+62 821-1040-9641 chogah.dd@gmail.com
Dudul Note 
episode Taksi Goyang VS Taksi Songong

Gue punya banyak cerita duka dan suka (atau suka duka? sama aja!) tentang taksi. Dan dudulnya lagi semua cerita gak bermakna itu terjadi di Jakarta. Hahahaaa. Ini salah satu rangkaian kisah yang membuktikan kalo gue adalah tipe rantauer yang katrok dan dudul abis. Well, pengalaman pertama terjadi sekitar awal tahun lalu. Gue sama Gank M-Blee (Naminist si peta berjalan, Hilal, dan Hardia) abis meeting di daerah Lenteng Agung. Sebenernya siy meetingnya jam 5-an udah selse, tapi berhubung kita adalah gerombolan anak muda yang penuh gelolak dan haus akan rasa ingin tahu (gue gak suka tempe), kita memutuskan untuk keliling Jakarta sampe puas. Wakakakaka. Songong yang salah tempat. 
For the first, kita menuju Mall Grand Indonesia. Awalnya gue yang sempat shocked banget liat isi si Moll. Waks! Beda banget sama Moll Moll yang gue temuain di Serang, yang ujung ke ujungnya bisa ditempuh dalam waktu 2 menit dengan kecepatan 2 meter/ secon. Lah di Grendi ternyata guede dan aromanya beda, Cyyyn. Gue sampe mendengus kayak bebek berahi, untung aksi bego gue itu diketahui oleh Hilal dan doi berhasil menghentikan kebiasaan jorok gue dengan cara yang sangat biadap *Pletak! Kamseupay luuu!!!
Dan yang paling surprais, yang super duper heboh, kita ketemu rombongan marawis asal Bandung di Grendi, Yoyoi! Kahitna! *Itu bukan Marawiiiiiis, Oncoom!* (Bukan M Blee namanya kalau gak sukses memaksa anak Kahitna buat poto bareng sama kita).
pic 2. “setelah berhasil meyakinkan Mario Kahitna kalau kita adalah grup band nyasar.”
Puas keliling Grandi disertai aksi lari-lari kecil seantero Gramedia cuma buat numpang poto dengan backround buku antologi kita *yang mau lempar kacang, silakan!* berhasil membuat kita menjadi segerombolan bocah kelaparan yang tak tau malu mangap-mangap keluar Mall. Hahahaa. And you know?Akhirnya setelah melewati perdebatan yang lama dan gak bermanfaat, keputusan jatuh pada angkringan seberang Grandi sebagai tempat kita makan malam. Heis! Dasar gembel modal keren! 
But, itu salah satu makan malam paling romantis gue sepanjang hidup di dunia ini. Baru kali ini gue makan dengan suasana redup lampu templok, diiringi deru kendaraan ibukota dan suara gemericik air mancur bunderan HI. Hihihiiiii.
Pukul 10 kita baru sadar ternyata sudah menggelandang di ibukota hampir setengah hari *yang ini lebay*. Dengan sangat terpaksa akhirnya kita memutuskan untuk kembali ke kandang masing-masing. Gue sama Hilal ke Serang, Hardia ke Tangerang, dan Naminist ke Jakarta Timur. Ei, gue lupa, petualangan kali ini kita kedatangan bintang tamu Mas Nikotopia. 
Berhubung malam banget, bus way juga udah jijik banget untuk dinaikin sama kita, akhirnya si Naminist dengan super songongnya menawarkan buat naik taksi. 
“Naik taksi aja yuk!” Waks! Ini cewek bener-bener super duper gila! 
“Gila lu, mahal kali dari sini ke Rambutan.”
“Murah kook, cari taksi yang bisa digoyang aja!””Hah! Maksudnya apa siy?” Sumpeh! Sebagai pelanggan ojek dan angkot gue gak ngarti.
“Taksi goyang?” serobot Hilal.
Otomatis di Nami sama Hilal ngakak sampe ejakulasi. Isssh! Gue makin cengo kayak kambing napsu. 
Akhirnya dengan alasan tidak mau jadi gelandangan Jakarta, kita meloloskan proposal si Nami buat menggoda supir taksi yang khilaf mengira kita anak Band yang lagi nyasar. Selamat Namiiii! *jorokin rame-rame*
***
Gue sempet prihatin liat muka Hardia yang pucet pasi begitu masuk taksi. 
“Kenape lu, Cong?”
“Kagak.” Jawabnya datar sok cool gitu.
Akhirnya dari raut mukanya gue tau si Hardia lagi cekak. *sama, gue juga* Wakakakakaka. Untungnya si Nami lagi kaya, royalti novelnya baru cair Cyyyn.
Akhirnya kita sampe Rambutan dengan selamat sehat wal afiat. Gue, dan Hilal lanjut ke Serang, dan si Nami kembali ke peradabannya lembah Cijantung, sementara Mas Niko ngesot menuju BSD. Eh, berhubung si Hardia kagak tau mau pulang kemana, taudah dengan ala kadarnya kita menerima dia untuk ikut nebeng bus ke Serang dan dibuang di jalan Tol Bitung, untuk seterusnya biarkan Hardia mencari kehidupannya sendiri. Hakakakakakakakak.
Sepanjang Jakarta-Serang, otak gue dipenuhin tanda tanya tentang taksi goyang. What is the meaning of Dancing Taxi? Gue niat browsing, sial! Hape gue mati gak tau malu. Akhirnya hasrat yang menggebu untuk mengunggkap misteri taksi goyang gue pendam sampe di Serang. (Bersambung)
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Pelangi Sehabis Hujan Selalu Lebih Indah Pelangi Sehabis Hujan Selalu Lebih Indah18 Maret 2013Badan kurus saya masih terasa pegal, sepulang ‘ngobrol’ cukup lama dengan Ge Pamungk...
Nak, Jadilah Seperti Om Mushfi! Nak, Jadilah Seperti Om Mushfi!Tulisan di bawah ini hanya luapan sok tahu penulis, jadi jangan terlalu dihayati!Dear, Anak Ayah.Nak, ta...
Ooo, Ternyata Begini Rasanya Ooo, Ternyata Begini RasanyaMinggu, 27 Januari 2013Seumur-umur saya tidak pernah mendapat pelajaran jurnalistik secara formal. Zaman S...
Surga VS Neraka Surga VS NerakaAda beberapa tanya dalam hidup ini yang tidak butuh jawaban—lebih tepatnya, tidak pantas untuk dipertanyakan. Semisal doa-doa pad...
MENDZOLIMI JAKARTA Sepinter-pinternya orang, pasti kalah sama orang cerdas. Secerdas-cerdasnya orang, pasti kalah sama orang pandai. Sepandai-pandai tupai melompat, p...
Oleh-Oleh buat Nyokap Sudah cukup lama gue gak curhat di kolom CurCol. Hari ini, tiba-tiba gue pengen cerita. Tapi ini bukan tentang kegilaan dan kesialan yang gue alami. H...
Galau Maning, Soooon. Galau Maning, SoooonEduuuun; gue selalu gak habis pikir sama 'otak' gue yang sebenernya gak bego-bego amat. But, kenapa tiap akhir semester gu...
Di Rumah Kami, Di Banten Muda Banyak CintaDi Rumah Kami, Di Banten MudaBeberapa hari yang lalu saya mengirim SMS ke Mak di kampung. Seingat saya, terakhir kali kami ...
Bagikan tulisan ini: