha.
Alfonso.
Beberapa minggu yang lalu saya dihubungi oleh seorang pengusaha yang ingin
membuat buku tentang perjalanan hidupnya yang luar biasa. Eh, saya serius lho
ini. Pengusaha ini hebat banget, dia bisa recovery dalam waktu tiga tahun
setelah sebelumnya dia sempat down! Bukan kayanya yang bikin saya berdecak
kagum, Alfonso. Tapi kemampuannya untuk tetap tampil apa adanya. Tetap down to
earth. Ah, pokoknya begitu buku itu selesai, kamu harus baca! Banyak sekali
pelajaran hebat yang harus diketahui olah orang kiri kayak kamu. Hahaha. Hebat, lho, bisa luar biasa dalam waktu 3 tahun. Saja. Gila, kan? Saya aja
nggak bisa move on dari si Kampret itu. Ups! 
  
Cerpen-cerpen
murahan saya saya tulis dalam satu hari. Novel Blablabla saya selesaikan dalam
12 hari. Lah ini, Alfonsoooo…! Sudah satu minggu, baru ada 3 halaman.
Hahahaha.
Iya,
sih, si pengusahanya bilang ke saya, bukunya ini bukan untuk dikomersialkan.
Nanti mungkin juga akan memakai jasa indie pubhlishing buat nerbitinnya.
Katanya, buku ini buat rekam jejak aja dan dibagikan gratis kepada orang-orang
yang mau menerima inspirasi dari perjalanan hidupnya. Alfonso, mulia sekali kan
cita-cita si pengusaha? Mari kita doakan dia semakin sukses. Aamiin. 🙂
 =========O==========
  
Begitulah,
Alfonso, perihal memelihara bakat serta kaitannya dengan ucapan Beringin dan
Mbak Erin. Korelasinya kuat sekali, kan, dengan penjelasan saya?  Aduh,
apa pula itu korelasi, kohesi, dan adesi. :p
Tolong
katakan kepada anak-anak muda bangsa kita yang hebat ini, kalau mereka punya
bakat atau minat, ya kudu dijaga. Hukumnya wajib ain! Hehehe. 
Bakat,
minat, juga keterampilan itu harus dipupuk terus, Alfonso. Biar tumbuhnya subur
dan menghasilkan buah yang lebat serta manis rasanya.
Oh,
saya ingat, siapa tuh, ilmuwan yang pernah 1000 kali gagal dalam percobaanya
sampai akhirnya dia diakui dunia. Aduh, siapa namanya, Alfonso? 
“Thomas
Alva Edison! Penemu bola lampu. Angka akuratnya 10.083 kali gagal.”
Huh,
dasar orang kiri! 
“Berhenti
meneriaki saya, orang kiri, hei, orang kanan! Lalu apa rencanamu?”

“Ya…
besok temani saya ke toko buku. Saya mau belajar Photoshop lagi.”
“Huuu,
dasar orang kanan!”
  
Serang, 20 Maret 2014
Menyongsong Pagi, Melawan Lupa

Menyongsong Pagi, Melawan Lupa

Ibu dan Mak Wak selalu berpesan pada saya bila di akhir pekan mereka menelepon dari kampung. “Elok-elok di nagari uwang, Nak! Jan lupo jo joso uwang!”

“Baik-baik di negeri orang, Nak, jangan sampai lupa jasa orang lain yang membantu kita!” Demikianlah sekiranya bunyi pesan itu bila saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Hal inilah yang selalu saya pegang. Memang, secara ekonomi, Ibu dan Mak Wak memang tidak bisa membantu kehidupan saya di tanah rantau, tapi sebagai anak muda yang tengah labil—mencari jati diri, nasihat dan pandangan hidup seperti itu amat saya butuhkan.

Oh ya, ketika saya menulis curahan hati ini sebagai upaya melawan lupa, adalah memasuki bulan kedua saya bekerja di Dompet Dhuafa Banten. Hehehehe. Iya, saya harus jujur, selama ini saya memang tidak lagi jor-joran bercerita tentang diri
dan kehidupan saya di sosial media. Terakhir kali menulis, saya masih berstatus sebagai pegawai rendahan di perusahaan fabrikasi di daerah Bojonegara sana.

Setelah keluar sekitar bulan November (saya hanya bertahan sekitar 2 bulan lebih sedikit bekerja di perusahaan), saya menikmati peran saya sebagai pengangguran selama dua bulan lebih. Itu adalah masa-masa sulit buat saya, belum pernah saya berpikir bagaimana bisa bertahan hidup dengan Rp 50 ribu untuk satu minggu di kota seperti ini. Selama beberapa minggu setelah memutuskan untuk resign dari perusahaan, saya sempat gencar menyapa kenalan saya di BBM, dengan harapan mereka bisa membantu saya mencarikan pekerjaan. Pekerjaan apa saja, yang penting saya tidak nganggur!

Rata-rata menjawab, “Nanti saya kabarin ya, kalau ada pasti saya kasih tahu.” Sementara saya harus tetap makan. Otak saya benar-benar diperas untuk bisa berpikir, sementara tabungan semakin menipis. Itulah, Tuhan tidak pernah benar-benar tega kepada makhluknya, di saat-saat kritis, tiba-tiba Andhika, sahabat saya di Banten Pos mengajak bergabung sebagai kru Gen B, halaman remaja di koran itu. Hah, setidaknya saya aman, paling tidak untuk bertahan hidup.

Kembali menjadi wartawan membuat saya sempat tidak percaya bahwa hidup saya begitu menyedihkan. Bukannya semakin baik, saya merasa prestasi saya dalam hidup semakin menurun. Saya kembali gamang melangkah, mimpi-mimpi seperti buyar. Saya benar-benar tertekan. Apalagi saat itu Tugas Akhir saya menjadi terbengkalai. Kacau! Saya benar-benar hancur.

Namun demikianlah hidup. Saya mencoba berdamai dengan diri saya, saya ajak diri saya bicara. Bertanya tentang tujuan hidup saya yang sebenarnya dan hendak dibawa ake mana. Pada awalnya ego tetap menang. Rasa kecewa, marah, bahkan hina mengelilingi saya. Saya benar-benar tidak berguna. Saya telah gagal.

Di suatu pagi, saya membuka Facebook dengan bantuan wifi gratisan. Meski miskin semiskin-miskinnya, saya tidak sampai menjual ponsel pintar saya. Hehehehe. Oh ya, harus saya tuliskan di sini, sepanjang November sampai awal tahun 2014,
saya sering numpang makan di rumah Oni, sahabat saya orang Serang yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan tempat tinggal saya. Saya di Cinanggung, dan Oni di Ciwaktu, sekitar 400 meter dari Cinangggung.

Kembali ke Facebook. Sibuk membaca beranda dengan aneka macam status kawan-kawan maya saya, tiba-tiba saya teringat perihal pertemuan tak sengaja saya dengan Mbak Kemuning di depan Carrefour Serang. Waktu itu beliau mengatakan ingin ke Dompet Dhuafa. Mbak Kemuning ini adalah pekerja sosial, saya kenal beliau waktu saya masih mengabdi di Banten Muda.  Dompet Dhuafa. Ya, Dompet Dhuafa, saya pernah membaca pengumuman di Facebook yang
diposting oleh Fesbuk Banten News bahwa Dompet Dhuafa membuka lowongan pekerjaan. Meski postingan itu sudah lama, ada kekuatan yang mendorong saya untuk mencoba melakukan komunikasi dengan Dompet Dhuafa. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengetikkan “Dompet Dhuafa Banten” di kolom search Facebook, dan pagi itu juga saya langsung mengirimkan pesan lewat inbox Facebook.

09/01/2014 08:40 Setiawan Chogah

Assalamualkum. Selamat pagi, Dompet Dhuafa Banten. Apakah di DDB masih ada lowongan pekerjaan yang bisa saya kerjakan. Oh ya, perkenalkan, saya Iwan, mahasiswa tingkat akhir Teknik Industri Untirta dan tinggal di Serang. Saya berniat di masa pengerjaan Tugas Akhir saya punya kegiatan lain. Saya bisa mengoperasikan komputer (Ms.
Office, blogging). Di samping itu saya pernah bekerja part time sebagai staf administasi di sebuah perusahaan, serta memiliki beberapa pengalaman menulis di media massa. Sekiranya di DDB ada pekerjaan yang bisa saya kerjakan, dengan
senang hati Admin mau mengabari. Terima kasi sebelumnya. Wassalam. – Setiawan C

Pesan di atas langsung saya copy paste dari inbox Facebook saya dengan akun official Dompet Dhuafa Banten, tidak ada satu kata pun yang saya tambah atau saya kurangi. Saya tulis apa adanya diri saya, sejujur-jujurnya. Dan lihat! Kata-kata saya banyak yang salah, kan? Hehehehe. Demikianlah, ketika galau melanda, apapun menjadi serba-payah. Bahkan menulis bagi orang telah terbiasa menulis. Hmmm!

Gayung bersambut, hari itu juga saya menerima balasan dari Dompet Dhuafa Banten, saya diminta untuk datang ke kantor DD di Kepandean untuk walk in interview. Saya benar-benar terperangah, seakan tak percaya bahwa pesan saya akan dibalas secepat itu.

Akhirnya, di hari yang ditentukan oleh Dompet Dhuafa, lagi-lagi dengan bantuan Oni, di Jumat pagi, 10 Januari 2014 saya diantarkan Oni ke kantor DD. Dengan membaca CV dan beberapa majalah yang memuat tulisan saya serta beberapa antologi, saya memasuki kantor DD dan disambut oleh CS yang entah kebetulan, di kemudian hari akhirnya saya tahu bahwa kami pernah bertemu sebelumnya. (Mbak Wiwit, CS DD Banten adalah salah satu relawan FBn, kami pernah bertemu di acara pernikahan Kang Lulu, sahabat Kak Irvan yang juga kebetulan relawan Fbn).

Sekitar lima menit menunggu, saya dipersilakan naik ke lantai dua dan bertemu dengan Mas Imam, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten. Sekilas saya perhatikan, laki-laki itu sepantaran saya, masih muda, paling-paling beberapa tahun di atas saya.

Saya mencoba tenang, meski itu bukanlah interview pertama saya dalam mencari pekerjaan, tapi perasaan gugup dan deg-degan itu tetap ada.

Mas Imam bertanya tentang tujuan saya melamar pekerjaan di Dompet Dhuafa, tentang rencana saya, tentang kuliah saya, dan tentang apa yang bisa saya kerjakan untuk Dompet Dhuafa.

Saya menarik napas dalam-dalam, sebelum mengurai kisah perjalanan hidup saya yang berliku hingga sampai di hadapan laki-laki muda di depan saya kala itu, Mas Imam.

Sekira 30 menit saya bercerita, ya lebih tepat saya sebut bercerita tentang pengalaman, tentang apa saja yang telah saya kerjakan di pekerjaan saya sebelumnya, tentang hobi saya nge-blog dan menulis.

Saat itu Mas Imam tidak meberikan keputusan bahwa saya diterima atau ditolak. Beliau hanya mengatakan bahwa saya akan dikabari beberapa minggu ke depan. Saya ikhlas sekiranya memang nasib berkata bahwa saya tidak diterima, paling tidak saya telah berani berkata jujur tentang diri saya dan membawa kaki saya melangkah sampai ke hadapan Mas Imam. Saya telah berusaha.

Satu minggu usai interview, CS Dompet Dhuafa Banten Mbak Wiwit menelepon saya, saya diminta untuk kembali datang ke Dompet Dhuafa Banten. Alhamdulillah, akhirnya per tanggal 27 Januari 2014 saya bergabung di Dompet Dhuafa Banten sebagai marketing communication.

Apa pekerjaan saya? (Beri sayan waktu untuk diam sejenak)

Saya tidak bekerja! Ya, saya tidak bekerja. Karena tugas saya sebagai markom yang diberikan oleh Mas Imam adalah pekerjaan yang selama ini pernah saya impikan. Saya senang menulis, dan atas alasan itu pula saya bergabung dengan Banten Muda, dulu. Semenjak kuliah dan punya laptop, saya sudah rajin nge-blog, dan di DD Mas Imam memercayakan saya untuk menulis berita kegiatan DD dan diposting di blog DD, sama persis dengan apa yang dulu Kak Irvan percayakan pada saya di Banten Muda. Oh… beri saya waktu beberapa detik lagi untuk kembali diam.

Kak Irvan Hq, Mas Imam Baihaqi…

Lama! Lama saya terdiam di hari pertama saya masuk kerja di Dompet Dhuafa. Pun begitu di hari kedua, ketiga, hingga beberapa minggu ke depannya. Pekerjaan saya hari ini adalah pekerjaan yang pernah saya impikan bertahun-tahun sebelumnya. Pernah saya kerjakan di beberapa bulan sebelumnya. Dan kepada orang-orang yang pernah menyelamatkan saya, entah bagaimana caranya saya mengungkapkan rasa terima kasih saya.

Pengalaman mengajarkan saya banyak hal. Saya telah melakukan kesalahan dengan meninggalkan BM atas alasan yang saya nilai prinsipil dan terbaik menurut saya, namun belum tentu menurut organisasi yang saya tinggalkan. Kak Irvan pernah menyelamatkan saya ketika saya terlunta-lunta di kota ini. Lalu saya pergi…. ya, pergi. Maafkan saya.

Hfff… barangkali kalian berpikir bahwa saya berani sekali menulis segamblang itu di sini tentang kekurangan dan kesalahan-kesalahan saya. Ya, itulah adanya saya. Saya tidak mau pisang sampai berbuah dua kali. Sesakit-sakitnya dikhianati orang, lebih sakit lagi rasanya ketika yang mengkhianati orang, Bro. Saban hari hidup diburu rasa bersalah.

Demikianlah, hidup harus tetap berjalan, kan? Saat ini saya merasa bahwa saya telah selesai dengan diri saya sendiri. Apa lagi? Saya bekerja sesuai passion saya—melakukan hal-hal yang saya cintai. Saya bekerja dikelilingi oleh orang-orang baik, yang membuat saya semakin yakin bahwa ini akan berdampak pada diri saya untuk semakin baik pula. Saya menjadi sering bertemu dengan orang-orang yang nasibnya “barangkali” jauh lebih buruk dari apa yang pernah saya alami. Saya menjadi
sering bertemu dengan orang-orang dermawan yang membagi rezekinya untuk orang lain. Saya turut merasakan indahnya berbagi, meski hanya menjadi perantara. Damai rasanya bekerja seperti ini. Tentram.

Saat ini, saya bisa merasakan nikmatnya menyambut matahari pagi. Membanyangkan hal-hal luar biasa yang akan saya alami satu minggu ke depan di setiap hari Senin datang. Menulis, menulis, dan menulis. Saya menulis untuk melawan lupa. Sama halnya ketika kisah ini saya tuliskan di sini, agar saya tidak lupa jasa-jasa orang kepada saya. Jasa Kak Irvan, jasa Banten Muda, jasa Andhika (Banten Pos), jasa Mas Imam, dan jasa Dompet Dhuafa Banten.

Terima kasih telah mewarnai hidup saya. Terima kasih.

Serang, 16 Maret 2014. Menjelang adzan Subuh.


 

CurCol: Persahabatan No! Perkawanan Yes!

CurCol: Persahabatan No! Perkawanan Yes!

Persahabatan No!
Perkawanan Yes!
 
Udah
lama banget gue nggak ngoceh di blog ini. Bukan karena sok sibuk, tapi memang
dinamika hidup yang kadang memaksa gue untuk memilih banyak diam daripada ngoceh tanpa
arah. Sebenernya ada begitu banyak uneg-uneg di kepala yang pengin gue tumpahin—seperti
kebiasaan yang sudah-sudah, apapun gue umbar di note Facebook dan blog pribadi gue. Namun, semakin ke sini gue semakin harus bisa
menahan diri dan sadar, tidak semua hal harus gue umbar. Sakit, Bro, ketika
pikiran dan perasaan pun dijajah oleh sesuatu yang namanya etika. Oh, maksud
gue sesuatu yang menamakan dirinya “etika”!

Fine,
gue tahu bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang bermartabat, terkenal dengan
keramah-tamahannya sejak dahulu kala (Njiir, bahasa gue, Coy!), tapi… ah,
sutralah. Tutup mulut! Karena gue sayang banget sama bangsa ini. ^_^
Baiklah,
hari ini gue nggak akan ngoceh tentang ketidakadilan yang terpampang nyata di
depan mata, tentang kemunafikan, tentang moral dan etika. Ini hanyalah sebuah
curhat, sebuah cara untuk mengingat dan mengabadikan perjalanan hidup yang
semoga aja nanti bisa dibaca anak-cucu gue sebagai dongeng pengantar tidur.
Cong,
apa yang ada di pikiran lo ketika membaca atau mendengar kata “sahabat”? Lo
ngebayangin dua orang yang berkawan akrab, saling mendukung satu sama lain
dalam hal apapun? Hmmm, atau yang ada di otak lo adalah sekumpulan anak muda
yang cekikikan, ketawa sesuka hati mereka di kafe, ngomongin apa saja tanpa
beban. 
Sahabat…
entahlah, Cong, gue sendiri sih nggak percaya kalau sahabat itu ada di
kehidupan nyata. Sahabat hanya bisa ditemukan dalam cerita-cerita fiksi, di
film. Mungkin lo bakal menuding gue sebagai orang yang dikecewakan oleh hidup,
atau menuduh gue tidak punya sahabat. Oke, bisa jadi lo bener. Atau otak gue
yang nggak pernah nyampe atau malah nggak bisa nemerima definisi sahabat itu
sendiri. Hahahaha. Ah, ribet deh, Cong!
Bagi
gue, bicara tentang sahabat sama saja ketika bicara mengenai keyakinan. Lo tentu nggak
bisa dong memaksakan keyakinan agama lo pada seseorang, begitu juga sebaliknya.
Nah, sama halnya dengan sabahat di mata gue. Tapi gue menghargai sih. Karena
gue adalah orang yang anti fanatisme!
Gue
lebih suka menyebut perkawanan dibanding persahabatan. Kata sahabat itu keramat
banget buat gue, Cong! Yakinlah sumpah! Hahaha. Nggak mau deh, gue main-main  dengan
sesuatu yang keramat. Yang ada bisa kualat, Cyiin! 
Oh
iya, gue punya kawan, catet, ya! K-A-W-A-N. Namanya Bembi. Dionisius Bembi. Doi adalah salah satu kawan gue yang beda keyakinan sama gue. Gue muslim dan
Bembi Katolik. Kadang gue pengin ketawa ketika ada yang nanya kenapa gue mau
temenan sama Bembi. Ada tuh yang nanya kayak gitu. Tadinya sih gue diemin,
paling gedeg dalam hati aja. Tapi ke sini-sini gue ngerasa punya kewajiban buat
mendakwahi orang-orang berpikiran sempit seperti yang nanya “kenapa sih?”. Orang-orang yang memfatwa dirinya Tuhan, merasa paling berhak menentukan siapa masuk surga dan siapa yang jadi penghuni neraka. Tapi
capek juga, Cong. Setiap kali gue jelasin bahwa di mata Tuhan, manusia itu
sama. Yang ada gue malah dicerca pake ayat-ayat kitab suci. Ah, mending diem
aja, daripada bom meledak di mana-mana. LOL.
Eh,
hari ini genap satu tahun perkawanan gue sama Bembi. Hahaha. Giling ya, gue
sampe hafal tanggal perkawanan kami. Oh tunggu dulu, Cong. Gue bisa kenal sama
Bembi itu nggak dengan cara yang biasa. Banyak hal yang bakal ngingetin tanggal
perkenalan kami pertama kali, semisal freepass, foto-foto, atau tulisan. Gue
kenal Bembi pada 27 Januari 2013. Tanggal itu adalah hari kedua gue
menjadi jurnalis, waktu itu masih di Banten Muda. Kenapa gue bisa ingat? Ya
iyalah, orang freepass-nya masih gue simpen sampe sekarang. Udah kebiasaan gue
sih ya suka nyimpen barang-barang yang menurut gue bersejarah dalam hidup gue.
Kayak freepass yang nandain itu adalah liputan pertama gue di Banten Muda di
acara Smasa (SMAN 1 Serang) Fair X. Selain freepass, gue juga masih nyimpen
nomor audisi pertama gue, tiket kereta pertama gue, tiket busway pertama gue, juga
tiket bioskop pertama gue. Hahaha. 
Tadinya
gue mikir kalau Bembi hanya akan mampir sekilas saja dalam hidup gue. Tapi
ternyata gue salah, sampai saat ini Bembi adalah salah satu saksi hidup jatuh
bangunnya kehidupan gue. Perkenalan gue sama Bembi di acara Smansa Fair berlanjut ke
acara ngongkrong bareng, berbagi info liputan, bahkan berburu info casting.
Hahaha. Ya, waktu itu kami sama-sama jurnalis dari dua media berbeda. Bembi
dari Radar Banten dan gue dari Banten Muda. Kebetulan juga kami sama-sama berambisi pengin jadi artes. Prepet prepet prepet….
Emang
sih, ketika di BM gue nggak dituntut buat 
nyetor berita kayak di media-media komersial. Toh, posisi Banten Muda
hanyalah sebuah komunitas yang memberi wadah bagi anak muda banten buat
berkreativitas. Makanya gue hanya ngeliput acara-acara positif tentang anak muda. Tapi Bembi sering
ngajakin gue liputan bareng, ke mana Bembi pergi, ke sana gue ikut nebeng. Kadang
nemenin doi liputan berita kriminal, liputan demo, liatin mahasiswa bakar ban
dan blokir jalan. Hahaha. Seru!
Saking
akrabnya, gue sampe sering numpang tidur di rumah Bembi. Nyokap Bembi pun udah
hafal banget sama muka dan kelakuan gue. Bahkan Ibet, adiknya Bembi udah kayak
adik gue sendiri, lah gue tiap ke rumahnya dikasih makan terus sama nyokap.
Hahaha.
Begitupun
Bembi, doi suka mampir ke basecamp Banten Muda (Waktu itu gue masih tinggal di
sana). Kita ngobrol sampe malam, kadang dengan anak-anak dari media lain juga. Ya
kayak lo sama temen-temen lo aja.
Bembi
ngenalin gue ke temen-temennya, gue juga kenalin Bembi ke temen-temen gue.
Akhirnya kita kalo ngumpul pasti rame. Lebih-lebih kalo udah ngumpul di lantai
5 Graha Pena Radar Banten bareng anak-anak X-presi, beuh, sampe lupa waktu,
Cong!
Yang
paling gue kenang dari perkawanan gue sama Bembi adalah waktu kita ikutan
casting film Ki Wasyid garapan Kremov Pictures. Saat di basecamp Banten Muda,
gue maksa Bembi buat daftar casting, tadinya doi males-malesan gitu, tapi
akhirnya nyerah juga waktu gue sodorin form pendaftaran punya gue buat dia
ganti pake data-datanya dia.
Sebenernya
Bembi lebih berpengalaman di dunia beginian, orang dia pernah ikutan pemilihan
duta pariwisata Banten (Kang Nong), pernah jadi model, ikutan komunitas
film juga, dan lebih-lebih kuliahnya juga di bidang itu. Akhirnya kita casting bareng dan yang bikin gue ngakak itu adalah kita sama-sama lolos. Gue
dapet peran utama dewasa dan Bembi ketiban peran utama remaja (Anjriit, muka
gue udah tua banget gitu? Hahaha).
Udah
liputan bareng, terlibat dalam produksi film indie sama-sama juga, otomatis membuat
gue dan Bembi makin akrab. Tapi justru dari kearaban yang terlalu dekat itulah api
bermusuhan akan menyala
. Gue sama Bembi pernah berantem. Nggak tegur sapa
beberapa bulan. Ediaaan! Intinya sih perbedaan pandangan tentang prinsip hidup
aja (Catet! Ini nggak ada hubungannya sama agama!). Gue ngediemin Bembi, Bembi
juga ngediemin gue. Kalo diinget-inget, kadang gue ngakak sendiri. Tapi, yang namanya
manusia, baik Bembi maupun gue jadi pada mikir kali ya, di dunia ini memang
nggak ada yang bisa kita paksain sesuka hati kita. Apalagi soal pandangan
hidup, pendapat tentang suatu hal, selera, terlebih soal keyakinan
.
Dari
perkawanan gue dengan Bembi, gue jadi belajar satu hal; bahwa yang terpenting
dalam sebuah relasi itu adalah komunikasi dan mau mengerti
. Udah, itu aja.
Kalau aja waktu itu gue nggak maksain diri buat negor Bembi, pasti sampai hari
ini kita nggak bakal tegur sapa lagi. Kalau aja sampai hari ini gue nggak bisa
terima style-nya Bembi, atau Bembi nggak bisa ngertiin style-nya gue, mungkin
kita nggak akan nongkrong bareng lagi.  
Hari
ini, 27 Januari 2014, di satu tahun perkawanan gue sama Bembi, gue pengin ada yang bisa gue
ceritain sama anak-anak gue kelak tentang pentingnya “mengerti” dalam sebuah
perkawanan, siapa tau aja kan gue lupa kalo nggak pernah gue ungkapin di sini.
Makanya tadi gue sengaja nge-BBM Bembi buat ngumpul. Untungnya doi mau dan
ngajak pas kita bongkar lagi cerita-cerita konyol selama satu tahun terakhir—yang
pada akhirnya kita sama-sama ember, ngebeberin hal-hal yang nggak kita suka.
Beneran deh, Men, jujur itu penting banget. Emang sih, kalau kejujuran itu
adalah tentang ketidaksukaan orang tentang sifat jelek kita, rasanya nyelekit
banget. Tapi kalo temen kita juga nggak pernah ngungkapin hal itu, selamanya
kita akan jadi orang yang nggak disukai orang, kan? Mau kita dicap sebagai
orang yang nyebelin? Ujung-ujug udah delcon aja, tiba-tiba main blokir di
sosmed, trus bikin status no mention, duh, perang nggak akan ada ujungnya, Men.
Perang di Timur Tengah aja nggak damai-damai, jangan ditambahin ribet. Mending saling terbuka aja, deh. Perkawanan Insya Allah awet sampai tua. Ya gue
sih dulu sering becandain Bembi bawa-bawa agama, tapi Bembi langsung sangar.
Hahaha. Yang pada intinya gue jadi tahu ternyata nggak semua orang bisa terima
kalau disinggung tentang keyakinannya. 
Ke
sini-sini gue makin sadar, bahwa memaksakan ego itu adalah sumber malapetaka
dalam sebuah perkawanan
. Sikap sekarep dewe—yang ngerasa kita paling bener dan
kawan kita salah. Dalam hidup nggak bisa gitu, Cong. Karena ketika orang lain
salah belum tentu kita benar, begitu juga sebaliknya
. Emang manusia mana sih
yang nggak pernah ngelakuin kesalahan? Iya, sebagai seorang muslim, gue percaya
bahwa Nabi Muhammad adalah manusia paling sempurna yang dipilih Tuhan. Tapi
temen lo bukan nabi, Congky! Jadi ayolah saling mengerti. Sebenernya sih
gampang, ketika kita nggak suka sikap temen kita, ambil contoh sifat manja. Atau
gampang ngambekan, yang kalo ngomong suka nggak pake rahang. Coba cari tahu
kenapa dia kayak gitu. Kita pelajari masa lalunya. Yakin deh, ketika kita tahu,
maka pengertian itu akan muncul. Ooo, pantesan dia orangnya keras, ternyata
dari kecil udah kayak gitu…. Ooo, pantesan aja si Anu manja banget, ternyata
sampe sekarang makan masih disuapin. Ooo, pantesan aja si Nenoy suka nggak mau
diajak kumpul-kumpul, ternyata di rumah dia harus ngejagain adik dan nyokapnya.
Jangan langsung main delcon, main umbar aib dan icikiwir ke orang-orang, “Eh,
si Ocit orangnya gitu, loh. Sebel gue. Lo jangan sampe temenan sama dia deh.
Rugi!”. Nggak gitu juga keyles, Congky! Bagaimanapun lo pernah jadi temen
baiknya dia, kan? Pernah ngerasain kebaikannya dia juga, kan? Pernah dibantu saat lo kesusahan juga, kan? Kalo emang udah
nggak ngerasa nyaman temenan, kalo emang udah nggak bisa diajak ngobrol
baik-baik, kalo kesalahan udah nggak bisa dimaafin, yaudah diem aja  (Aduh, jangan gitu deh, Cong, Tuhan aja
Maha Pengampun, geh!). Kalo ini ya, kalo… Mending keep silent, stop stalking
dan stop kepoing. Itu jauh lebih berpahala daripada bergerilya ke mana-mana.
^_^ 
Aduh,
gue kok topik curhatan gue jadi ngambang ke mana-mana ya? Hahaha. Ya nggak
apa-apalah, nggak lagi bikin skripsi ini, kan? Jadi… santai….
Yang
jelas, intinya adalah, sok simpulkan sendiri.
Cinanggung, Serang-Banten, 27 Januari 2014
To
Bembi: Thank ya, Nyet, udah jadi salah satu kawan terbaik gue. Selamat juga, nama lo
berkali-kali gue sebut di blog ini. Semoga perkawanan kita awet sampe
kakek-kakek. Aamiin. Eh, lo ke gerejanya yang rajin, dong, Congky! Jangan
bisanya bilang gue Islam KTP aja.
:p