Hunida, Tegarlah Seperti Bayimu

Hunida, Tegarlah Seperti Bayimu

Coz’s Bazar, Bangladesh Hari Ke-10

Perkenalkan, saya Rosita Rivai. Ya, saya seorang perempuan. Sehari-hari saya bekerja sebagai dokter, dan tentu, saya yang pernah mengurus persalinan, saya tahu bagaimana sakit dan menderitanya saat itu. Terlebih saat melihat adik saya melahirkan anak-anaknya. Masih terbayang wajah pucatnya di meja operasi yang seakan hendak meregang nyawa.

Bagi saya, perjuangan seorang perempuan dalam melindungi anaknya dalam kandungan adalah gelanggang pertaruhan hidup dan mati. Hal itu pula yang membuat saya sentimentil ketika melihat ibu dalam setiap perjuangan melahirkan.

Peristiwa heroik itu kembali saya saksikan saat menunaikan tugas kemanusiaan di Thangkaling Cox’s Bazar, Bangladesh, Sabtu, 30 September 2017. Hunida nama perempuan itu. Usianya 25 tahun. Dalam usia kehamilannya 4 bulan, ia bersama empat orang anaknya dan suami berhasil lolos dari bencana kemanusiaan di kampung halamannya. Ya, kita semua tahu, hampir saban hari kita saksikan, sebulan yang lalu, peluru-peluru menembus dinding rumah penduduk di Desa Tula Toli, Rakhine, desanya Hunida. Orang-orang di luar rumahnya berteriak sekuat tenaga. Beberapa di antara mereka kaku bersimbah darah. Mencekam!

Di antara serbuan ketakutan, kala itu, Hunida berlari menuju bukit, doa terhambur dari mulutnya. Di atas bukit, dia melihat desanya terbakar lalu lenyap bersama dingin angin nan gelap yang melarutkan bara dan amarah.

Ya Rabbi… saya hanya mampu memejamkan mata menyimak cerita Hunida. Tak kuasa nalar saya mencerna dan membayangkan bahwa saat itu Hunida dengan perut berisi bayi dan rentan gugur itu mampu berlari. Menembus liarnya hutan dan terjalnya jalan. Ya Rabbi, sungguh Engkau Maha Pelindung.

Kekagetan saya bertambah-tambah, Hunida dan calon anaknya selamat hingga ke Cox’s Bazar, melewati perjalanan dalam keterbatasan penganan dan air bersih. Betapa kuat janin itu.

Membayangkan itu, tubuh saya bergetar. Amarah apa yang membuat peluru memburu ratusan ibu dan janin yang tidak bersalah ini?

Di bawah tenda pengungsian, dia masih berjuang. Berjuang menghadapi kenyataan bahwa kebahagiaannya terempas dalam trauma. Ketika matahari mulai tergelincir dan malam menjelang, saat itu ia tidak bisa tertidur, bayangan kematian kerap hadir dan seperti hendak menjemputnya.

Di tenda pengungsian, terkadang dia harus merelakan diri dalam lapar. Ya, bahan makanan adalah kemewahan bagi para pengungsi di sini. Kala itu, di depan saya, Hunida mengelus perutnya sembari tersenyum kecil menatap nanar. Nanar yang tak mampu saja terjemahkan.

Saya datang mengunjungi tendanya untuk memberikan paket bantuan dari donatur Dompet Dhuafa untuk mengamankan bayi dan dirinya. Kembali ia tersenyum, penuh makna. Ada bening berpendar di matanya, bibirnya bergerak-gerak. Ya, saya tahu ia mengucapkan terima kasih. Saya genggam tanganya sembari berbisik, “Kuatlah, Hunida, sekuat bayi ini!”

Betul, itu bisa meringankan beban derita. Namun apalah artinya itu? Belum tentu bingkisan itu bisa mengobati duka dan trauma yang dirasakannya. Satu generasi telah hilang, dan bisa jadi kebencian akan diwariskan. Entah sampai kapan.

Dari kamp pengungsian etnis Rohingya, izinkan saya mengajak Anda semua untuk bersimpati dan membantu saudara kita melalui humanesia.org/saverohingya

BCA 245.4000.551
BSM 146.006.4444
Muamalat 308.001.3157
Mega Syariah 1000.1000.54
an. Yayasan Dompet Dhuafa Republika.

Informasi dan Konfirmasi:
0859 6655 3585 
donasi.ddbanten.org

Sabtu Pagi di Bhayangkara

Sabtu Pagi di Bhayangkara

Sabtu Pagi di Bhayangkara

Beberapa minggu ini saya menjadi ‘mandul’ dalam menulis. Tidak tahu kenapa, saya menjadi larut dan terkurung di fase ini begitu lama. Padahal, saya pernah bilang bahwa menulis adalah nyawa bagi saya. Dan sekarang nyawa itu lagi ‘mangap-mangap. Well, analogi saya mungkin kedengaran sangat tidak lucu, tapi ya begitulah the real situation yang tengah saya hadapi. 

Di minggu pertama puasa, saya masih dalam keadaan ‘berdarah-darah’ habis berperang dengan kegalauan, lalu darah itu semakin mengucur deras dengan masalah sangat memalukan yang menimpa kepala saya hingga remuk tak berbentuk. Saya kapok. Tapi, akhirnya saya sadar, bahwa saya hanya sebutir debu di atas talam yang besar. Tidak ada apa-apanya. Tuhan masih sayang saya. 🙂


Oh ya, saya mau bercerita sedikit tentang keharuan yang saya rasakan di semester ini. Pertama; sesuatu yang sangat mengejutkan baru saja saya alami. Selama ini semua orang pasti sudah tahu kalau saya sangat benci yang namanya nilai dan antek-anteknya (IP, IPK, transkrip dan apalah namanya). Memang benar kok, saya tidak bohong, selama empat tahun saya menyandang predikat sebagai mahasiswa, IP saya tidak pernah mencapai angka 3. Syelllaaalu betah di angka dua koma. Salahnya di mana saya tidak tahu. Tapi dua hari yang lalu, ketika saya mmbuka portal akademik dan mengintip IP semester delapan yang baru saya berakhir (horeee, tinggal TA!), mata saya terbelalak dngan angka 4.00 yang nangkring dengan manisnya di paling bawah tabel nilai saya. #Itu membuat saya sangat terharu, kenapa? Itu artinya lebaran ini saya bisa pulang kampung dengan hati yang lega. 🙂

Kedua; Laporan kerja praktek yang menghabiskan durasi dua semester pun membawa kabar gembira. Nilai saya sempurna, A! Waks, jarang-jarang saya mendapat nilai A. Pernah waktu itu optimis mendapat nilai A di satu mata kuliah, saat ujian saya yakin kalau nilai saya bagus, saat presentasi pun saya sudah maksimal, semua audience bertepuk tangan di akhir presentasi saya. Tapi ya begitulah, nilai saya B, sementara teman saya yang ‘cuma’ mencet-mencet tombol next slide prsentasi dapat A. #Paiit.

Laporan Kerja Praktek ini sangat berharga bagi saya. Selain memakan waktu satu tahun, telat, pernah ditolak, dan harus ganti metode, sampai pada proses pengerjaannya yang penuh ujian (netbuk kesayangan saya ngadat dan keyboardnya harus diganti), tapi saya mencoba untuk berlegawa dengan keadaan, saya beli keyboard eksternal, kadang numpang ngetik di komputer anaknya bibi (walau BAB IV saya harus mengetik ulang gara-gara filenya didelet sepupu :p), numpang ngeprint di rumah Atul (teman saya), dan ruangan 1 X 2 yang menjadi markas saya selama pindah ke Bhayangkara menjadi saksi bagaimana saya tidak tidur sepanjang malam dan berkutat dengan yang namanya laporan. tapi,  ternyata saya masih bisa bertahan dan menuai keharuan di akhir cerita. Happy ending! 

Bicara soal keharuan, saya menjadi sulit sekali untuk peka terhadap hal-hal yang seharusnya bisa membuat saya terharu. Entah apa yang salah, padahal dulu saya sangat mudah sekali tersentuh. Melihat pengemis saya jadi berpikir panjang, melihat ibu-ibu tua berjualan gorengan saya jadi terenyuh, bertemu anak kecil yang mengamen di lampu merah saya jadi berkaca-kaca. Ya, saya sangat tidak tahan ketika melihat orang-orang yang mengeluarkan effort lebih hanya untuk sesuap nasi. Pikiran saya akan melayang kemana-mana. Saya jadi ingat Amak saya, Abak saya yang hanya kuli bangunan, lalu adik-adik saya sekolahnya lancar apa enggak. Seminggu yang lalu saya pernah dicurhati sama mamang ojek. Waktu itu saya baru pulang kuliah dari Cilegon dan turun angkot di Penancangan. dari sana saya naik ojek ke kontrakan di Bhayangkara. Sepanjang perjalanan, mamang yang ojeknya saya tumpangi tidak berenti bercerita. Dia kisahkan kalau dari pagi baru dapat beberapa penumpang, dia ceritakan juga bagaimana dia rela tidak merokok demi jajan anak-anaknya. Dia tumpahkan juga bagaimnana sulitnya dia membiayai sekolah anak-anaknya yang semakin mahal. Beberapa meter sebelum sampai di kontakan saya, satu kalimat beliau yang masih begitu segar dan melekat di selaput gendang saya, “Jangan sesekali melawan sama orang tua, Dek. Bapak udah ngerasakeun, jadi orang tua itu susah. Orang tua itu sayaaang sama anak-anaknya mah.” Saya hanya tersenyum dan mengulurkan uang lima ribuan padanya. Seharusnya cuma Rp 3000, 00. Tapi saya menolak kembaliannya. Ceritanya lebih berharga bagi saya. Saya menjadi kembali disadarkan kalau selama sibuk berjibaku dengan laporan KP saya jadi lupa menelopon Amak. Ah, betapa beruntungnya saya ini, dan betapa sayangnya Tuhan sama saya. Saya jadi malu dengan keluhan-keluhan saya di facebook, twitter, dan curcolan saya di blog. Saya merasa kalau saya adalah orang paling malang. Padahal…….. *saya tidak sanggup meneruskan kalimat ini* Walau tersengal-sengal toh saya masih bisa kuliah, walau hampir empat tahun tak bertemu toh saya masih punya ayah dan ibu, walau tak semewah makanan tman-tman saya toh saya masih bisa makan kenyang di warteg, walau… walau.. walau… Saya didera kata walau. 

Kemudian pagi ini. Saya menjadi kaku ketika membaca catatan saudari jauh saya Impian Nopitasari di facebook. Cacatan yang merekam kisah tentang Ustadzah Keisha dan Kiara. Ya, Kiara. Saya sungguh menyukai cerpen yang saya tulis tahun 2006 itu. Kisah tentang kematian saabat terbaik saya Almh. Lesni Rosa. Sahabat saya waktu SMP. Saya dan Ley sangat akrab. Dari kelas VII sampai kelas IX kami selalu satu kelas. Ley sering mengajak saya berdiskusi soal pelajaran, penampilan draman bahasa Ingrris kami di kelas IX pernah menjadi penampilan terbaik. Waktu sebelum Ujian Nasional kelulusan SMP, Ley dan teman-teman yang lain sering datang ke rumah saya, kami membahas soal-soal bersama. Ley juga sering membawa makanan, orang tuanya Ley berjualan di pasar, pernah satu kali dia membawa jagung rebus, dan saya sempat bilang kalau jagungnya enak sekali. Dan Ley ngakak, diikuti oleh teman-teman yang lain #Enak apa doyan? 

Selepas dari SMP, kami berpisah. Saya melanjutkan sekolah ke Tanjung Pati, Kab. Lima Puluh Kota, SMAN 1 Harau. Sementara Ley lulus di SMAN 1 Padang Ganting, Kab. Tanah Datar. Jarak yang jauh dan waktu itu saya belum punya hape membuat komunikasi dengan teman-teman SMP menjadi terputus. Apalagi semenjak saya mendapat beasiswa di SMAN Agam Cendekia, Maninjau, Batusangkar rasanya semakin jauh. Kalaupun pulang (IB), itu pun hanya satu hari, pulang Sabtu, Minggu pagi saya harus kembali ke asrama. Begitu seterusnya sampai lulus SMA. Dan kabar mengejutkan itu datang ketika kepulangan saya di pertengahan 2006. Ley meninggal dunia. Sudah seminggu. Ah, kehilangan itu sungguh tidak mengenakan, apalagi seorang sosok sahabat yang begitu baik dan lembut. 

Begitulah, saya ingin menulis untuk Ley. Jadilah cerpen dengan tokoh utama dan judulnya Kiara itu. Dan baru dimuat di majalah Story Maret 2011. Kiara disukai banyak Storylovers. Alhmh. Dinar Afta Cholifah yang sering saya panggil Nina Unyu berkali-kali menulis di inbox facebook kalau dia suka Kiara dan mau bertemu dengan Rizal. Endah W. Sucy, Cinde Palempang juga suka dengan tokoh Rizal, sampai-sampai setiap kali komen di status saya selalu tak lupa menitip salam buat Rizal, kekasihnya Kiara.  
Berikut sengaja saya copy paste catatan Impian Nopitasari yang membuat saya kaku pagi ini. 

Alunan ayat suci sudah tak terlalu terdengar lagi. Jangkrik-jangkrik bergantian mengaji dengan bahasa mereka. Aku yang seharusnya masih sakit dengan berjaket tebal masih harus mengontrol para santriwati. Al jawwu baaridun jiddan huna, udara sangat dingin di sini. Kurasakan kepalaku mulai pening. Aku bergegas masuk ke ruangan kamar yang disediakan untukku.
Ah, setiap kumemasuki ruangan ini, seakan aku dilempar ke dalam kenangan yang setiap kumengingatnya, batinku selalu terusik. Ruangan ini adalah kamar Ustadzah Keisha, Mbak Keisha-ku yang telah pergi meninggalkanku setahun lalu. Kuingin sedikit bernostalgia. Maaf kawan, akan kubawa kau ke dalam kenanganku, dalam kenangan sang pengagum Kiara.

***

30 menit aku duduk di sini, duduk di sebelah wanita cantik yang sayangnya sekarang agak tersamar kecantikannya karena sakit. Tapi bagiku dia tetap cantik. Aku ingin melihatnya siuman. Menyebalkan sekali dengan suasana rumah sakit seperti ini.

Tak selang berapa lama, kulihat Mbak Keisha mengerjap-ngerjapkan matanya, aku senang, dia sudah bangun.
“Sudah mbak, jangan banyak gerak dulu, santai saja,” kataku sambil membantunya duduk.
“Sudah nunggu lama kah?,” katanya lemas.
“Nggak kok, baru 30 menit, tapi habis dari Ma’had, banyak yang nanyain Mbak, terutama anak-anak. Mereka kangen dengan ustadzahnya yang lemah lembut, mungkin jengkel ustadzahnya diganti sama aku yang cerewet ini,” ceritaku padanya.
“Ah kamu bisa aja, biar bervariasi lah, nggak sama aku terus,”
Aku menemaninya bercerita. Apa saja, aku akan menjadi pendengar yang baik. Keadaanya semakin hari semakin memburuk saja. Kasihan sekali Mbak Keisha. Makanya ketika aku diminta menggantinya mengajar bahasa arab, aku bersedia saja. Walau kuakui agak roaming. Aku harus memberi privat bahasa inggris, mengajari  bule berbahasa jawa dan harus mengajar di Ma’had dalam sehari. Seperti es campur saja, kadang pusing juga. Tapi demi membantu Mbak Keisha, aku rela melakukannya. Kasihan, nggak banyak tentor bahasa arab di sini.
“Ma hadzihi?,” tanyanya sambil memegang majalah yang baru kubeli.
“Hadzihi majallat, Story. Ya daripada bingung ngapain Mbak, aku beli majalah itu aja,”
“Aku pinjem ya?,”
Aku diam. Nggak biasanya Mbak Keisha mau baca bacaan fiksi popular, biasanya juga fiksi islami.
“Ya, bawa aja dulu Mbak, ni aku balik dulu aja ya, sudah ada budhe tuh,”
Aku meninggalkan Mbak Keisha yang sekarang ditungguin ibunya. Bangsal Al Kautsar semakin menjauh, tapi pikiranku menerawang sampai ke mana-mana. Ada satu cerpen yang kutakut akan membuat Mbak Keisha sedih, kenapa cerpen itu harus bercerita tentang kanker serviks. Mbak Keisha orang yang mudah terbawa suasana. Aku takut itu.

***

 “Aku ingin seperti Kiara,” katanya tegas.
Aku masih belum mengerti apa maksud dari kata-kata Mbak Keisha.
“Maksude apa Mbak?,” dahiku berkerut bukan buatan.
“Jujur itu mahal, dan aku nggak akan menceritakan ini sama Mas Faqih, aku nggak mau mengganggunya,”
Sekarang aku paham. Mas Faqih, calon suami Mbak Keisha yang bertugas di Banjarmasin sebagai seorang wartawan tak pernah tau keadaan mbak Kei saat ini. Selama ini jika Mas Faqih menyakan kabar, aku hanya bisa bilang “Hiya Shohihah, apik-apik wae,” Mbak Kei selalu berpesan begitu. Padahal hati ini ingin sekali mengatakan yang sebenarnya. Kau Keisha Mbak, bukan Kiara.
“Mas Faqih perlu tahu Mbak, jangan terpacu dengan Kiara, itu Cuma cerita karangan orang Mbak, please Mbak,”
“Suatu saat kau akan mengerti Nduk, seseorang akan mengatakan itu padamu nanti, kalau jujur itu mahal. Aku akan tetap merahasiakan ini, bahkan sampai aku nggak ada nanti, aku nitip surat padamu saja, sampaikan ke Mas Faqih ya Nduk,” ucapnya lemah, terisak.
“Ngomong opo Mbak, Mbak akan baik-baik saja. Lihat aku? Aku juga pernah menghidap tumor, pernah dioperasi, pernah merasakan sakit, tapi aku nggak mau nyerah Mbak, Mbak Kei juga harus seperti itu,” aku semakin terisak dan memeluknya.
Aku benci suasana seperti ini, Mbak Kei orang baik yang dicintai orang baik pula, kenapa harus berakhir seperti ini. Aku juga ingin dicintai orang seperti Mas Faqih mencintai Mbak Kei, tapi selama ini aku hanya bisa mencintai, belum pernah merasakan dicintai. Aku nggak mau mereka pisah. Nggak mau.
Tapi aku hanya bisa berbicara, Tuhanlah yang menentukan, garis panjang dan bunyi melengking dari kotak penuh kabel itu cukup membuatku tahu kalau aku telah kehilangan Mbak Keisha.

***

 “Kenapa kamu nggak pernah cerita sama Mas? Kau tahu, hidupku serasa hancur menerima semua ini,” aku melihat Mas Faqih memeluk tanah yang masih basah dan penuh bunga itu, pilu.
Lidahku tercekat, hatiku kelu. Aku bingung harus bagaimana. Aku bisa membayangkan betapa tersiksanya Mas Faqih. Aku hanya mengingat kata-kata Mbak Kei kalau jujur itu mahal, jadi aku nggak pernah cerita kalau selama setahun ini Mbak Kei sakitnya semakin parah. Aku hanya menghargainya, yang ingin menjadi Kiara, yang tak pernah menceritakan hal sebenarnya pada uda Rizalnya.
Hanya surat itu, komunikasi terakhir dari Mbak Kei, maafkan aku Mas Faqih.

***

Ah, aku tak sanggup lagi mengingat Mbak Kei, met milaad Mbak, semoga kau tetap dalam jannah-Nya.
 Ma’had Abu Bakar Puteri, 23.20 WIB, ditemani Kiara di depanku.
Terima kasih. Ya, saat ini yang saya punya hanya ucapan terima kasih. Terima kasih telah menjadi sahat-sahabat terbaik saya. Terima kasih pada alam semesta yang atas izin-Nya telah menjadi guru terbaik saya. Ternyata hidup ini amat sia-sia bila hanya dihabiskan dengan kegalauan. (*)
Sabtu pagi di Bhayangkara. 9: 53 AM – 27 Juli 2001.
Pahit Dulu Baru Manis

Pahit Dulu Baru Manis

Pahit Dulu Baru Manis
Wiih, Maret udah mau berlalu aje. Gak berasa ya Sob? Perasaan baru kemaren kita hura-hura ngerayain taon 2012 (hura-hura? lo aja kalee). Heheee. 
Betewe, omong-omong bulan Maret nih, gue ngerasa ini adalah bulan terberat buet gue (aseeek, mulai melow niye) Haish! Gue serius Sob. 
Gini, kenapa gue bilang Maret 2012 adalah bualn terberat buat gue? Ya iya dong, kalo gue bilang April, Mei, Juni, Juli, dst itu sama aja gue nunjukin kalo gue ini bego. :p 
Hufff, Sob. Kenapa ya, kebanyakan dari kita tidak pernah puas dengan keadaan yang udah dikasih sama Allah, termasuk gue juga sih. Jujur banget! Gue masih suka ngeluh dengan masalah-masalah yang dikasih Allah. Merasa saat ini gue adalah orang paling malang. Haeduuuh! Pelis dueh. Hehehee.
Pertama: 
Saat ini gue lagi ngejalanin peran sebagai mahasiswa tua di pertengahan semester 8. Beberapa temen satu angkatan gue udah menyandang titel ST. Houoooo, pasti seneng banget yak? Gak mikirin lagi yang namanya kuliah. *menghayal panjang*.

Sementara gue masih berjibaku dengan laporan praktikum gue *PRAKTIKUM TERAKHIR! AMIIIN :). Masih ngerjain laopran KP juga. Oh, kasian banget ya? 
Kedua:
Gue lagi tengah berduka cita. Gak tau kenapa gue merasa Maret adalah bulan penuh ujian buat gue yang notabene sangat berharap sekali pengen punya buku solo. Beberapa bulan yang lalu gue sempet ngirimin naskah gue ke penerbit dan heppynya mereka tertarik lalu minta gue buat ngirimin print out naskah gue tsb. Otomatis guenya excited banget dong! Iya doong, gue udah optimis banget tuh bakalan punya buku solo sebelum skripsi gue lahir duluan. Tapi gak tau kenapa, gue sempet shock begitu buka email kemaren sore. NASKAH GUE DITOLAK untuk ke 8 kalinya oleh penerbit *RIP* Yasudahlah. Mungkin belom saatnya gue punya buku solo.
Ketiga:
Gue begitu bernafsu untuk menembus sebuah majalah remaja ibukota dengan cerpen gue. Gue udah kirim beberapa naskah sebelumnya. Dan semuanya ditolak. Gue sempet ngambek dan berniat membleklis media eta. Tapi… kalo niat itu gue ekesekusi yang rugi siapa? GUE. Yang bego siapa? GUE. Yang gak dapet duit siapa? GUE LAGI. Masalah buat lo? Wekekekekkee. Atas dasar pemikiran di atas akhirnya gue kirim lagi naskah cerpen teranyar gue beberapa hari yang lalu. Dan dua hari kemudia gue dapet balesan dari Mas redakturnya. dan lo tau jawabannya apa? NASKAH GUE DITOLAK (Lagi) *mewek beneran*

Huffff, itulah hidup Sob. Tidak ada yang simsalabim di dunia ini. Kita kudu ngelewatin lika-liku hidup yang begitu puanjang dan rumit. Ibarat kata pepatah orang tua ni ya,”Kalo mau merasakan manis itu kayak apa, kita kudu ngerasain dulu yang namanya pahit sebagai pembanding.” 
Yap! Pepatah yang totally benerrrr! Kita memang kudu melakukan yang gak biasa untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa. :)) 
Gue baru saja selesai melahap buku gue yang bareng A Fuadi (Berjalan Menembus Batas). Jujur, buku ini baru gue bara beberapa halaman aja. Gue tipe orang yang gak suka baca yang temebl-tebel, Sob. Tapi sumpah gue nyesel, dan itu adalah kebiasaan yang buruk. Ternyata dari membaca kita bisa ngedapetin banyak pencerahan. Ide yang tumpul bisa kembali tajam dengan membaca. Alhasil, gue kembali sadar, ternyata tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Sukses atau gagal itu berbanding positif dengan tingkat usaha dan doa kita. Selebihnya biarkan Allah yang bekerja. Dia maha tahu kok apa yang kita butuhkan. So! Jalanin hidup kita dengan Chemungudh!!!
Mengkritik Secara Santun

Mengkritik Secara Santun

Mengkritik Secara Santun
(ElKa Sabili No. 5, Desember 2011)
Sobat, pernahkah kalian dikritik, atau malah sebaliknya suka mengkritik? Dan apakah Sobat tahu, ternyata begitu besar efek dari sebuah kritikan? Hmm, berikut akan kita coba kupas apa saja efek yang disebabkan oleh sebuah kritikan itu.
Begini; dalam beberapa hari terakhir, aku belajar banyak hal tentang kritik mengkritik. Dimulai dari seorang sahabat yang curhat kepadaku mengenai judul skripsinya yang ditolak mentah-mentah oleh dosen pembimbing, sampai cerita seorang teman tentang laporan praktikum yang wajib revisi dari asisten. Tanggapan mereka menunjukkan satu keseragaman setelah menerima dua hal berbeda namun sama, sama-sama sebuah penolakan.              
Sahabatku yang pertama mengungkapkan perasaannya melalui status-status galau di facebook. Status yang bermuatan kesedihan dan putus asa. Sedangkan sahabat yang kedua, dengan muka marah memperlihatkan laporan praktikumnya yang penuh coretan ‘tak senonoh’ padaku. Aku berpikir, ternyata begitu besar efek yang disebabkan oleh sebuah kritikan. 
Kritik memang sesuatu hal yang ‘menyenangkan’ bagi si pengkritik. Bagaimana aku berani menulis begini? Oh, tentu-sebab aku sendiri pun pernah merasa bangga setelah mengkritik. Rasanya sesuatu banget. :)) 
Padahal, kalau kita mau melihat akibat yang ditimbulkan oleh sebuah kritikan, tentu kita akan lebih berhati-hati dalam memberikan kritikan. 
Begini, Sob. Sahabatku yang kedua tadi, di laporannya tertulis kata-kata yang mengungkapkan ketidaknyamanan, marah, dan tidak senang seorang asisten terhadap laporan yang dibuat praktikannya. Kalimat pernyataan revisi yang ditulis caps lock, ukuran yang tidak lazim, dan kalau dibaca sungguh membuat setan-setan terbangun. Kalimat yang mengalirkan energi negatif, menyulut api dendam, dan membuat semangat yang sempat jatuh menjadi semakin terpuruk. Down! 
Kisah dua sahabatku hanya sebagian kecil dari efek negatif sebuah kritikan yang disampaikan dengan tidak sehat. Kita perlu lagi belajar, setidaknya mengetahui kalau kata-kata yang kita ucapkan, yang kita tuliskan meberikan efek luar biasa terhadap sisi kejiwaan seseorang. 
Mungkin Sobat sudah tahu mengenai sebuah penelitian yang pernah dilakukan terhadap dua toples nasi. Pada toples yang satu dituliskan kata-kata “kamu pintar, cerdas, cantik, baik, rajin, sabar, aku sayang padamu, aku senang sekali melihatmu, aku ingin selalu di dekatmu, dan terima kasih”, sedangkan toples yang kedua dituliskan kata-kata “kamu bodoh, goblok, jelek, jahat, malas, pemarah, aku benci melihatmu, aku sebel tidak mau dekat dekat kamu.” 
Dua toples nasi ditempeli kata-kata positif dan negatif
Lalu kedua toples tersebut diletakkan di tempat yang sering terlihat, dan setiap orang yang lewat mengucapkan kata-kata yang tertulis pada kedua toples tersebut. Dan apa yang terjadi?
Efek dari kata-kata itu benar-benar mengejutkan. Nasi dalam toples yang dibacakan kata-kata negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dengan bau yang tidak sedap. Sedangkan nasi yang dibacakan kata-kata positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harus seperti ragi.
Nasi setelah penelitian
Penelitian sejenis pun pernah dilakukan seorang peneliti dari Hado Institute di Tokyo pada tahun 2003, Masaru Emoto.
Pada penelitiannya, mengungkapkan suatu keanehan pada sifat air. Melalui pengamatannya terhadap lebih dari dua ribu contoh foto kristal air yang dikumpulkannya dari berbagai penjuru dunia, Emoto menemukan bahwa partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung perasaan manusia di sekelilingnya, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hidrogen. Emoto juga menemukan bahwa partikel kristal air terlihat menjadi ‘indah’ dan ‘mengagumkan’ apabila mendapat reaksi positif di sekitarnya, misalnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Namun partikel kristal air terlihat menjadi ‘buruk’ dan ‘tidak sedap dipandang mata’ apabila mendapat efek negatif disekitarnya, seperti kesedihan dan bencana. Lebih dari dua ribu buah foto kristal air terdapat di dalam buku Message from Water (Pesan dari Air) yang dikarangnya sebagai pembuktian kesimpulannya sehingga hal ini berpeluang menjadi suatu terobosan dalam meyakini keajaiban alam. Emoto menyimpulkan bahwa partikel air dapat dipengaruhi oleh suara musik, doa-doa dan kata-kata yang ditulis dan dicelupkan ke dalam air tersebut. 
Begitu dahsyatnya pengaruh dari reaksi yang diperlakukan pada sebuah benda. Percobaan-percobaan tadi hanya dilakukan pada benda mati. Bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita, pasangan hidup kita, rekan-rekan kerja kita, dan orang-orang di sekeliling kita, bahkan binatang dan tumbuhan di sekeliling kita pun akan merasakan efek yang ditimbulkan dari getaran-getaran yang berasal dari pikiran, dan ucapan yang kita lontarkan setiap saat kepada mereka. 
Maka sebaiknya selalulah sadar dan bijaksana dalam memillih kata-kata yang akan keluar dari mulut kita, kata-kata yang kita tulis, demikian juga kendalikanlah pikiran-pikiran yang timbul dalam batin kita. Saatnya kita bertanya pada diri kita, sudahkan kita berpikiran, berkata-kata, berbahasa dengan menyalurkan energi positif? Kita tidak perlu mencari contoh jauh-jauh. Perhatikan diri kita, jabatan kita yang selalu kita anggap sebuah prestige yang harus dihormati, kekuasaan kita yang memungkinkan kita untuk memberi kritik pada mereka yang membutuhkan jasa kita. Kita sebagai asisten laboratorium yang kerap menemui laporan pratikan yang tidak sesuai prosedur, sebagai pemimpin redaksi yang acap menemukan naskah yang acak kadut, kita yang sebagai dosen atau guru yang dihadapkan pada peserta didik yang terlanjur kita cap ‘bodoh’, dan yang paling sering kita lupa, kita sebagai warga Negara sering kali sesuka hati mengkritik pemerintah yang dinilai tidak becus. Apa salahnya kritikan-kritikan itu kita sampaikan dengan cara-cara terdidik, well educated, sopan, dan yang jelas membawa pengaruh positif bagi mereka yang kita kritik. 
Bayangkan, ketika kritikan kita membuat mereka bersemangat, tentu ini akan menjadi ladang pahala bagi kita. Padahal, Islam telah mengajarkan pada kita adab dalam mengkritik. Salah satu contoh paling sederhana dan begitu dekat dengan kita, ketika kita sholat berjamaah, dan imam melakukan kesalahan dalam bacaan ataupun gerakan sholat, agama telah mengajarkan cara yang begitu santun dan indah. Mengucapkan ‘Subhanallah’, semuanya dikembalikan kepada Allah, tidak asal berkata-kata, apalagi kata-kata yang menjatuhkan. 
Coba kita pelajari lagi kandungan surah Al-Baqoroh ayat 83 ini; 

…serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS. Al-Baqoroh; 83) 
Ayo, Sob. Kita budayakan mengkritik secara santun dan membangun pengaruh positif bagi orang-orang yang kita kritik. (*)
Bangga, Walau Hanya Beberapa Jam Saja

Bangga, Walau Hanya Beberapa Jam Saja

Gue adalah orang yang selalu suka berbangga ketika target yang gue buat tercapai. Siapa sih yang bangga? Ya doong-hanya saja mungkin tergantung kadar bangga itu sendiri. Nah, begitu pun dengan pencapaian yang gue raih tanggal 20 November kemaren.

Kalo gue melihat diri gue satu atau dua tahun yang lalu, hanya seorang mahasiswa teknik yang ‘gagal’. Ya, gue akui diri gue gagal menjadi mahasiswa yang ‘beken’ di kampus. Yaelah, dosen mana sih yang mau bergaul sama mahasiswa dengan IP 1,8? Tapi its Ok, gue gak akan pernah merasa rendah diri, toh itu bukan passion gue kok.

Tapi satu prinsip yang selalu gue pegang semenjak tragedi 1,8 itu menimpa gue. Ketika gue gak bisa berbangga dengan satu bidang, maka gue akan kejar bidang lain. Ya, kata-kata ciamik itu gue dapat dari Pak Mario Teguh, maka gue mulai pacu diri gue untuk ‘sukses’ di dunia yang satu ini. Kepenulisan!

Mungkin kedengerannya sombong, tapi terserah orang menilai apa. Kalau gue terus memikirkan apa kata orang, kapan gue akan maju? Toh orang-orang juga gak mau mikirin gue. Waks!

Gue terus merasakan kenikmatan di dunia baru gue. Menulis. Sampai sebuah predikat diberikan teman-teman yang membaca tulisan gue yang baru beberapa biji doang itu. Mereka menilai tulisan gue mengandung nilai lokalis. Oke, itu hak mereka dong untuk menilai gue.

Sebagai orang yang baru lahir kemaren sore di dunia menulis, gue cukup kaget ketika diberi kepercayaan untuk menjadi pemateri dalam workshop kepenulisan di Kota Tangerang. Ai! Awalnya gue gak percaya dan berniat menolak, tapi setelah gue berpikir, kapan lagi kalau bukan sekarang, tawaran itu gue terima.

Hah, seperti yang gue duga sebelumnya, gue akan ciut dalam perform pertama gue berhadapan dengan peserta dari berbagai daerah, berbagai usia, dan berbagai pertanyaan yang tentunya akan mereka tujukan pada gue. Tapi ya bodo amat. Hajar bae! Itu yang ada di pikiran gue kala itu.

Tapi ternyata ketakutan gue gak beralasan, toh pas hari H ternyata kejadianya gak seberdarah-darah yang gue bayangkan. Gue cuma menyampaikan apa yang gue alamin selama menulis, berbagi pengalaman dan tips ala gue. Dalam menulis gue gak pernah memakai paham si anu ataupun si ino. Proses kreatifnya macam-macam. Gak ada cara-cara yang baku.

Untungnya, gue dapet sesi terakhir dimana semua peserta udah pada lemes dan kenyang dengan materi. Hahaaa, sebuah keuntungan buat gue sebagai orang yang bukan siapa-siapa. Alhasil, setelah gue presentasi, membeberkan semua cerita gue dan ditambah dengan sedikit curcol, gak satu pun peserta yang nanya. Gue berpikir positif aja, bearti mereka paham dengan apa yang gue presentasikan, atau mungkin mereka sama sekali gak tertarik? Mana gue tau! Heheee.

Tapi, setidaknya ini sebuah pencapain luar biasa bagi gue. Sumpah, gue merasa dihargain banget di event yang bukan main-main ini. Bayangin aja, gue sebagai Pemateri men! Pemateri, terlepas dari gagal atau tidaknya presentasi gue, yang jelas gue udah membuktikan kalau ternyata gue bisa menjadi pusat perhatian walau dalam beberapa jam saja. Its nice! Sebuah prestasi buat gue dibandingkan jadi kambing congek di kampus. Hahahahaaa.
Salam sukses.

Palm Hill, 25 Nov 2011
Gak Chogah namanya kalo gak narsis
Bersama Peserta dan Panitia
Panitia! Yaudah, gue ikutan aja, hahaa. *Sadar Kamera
Serius amat, Mas. 🙂

Ciaelaah!

Ini dia Kepala Sekolah CENDOL yang keren itu 🙂
Pada serius
Gue sama Bunda Titie Surya. Dokter lho!
Ikutan lageeee
Cuap-cuap gak jelas :p

        

Writing Motivation , Menggairahkan Semangat Menulis

Writing Motivation , Menggairahkan Semangat Menulis


Ikuti Kompetisi Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2011. Klik di SINI

Writing Motivation…




*Sudaryono Achmad
 Untuk apa menulis? Barangkali banyak orang masih bingung ketika disodori pertanyaan tersebut. Wajar, karena persoalan menulis memang belum membudaya di tanah air. Jangankan masyarakat umum, mereka yang menyandang gelar doktor bahkan profesor sekalipun bisa jadi banyak yang masih kesulitan dalam soal menulis (menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan).
Ini terbukti dengan masih minimnya publikasi karya ilmiah (populer). Untuk merangsang para ahli dibidangnya berbagi gagasan, muncul beberapa situs internet agar ilmu pengetahuan bisa diakses dengan luas. Munculnya situs semisal www.beritaiptek.com, www.netsains.com atau www.kolumnis.com patut kita apresiasi karena para pendiri dan aktivis situs ini setidaknya punya andil dalam rangka menggiatkan dunia tulis menulis. Sehinga bisa menjadi ajang berbagi ilmu.
Persoalan menulis, tentu bukan hanya persoalan para pengarang, penulis atau wartawan saja. Siapapun diri kita, kemampuan menulis itu diperlukan. Sepanjang kita masih punya otak dan hati, aktivitas menulis akan senantiasa menyertai. Dalam kehidupan keseharian, komunikasi kita tentu tidak hanya sebatas ucapan saja. Sering kita harus membangun komunikasi dengan orang-orang yang jauh. Maka, tulisan menjadi penting sebagai alat komunikasi sekaligus media yang lebih memungkinkan orang mengeluarkan gagasan secara serius dan sistematis.
Biasanya, kalau ucapan kerap kali hanya luahan spontanitas saja. Sedangkan, tulisan lebih mempunyai bobot tersendiri karena sudah pasti kita memikirkan dan merenungkannya terlebih dahulu sehingga gagasan lebih sistematis. Kegagapan dan ketidakmampuan dalam menulis, bisa jadi akan menyebabkan salah persepsi dan kegagalan komunikasi. Dan, ini bisa berakibat fatal dalam bisnis, kariel maupun hubungan personal.
Lantas, bagi mereka yang akan berprofesi terkait dengan dunia tulis menulis (misalnya wartawan, editor, pengarang), persoalannya akan lebih kompleks lagi. Sebab, persoalan menulis tidak hanya sebatas alat komunikasi saja. Tetapi lebih dari itu, menyangkut soal kemanusiaan, panggilan hidup, estetika kebahasaan, bahkan keberpihakan kepada masyarakat kecil yang terpinggirkan oleh zaman yang semakin tidak adil ini.
Nah, dalam artikel singkat ini, saya akan memberikan semacam tips-tips segar kepada Anda agar lebih bergairah dan lebih serius menulis;
1.         Jangan  sekedar hobi
Masih banyak orang yang menjadikan aktivitas menulis sekedar hobi belaka. Tak salah memang. Hanya saja, ternyata menulis pun bisa dijadikan alternatif profesi, dalam arti mereka mendapatkan nafkah dan penghasilan. Barangkali muncul pertanyaan, bisakah hidup layak dengan menjadi seorang penulis ?. Saya kira ini tergantung kerja keras masing-masing individu. Sudah terlalu banyak contoh orang-orang yang sukses menjadi seorang penulis full time. Sebut saja Ahmad Tohari, penulis  novel “Ronggeng Dukuh Paruk” yang kini juga menjadi kolumnis sosial keagamaan di rubrik “Resonansi” Koran Republika. Atau JK Rowling, pengarang “Haryy Potter” yang kini menjadi miliyader dari hasil penjualan bukunya.
2.         Prioritaskan bacaan
Agar ide dan pikiran tidak buntu, baca buku adalah solusinya. Seorang penulis sejati, tidak bisa tidak ia harus akrab dengan buku. Bukan hanya menjadi kutu buku, lebih dari itu, ia perlu menjadi “predator buku”. Melahab berbagai buku, seperti kata Hernowo penulis buku “Quantum Writing” menjadikan buku ibarat sepotong pizza.
Memang, tidak semua buku harus kita baca. Memilah buku-buku bermutu serta memprioritaskan jenis dan waktu membaca itu perlu. Helvy Tiana Rosa Pendiri komunitas penulis Forum Lingkar Pena (FLP) punya saran yang baik. Yaitu membaca 3 jenis buku dalam sebulan, tentang keagamaan, tentang hobi atau minat kajian yang diminati, dan tentang buku yang terkait latar belakang pendidikan seseorang. Dengan pengaturan seperti itu, pikiran kita akan lebih fokus, ide-ide bermunculan sehingga aktivitas menulis terus berkembang.
3.        Gunakan hati
Aktivitas menulis tak cukup dengan wawasan pikiran dan referensi semata. Kita perlu  menggunakan hati. Seperti dalam kehidupan keseharian, orang akan lebih senang diajak bicara secara lembut, siapapun pasti tak akan suka dibentak-bentak, diperlakukan kasar oleh orang lain. Bahkan seorang premanpun tak mau diperlakukan begitu.
Dalam menulis juga perlu melakukan hal yang sama. Kalau ingin melakukan kritik pada seseorang atau lembaga, cara yang halus perlu dimunculkan pada karya tulisan kita. Jika memang perlu disindir atau disentil, lakukan dengan cara yang tidak frontal dan memerahkan kuping. Prinsipnya, menulislah dengan hati, karena biasanya sesuatu yang dari hati, akan sampai ke hati pula. Siapa tahu, dengan begitu, orang akan berbalik pikiran dan berubah menjadi lebih baik setelah membaca karya kita. Kalau seorang penulis bisa melakukan kebajikan semacam ini, betapa mulianya dia.

4         Mulailah dari hidupmu
Banyak orang yang kesulitan mau menulis apa. Tidak menyadari bahwa setiap manusia, perjalanan dan pengalaman hidupnya pasti punya sesuatu yang menarik, sesuatu yang unik. Bukankah ini inspirasi tersendiri ?. Ya, menuliskan cerita-cerita kita.
Torey Haden penulis buku “Sheila”, buku yang laris manis itu, pernah mengatakan “Aku sama seperti kalian, yang membedakan hanya karena Aku menuliskannya”. Begitulah, ia menuliskan pengalaman hidupnya sebagai seorang guru untuk anak-anak “catat mental”, ternyata buku buku itu digemari masyarakat karena temanya yang menarik, tentu juga karena gaya penceritaannya yang menyentuh jiwa.
Lain dengan Bayu Gawtama (gawtama.blogspot.com), Ia rajin menuliskan catatan hariannya yang sampai saat kini  3 buku telah terhasilkan. Ceritanya cukup sederhana, lagi-lagi menarik karena berbasis pengalaman dengan sentuhan personal yang khas. Begitu juga novel “Laskar Pelangi” Karya Andre Hirata (www.sastrabelitong.multiply.com), kisahnya tak lain adalah pengalaman masa kecilnya.
Kini, saatnya menulis sesuatu yang dirasa menarik dalam hidup, yah siapa tahu kelak layak diterbitkan menjadi buku. Siapa tahu laris, siapa tahu kelak kita menjadi penulis hebat. Siapa tahu…siapa tahu.
5.         Tradisi kaum intelektual
Menulis itu tradisi kaum intelektual. Jika ada problem serius di mata umum (publik), ia menulis untuk menjelaskan duduk masalahnya. Kemudian, punya alternatif pemikiran, bagaimana jalan keluar dari masalah tersebut. Belum cukup rasanya sebutan intelektual kalau ia tak punya karya (tertulis) satupun.
Menulis, sampai hari ini masih menjadi tradisi kaum intelektual. Dengan membaca tulisan, baik artikel atau buku, kita akan mendapatkan pemahaman yang cukup dan utuh tentang sebuah pokok permasalahan. Hal ini kan sangat berbeda kalau hanya sekedar ucapan semata.
Demikianlah sekilas bagaimana gairah menulis itu bisa kita munculkan. Saatnya sekarang adalah mempraktekannya. Seperti kata Kuntowijoyo (alm), Budayawan Jogjakarta), untuk bisa menulis cukup mudah dan sederhana, ”Duduk dan Lakukan”. Itu saja. (*)