+62 821-1040-9641 [email protected]

Rantau
berkalang rindu, 26 Juni 2015
Saya
merasa berdosa pada halaman yang dulu saya bangga-banggakan ini. Halaman yang
pernah begitu setia mendengar semua ceracau kacau saya, tanpa protes. Tapi…
lihat! Update-an terakhir saja beberapa bulan yang lalu, itu pun bekas artikel
yang pernah dimuat di Majalah Swara Cinta yang kembali saya posting. Anjaaai,
ke mana diri saya yang dulu? Saya kehilangan dia.
“Udah
lama, ih, Annis gak main ke blog Kak Chogah, ada postingan baru gak, Kak?”
tanya Annisa Sofiah Wardah, adik kelas di Untirta yang mengaku pembaca blog ini
dari dulu. Tapi sekarang Annis jadi keluarga saya di Dompet Dhuafa Banten.
Alhamdulillah, dia sangat antusias ketika saya share info open recruitment
Sahabat Ramadhan DD Banten 1436 H.
Saya
ngakak keras. Kemudian malu sendiri. “Ya ampun, sudah lama sekali saya nggak
nge-blog, thanks, Annis, sudah mengingatkan,” saya membatin dalam hati.
“Hahaha…
nanti, insya Allah Kakak update, ya. Mampir, dong!”
ucap
saya ketika tadi selepas berbuka puasa di kantor Dompet Dhuafa kepada Annis.
***
Sekian
lama melupakan blog ini, sekian lama pula saya mengendapkan mimpi-mimpi. Entah
kini separti apa rupa mereka. Barangkali sudah mengeras, menjelma bebatuan
keras di dunia tak nyata sana.
Saya
adalah lelaki yang terlahir sebagai seorang pemimpi. Aduhai, tanpa mimpi,
apalah saya ini….
Mimpi…
ya, mimpi. Mimpi yang pernah menjadi napas. Mimpi yang pernah menjadi alasan
kuat bagi saya untuk bertahan hidup di rantau ini, tak pulang-pulang sekian
kali Lebaran.
Eh,
sekarang umur saya berapa tahun, ya? Hahaha. Beberapa kali ulang tahun dalam
rentang dua, tiga tahun terakhir saya tak mau mengingat umur. Sebentar, saya
pinjam jari-jemari saya untuk menghitungnya…. (diam)… hei, saya masih 26
tahun! (diam lagi). Arg! Itu angka yang tua, Saudara-saudara!
Hfff,
di 26 tahun ini apa yang sudah saya capai? Sejauh mana saya menepati
janji-janji saya kepada mimpi yang kami pernah hidup harmonis itu?
Main Film
Mungkin
ini mimpi paling konyol dari si anak kampung ini. Dulu, ketika saya belum
insaf, bermain film (saya malu menyebutnya pengin jadi artis) adalah salah satu
mimpi yang pernah bersarang di dada kempes ini. Beberapa kali saya pernah
ikutan audisi pencarian bakat. Lokal maupun nasional. Hasilnya? Ya… sukses,
dong! Sukses ditolak. Hahaha. Tapi, paling tidak, saya punya cerita konyol yang
kelak akan saya bagikan kepada anak-anak saya. (Doakan saya cepat nikah, ya).
Eh,
omong-omong main film, 2013 lalu saya pernah terlibat dalam project pembuatan
film pendek yang digagas Komunitas Kremov Pictures. Film yang mengangkat
sejarah pahlawan Banten Ki Wasyid. Kalau mau melihat akting jelek saya, bisa
ditonton di di bawah, ya!

Lalu
sekarang apa? Sudahlah, bukan saatnya lagi saya larut dalam angan yang
sepertinya sulit terwujud itu. Saya juga udah tobat. Apalah hidup ini, hanya
sementara. Yang penting bahagia, toh? Anjaaai! ^_^
Punya Buku Solo
Yeah!
Jelek-jelek begini, nama saya pernah menghiasi beberapa majalah remaja ibu
kota, lho. (Yang mau muntah silakan, yang mau pesen buku SMS Terakhir, silakan
mention saya di Twitter, ya! Hihihi).
Ya,
saya sedih, beberapa majalah yang pernah memuat cerpen-cerpen saya harus kolaps
aka. gulung tikar. Kenyataan itu diperparah dengan hasrat menulis saya yang
ngedrop drastis. Menulis fiksi maksud saya. Entahlah, saya berpikir hidup saya
ini udah terlalu drama, tidak perlu didramatisir lagi, kali, ya…. Wkwkwkwk.
Tapi
meski demikian, orang jelek ini pernah juga merasakan memiliki buku tunggal.
Yes! SMS Terakhir, kumpulan cerpen saya dipinang Sheila (imprint Penerbit Andi)
dan terbit di sana. Setahun kemarin buku itu mejeng di toko buku. Bangga?
Jangan ditanya!
 

Buku Kumpulan Cerpen saya yang diterbitkan Penerbit Andi, Yogyakarta, 2013.
Lalu
sekarang apa? Saya membiarkan hidup saya mengalir. Keinginan untuk melahirkan
buku-buku selanjutnya tetap panas di dalam dada saya. Soal kapankah itu, sekali
lagi, biarkan mengalir dan tunggu indah pada waktunya. Ciaelllah!
Saya
tengah menikmati keseharian saya di Dompet Dhuafa. Dompet Dhuafa itu adalah
sekolah, dan saya salah seorang murid yang haus menimba ilmu di sana.
Saya
ceritakan sedikit ya, mengapa saya bisa “terdampar” di non-govermental
organization ini.
Setahun
lebih yang lalu, persisnya Februari 2014 saya melamar di Dompet Dhuafa.
Ceritanya bermula ketika kesuliatan hidup saat itu datang menyapa, saya baru
saja resign dari perusahaan fabrikasi di Kota Baja, Cilegon. Padahal saat itu
saya lagi butuh-butuhnya biaya, tak sekadar untuk melanjutkan hidup, tapi Tugas
Akhir saya sebagai mahasiswa tua juga tengah di ujung tanduk saat itu.
Dalam
keadaan kelaparan, saya mengirim pesan via inbox Facebook Dompet Dhuafa Banten.
Seperti ini bunyi pesan inbox itu:

Assalamualkum. Selamat
pagi, Dompet Dhuafa Banten. Apakah di DDB masih ada lowongan pekerjaan yang
bisa saya kerjakan. ^_^ Oh ya, perkenalkan, saya Iwan, mahasiswa
tingkat akhir Teknik Industri Untirta dan tinggal di Serang. Saya berniat di
masa pengerjaan Tugas Akhir saya punya kegiatan lain. Saya bisa mengoperasikan
komputer (Ms. Office, blogging). Di samping itu saya pernah bekerja part time
sebagai staf administasi di sebuah perusahaan, serta memiliki beberapa
pengalaman menulis di media massa. Sekiranya di DDB ada pekerjaan yang bisa
saya kerjakan, dengan senang hati Admin mau mengabari. Terima kasi sebelumnya.
Wassalam. – Setiawan C

Ya,
pesan itu saya copas, murni tanpa edit. Barangkali di sanalah Allah meletakkan
rezeki si anak malang, inbox itu langsung dibalas, yang intinya meminta saya
untuk datang ke kantor Dompet Dhuafa Banten untuk walk-interview. What? Saya
sempat terperanjat, Allah demikian cepat menjawab doa saya. Alhamdulillah.
Singkat
cerita, di hari wawancara, saya angkut semua majalah dan koran yang memuat
tulisan saya. Di hadapan Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten saat itu, Mas
Imam Baihaqi, saya ceritakan bahwa saya bisa menulis dan biasa nge-blog.
“Kamu
bisa desain grafis?” tanya Mas Imam waktu itu.
Saya
diam beberap detik. Memang, meski gak pintar-pintar amat, saya tahu kalau
software olah foto itu namanya Photoshop.
“Bisa,
Mas!” jawab saya lantang. Soal bisa atau tidak, itu urusan nanti, yang penting
saya bisa bekerja di Dompet Dhuafa.
Usai
interwiew, saya pulang dengan segudang kekhawatiran. Ya, bagaimana tidak
khawatir. Kan saya nggak bisa Photoshoooooop! >,<. Oke, kita masuk ke
sesi pengakuan doa. Sore itu saya langsung ke toko buku di salah satu mall di
tanah rantau ini. Sekitar 3 jam saya mojok cantik ditemani beberapa buku
Photoshop dan Corel Draw. Saya baca lamat-lamat. Beberapa bagian penting
seperti membuat teks, cropping, membuat ukuran workspace, dll, saya foto. Kan
saya sudah bilang kalau kondisi saya lagi kere, jadi mana mungkin membawa buku
itu ke kasir? >,<
Alhamdulillah,
sudah dua kali Ramadhan saya di Dompet Dhuafa. Setahun pernah menjadi relawan
yang pekerjaan saya menulis, admin website (eh, bukan, ding, waktu itu DD
Banten masih pakai blog gratis dari Google, aka. blogspot). Tapi jangan anggap
remeh, blog itu pernah dinobatkan sebagai penyumbang nomor satu brand awardness
Dompet Dhuafa secara nasional. Tepuk tangan!
Selain
jadi admin blog, saya juga tukang cetak-mencetak; spanduk, backdrop, dll
(tentunya dengan desain ala kadarnya waktu itu).
Tapi,
bukan saya kalau bukan gila-gilaan belajarnya. Banyak tutorial Photoshop saya
unduh dari Youtube. Saya tonton berulang-ulang, saya praktikkan, ah,
menyenangkan sekali.
Setahun
berlalu, saya diangkat ke posisi corporate communicatios, yang notabene tugas
saya tentu lebih menantang dan menyenangkan. Saya berurusan dengan press
release, bertemu dengan teman-teman wartawan, mewawancara penerima manfaat
program Dompet Dhuafa. Ah, hati ini rasanya penuh sesak oleh kisah-kisah haru
biru mereka. Awalnya., saya mengira adalah makhluk paling malang yang diciptakan
Allah, tapi di luar sana? (Hening).
Enam
bulan kemudian, Pimpinan Cabang yang baru memberikan tantangan baru. Entah apa
alasan beliau menawarkan jabatan yang membuat saya merinding itu ditawarkan
kepada saya; Resource Mobilization Manager. What?!! Manager, Boy! Manager!
Wait!
Saya menolak. Buka jabatan yang saya kejar. Saya sadar tentang siapa diri saya,
yang me-manage diri sendiri saja masih belum mampu. Saya diberi waktu satu
minggu untuk berpikir.
  
Oh
tidaaak!? What should I do? Hah?!!
Di
hari terakhir saya letakkan surat penawaran itu di meja atasan. Coba tebak apa
jawaban saya! OKE, SAYA TERIMA. Hahaha. Ya, mungkin saat itu pikiran saya
tengah error.
Diamanahi
sebagai Manajer REMO, mau tidak mau saya kudu belajar semakin keras. Buku-buku
bertema leadership berserakan di kamar saya. Kenangan masa-masa kuliah kembali
saya bongkar. Di situlah kadang saya merasa sedih, pengin meraung-raung.
Andai… andai dulu saya rajin masuk kelas mata kuliah Strategi Korporasi, atau
Manajemen Bisnis, Manajemen Risiko, dan jemen-jemen yang lain, tentunya itu
akan sangat membantu. Untungnya, materi-materi itu bisa saya baca kembali di
buku-buku yang ada di toko buku (terima kasih, toko buku). Beruntung pula, Mas
Usman, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa saat ini begitu mendukung timnya untuk
terus belajar, entah itu melalui training, seminar, maupun capacity building
yang diadakan lembaga.
Lalu
apa sekarang? Ya, waktu saya habis di DD. Hidup saya saat ini untuk DD. Saya
tersiksa? Tidak… justru inilah salah satu mimpi yang Allah wujudkan (padahal
saya tidak pernah memimpikan ini). Ah, Allah Mahabaik, SisBro… Mahabaik.
Mimpi…
saya masih terus bermimpi. Mimpi punya buku kedua, ketiga, keempat, dan
seterusnya. Mimpi kelak bisa seperti para muzzaki yang menjadi donatur Dompet
Dhuafa. Mimpi menghabiskan mata tua di kampung. Dan tentunya yang paling urgent
untuk segera di-aamiin-kan, mimpi untuk membina rumah tangga. Anjaaai! Hihihi.
Aamiin.
Kepada SisBro yang rela menyumbangkan waktu berharga kalian untuk
membaca postingan ini, rawatlah mimpi-mimpi kalian. Karena apa yang tidak
kalian mimpikan saja Allah pasti akan kasih, apalagi yang kalian mimpikan, dan
kalian mengerahkan effort yang besar untuk mewujudkan mimpi itu. Keajaiban itu
nyata adanya! 
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Insomnia Brengsek Insomnia Brengsek Minggu ini, penyakit paling brengsek saya kembali kumat. Pokoknya brengsek! Kalau saja saya diberi beberapa pilihan, dan ad...
Terakhir Kali Saya Terharu Terakhir Kali Saya Terharu Saya itu tipe orang yang susah sekali menghayati sesakralan sebuah peristiwa. Apapun itu bawaannya selalu 'cengenge...
MANTAN 4L4Y Bererapa minggu ini gue paling jijik yang namanya Alayer! Bukannya gue sok iya ato mau merasa paling bener sih. Tapi sumpah, di beranda Facebook gue...
Surga VS Neraka Surga VS Neraka Ada beberapa tanya dalam hidup ini yang tidak butuh jawaban—lebih tepatnya, tidak pantas untuk dipertanyakan. Semisal doa-doa pad...
Aku, Mimpi, dan Tuhan Aku, Mimpi, dan Tuhan Kadang aku berpikir, Tuhan ternyata begitu telaten memprogram hidup setiap ciptaanNya. Semuanya terencana dengan ...
Hepi Bes De, Ahmad Nurul Huda ‘Uyung’ Hepi Besde, Uyung Gue tipe orang yang suka berteman. Dengan siapapun! Gak peduli dia orang kaya, gaul, pinter, oon, introvert, tukang ngut...
Sampai Mati pun, Aku Tidak Akan Melupakan Ini, San Sampai Mati pun, Aku Tidak Akan Melupakan Ini, San Oleh Setiawan Chogah  (Dimuat dalam antologi 'Seorang Nenek di Bawah Pohon Kasturi; 5...
Ikutlah Bersama Saya, Kawan! Ikuti Kompetisi Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2011. Klik di SINI Menebus Mimpi dari Menulis Cerpen perdana di Tribun Jabar   ...