+62 821-1040-9641 [email protected]
Ikuti Kompetisi Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2011. Klik di SINI
Menebus Mimpi dari Menulis

Cerpen perdana di Tribun Jabar

     
          Saya selalu merasakan sensasi luar biasa setiap kali menerima/
mengambil honor tulisan. Begitupun tadi siang. Kondisi ‘dompet’ saya
lagi sereg-sementara kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM)
tinggal hitungan hari. Saya lagi butuh daya cepat. Dan keputusan untuk
tidak menerima kiriman dari kampung sudah saya ikrarkan semenjak
memutuskan untuk berkuliah keluar dari Sumbar. Bukannya tidak mau
menerima kiriman, tapi memang kondisi orang tua yang tidak memungkinkan
untuk itu. Bukan pula mengumbar ‘kemiskinan’ keluarga, untuk makan dan
sekolah adik-adik tercukupi oleh bonyok itu sudah sangat Alhamdulillah.

        
Dan yang namanya mahasiswa tentu tidak luput dari yang namaya biaya!
Biaya SPP, biaya makan, uang kost-an, transportasi, biaya nonton (heh!),
biaya foto copy, dan biaya-biaya lainya. Lalu ketika melihat kondisi
dompet yang kosong melompong, aduhai! Saat-saat seperti inilah yang
paling menyedihkan bagi seorang mahasiswa perantauan yang jauh dari
orang tua.
           Pengalaman itulah yang menuntut saya
untuk memutar otak. Saya harus tetap menjaga cita-cita dan harapan Abak
dan Amak saya di kampung. Saya harus menyelesaikan kuliah saya. Saya
butuh uang!
Entah dari mana datangnya. Mungkin hanya Tuhan yang
tahu, jalan itu saya temukan dari menulis. Ya! Menulis. Karena
menulislah usaha yang tidak membutuhkan modal besar. Apasih modal untuk
jadi seorang penulis? Cuma 26 abjad A sampai Z dan beberapa tanda baca. Laptop, printer, email,
amplop; itu hanya pelengkap saja saya kira.
         
Tidak terasa malam ini sudah berada di Juli 2011, itu berati sudah
hampir satu tahun pilihan ‘menulis’ ini saya jalani. Memang sebuah
perjalanan yang belum terlalu lama. Tapi jangan dikira satu tahun itu
saya lalui dengan mudah. Pernah mengalami yang namanya tertatih,
lerlunta, merana, dan berdarah-darah. Saya masih ingat ketika
ditertawakan teman satu gank saya, ketika saya sibuk mengirimi
berbagai redaksi koran dan majalah dengan cerpen-cerpen ‘jelek’ saya
satu tahun yang lalu. Ketika kami berpapasan atau sedang menikmati
sepiring nasi goreng dan segelas the Sisri seharga Rp 6000 di takol,
sering kali guyonan yang sebenarnya bikin nyesek saya dengar.
“Hallo calon penulis…” , “Penulis gagal!” lalu tawa kami pun pecah.
Tertawa! Ya, saat itu saya ikut tertawa, padahal hati ini perih. Tapi ya
sudahlah! Ini konsekuensi yang harus saya terima dengan keputusan untuk
‘murtad’ dari jalur saya sebagai mahasiswa teknik.
             
Dan hari ini, perih itu setidaknya sudah terobati. Memang jumlah honor
yang saya terima tidaklah seberapa. Tapi dari sanalah dana KKM saya
tutup, dari sana juga saya bisa mengisi ulang pulsa modem saya, dari
sana saya bisa merasakan nyamannya memakai kemeja, kaos, dan sepatu
beraroma distro. Dari sana pula saya berkesempatan merasakan sensasi update
status melalui Blackberry. Karena menulis saya jadi tahu bedanya minum
secangkir kopi instan yang saya beli di warung sebelah kost-an dengan
coffee di Starbuck, dari menulis saya jadi merasakan bagaimana
rasanya nyasar di Jakarta. Ah! Mungkin ada yang berpendapat, cuma itu
yang didapat dari menulis? Howek! Hei! Ini bukan pengalaman biasa buat
saya, kawan. Mustahil saya bisa mendapatkan itu semua kalau saya tidak
berani untuk menulis. Mustahil saya bisa ber-say hello dengan
Pipiet Senja, haha hihi dengan Fahri Asiza, Gol A Gong, Tias Tatanka,
Triani Retno, atau berdiskusi mengenai sastra dengan Guntur Alam,
bersahabat dengan Syamsa Hawa, Senda Irawan, Donatus A Nugroho, Benny
Arnas, atau Asma Nadia. Bah! Ini bukan sebuah pengakuan kesombongan
saya, sungguh bukan sama sekali.
             Lalu
bagaimana mekarnya pipi saya, bagaimana saya menahan haru ketika
mengirimkan kerudung buat Amak, kemeja Batik buat Abak, dan pulsa ketika
si Icen mengirim saya SMS “Uda, minta pulsa Cen yo”. Dan ketika si
bungsu Rafly yang meminta dibelikan buku dan tas sekolah ketika dia
kenaikan kelas kemaren. Seketika kenangan membawa saya ke masa 10 tahun
silam. Dulu setiap kenaikan kelas, saya selalu mengirimkan surat ke Mamak dan Etek
saya di Pekanbaru. Isinya tak lain minta dibelikan buku dan seragam
baru. Hahahaaa, dan sekarang giliran saya yang dapat ‘teror’ itu dari si
Rafly.
           Ayolah kawan. Ikut dengan saya. Kita
menulis bersama. Saya tidak meminta kalian untuk investasi seratus ribu,
dua ratus ribu, atau tiga ratus ribu ketika diajak ikut MLM. Kalian
tidak harus menyewa tempat untuk buka lapak ketika berjualan asesori.
Hanya selembar kertas dan pulpen. Itu tok! Ayo kita berpetualang ke
dunia fantasi, ayo tuangkan uneg-uneg kalian lewat tulisan. Setelah itu
kita nikmati hasilnya.
           Saya punya pengalaman yang saya sendiri tidak pernah memikirkannya. Dan saya menilai itu lucu. Begini;
Minggu
lalu saya menerima honor tulisan saya yang dimuat di sebuah koran
lokal. Seperti biasa, setiap minggu saya membiasakan untuk membeli satu
buku. Ini investasi buat saya. Siang itu, dengan kaos oblong dan PDH
Kampus saya mendatangi toko buku Tisera di Mall Serang. Tengah asyik
memilih-milih buku, beberapa ABG berseragam SMA bisik-bisik di sebelah
saya. Karena saya termasuk pemuda yang tidak sombong dan senang
berteman, maka tersenyumlah saya.
           “Ada apa, Neng?’’ saya bertanya sembari tersenyum manis.
           “A’ Setiawan Chogah ya?” sahut salah seorang dari mereka.
          
Saya cukup kaget. Seketika memori saya berputar, mengingat kejadian
apakah saya pernah mengenal mereka. Ah! Rasanya wajah-wajah mereka baru
di mata saya.
           “Hehee… Iya, kok tahu?” Saya cengengesan bercampur sedikit grogi. Ada ABG unyu gitu loooh,
           “Waktu itu liat Aa’ di loncing Gilalova,” jawabnya dengan senyum yang tak kalah manis dengan senyum saya tadi.
           “Oooo…” Saya ber O dengan hati berbunga-bunga sembari berjabat salam dan kenalan dengan mereka.
           
Nah! Bukan bearti saya merasa saya jadi artis. Bukan sama sekali. Tapi
bagaimana mungkin mereka mengenal saya kalau saya tidak menulis di
Gilalova? Lagi-lagi pengalaman kenalan dengan ABG unyu itu gara-gara
menulis.
Bagaimana kawan? Masih ragu untuk ikut bersama saya? Oke…
Saya tidak akan memaksa. Karena menulis itu pekerjaan yang wajib
dilakukan dengan hati. Kalau kalian terpaksa melakukannya bagaimana
mungkin akan melahirkan tulisan yang indah dan menghanyutkan (minjem
slogannya STORY).
            Saya tunggu cerita dari
kalian, siapa tahu cerita kalian lebih wah dan barangkali saya tertarik
untuk ikut serta. Hehee.
Kontrakan Abang, Ciruas-Serang, (Selasa Malam, 12 Juli 2011-11:27 PM)
*Saya
sertakan ucapan terima kasih buat Teh Aiko Ary (Tribun Jabar), honornya
sudah nyampe Teh, Alhamdulillah; bisa makan duren bareng di kost-an
Alm. Abang. Nuhun, ^^
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Menyongsong Pagi, Melawan Lupa Ibu dan Mak Wak selalu berpesan pada saya bila di akhir pekan mereka menelepon dari kampung. “Elok-elok di nagari uwang, Nak! Jan lupo jo joso uwang!”...
Andai Uang Tidak Pernah Diciptakan… Andai Uang Tidak Pernah Diciptakan... Uang..., uang..., dan uang. *silakan inap renungkan tiga kata serupa itu, Teman!* Well, masing-masing ...
Di Balik Nama Setiawan ‘Chogah’ Buat Abang gua yang bentar lagi jadi Sarjana   Aku benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Bang Ardi. Abang yang sudah kuanggap...
Maafin Gue, N. N, malam ini gue ngeliatin foto-foto lu sangat lama. Lama banget! Gak tau kenapa, tiba-tiba saja mencuat suatu rasa ikhlas di hati gue buat nge...
IPK atau SARJANA? IPK atau SARJANA? Seharian ini saya kembali dibuat galau oleh yang namanya perkuliahan. Yaa! KULIAH. Saya sengaja membuat kata itu uppercase b...
HepiBesDe, DR Bego! Gue oon banget dah;  Kenapa gue ampe lupa , kalo hari ini sodara gue si Kancut ulang taon (tu anak ternyata pernah lahir juga, heheee),&nbs...
Guru Saya itu Bernama Imam Baihaqi Serang, 23 September 2014 Barangkali inilah yang disebut relativitas oleh Einstein. Saya mencatat, persis 8 bulan yang lalu saya datang dan melamar...
Terimakasih Estin Terimakasih Estin Hari ini saya lagi bete. Bete se-bete-bete-nya! Apa pasal? Banyak! Pertama; saya lagi emphet banget sama layanan pro...