+62 821-1040-9641 [email protected]

Seharian ini saya kembali dibuat galau oleh yang namanya perkuliahan. Yaa! KULIAH. Saya sengaja membuat kata itu uppercase biar kalian gak terus menglabelling saya sebagai raja galau. Hehehee. Saya suka heran dengan diri saya pasca lulus SMA. Kok susah banget yang namanya menggenjot nilai. Hffff *tarik napas*. Oke, oke! Saya akui saya menjadi manusia yang sangat santai setelah saya menjadi kaum urban yang berpindah dari kampung ke kota ini. Santai dalam pengertian saya tentunya. Saya sudah beberapa kali meng-compare kualitas saya yang dulu dengan saya yang saat ini. Kesimpulannya sungguh memprihatinkan. Decline!
Forget it! Sejujurnya saya tidak mau meratapi kualitas diri saya yang saya katanya sangat menurun itu. Tapi di satu sisi, saya menjadi sangat menderita dengan kenyataan yang harus saya telan. Pait! Pernah juga saya bersikap masa bodoh, tapi pada akhirnya saya sungguh tidak nyaman, saya tahu kalau itu hanya pelarian semata buat saya. Kebenaran yang hakiki itu, ya saya sangat sangat menurun dari segi mutu. MUTU!!! Ya, mutu yang selalu direflesikan ke dalam deretan angka-angka yang sangat saya benci itu. IPK! Kenapa sih IPK selalu dijadikan parameter untuk tingkat mutu seorang mahasiswa. Hfff, jawababnya pasti ‘sudah dari sononya’. Dan saya harus setuju dengan itu.
Hari ini, ada secerca harapan bagi saya untuk meng-increase makhluk yang namanya IPK itu dari derajat yang dinilai ‘hina’ oleh sebagian besar orang. DUA KOMA. Hei! Saya tidak tengah bercanda, lho. IPK saya beneran segitu untuk saat ini. Bisa dibayangkan berapa harga kecerdasan saya kalau dikonversi ke dalam huruf A, B, C, D, E, atau K untuk otak kosong. Zonk!!!
Seperti tadi siang, saya mendaftar sebagai peserta dalam program kampus yang namanya SP (Semester Perbaikan). Saya kembali mengira-ngira sekiranya 7 SKS dari mata kuliah saya yang masih bangga dengan nilai D itu bisa ditendang ke posisi B, IPK saya tetap tidak bisa mencapai 3. Menyedihkan sekali, sodara-sodara. Saya tidak percaya dengan kenyaan yang sudah pasti itu tidak bohong. Saya bukan tengah mimpi buruk. Beberapa kali juga teman saya si Fandi itu menghitung menggunakan kalkulator saintifiknya. Dan hasilnya tetep sama, IPK saya bahagia di angka 2 koma.
Detik selanjutnya, imajinasi brengsek saya menyeret saya kema-mana. Ke dunia yang sangat menyeramkan. Saya membayangkan sekiranya saya lulus dengan IPK yang begitu, perusahaan mana yang sudi menampung saya? Saya membayangkan sekiranya saya pulang ke Padang dengan IPK yang begitu, Amak dan Abak saya tidak mau mengakui saya sebagai anaknya *terlalu ekstrim* Hahahahaaa.
Well, passion saya memang bukan di engineering. Saya tidak punya bakat di teknik. Saya juga sudah positif, kalau nanti saya masih bisa lulus dan menjadi sarjana, gelar ST saya mungkin hanya sebagai pajangan saja bagi saya. Saya mungkin akan menjadi insinyur murtad. Murtad dari disiplin ilmu yang saya pelajari selama 8 semester ini. Saya akan bekerja di luar teoritical background saya. Oh Tuhaaaaaaan, this is why there can be? *saya tidak tahu apakah grammer saya benar atau tidak*
Saya langsung mengirim SMS ke orang-orang yang saya pikir bisa memberi saya pencerahan dalam hal ini. Saya mengirim SMS ke Mbak Erin, dia tahu saya suka menulis, dan saya pernah bercerita dengan dia kalau saya ingin menjadikan kesukaan saya ini sebagai pekerjaan saya.
Ya, itulah jawaban Mbak Erin. Saya tahu dia bercanda. Ohh, tapi candaannya sungguh membuat saya ingin terjun bebas dari tower provider paling tinggi yang ada di kota ini. Hahahaaaa.
Lalu saya mengirimkan SMS ke teman saya yang saya pikir sudah sangat bahhagia saat ini. Ya, dia baru saja lulus dan wisuda satu bulan yang lalu. dan selamat untuk dia, saat ini dia sudah bekerja di dinas perhubungan di Jakarta.
Begitulah jawabannya. Setidaknya saya sedikit lega.
Sesampai di kontrakan, galau saya makin menjadi-jadi. Saya langsung browsing *kebutulan, paket internet saya masih ada sampai besok*. Saya larut dalam beberapa artikel tentang IPK VS SOFTSKILL. Dan sialnya beberapa diantaranya takluk dengan kenyataan bahwa IPK memang penting dalam proses rekruitmen di perusahaan yang butuh pekerja. Sial!
Tapi beberapa saat saya mencoba berpikir lebih dalam. Saya suka menulis dan saya sudah positif memilih menulis sebagai pekerjaan saya kelak. Itu artinya sasaran kerja saya adalah bisnis publishing atau majalah. Hmmm, saya teringat dengan kata-kata seorang senior di dunia kepenulisan, Om Putra Gara di Kemah Sastra I, tahun lalu, “Ketika kamu mendaftar pekerjaan, saat interview, pertanyaanya BUKAN berapa IPK kamu, TETAPI kamu bisanya apa?”
(Pertanyaanya; seberapa lama saya bisa bertahan dengan alasan ini? Menulis sebagai pekerjaan)
Dalam hati saya berdoa, semoga apa yang dikatakan beliau itu benar adanya. Saya juga teringat kisah hidup beberapa orang sukses di dunia ini. Yang punya facebook konon katanya DO dari kuliah, begitupun dengan pemilik microsoft. Andrie Wongso, motivator termahal itu tidak lulus SD, dan beberapa kisah lain yang cukup menjadi bahan pertimbagngan buat saya. Oke, mereka sukses dengan skil yang mereka punya dan tidak mengandalkan deretan angka indeks prestasi itu. Tapi bukan berarti saya harus DO juga seperti mereka kan? Heuheuheuheu, *galau lagi*.
Ah, sudahhlah! Saya memang aneh. Saya paling bisa menasehati dan memotivasi orang lain. Tapi di saat saya sendiri butuh motivasi, saya tidak pernah sukses melakukannnya pada diri saya. Yang jelas, tahun ini saya harus lulus dan menjadi sarjana pertama di keluarga besar saya, walau dengan Indeks Prestasi di bawah tiga. HARUS LULUS!!!
Tapi kata senior saya, “IPK itu merupakan password yang akan membuka pintu karier. Namun setelah berada di dalam ruang kerja, IPK (kunci) itu memang mungkin tidak terpakai lagi, kau harus menggunakan softskill itu. Itu hanyalah “rule of the game …. nothing more“. SINTING kan?
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Oleh-Oleh buat Nyokap Sudah cukup lama gue gak curhat di kolom CurCol. Hari ini, tiba-tiba gue pengen cerita. Tapi ini bukan tentang kegilaan dan kesialan yang gue alami. H...
MENDZOLIMI JAKARTA Sepinter-pinternya orang, pasti kalah sama orang cerdas. Secerdas-cerdasnya orang, pasti kalah sama orang pandai. Sepandai-pandai tupai melompat, p...
ADSC, GalNas, 18 Desember; Ini Ceritaku Aku tidak tahu ingin memulai dari mana ceritaku ini. Aku bingung, aku ingin menceritakan banyak hal, banyak kejutan, dan…, hmmm, aku rasa lebih baik...
GAGAL KE AMRIK  Kiriman dari Cepy di USA Percakapan ini terjadi kira'' 2 tahun yang lalu. Ceritanya gue masuk ke dalam 4 besar kandidat buat Schoolarship ke A...
FILE DURJANA  Beberapa hari yang lalu laptop gue terjangkit virus sialan. Sebenernya salah gue juga sih. Waktu itu ceritanya gue lagi maen ke konternya si K...
Guru Saya itu Bernama Imam Baihaqi Serang, 23 September 2014 Barangkali inilah yang disebut relativitas oleh Einstein. Saya mencatat, persis 8 bulan yang lalu saya datang dan melamar...
Biar Tak Hilang, Menulislah… Sebuah pertanyaan menggelitik mampir ke kuping saya dalam satu kali waktu. “Mengapa hanya ada Hari Kartini, sih? Kok nggak ada Hari Cut Nyak Dien, ata...
Nak, Jadilah Seperti Om Mushfi! Nak, Jadilah Seperti Om Mushfi! Tulisan di bawah ini hanya luapan sok tahu penulis, jadi jangan terlalu dihayati! Dear, Anak Ayah. Nak, ta...