+62 821-1040-9641 [email protected]
Perihal Hati yang Sepi di Belantara Kota

Perihal Hati yang Sepi di Belantara Kota

KEDATANGANKU ke Serang hanya ingin bertemu denganmu, Buyung. Tak lain! Kalau bukan karena ingin kembali merajut hari-hari indah bersamamu, buah hatiku, tak mungkin aku akan kuat meninggalkan Taratak Duo Baleh yang berkabut di kala pagi menyapa, atau ketika pemandangan hijau dari kebun-kebun karet di belakang dangau kita itu digantikan dengan hamparan hutan kota yang pekak. Kalau bukan karenamu, Buyung. Sungguh aku tidak akan pernah rela.

Di sini, Buyung. Di kota yang kau katakan bernama Serang ini, aku kau tinggalkan sendirian. Kesepian di tengah hiruk-pikuk kota ini tentu membuat aku bertanya-tanya. Tapi aku tak pernah persoalkan itu, lagi-lagi kerena aku terlalu merindukan masa-masa kita duduk di dapua[1], menikmati makan malam bersama Abak kalian. Tak ada kebahagian lain, Buyung. Ketika melihatmu begitu ulung memindahkan butir-butir nasi ke piringmu yang baru saja kosong. Aku girang betul melihatmu begitu lahap menyantap nasi putih yang berasal dari sawah kita di Kumanis itu, dengan ikan asin yang digoreng masiak[2], serta uwok potai dan samba lado hijau, kau akan semakin tak terkendalikan melahap nasi di piringmu. Tapi malam ini, Buyung. Ketika aku menunggumu dengan hidangan makan malam yang sama, kau juga belum kembali dari kesibukanmu.

Kalau tahu aku akan sesepi ini. Enggan aku mengikuti maumu ketika kau menguratakan niat memboyongku ke kota di barat pulau Jawa ini. Ah, lagi-lagi karena kau, Buyung. Aku tak kuasa menolak.

“Mak, ikutlah bersamaku ke Serang! Kebun karet kita yang di Pincuran Tinggi itu biarlah Tek Siyus yang menyadap. Amak tinggal mererima uang pangkalnya saja dari beliau. Lagi pula, tak perlulah Amak risaukan soal kebun itu. Di Serang kita bisa tinggal bersama, Amak bisa menemani Cleo bermain.”

Masih segar betul di ingatanku, Buyung. Kalimatmu itu begitu membuat hatiku sumringah, merasa paling beruntung memiliki anak laki-laki yang tak sia-sia aku sekolahkan sampai sarjana, membayangkan hidup bersamamu di rantau ini, meninabobokkan cucuku Si Cleo itu, ah, nama anakmu susah betul untuk diucapkan, Buyung. Aku tidak habis pikir, mengapa kau berikan nama yang terdengar aneh itu kepada cucuku? Kenapa tidak kau beri saja dia nama si Puti Andam Dewi? Atau Nurzahara Amalia pun tak apa, bila kau enggan menamainya Nurbama atau si Sabai Jalito.

Buyung, apakah engkau tahu, Nak? Betapa setiap malam aku menanti kepulanganmu dengan perasaan riang tak terkira. Bagai menanti kelahiran anak pertama, kata orang-orang. Menyambutmu di pintu rumah mewah ini, lalu kau mencium telapak tanganku yang mulai mengkerut dimakan usia. Kemudian kita makan bersama di meja makan yang sejujurnya sangat asing bagiku. Ah, Buyung, asal kau tahu, Nak. Dulu aku memberimu makan bukan di tempat seperti ini, dan kau lihat sendiri kan hasilnya? Kini kau menjadi orang sukses, beristri cantik dan aku pun kau beri cucu nan sangat jelita. Namun, amakmu ini rindu betul rasanya suasana makan malam kita waktu kau masih bocah itu, Buyung. Kau begitu bersemangat menungguku menghidangkan uwok potai dan goreng ikan asin di tikar pandan di dapur kita.

Lihatlah, Buyung! Lihatlah malam telah semakin larut. Ketika aku menautkan pandangan ke benda bundar yang menggantung di dinding itu, jarum pendeknya sudah menunjukkan angka sembilan, namun tanda-tanda kau akan pulang belum juga dapat aku merasakannya.

“Pulanglah agak sore hari ini! Amak ingin memasak gulai jariang kesukaanmu,” ujarku tadi pagi padamu.

Insya Allah, Mak. Kalau hari ini pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak.”

Hanya itu jawabanmu. Tapi aku cukup senang mendengarnya, Buyung. Aku tahu kata Insya Allah itu adalah janji tertinggi yang bisa kau ucapkan.

Berjam-jam aku menunggumu. Dan tengoklah, gulai jariang dengan kuah yang kental telah aku siapkan khusus untuk manyambut kau pulang dari kesibukanmu bekerja. Apa kau mengetahuinya, Buyung? Bagaimana ceritanya aku mendapatkan sepuluh keping jariang itu di kota ini? Begini ceritanya;

Setelah kau berlalu dengan mobil sedanmu pagi tadi, aku diajak Si Lilis, anak gadis yang kau minta untuk membantu membereskan pekerjaan di rumah sebesar ini. Dia katakan betapa dia iba melihatku bermuram tiap hari menunggumu di beranda rumah. Lalu dia ajak aku menemaninya berbelanja ke pasar Rau namanya. Dia ajak aku ke tempat penjual sayur, penjual ikan, dan macam-macam dagangan orang lainnya. Aku jadi teringat rumah mungil kita, Buyung. Dulu pun kau sering aku suruh memetik daun singkong atau sayur bayam di pekarangan belakang rumah kita.

Ah, aku senang betul bisa berkarip dengan Si Lilis. Setidaknya dia bisa membuat aku sedikit melupakan sepi dan janji yang tak pernah kau tepati. Janjimu dulu bahwa kedatangku ke Serang untuk bermain dengan cucuku Si Cleo pun tak pernah aku merasakannya. Sejak kapan kau jadi pembohong, Buyung? Dari kecil aku tak pernah mengajarkanmu berbohong. Kau sibuk dengan pekerjaanmu, begitupun dengan istrimu. Dan Cleo, anak sekecil itu sudah kau paksa dia bersekolah. Entah apa yang ada di pikiranmu, Buyung. Padahal sudah berkali-kali aku katakan, biarlah cucuku itu bermain denganku di rumah. Tapi lagi-lagi aku hanya bisa mengelus dada.

“Amaaak, memang sudah seharusnya Cleo aku sekolahkan. Coba Amak lihat teman-teman sebayanya, mereka juga bersekolah di play group tempat Cleo aku sekolahkan. Biar Cleo bisa mengimbangi teman-teman sebayanya. Biar dia pun pintar macam papa dan mamanya, Maak.” Plai grup? Sekolah macam apa lagi itu, Buyung? Sepanjang sejarah aku mengandungmu, melahirkan, dan membesarkamu dengan kasih sayang, tak pernah aku memasukkanmu ke sekolah macam itu. Kau hanya aku suruh mengaji ke surau, bersolah di esde, es-em-pe, lalu es-em-a, dan akhirnya kau berkuliah ke pulau Jawa. Itu saja, tapi buktinya kau bisa juga jadi orang kan, Buyung?

***

Aku benar-benar tak mengira. Setelah sekian jam aku menunggumu di meja makan ini, sementara cacing-cacing renta di dalam perut tuaku semakin berteriak saja dari tadi. Namun ketika aku menyambut kepulanganmu, kau katakan kalau kau sudah makan di luar bersama teman-teman sekantormu. Ah, ngilu hati Amakmu ini mendengar kau berkata sejujur itu, Buyung.

“Maaak, Amak makan saja dulu ya, nanti ditemani Lilis. Tapi kebetulan setelah meeting aku sekalian makan malam di luar.” Begitu katamu padaku.

Aku hanya bisa menangis setelah kau berlalu masuk ke kamarmu. Aku merasakan betapa malangnya nasib orang tuamu ini, Buyung. Besarnya harapku bisa makan satu meja denganmu menjadi hancur berkeping-keping setelah kau berkata demikian.

***

Semalaman aku menangisi nasibku ini. Maka ketika kau pulang nanti malam, tak akan lagi kau dapatkan aku mematung menunggumu di meja makan. Aku lebih baik pulang, Buyung. Lebih baik aku menghabiskan hari tuaku di kampung kita. Kota ini terlalu sepi untuk wanita setua aku. Amakmu tidak terbiasa hidup tanpa mendengar kicauan burung, mendengar cericit kelelawar ketika malam mulai menjelang, tapi aku lebih tak terbiasa lagi hidup dengan Iskandar, buah hatiku yang ternyata kini begitu sukses menjadi orang sibuk. Tapi suatu hari nanti, Buyung. Ketika kau tidak lagi sibuk di belantara kota ini, tengok jualah aku ke kampung halaman kita. Atar nama nagari kita itu, Buyung, sampai kapanpun akan tetap bernama Atar. Aku berharap kau tak akan melupakan nama itu. Ajaklah istri dan cucuku turut serta. Biar dia bisa melihat bagaimana perbedaannya aku di kala sepi ketika berkunjung ke kotamu dan ketika aku berada di tengah-tengah karibku di kampung ini. Di Padang Ganting (*)

Serang, 2 April 2011 – 12:33 AM

(*Entah mengapa, malam ini aku begitu merindukanmu, Mak.[i]

[1] Dapur

[2] Kering

Cerpen ini pernah dimuat di koran Tribun Jabar (2011) dengan judul Penantian.

Derita Senampeteen

Derita Senampeteen

            Rega Pratama Chaniago, 17 Tahun. Sehari-hari berstatus sebagai pelajar SMA dan bermimpi ingin kuliah di pulau Jawa, namun sudah beberapa hari ini status itu resmi ditinggalkan Rega dengan pengorbanan yang teramat memprihatinkan. Hari-Hari Rega selalu gak pernah jauh dari dapur, sumur, dan kandang kambing. Selain di ketiga tempat itu Rega menghabiskan hari-harinya dengan sahabatnya yang lain . Rega sendiri merasa udah mengasa satu tubuh dengan mereka. Sebenernya sich Rega punya alasan yang kuat untuk gak bisa lepas dari ketiga tempat-tempat yang menurutya paling seksi itu. Sebagai anak yang baik, Rega tahu betul tentang wajibnya mengabdi  kepada orang tuanya. Nah, hanya dengan membantu Amak memarut kelapa atau memasak air di dapur adalah bentuk pengabdian yang paling tepat menurut Rega yang terlahir sebagai anak pemilik Rumah Makan Pasan Mandeh yang terkenal di Kota Padang itu. Rega adalah cowok kampung yang selalu merasa paling menderita katika harus berhadapan dengan hal-hal baru. Apalagi disaat-saat keberangkatannya dari lembar kehidupan purba menuju kota Metropolitan Jakarta. Waw!…”Gue bakal jadi  membernya komunitas gaul Jakarta, Cuy…” Rega nyengir-nyengir kuda binal.
            Berhasil menjebol Senampeteen dengan perjuangan yang teramat memilukan merupakan prestasi luar biasa yang patut diancungi jempol buat Rega. Bagaimana tidak, Rega berjuang sampai tetes darah penghabisan. Gak cuma darah biru Rega yang dikuras sampai kering, tapi juga isi dompet Rega pun diperas sampai licin. Usut-punya usut, ternyata kebangkrutan Rega berawal dari keikutsertaanya dalam layanan sedot pulsanya Ki Jaka Geblek sama Mama Orange.
            “Mau sukses SNMPTN dengan tanpa susah-susah belajar? Gampang! Kamu tinggal Ketik REG (SPASI) AURA kirim ke 1234. Kamu bisa download poto-poto ekslusif saya sepuas-puasnya dan SMS yang kamu terima langsung dari Handpone saya. Buruan” Lho???!!!
            Akhirnya berkat usaha yang berkesinambungan dan disertai doa yang mendalam, Rega sukses menjawab soal-soal Senampeteen yang teramat kejam itu. Dari dua puluh lima soal, Rega berhasil membuat sembilan  soal Matematika Dasar bertekuk lutut. Lima soal Fisika terkapar tak berdaya dan tujuh soal Kimia menyerah setelah Rega praktekin sikap lilin segala cuma buat mutusin jawaban A atau B. Penderitaan Rega gak berakhir sampai di situ. Menurut Rega perlakuan lembut terhadap LJK senampeteen merupakan ujian yang sangat berat. LJK gak boleh kena keringat, gak boleh ketilep, dan gak boleh kena kotoran. Selama ini Rega sudah terampil ngelakuin sesuatu dengan powerfull dan bersimbah keringat. Katanya sich, pamali kalo cowok ngerjain sesuatu gak keringetan. Pokoke be a Man, kudu berkeringat. Wuih…! Opini Rega sich cukup masuk akal. Kapan selesainya kalo marut kelapa kayak nyebokin bayi atau susu kambing gak bakalan keluar kalo gak disertai dengan energy yang optimal, tentunya juga mempertimbangkan keergonomisan posisi kerja. Kadang-kadang Rega juga ikut menyertakan sedikit napsu agar keluarnya susu lebih lancar. Napsu merampas susu kambing buat dijadiin suplemen penambah tenaga. Kata kakeknya sich begitu. Dadih susu kambing dicampur madu akan membuat stamina terjaga dan fit selalu. Benar apa gak, Rega sendiri pun gak tahu.
***
            Juli 2008, udara Kota Padang semakin kering, sekering mata Rega yang selalu meluapkan kristal-kristal bening bersama butir-butir doa yang dia lambungkan setiap sujud sepanjang malam.
            “Ya Allah, luluskanlah hambaMu  yang ganteng ini dari Senampeteen yang sangat kejam. Amin.”
            Hari-hari dilewati Rega dengan penantian yang terasa amat panjang. Rega bener-bener kepikiran dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi saat dia memasukkan kode akses ke www.snmptn2008.ac.id dan dengan manis akan keluar statement yang paling mengesankan seumur hidupnya.
            “Selamat! Anda REGA PRATAMA CHANIAGO dinyatakan lulus di jurusan Ilmu Pijit Universitas Mak Eerot”. Tragis!
            Bisa dibayangin, saat itu ayan kronisnya Rega bakal kambuh  ditandai gejala kejang-kejang, klepek-klepek gaya ayam kena cekek dengan mulut berbusa. Lalu dia bakal ngesot dengan mata juling ke arah pintu. Hahahaha, sebenernya itu cuma akal bulus Rega biar bisa kabur dari warnet. Dasar muka gratisan! Bener-bener kriminal. Belakangan Rega berpikir kalo ide ngeluarin busa dari mulut bisa juga dijadiin andalan untuk buka usaha cuci mobil. Wakakakaka. Garing!
            Tapi ternyata Dewi Fortuna masih berpihak pada Rega. (Sayangnya Dewi Persik malah milih gabung dengan mas Dani.) ” Knapa gak sama gue, coba?” pikir Rega. Padahal kalo diliat dari kacamata Bung Karno, Rega gak beda-beda amat ama Rezky Aditya. Hanya saja Rezky Aditya lebih ganteng dan terkenal sementara Rega lebih jelek dan Mak Lampir ajah amit-amit mau kenalan sama dia. Masa?
            Rega semakin panik setelah mendapat telpon dari Irfal. Sahabat Rega yang tingginya sungguh biadab untuk ukuran orang Indonesia. Apalagi bila dibandingin dengan rata-rata tingginya teman-teman Rega yang kebanyakan gak lebih dari Smekot. Smeter Kotor! Selidik-punya selidik ternyata ranji keluarganya Irfal membuktikan kalo dia merupakan hasil kloning DNA Rega sama Jerapah.” Pantesan rada-rada ganteng dikit. Mungkin bawaan gennya gue kali yah?” Rega kegeeran.
            “Sayaaang… ada teelpoon ..Angkat dooong! Hoooy, ada telpon. Lo budek ya?” YESKIA 1980 klasic Rega nyerocos. (Emangnya ada Ringtone bunyinya kayak gitu????)
            “Hallooo… Dude Herlino disini. Can I help you?” Rega ngangkat hapenya dengan lemas.
            “Ga…ga’, gue lulus di Itebeeee..mbeee…kkk” Si Irfal ngembek dari seberang sana.
            “Apah??…Lo diperkosa embek?” Rega memastikan pendengarannya yang belakangan ini rada-rada terganggu akibat sindrom senampeteen.
            ‘Iyah, gue lulus di itebe, Cuy!” Si Irfal Binti Jerapah malah gak nyambung.
Rega makin gelisah. Geli-geli basah. Pikirannya melayang di udara. Menyeruak kegelapan malam yang semakin pekat. Suara-suara jangrik semakin membuat suasana hatinya semakin galau tak menentu. Oh Tuhan, apakah hamba akan mendapat kabar buruk? Oh tidaaaak!
            “Helloooo, are still with me?” Samar-samar Rega kembali mendengar suara Irfal. Rega diam seribu bahasa.
            “Hellooow, Hey…Gaaa…Gaaa..” yang jelas Rega gak bisa ngomong apa-apa, dia takut kalo kemungkinan terburuk itu benar-benar terjadi.
            “Ga…Slamat yah, lo lulus di UNPAD, yee brati kita deket dong”
Rega kembali diam, namun kali ini dengan mulut sedikit menganga.
            “Whaaaat…..???!!!! are you sure?”
            “Iyah, Exactly Lo kok kayak gak percaya gitu?”
            “Masa sich Faaaal”
            “Beuh, masih gak pecaya! Swear dech…”
            “Huaaaaaaa…..Unpaaaaaad” Rega berteriak sekencang kencangnya. Sampe-sampe semburat sinar muncul di ufuk timur diiringi kokok ayam jantan dan suara alu yang bertalu-talu. Lho, kok kayak ceritanya Dayang Sumbi dan Sangkuriang?
            “Yah, telat lo ekspersinya!”
            Blessing banget dech. Akhirnya obsesi Rega buat kuliah ke Pulau Jawa kesampaian juga. Di benak Rega tiba-tiba bermunculan serangkaian rencana yang bakal dia lakukan di Pulau Jawa nanti.
            “Hmmmm…. gua bakal poto-poto sama Luna Maya, Aura Kasih, Dewi Persik, Asmirandah dan Olga Syaputra. Eitzz tunggu! Kayaknya Olga gak masuk list dech. Hahahaha, Olgaaaa pipis, lup, n gauli dong!
            Namun kegembiraan Rega harus pending sementara waktu. Rega lupa akan hal terburuk yang bakal dia hadapi. Dia bakal ninggalin Ranah Minang yang begitu elok. Tak kan ada lagi tangan lembut amak yang menepuk bahunya di pagi hari untuk bangun. Tak akan ada lagi kambing-kambing kakek yang menurutnya binatang paling setia. Tak kan ada lagi para sahabatnya yang imut-imut..tak kan ada lagi semuanya. Tidaaaaak……!
            Rega yang awalnya begitu hepi dinyatakan lulus di Unpad berubah menjadi sosok yang amat menjijikkan. Rega jadi malas mandi, malas makan,  malas tidur, dan malas semuanya. Wajah Rega kucel banget, rambut acak-acakan, pipi cekung, dan ingus dimana-mana . Ditambah lagi dengan boxer yang udah bau banget dan kaus Miki Curut yang sobek di sana-sini. Sebenernya Rega butuh sedikit keberanian saja buat turun ke jalan sambil ngorek-ngorek tong sampah sehingga perannya sebagai gembel semakin sempurna.
            Rega memang tipe orang yang gak bisa menerima setiap perubahan besar dalam hidupnya. Dia benar-benar belum siap kehilangan teman-temannya yang sehati tak serahim. Apalagi Si Irfal yang selalu nyebokin dia, Nepit yang selalu nina bobokin Rega kalo lagi rewel, dan Syawelly yang kadang-kadang mirip Amaknya Rega. Kalo rega lagi laper dan nangis kenceng Syawelly langsung netekin Rega ampe merem. Damai banget hidup yang dijalani Rega dikelilingi orang-orang yang ia cintai. Walau kadang-kadang mereka usil ngerjain Rega, seperti Syawelly yang sering netekin Rega pake jempol kaki. Huek!
            “Sayaaang…ada telpoon..Angkat dooong! Hoooy, ada telpon. Lo budek ya?” YESKIA peliraan Rega kembali berdering.
            “Halloooo….” Rega menjawab.
            “Ga…Ga…ternyata lo lulusnya gak di Unpad Bandung, Ga”
            “Maksud lo, Fal?” yang nelpon Rega adalah Irfal
            “Iyah, ternyata lo lulus di Unpad Padang”
            “Apah???!!! Emang Unpad ada di Padang? Rega makin tak percaya
            “Ada Ga…Unpad. Universitas Negeri PadangPariaman!”
Rega shock banget ngedenger penjelasan Irfal. Baginya ini ibarat mimpi saja. Mimpi untuk kuliah ke pulau Jawa yang akhirnya benar-benar pupus. Namun setidaknya Rega harus bahagia karena masih tetap bisa gila-gilaan sama sahabat dan tentunya kambing-kambing seksi yang sudah gak bisa dipisahin lagi sama Rega.
                                                                                                            Serang, September 2008
                  *Teriring salam buat kawan-kawanku di Kota Padang…Lup U Guys!
            NB: Cerpen ini terinspirasi waktu awal-awal saya jadi mahasiswa, lagi telponan sama temen yang di Padang. “Eh, si Fulan lulus di mana sih?, “Katanya sih di Unpad, “Hah? Akhirnya kesampean juga impian tuh bocah kul di Bandung ya”, “Bukan unpad Bandung, Det!, “Lahh? Jadi?”, “Unpad Padang,!!! “,,,,,,????”.
Kembali saya tekankan: Tidak ada unsur pencemaran mana baik di sini. Okey? Be Real, Guys!!! Lo semua udah pada gede, ini negara demokrasi.
Tersenyumlah, Dek!

Tersenyumlah, Dek!

Ada yang mengganggu relung hatimukah, Dek? Hingga membuatmu menangis semalaman tanpa jeda. Kau buat pipimu menjadi basah karenanya. Masih adakah lara yang kau simpan yang membuatmu terisak tanpa suara? Ada yang membuatmu tersakitikah, Dek? Hingga kau tak mampu memandang lurus ke depan. Kau tak mampu mengangkat kepalamu sekedar melihat. Kau tak mampu berkata sekedar untuk menyapa. Bahkan untuk tersenyum pun tak bisa kau lakukan. Separah itukah luka di hatimu? Hingga mentari pun tak mampu menghangatkanmu. Dan hujan pun tak mampu menghentikan tangismu. Awan pun seperti enggan untuk bergerak walau hanya perlahan. Jangan sakiti dirimu jika dia bukan untukmu. Biarkan dia pergi darimu. Biarkan dia mencari jalannya sendiri. Biarkan dia menemukan cinta yang tertulis untuknya. Mengertilah bahwa dia tak ditakdirkan untukmu, dan dia memang bukan milikmu. Cinta, tak seharusnya membuatmu terluka, jika kau menyadari betapa cinta begitu indah. Cinta tak akan menyakitimu jika kau mengerti hakekatnya cinta selalu memberi tanpa pamrih dan cinta tak mengharap pembayaran karenanya. Cinta, melepaskan demi untuk kebahagiaannya juga cinta. Mengikhlaskan dia menjauh pun juga cinta. Mendukungnya dalam doa juga cinta. Walaupun kau tak bisa mendapatkannya, tapi cintanya pernah kau dapatkan dan kau rasakan. Dengarlah! Ketika kau harus pergi darinya, dunia belum berakhir. Masih ada yang lebih baik darinya di luar sana, yang akan menghampirimu dengan cinta yang terbalut indah karena Allah mengirimkannya untukmu. Karena Allah tahu yang terbaik dan pantas untukmu. Karena Allah lebih tahu siapa dia yang sesungguhnya. Sabarlah! Jika perjalananmu masih teramat jauh. Allah masih mengujimu, karena dengan begitu kau akan selalu dekat denganNya. MembutuhkanNya, merindukanNya. Karena sesungguhnya hanya cinta Allah yang paling haqiqi. CintaNya tak menyakiti, cintaNya tak membuatmu merasa sepi. Doaku selalu untukmu. Semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu. Senyumlah, Dek! Karena senyummu selalu kutunggu (*)