Belajar Menulis dari TEORI? Itu Salah!

 Belajar Menulis dari TEORI? 
Itu Salah!
Manusia punya sifat-sifat alamiah dalam belajar. Kadal dan kambing juga punya sifat alamiah dalam belajar. Waduh, tapi soal cara belajar alamiah untuk berbagai margasatwa, bukanlah urusan kita. Urusan kita: manusia atau orang.
____Bagi setiap orang, ketrampilan menulis, pada dasarnya sama saja dengan ketrampilan lainnya, berbahasa, main gitar, berenang, mempiloti pesawat luar angkasa, seterusnya. Kebetulan saya pernah mempelajari bagaimana proses belajar atau ‘learning process’ pada saat menyelesaikan pendidikan master di bidang manajemen, dan berikut ini ijinkanlah saya berbagi.
____Okelah, mungkin tidak semuanya seratus persen dapat diaplikasikan, untuk kasus anda masing-masing, silakan disesuaikan lagi, mana yang bisa diaplikasikan, mana yang tidak.
____Premis yang saya ajukan: anda janganlah belajar menulis (cerpen, novel) dengan diawali dari membaca buku (teori ‘how to write a novell or short story’ atau yang semacamnya itu). Itu menurut saya cara yang salah. Secara alaminya, manusia tidak belajar ketrampilan dengan cara itu. 
____Buku, amat besar gunanya, untuk memperkaya khasanah pengetahuan kita. Itu tidak saya pungkiri. Kalau kita sudah ‘bisa’, maka teori-teori yang diuraikan di buku-buku, atau di internet, atau di seminar, atau dimanapun, akan amat mempertajam cara kita dalam meningkatkan ketrampilan menulis kita. TAPI, itu bukanlah hal yang perlu diprioritaskan dalam tahap awal penguasaan ketrampilan.
____Suatu ketrampilan… adalah sesuatu hal yang diserap dan dikuasai di alam SADAR DAN BAWAH SADAR kita. Jadi, bukan hanya untuk ‘alam sadar’ (terpikir langsung), tapi juga untuk ‘alam bawah sadar’ (refleks).
____Alam sadar kita bisa ‘diajari’ dengan membaca buku, dengan mendengar ceramah, dengan duduk di kelas workshop penulis, atau sebangsanya. Di pihak lain, alam bawah sadar tidak bisa membaca buku. Alam bawah sadar adalah alam pikiran primitif manusia yang belajar dengan caranya sendiri. Wuih, ini sudah beberapa paragraf tapi kebanyakan teori melulu. Jadi kongkritnya gimana?  
_Sekedar ilustrasi klasik.
____Anda pasti sudah tahu. Kita kalau mau belajar bahasa Arab, terasa waduh, susah. Belajar tiga tahun, lima tahun, nggak bisa-bisa. Bener nggak? Atau bahasa Inggris, mulai dari SD, terus sampai perguruan tinggi, berapa jam saja kita habiskan untuk belajar bahasa Inggris. Begitu dilepas di Amerika, banyak yang tetap bletak-bletuk keliru-keliru melulu.
____Di pihak lain, di Arab, anak-anak kecil, tiga tahun, sudah nricis, cas, cis, cus, Bahasa Arab-nya fasih banget! Ya, iyalah. Demikian pula, di Inggris, anak tiga tahun Bahasa Inggrisnya fasih sekali. Bahasa Inggris itu merasuk ke alam pikiran sadar mereka, maupun ke alam pikiran bawah sadar.
____Mimpi pun, anak-anak Inggris… akan pakai Bahasa Inggris! Jelas banget. Ajaib kalau ada anak Inggris, mimpinya malah pakai Bahasa Madura! Iya nggak?!
____Anak Arab maupun anak Inggris itu, kita bisa pastikan bersama: menguasai ketrampilan mereka tidak diawali dengan membaca buku “Mengenal Bahasa Inggris”, atau “Mengenal Bahasa Arab”. Jenius banget, anak tiga tahun sok-sokan membaca buku segala! 
Nah, dengan cara seperti anak-anak kecil itulah kita mesti belajar bahasa, dengan cara itulah juga kita mesti belajar menulis. Karena dengan cara itulah ketrampilan dan pengetahuan bisa masuk ke alam pikiran bawah sadar kita. Ketrampilan yang sudah terkuasai, akan menjadi suatu refleks. Anak-anak Inggris, udah nggak usah mikir lagi, seolah refleks saja, cas-cis-cus. Kita pun begitu, begitu sudah menguasai benar ketrampilan berbahasa Inggris, cas-cis-cus-nya enak. Kalau kita menguasai benar ketrampilan menulis, membuat tulisan yang baik, itu juga sudah seperti refleks, tidak mesti memikirkan subject, predikat, obyek. Anak kalimat, tanda baca,… duar! Kesuwen.
Namanya terampil menulis, maka menulis itu sebagian ‘digerakkan’ oleh alam bawah sadar kita. Menulis sebagiannya sudah menjadi suatu refleks. Sambil terkantuk-kantuk atau diajak ngobrol, tulisan tetap bisa menulis dengan baik. Itulah namanya kita menguasai ketrampilan menulis.  
____Dengan cara seperti anak kecil belajar bahasa itulah kita mesti belajar suatu ketrampilan (termasuk menulis). Yaitu kalau mau sampai benar-benar terampil. Metoda-metoda-nya adalah metoda-metoda primitif, tapi itu adalah satu-satunya cara. Sebab apa? Sebab yang mau diajari adalah alam bawah sadar kita, yang dalam ilmu kognitif, disebut juga sebagai otak primitif. (YW)
Belajar dari Nurul F. Huda

Belajar dari Nurul F. Huda

Malam belum lagi larut. Tetapi sudah cukup untuk membuat mata seorang gadis kecil berusia empat tahun terasa berat dan ingin mengatup. Terlebih ia begitu lelah setelah seharian bermain dengan teman-temannya. Sambil memeluk guling dan menarik selimutnya, gadis kecil itu mencoba bertahan untuk tetap membuka mata dan memasang telinga. Mengapa? Karena ayahnya sedang bercerita tentang kancil dan gajah.
“Ayah, kasihan sekali gajah itu. Bagaimana nanti dia keluar dari lubang? Kancil nakal… aku tidak suka. Kemarin dia menipu buaya, terus menipu harimau, sekarang menipu gajah.” Ucap gadis itu dengan mata berkaca. Sang ayah tersenyum.
“Makanya kita tidak boleh menipu, apalagi mengorbankan orang lain untuk kesenangan dan keselamatan kita sendiri. Nah, sekarang bobo’, ya.” Jawab sang ayah sambil membelai kepala putrinya. Si gadis mengangguk. Ia pun tertidur. Dalam mimpinya, ia menjadi seorang peri baik hati yang membebaskan gajah dari lubang dengan keajaiban tongkat saktinya.
* * *
Dunia cerita yang pertamakali saya kenal adalah dongeng. Hampir setiap malam, ketika saya sudah mulai lancar berbicara, ayah mendongengkan cerita. Kadang fabel si kancil, legenda rakyat, atau sesekali cerita dongeng luar negeri. Kancil, Malin Kundang, Cinderella, Aladdin… ah, nama-nama itu begitu lekat di memori saya. Membuat saya sering bermimpi menjadi putri atau peri. Membayangkan seandainya saya bisa mengerti bahasa binatang dan tumbuh-tumbuhan. Ya, Nurul F Huda kecil, hidup dalam angan-angan dan imajinasi dunia antah-berantah yang dipenuhi wangi bunga, semerbak hutan dan kedamaian dunia binatang dalam kesetiakawanan. 
Tetapi saat usia saya menginjak lima tahun, ayah mengenalkan saya pada realita kehidupan. Cerita dongengnya tak ada lagi. Berganti riwayat sahabat dan para nabi. Mula-mula ayah menceritakan kisah nabi, secara urut. Pasca cerita nabi Muhammad, secara kronologis pula beliau menceritakan para sahabat, era kekhalifahan hingga keruntuhan kejayaan Islam. Pelan tapi pasti, saya mulai tahu, siapa musuh saya yang sebenarnya selain setan. Di masa ini juga saya mulai mengoleksi buku, meski belum lancar membaca. Setidaknya saya mulai cinta dengan benda itu. Mungkin, karena saya melihat, dari benda itulah ayah menceritakan banyak hal kepada saya. Atau saya sekedar ingin meniru, entahlah. Yang jelas, saya suka.
Usia delapan tahun saya sudah keranjingan membaca. Bobo, Ananda, Kuncung, Kawanku (yang ketika itu masih majalah anak-anak), adalah teman-teman setia saya. Untuk mereka, saya rela kehilangan uang jajan. Rela berjalan kaki ke pasar membelinya sendirian. Oh, ya. Karena ayah saya tidak mampu membelikan majalah baru apalagi berlangganan, maka saya membelinya di pasar loak. Herannya, koleksi majalah saya, terutama Bobo, nyaris komplit. Kebutuhan saya untuk membaca semakin besar karena ayah sudah tidak pernah lagi mendongeng atau bercerita. Padahal saya tetap membutuhkan dunia maya di luar dunia nyata yang saya hadapi. Di masa ini juga saya mulai suka menceritakan kembali apa yang saya baca pada orang lain. Masih lekat di benak saya ketika waktu istirahat sekolah, teman-teman mengerubungi saya untuk mendengar cerita terbaru yang akan saya presentasikan. Saya pun mulai suka menulis, meski baru sebatas menulis uneg-uneg. Setiapkali saya jengkel atau marah dengan seseorang (yang paling sering tuh sebel dengan adik dan ibu), saya tulis di kertas. Oh, tentu saja kemudian saya buang. Yang penting saya lega. Puas.
Kelas empat SD saya mulai membaca buku. Saya ingat sekali, buku pertama saya adalah Trio Detektif. Buku-buku sejarah juga saya baca, terutama sejarah Islam. Bahkan buku politik pun dilahap juga. Belum lagi lulus SD, saya sudah menjadi partner ayah menonton Dunia dalam Berita dan berdiskusi tentang situasi dunia. Puisi saya semakin banyak, dan saya mulai mencoba menulis cerita. Wah, ternyata ada banyak hal yang bisa ditulis, begitu kira-kira pikiran saya ketika itu. 
Membaca, menulis, bercerita, akhirnya menjadi aktifitas dominan hari-hari saya. Bahkan saat-saat berat ketika saya harus bolak-balik menginap di rumah sakit selama kurang lebih 3 tahun karena katup jantung saya bocor dan pada akhirnya dioperasi di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Buku dan buku. Itulah pembunuh waktu hari-hari sepi dan menjenuhkan yang harus saya.lewati. Bagaimana lagi? Saya nyaris tidak bisa bermain. Boro-boro, berjalan saja sudah membuat nafas saya ngos-ngosan. 
Pasca operasi, keadaan saya jauh lebih baik. Boleh dikatakan tidak berbeda dengan aktifitas orang yang sehat. Yah, meski katup buatan itu membuat saya tidak bisa lepas dari obat dan dokter seumur hidup, tetapi saya mencoba tetap bersemangat menulis dan membaca. Rupanya inilah salah satu hikmah ujian yang harus saya jalani. Saya terlanjur suka dengan dunia tulis-menulis. Menulislah. Membacalah. Bahkan membuat majalah sendiri, dibaca sendiri, dibuang sendiri he… he… Belum ada keberanian sama sekali untuk mengirim ke media. Barulah setelah ayah menganjurkan dan satu tulisan saya muncul di koran lokal, saya sedikit PD mengirim ke media terbitan ibukota. Duh, tak satu pun dimuat! Payahnya, begitu ditolak, saya tidak mau mengirim lagi. Oh, ya. Ketika itu saya kelas dua SMP. 
Saat SMU saya nyaris tidak menulis. Mengapa? Yah, masa depan penulis bisa dibilang tidak menarik buat saya. Suram. Saya ingin jadi wanita karier yang sukses dan sibuk. Sampai akhirnya saya hijrah dan berkenalan dengan Annida. Keinginan kuat untuk kelak, stay at home, membuat saya selektif memilih cita-cita. Hilang sudah ambisi menjadi wanita karier. Tapi pekerjaan apa yang tetap membuat saya eksis tanpa banyak keluar rumah? Aha! Saya ingat hobby saya yang dulu. Penulis. Nekat, saya kirim cerita ke Annida berjudul “Mas Ery Sayang” . Alhamdulillah! Dimuat! Saya senang sekali meski honornya habis untuk menraktir teman-teman. Kalau saja… ya, kalau saja Mbak Helvy tidak bertahan memuat naskah itu (karena redaktur lain konon, tidak terlalu tertarik), mungkin sekarang ini tidak ada nama Nurul F Huda di jajaran penulis Islami. Yah, dengan dimuatnya cerpen itu, tekad saya menjadi penulis membulat (tadinya masih benjol-benjol). Saya pun memutuskan masuk Sastra Arab demi menunjang cita-cita tersebut. Padahal waktu itu saya sudah semester akhir SMU sodara-sodara! Jurusan Biologi lagi. UMPTN pun bela-belain ambil IPS dan cuma memilih Sastra Arab, titik. Nashrullah, saya diterima. Uh, tadinya lumayan pesimis. Soalnya hari kedua saya nyaris tidak bisa selain soal-soal Bahasa Inggris. Skor saya pun cuma 300. 
Bagaimana dengan kepenulisan yang saya jalani? Setelah naskah pertama dimuat, naskah kedua nongol setahun kemudian, meski saya tetap rajin mengirim. Saya sudah hampir nyerah. Yah, sudahlah. Jadi TKI aja ‘kali, ya. Eh, setengah tahun kemudian muncul cerita saya yang ketiga di Annida. Semangat lagi. Begitulah. Jarak pemuatan semakin rapat, dan saya sudah tidak terlalu wow ketika dimuat. Majalah lain mulai saya jajaki. Sabili. Ummi. Amanah. Dan… nyaris tanpa penolakan. Yess!
Setelah 5 tahun lebih menulis cerita lepas di majalah, lewat Mbak Helvy, saya mencoba menembus Mizan. Lolos, dan April 2001 terbitlah buku kumpulan cerpen pertama saya yang berjudul “Bayangan Bidadari”. Wah, saya sudah takut sekali buku itu tidak laku. Saya merasa belum layak punya buku. Alhamdulillah, sekarang ini sudah lewat cetakan ke-4. Oh, ya. Karena keberadaan Bayangan Bidadari-lah akhirnya ayah merestui keinginan saya untuk menjadi penulis. Betul, sodara-sodara. Sebelumnya ayah memang keberatan saya menjadi penulis, kecuali hanya sebagai sampingan. Tetapi setelah melihat kesungguhan saya, juga kenyataan bahwa dunia kepenulisan Islami cukup menjanjikan, fidduniya wal akhirat, beliau bahkan salut. 
Seiring pesatnya perkembangan dunia fiksi Islami, mau tidak mau saya harus semakin rajin menulis kalau tidak mau tenggelam dan tergilas penulis lain yang lebih produktif. Saya juga mesti makin rajin membaca. Menulis, membaca, menulis, membaca… begitu terus. Jenuh dan bosan kadang mampir juga. Tetapi ketika saya ingat bahwa ini adalah janji saya pada Allah, bahwa Dia telah menolong saya menapak tangga demi tangga, bahwa semua yang saya kerjakan dalam rangka cita-cita besar sebuah kontalasi dakwah, bahwa kebathilan terus berjalan… so? Keep going!
Begitulah kira-kira perjalanan saya menjadi seorang penulis. Tidak sekedar lurus dan mulus meski tidak juga terjal dan mendaki. Setidaknya selama kurun waktu itu saya belajar arti kesabaran, kesungguhan, istiqomah, dan perjuangan. 
Nah, sekarang sedikit tentang proses kreatifitas menulis. Secara teoritis, tidak ada panduan kreatifitas yang baku. Tetapi sepertinya setiap penulis mempunyai 3 langkah yang serupa. Yang pertama, menangkap kejadian dengan kepekaan. Yang kedua, merenunginya lebih dari sekedar kejadian belaka. Ketiga, keinginan kuat untuk menyampaikan ulang kejadian tersebut dalam bentuk tulisan.
Yang pertama, tentang kepekaan. Percayalah, setiap penulis apabila melihat kejadan tertentu tidak sekadar dilewatkan. Terlebih bila kejadian tersebut unik, menarik, dan menyentuh. Ia akan menyimpannya dalam pikiran dan hati. Jadilah ide. Muncullah tema. Misalnya begini. Ada seorang penjaja kue yang sangat tua, lewat pagi-pagi. Mungkin kebanyakan orang hanya akan berfikir, kasihan. Selesai. Tetapi seorang penulis akan menganggap lewatnya Pak Tua bukan kejadian biasa yang hanya cukup dikasihani. Ia akan tersentuh dan berpikir, jangan-jangan ada banyak Pak Tua lain yang juga seperti itu. Mulailah fase kedua, perenungan. Mengapa orang setua itu masih berkeliaran di jalan mencari nafkah? Kemanakah anak-anaknya? Berapa penghasilannya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Sekian tanda tanya muncul dan tiba-tiba ia merasa perlu menjadikan peristiwa tersebut perenungan untuk banyak orang. Fase ketiga pun dimulai. Cerita disusun. Kata-kata dirangkai. Sosok Pak Tua dimasukkan sebagai tokoh utama. Dicarikan jalan cerita yang akan mampu membuka mata dan hati banyak orang. Dipertemukan dengan tokoh-tokoh yang mendukung pesan tersebut. Bahkan supaya meyakinkan, dicarikan data-data. Begitu cerita selesai disusun, penulis membacanya berulang-ulang. Bukan hanya mengoreksi kesalahan tulisan, tetapi involve. Sudahkah cerita tersebut mampu membawa pesan yang ingin disampaikan? Akan terkesankah pembaca nantinya? Sebagian penulis akan mengetesnya dengan meminta beberapa orang membaca karya tersebut dan mengomentarinya. Tetapi ada yang bahkan langsung mengirim ke media. Mana yang lebih disukai? It’s up to you.
Yeah, pada intinya semua orang bisa jadi penulis asal rajin. Setiap orang punya perasaan, yang akan digunakan untuk menangkap peristiwa dengan kepekaan. Setiap orang punya pikiran, yang digunakan untuk mengolah sekian banyak pertanyaan yang akan dijawab  sendiri lewat cerita yang dibuatnya. Setiap orang suka cerita, entah dalam bentuk obrolan, buku, atau tayangan. Jadi, asal tidak buta huruf, semua orang punya kesempatan untuk menjadi penulis. Apakah mau berusaha atau tidak, itu saja persoalannya. Mau terus menulis atau tidak. Betul, sodara-sodara, menulis tidak bisa hanya ketika kita suka. Menulis adalah ketrampilan yang akan semakin lincah apabila dilatih terus-menerus. Ibarat mata pisau yang akan semakin tajam ketika sering dipakai dan diasah. Jangankan yang sekedar coba-coba, bahkan yang sudah eksis pun bisa jauh menurun kemampuan menulisnya apabila sekian lama tidak dilakukan. Semakin sering menulis, semakin pekalah perasaan, semakin tajamlah pikiran, dan semakin baguslah mutu tulisan, yang pada akhirnya, semakin mudahlah menembus pemuatan. 
* * *

Sekali-kali Keluarlah dari Zona Nyaman (Menulis)

*Kang Arul
Keluhan bukan barang baru bagi penulis. Bahkan penulis yang sudah menghasilkan buku pun kerapkali mengeluh ketika menjalani profesi menulis. Apalagi penulis pemula atau mereka yang mencoba-coba memulai karirnya dalam menulis. Selalu saja ada kalimat yang terlontar dari lubuk hati yang paling dalam:

“Wah, ide buntu. Mau nulis apa, nih?”

“Habis paragraf ini apa ya?”

“Masih bertahan di halaman 10, kapan nyampe halaman 100-nya?”

“Duh, jangan pekan ini, deh. Sebulan lagi tulisannya selesai.”

“Nggak ada komputer. Kalau ada laptop enak nih nulis.”

“Nyari data kudu ke warnet dulu. Internet nggak ada di rumah.”

Bla… bla… bla…

Inilah sebagian zona nyaman yang sering menghinggapi. Ibarat kata pepatah ‘rumput tetanga jauh lebih hijau dari rumput di halaman sendiri’. Seringkali ketika menulis kita melihat di luar diri dan langsung menjatuhkan penilaian bahwa itulah yang nyaman dalam menulis.

Misalnya, di rumah tidak ada notebook yang ada hanya komputer personal atau PC. Itu pun harus dipakai bergantian dengan orang-orang di dalam rumah. Sesaat muncullah bisikan dalam hati, “Kalau punya laptop enak nih kerja. Kalau PC punya sendiri di dalam kamr bakalan selesai tulisannya. Wah, kalau punya PC dan laptop enak kerja di mana saja.”

Menciptakan zona nyaman itu hulunya adalah menciptakan enaknya menurut diri kita sendiri ketika menulis. Melihat bahwa, misalnya, penulis x yang sudah terkenal diketahui nyaman menulis di mana saja karena ada laptop selalu dibawa di tas punggungnya. Dan seandainya  memiliki laptop kita mengira akan sama produktifitasnya dengan penulis x itu.

Padahal, zona (yang kita kira) nyaman itu sebenarnya tidak seratus persen bisa bikin kita nyaman dalam menulis. Laptop yang kita punya pun bisa menjadi pangkal ketidak nyamanan. “Wah, laptop layarnya 14 inci, coba kalau 10 inci. Kecil enak dibawa kemana-mana.”

So, sekali-kali ketika menulis keluarlah dari zona nyaman itu. Jika tidak punya buku referensi, jalan ke perpustakaan atau ‘numpang’ baca di toko buku. Menulislah dengan apa yang ada dan apa yang kita punya.

Percayalah, kepayahan dalam menyelesaikan 100 halaman dikemudian hari nilai kepayahan itu akan tergantikan dengan perasaan luar biasa; mengetahui buku diterbitkan, takjub memandang nama kita ada di kaver buku, diberi selamat oleh pembaca,  dan syukur-syukur buku jadi best seller.

Ibarat kata-kata bijak, setiap kesulitan akhirnya akan ada kemudahan…
(www.menulisyuk.com)
Ramuan Menjaga Gairah Menulis

Ramuan Menjaga Gairah Menulis

 *Kang Arul

“Lemes gue, Kang.”

“Loh, kenapa?”

“Kerjaan banyak numpuk. Bla… bla….”

“Namanya juga orang kerja.”

“Ya, tapi bikin lemes nih. Saya perlu obat kuat biar greng.”

“Minum gingseng aja.”

“Tambah sate kambing?”

“Hmmm… buat seger badan atau apaan, nih?”

“Ya sekaian…””Aih, doping itu mah.”

“Tapi sebenarnya bukan soal tenaga, Kang.”

“Nah loh, jadi soal apa?”

“Rasa…”

***

Suatu sore saya datang ke toko buku di kawasan Bintaro. Biasa, sebuah rutinitas yang sudah saya lakukan bertahun-tahun; mendatangi toko buku sekadar membaca buku terbaru tanpa mengeluarkan uang. :)

Rak pertama yang selalu saya datangi adalah majalah. Sebuah majalah film lllllllllllllllllll selalu menjadi lauk pertama yang saya kunyah. Minimal saya bisa update film terbaru keluaran Hollywood. Sayang tak ada majalah yang khusus membahas film India….

Setelah selesai baca majalah, saya mengunjugi rak buku lainnya. Tidak pernah harus rak ini atau rak itu; yang penting bisa mencari buku terbaru.

Saya mengambil sebuah buku. Kebetulan plastik pembungkusnya sudah lepas (atau saya yang lepas ya? *pura-pura mode on). Membaca halaman demi halaman… sampai seseorang tiba. Dari lirikan sekilas dia seperti mahasiswa. Saya cuek, maklum sedang konsen melahap buku baru.

Tak lama kemudian si mahasiswa itu mengeluarkan buku saku dan bulpen. Buku yang dibacanya disalin pelan-pelan. Serius sekali dia.

Saya penasaran, saya lirik dia, saya lirik buku yang sedang dibacanya, dan….

Deg…plash… saya melihat kaver buku itu akrab sekali. Bagaimana tidak akrab, wong kaver buku itu adalah buku yang saya tulis soal panduan bagaimana llllllllllllllllllllllllll    lllllllllllllll.

Saya jadi lupa dengan buku di tangan. Perasaan ini terasa sulit dituliskan; bagaimana buku yang saya tulis bisa dinikmati oleh orang lain. Ge er? Pastinya.

Tanpa diketahui, saya saksikan si mahasiswa itu sampai habis membacanya, habis menulisnya, dan meninggalkan rak buku tersebut. Saya ingin menikmati perasaan yang sedang menyelubungi hati saya. Menikmati sebuah kebanggaan yang mengalir di dalam darah dan, kalau mau lebay, sampai ke pori-pori serta mendirikan bulu kuduk. Beuuhhh…

Itulah perasaan yang selalu saya cari. Perasaan bangga dan bahagia karena karya kita bisa dinikmati oleh orang lain. Perasaan yang tidak bisa saya dapatkan secara instan. Duit atau ketenaran dalam menulis adalah relatif, tetapi perasan itu tak bisa diukur dengan nominal.

Itulah perasaan yang membuat saya selalu menemukan gairah dalam menulis. Perasaan yang ingin selalu saya temukan setiap memegang buku terbaru atau membaca artikel saya tayang di media cetak/online.

Itulah perasaan yang saya ungkap ketika host Ferdy Hasan, di salah satu tayangan televisi, bertanya kepada saya buku apa yang paling spesial. Saya menjawab, “Semua buku bagi saya memiliki kesan tersendiri. Semuanya spesial.”

Itulah doping bagi saya. Itulah pahala yang mengalir sebagai balasan usaha dan kerja keras saya dalam menulis.

Saya menikmati proses menawarkan naskah, proses berdialog dengan penerbit, proses diterima cum ditolak penerbit, proses melihat rancangan kaver buku, dan tentunya semua proses dalam menulis; saya tak jarang kelelahan, kehabisan modal, menyiapkan durasi panjang untuk membaca dan meneliti sumber, dan berjuang sampai halaman terakhir naskah selesai…

Inilah penghargaan yang tidak bisa saya nilai sama sekali….

***

“Kang, saya sudah bekerja dengan semangat 45.”

“Loh, kok bisa? Nggak pake doping?”

“Nggak.”

“Nah, terus?””Saya menikmati pekerjaan saya.”

Saya manggut-manggut.

“Ini kontemplasinya lama banget…. saya yakin Kang setiap pekerjaan dan tempat kerja selalu ada masalah, selalu ada rintangan, dan selalu ada halangan. Tapi kalau kita menikmati pekerjan, saya yakin dua ribu persen kalau semuanya akan terlewati jika hati saya menikmati pekerjaan itu.”

Saya mendengarnya dengan seksama.

“Duit… itu ukuran yang tidak pernah habisnya. Ada temen saya kerja sebagai operator complaint sebuah provider, kerjanya mengeluh saja. Bagaimana tidak mengeluh karena kerjanya hanya mendengarkan orang marah-marah dan itu tidak pernah berhenti 8 jam. Padahal gajinya gede dan minggu lalu baru saja naik 1 juta, tapi tetep saja hatinya tidak bahagia. Dia mau keluar bulan depan.”

Saya merenungi kata-katanya.

“Yang diperlukan adalah menikmati perasaan itu dalam bekerja, Kang.”

Saya tersenyum…

“Kang…”

“Ya?”

“Boleh pinjem duit nggak? Mau jalan-jalan nih ke pantai. Buat nenangin perasaan.”

Aih,,,, @#@#@$%$&#@

(www.menulisyuk.com)

Menulislah dari Hati

Siapa yang bisa memberikan jaminan pasti bahwa Anda –sebagai penulis yang telah menerbitkan beberapa bahkan puluhan (ratusan?) buku– menyangka bahwa menulis buku itu sangat mudah. Bahkan dari sangkaan itulah lama-kelamaan berubah menjadi sedikit kesombongan bahwa menulis itu urusan kecil, ah sepele, yang beginian gua juga bisa, cuma bisa begitu aja nulis… atau nggak akan ada yang bisa nulis buku seperti apa yang gue tulis.

Terkadang urusannya bisa merembet soal berapa rupiah yang akan didapatnya. Jika ada penerbit yang meminta naskah kepadanya sebuah pertanyaan standar akan dilontarkan, “Kalau satu halaman 150 ribu rupiah, mau? Royalti 15 persen, deh!”

Akhirnya, mungkin sebagian kita bisa menebak, jika penerbit itu adalah penerbit besar yang punya modal cukup banyak, maka berapapun yang diminta oleh si penulis terkenal itu akan disanggupi. Celakalah bagi penerbit yang modal pas-pasan atau mereka yang baru kecebur di bidang usaha ini dengan kekuatan kapital yang rata-rata; hilanglah harapan untuk menerbitkan buku sang penulis terkenal, hilang juga impian usahanya akan maju dan sukses setelah buku sang penulis terkenal itu sukses di pasaran.

Akhirnya, penerbitpun mencari pengganti; sang penulis pemula atau penulis gagal. Katagori terakhir ini diartikan sebagai (calon) penulis yang naskahnya selalu ditolak penerbit. Juga, dengan bayaran/royakti yang sesuai kemampuan penerbit.

Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Keinginan untuk besar dan memenangkan sebuah kompetisi (pasar) seperti keinginan klub Washington Sentinels untuk memenangkan trofi pertandingan football, sepakbola ala Amerika. Tapi apa yang didapatkan oleh Sentinel? Ternyata bayaran yang besar tidak membuat keinginan itu tercapai. Sebaliknya para pemain mogok untuk bertanding dan celakanya mereka malah menuntut kenaikan gaji yang kadung sudah besar itu; perhatikan bagaimana sang bintang lapangan Eddie Martel sengaja untuk tidak bermain cemerlang hanya dengan alasan takut cedera, padahal semestinya ia tahu bahwa football adalah olahraga yang kerap melakukan kontak fisik .

Pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana caranya untuk memenangkan turnamen, sang pemilik Edward O’Neil akhirnya menyewa seorang pelatih Jimmy McGinty. Targetnya hanya satu, mencari pemain pengganti dan memenangkan pertandingan yang tersisa. “Kita hanya perlu tiga kemenangan saja untuk masuk babak playoff,” kata sang pemilik. “Ya, tapi saya akan melatih sesuai dengan gaya dan keinginan saya,”demikian tawa McGinty. Kata sepakat pun tercapai.

Akhirnya, Sentinel bertanding dengan para pemain pengganti. Shane Falco didapuk menjadi kapten bagi rekan-rekannya. Siapa Falco? Dulu dia adalah pemain handal dan seorang quarterback terkenal dari Ohio State University. Akan tetapi karena satu kesalahan, membuat Falco harus mengubur impiannya menjadi pemain football nasional dan menjadi petugas pembersih kapal di dermaga.

Falco bukanlah satu-satunya orang yang gagal. Nigel Gruff pemain pengganti bernomor punggung #3 adalah pemilik klub yang tidak bisa menendang bola; Clifford Franklin bernomor punggung #81 merupakan staf gudang sebuah mini mart yang pandai berlari, tetapi tidak bisa menangkap; Earl Wilkinson alias “Ray Smith” seorang narapidana karena kasus pemukulan terhadap petugas polisi. Dan kegagalan tim ini dilengkapi oleh sang pelatih sendiri yang dulunya pelatih Sentinel namun dipecat gara-gara berbeda pendapat dengan bintang tim.

Lengkaplah penderitaan tim ini. Ditambah dengan pertemuan pertama mereka yang dibabat habis oleh tim lawan. Namun, seiring waktu, mereka pun memenangkan pertandingan demi pertandingan. Bahkan tinggal satu kesempatan lagi akan membawa Sentinel ke babak playoff.

Di sinilah klimaks itu terjadi. Ketika tinggal satu pertandingan penentuan lagi, sang mega bintang tim yang mogok Martel ‘kembali’ dan ingin bermain—tentu saja mau menjadi bintang pujaan ketika tim ini menang. Sang pelatih tidak bisa berbuat apa-apa karena intervensi pemilik klub. Lalu Falco, yang posisinya direbut, hanya mengatakan, “Kalau kembalinya Martel untuk kebaikan tim, dia lebih baik dari saya.”

Falco mengalah. Martel bermain dan menjadi quarterback. Tapi skor berbicara lain, Sentinel dipermalukan 17-0 diparuh pertama.

McGinty sungguh kesal. Tim yang sudah solid dan dibina dengan Falco sebagai perekatnya berantakan di lapangan. Ia jadi teringat kata-katanya ketika membujuk Falco, “Engkau punya hati dalam bermain, sementara dia tidak.” Kata-kata inilah, dalam versi berbeda, diutarakan McGinty ketika diwawancarai oleh reporter di lapangan, “miles and miles of heart. “ Bahwa kita perlu hati yang bisa ‘menikmati’ permainan ini, bukan sekadar bertanding.

Pesan itu di dengar Falco yang jauh dari stadion. Pesan yang masuk ke hatinya dan membuatnya bergerak menuju stadion dan memenangkan pertandingan itu dengan skor 24-17. Sentinel pun masuk babak playoff.

Di akhir pertandingan, sang pelatih hanya bisa berkata, “Bahwa tidak akan ada perjanjian atau parade kemenangan buat kalian karena kalian bukanlah tim inti klub ini, hanya pemain pengannti untuk empat pertandingan saja. Yang ada hanyalah sebuah loker yang harus dibersihkan dari peralatan dan pakaian kalian untuk diisi kepunyaan pemain inti yang akan bertanding di tingkat nasional setelah kemenangan ini.”

Falco dan rekan-rekannya sudah menyadari nasib seorang pemain pengganti. Ibarat kata pepatah, habis manis sepah dibuang.

“Tapi…,” McGinty melanjutkan, “Bahwa kalian semua mendapatkan kesempatan dan ada di antara kalian yang mendapatkan kesempatan kedua sehingga pada akhirnya kalian bisa keluar sebagai pemenang. Perasaan yang akan abadi sampai akhir nanti.”

Ya, cuplikan film The Replacements yang diperankan Keanu Reeves (Falco) dan Gene Hackman (McGinty) yang dirilis tahun 2000 itu seperti memberi kisah tersendiri. Bahwa persoalan bermain dengan hati adalah persoalan yang bisa menempatkan seseorang, dan tim, mampu menikmati pertandingan yang mereka lakoni. Jika pertandingan diukur dari berapa uang yang selayaknya didapat, maka pertandingan akan dijalani sekadar pertandingan dan tanpa cinta.

Anda, dan saya pun tentunya, sepertinya juga harus menjadi Falco dalam menjalani profesi sebagai seorang penulis. Uang adalah diperlukan dalam hidup ini, namun uang bukan satu-satunya ukuran yang dijadikan standar dalam menghasilkan sebuah karya. Ibarat air garam, batas berapa layak kita dibayar untuk sebuah naskah yang dihasilkan selalu tidak pernah mencukupi. Mungkin tahun ini kita menetapkan standar Rp20 ribu per halaman, bisa jadi tahun depan menjadi Rp100 ribu per halaman. Tahun depan batas itu naik lagi. Dan itu tidak akan pernah sampai titik akhir…

Apabila sebuah karya dinilai dari berapa uang yang didapat, maka terkikis juga lama-kelamaan hati nurani kita sebagai seorang penulis. Kita pun menolak beberapa tawaran penerbit hanya gara-gara pembayarannya yang dianggap tidak sesuai dengan standar kita.

Padahal kita mungkin tidak sadar bahwa mereka, penerbit, sangat berharap kita mau menulis untuk mereka. Menjual buku kita yang laris manis di pasaran dan uang penjualan itu bisa menghidupkan napas kapital penerbit, membiayai keperluan operasional, menggaji karyawan, dan karyawan bisa membeli nasi untuk anak dan istri di rumah. Tidak hanya itu, setiap buku yang laku juga akan bernilai ‘pahala’ karena dibaca dan bermanfaat oleh sang pembaca, baik didapat dari beli atau minjem.

Ya, menulis itu urusan hati. Siapapun bisa cerdas dan pintar, tapi tidak semua penulis bisa memiliki hati yang iklas dan benar. Yang selalu ingat bagaimana dulu dia selalu berdoa kepada-Nya agar naskah yang dibuat mau diterima penerbit, dicetak, dan dipasarkan di toko buku… dengan bayaran berapapun dan sistem pembayaran bagaimanapun. Yang selalu sadar bahwa ketika saat ini dia telah menjadi penulis besa, maka itu adalah kerja tim; kerja tim editor yang mengemas naskah menajdi buku yang luar biasa, bagian marketing yang mengolah buku menjadi barang dagangan laku di pasar, para jurnalis yang mengupas serta meresensi buku sehingga bisa dikenal oleh khalayak, dan sampai pekerja gudang yang dengan sangat hati-hatinya meletakkan, menyusun, dan mendistribusikan ribuan buku yang dia tulis.
Inilah sang pengganti atau replacements yang tidak pernah terpikirkan dalam kehidupan sang penulis.

Rasanya mustahil seorang penulis, sekaliber siapapun, mampu mengedit sendiri, melayout halaman sendiri, mendesain kaver sendiri, mencetak dengan mesin cetak sendiri, memotong semua kertas sendiri, menuangkan tinta ke mesin cetak sendiri, membukus buku sendiri, mendistribusikan buku ke toko-toko buku sendiri, me…. Nyendiri…

Merasa bahwa kita punya tangan seperti Raja Midas yang bisa mengubah beberapa lembar kertas HVS ukuran A4 menjadi emas naskah yang tinggi nilai harganya. Menyangka bahwa tidak akan ada calon penulis atau penulis pemula yang juga suatu saat bisa menyamai bahkan melampaui pencapaian yang telah diraih.

Terakhir, berbagilah! Jika kita adalah penulis hebat, maka berbagilah ilmu itu kepada orang lain. Karena ibarat kata-kata bijak, “beramal dengan harta akan hilang bekasnya dalam sekejap, namun beramal dengan ilmu seperti mengukir di atas batu yang akan abadi”. Ah, saya jadi lupa apakah ini kata-kata bijak dari seorang filosof atau salah satu syair dari lagu kasidahan yang dulu pernah saya dengar.

Maka, menulislah dari hati!

Jika tidak, betul kata Bang Rhomah.. “Huh, terlaluh…!”
Sumber www.menulisyuk.com