+62 821-1040-9641 chogah.dd@gmail.com

Jangan Putus Asa, Percayalah dengan Kemampuanmu! 


Bib…
bib… 
Hape cakep
saya berdering dua kali. Ada SMS masuk, seperti biasa, saya tipe orang yang
tidak terlalu suka SMS-an. Satu menit pertama saya biarkan, paling juga SMS
dari operator yang nanyain saya udah makan apa belom (heh?). 
Menit
kedua, saya meraih hape yang dari luput dari jamahan tangan. Dengan perasaan
yang biasa saya mengintip dua baris pesan singkat yang nongol setelah saya klik
‘baca pesan’.
Aslkm, mas setiawan bisa ke jurusan ti skr? Terima kasih
-yayan- 
Wedeh…
saya mengernyitkan dahi.
Perasaan tiba-tiba berkecamuk. Apa salah ada dosa? Mau kabur, ke mana? (Ke manaaa… ke manaa..
ke maanaa…) 
Yei…
bukan tulisan yang disingkat itu yang membuat saya tiba-tiba didera saya takut,
dag dig dug, dan tiba-tiba ingin berteriak histeris lalu terjun bebas dari
lantai tiga Rau Trade Centre (hanya orang Serang yang tahu tempat ini). 
Tapi
itu lho, yang mengirimkan sms itu, lho. He-eh, Yayan, tepatnya Pak Yayan Harry
Yadi, S.T, M.T. – yang notabene merupakan Ketua Jurusan Teknik Industri F.T.
Untirta. Wedeeeh, aya naon yak
Saya
diamkan beberapa menit. Saya panik harus membalas apa. Salah satu
alasannya saat itu saya lagi tidak berada di kampus, kedua saya memikirkan
kesalahan yang saya perbuat sepanjang 8 semester selama menjadi mahasiswa oon
di TI. Ketiga, apakah Pak Kajur akan memberikan surat DO pada saya karena saya
terlalu manis untuk menjadi seorang mahasiswa TI. Gubraks! :p
Tiga
menit kemudian (sekitar segitulah) saya beranikan untuk membalas. Saya katakan kalau saya
tidak ada kuliah dan tidak ngampus. Lagian kalaupun dikejarkan ke kampus jam
segitu, sepertinya mustahil sekali, Cipocok-Cilegon itu lumayan jauh Cyiiin,
sedangkan jam dinding pun tertawa di angka 5-nya. 
Oke,
saya janjikan akan menghadap keesokan harinya, Kamis, 23 Feb 2012 pukul 10.00
pagi. 
Paginya
dengan mata sembab namun tetap tampan, saya ngampus. Seperti dugaan, kuliah
pertama dosennya tidak datang. Hmm, takol pun menjadi alternatif buat nongkrong
sembari memikirkan nasib saya satu jam kemudian.
Jam 10
teng, dengan langkah malu-malu saya menuju lantai 2. Puas dengan aktivitas
ngintip-ngintip akhirnya saya beranikan mengetuk pintu ruang jurusan dan…
yesss… sepi! Hanya ada beberapa dosen. Saya lemparkan senyum paling manis
yang pernah saya punya, lalu pura-pura bertanya sama salah seorang dosen di
ruang utama, “Maaf, Ibu, Pak Yayan ada?” Kemudian dosen cantik
itu melirik ruang kepala jurusan. Dengan senyum tak kalah manis dia menjawab,
“Ada tuh.” Aha! Padahal itu tak-tik saya aja, padahal dari
tadi saya sudah tahu kalau Pak Yayan ada di ruangannya. Hadeeeh, ada-ada aja
deh gue. :p
“Assalamualaikum….”
sekali lagi saya meramu senyum paling manis, tapi gagal. Nerpes duluan.
 Yang punya ruangan mendongak. Ada jedah beberapa detik.
“Mas
Setiawan…?” beliau bertanya. 
“Hehee,
iya, Pak.” (nasib oh
nasib, udah
mau tamat, dosen masih gak apal nama gue. :p) 
“Ooo…
silakan duduk, Mas Setiawan,” lanjutnya begitu ramah.
Saya
menjatuhkan pantat di kursi empuk, kemudian memasang tampang kalem dan sok
serius. Heheheee… (tiba-tiba
seperti menjadi peserta Sumatera Idol yang menunggu detik-detik pengumuman
juara).
“Jadi
begini Mas Setiawan. Ini ada undangan dari Serang, katanya Mas Setiawan suka
nulis ya?” Pak Yayan memberikan selembar kertas undangan resmi pada saya.
Saya terima, saya baca, (kemudian saya kunyah, kenyaaaang.) *eh.
Pekan
Ilmiah Mahasiswa Nasional 2012. Apaaa? Ilmiah? Mendadak badan saya panas. 
“Iya…
sangat diharapkan Mas Setiawan bisa berpartisipasi dalam hal ini. Kan sudah
terbiasa nulis tuh, pasti bisalah.” Pak Yayan semakin membuat dada saya
sesak.
Alamaaaak!
Cemana ini? Antara suka dan duka saya mempertimbangkan kesempatan dan
KEPERCAYAAN ini. Di satu sisi saya kalut tak terhingga, rasanya sulit bagi saya
mengemban beban ini, ya… bukan tanpa alasan. Seperti yang Pak Yayan sebut
tadi, “Mas Setiawan kan udah biasa nulis, pasti bisalah.” Tapi….
saya bisanya menulis fiksi, Sodara-sodara! Lalu ini… ini karangan ilmiah!
ILMIAH. Ondeh mandeh, matilah denai, Mak. 
Di
sisi lain, saya terharu yang amat sangat. Bagaimana tidak, saya bukanlah
mahasiswa yang spesial di kampus. Buktinya, Pak Yayan saja tidak kenal dengan
saya. Di kelas saya terdaftar sebagai anggota kubu mahasiswa cool dan
berwibawa, sehingga tidak banyak suara. Hehehee. Ya… intinya saya sangat
terlalu biasa sebagai mahasiswa. Lalu… kok bisa terharu? Mungkin
Sodara-sodara bertanya. Ya iyalah… secara gitu lho *eh. 
Saya
terharu saja, akhirnya kali ini bermanfaat juga buat kampus, buat almamater
saya. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan mendapatkan kepercayaan sebesar
ini langsung dari kepala jurusan. Saya merasa begitu dihormati siang itu (ah, perasaan gue aja itu mah). 
Dengan
optimis dan begitu bersemangat, saya terima tawaran itu.
Lagian sungguh tidak enak bila menolak. Sangat tidak sopan, bukan? Lalu Pak
Yayan pun mendaftarkan nama saya ke sekretaris jurusan. “Setiawan
Chogah” Hah? Saya tercekat! 
Dengan
malu-malu, saya klarifikasi, “Maaf, Pak. Setiawan Chogah itu nama pena
saya untuk tulisan fiksi.” Ibu sekre pun tersenyum, “Dedi Setiawan,
kan? Hehehe, dia mahasiwa saya, Pak. Kemarin ngambil PTLF sama saya,” terang beliau
dengan tetap tersenyum. Dalam hati saya begitu sumringah, ternyata ada lho
dosen yang hafal nama saya. Ohhhh, pengen mewek *eh. 
Kontan,
Pak Yayan pun terkekeh, “Hehehe, lalu Chogah itu artinya apa?”
tanyanya kemudian. Saya menjawab dengan sangat diplomatis. “Chogah itu
bahasa Padang, Pak. Artinya bagus,” saya menjelaskan singkat, padat, dan
tepat. Ye… ye… ye…. 
Itulah
sekelumit kisah lucu saya minggu ini. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan
sebelumnya. Ya… saya menjadi teringat kata-kata salah seorang penulis panutan
saya, Bang Guntur Alam dalam sebuah percakapan kami, “Jangan
putus asa, percayalah dengan kemampuanmu! Tak usah cari pujian, tak usah sibuk
mencari apresiasi orang. Ia akan datang sendiri, Gah.” 
Ya…
itu telah terbukti, intinya lakukan niat baik dengan cara baik-baik dan Insya Allah
hasilnya pun yang terbaik. 
Alhasil,
dua hari dua malam saya berjibaku dengan artikel ilmiah, membuang jauh-jauh
kata-kata puitis, majas, setting, penokohan, dan lain sebagainya. Hmm…, sulit
ternyata, Sodara-sodara! Tapi, ya dengan tekad bulat pantang menyerah (cieee…) akhirnya selesai juga di ambang detlen. 
Terima
kasih buat semua yang berperan besar dalam hal ini; Pak Yayan, Bu Ummi, Bu
Lely, Akbar, Intan. Sudirman, Arlius, Endang, Agus Salim. TO FIGH WIN TI
*Yeaaah!
Serang, 25 Februai 2012

TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Perihal Menjaga Bakat Perihal Menjaga BakatIni adalah curhatan terjujur dari sekian ratus kali saya curhat ke kamu. Oke, saya tahu bagian ini tidak terlalu pent...
IPK atau SARJANA? IPK atau SARJANA?Seharian ini saya kembali dibuat galau oleh yang namanya perkuliahan. Yaa! KULIAH. Saya sengaja membuat kata itu uppercase b...
Gebrakan Baru dari Maher Zain Great! Sesuatu yang sangat gue tunggu-tunggu! Apa itu?Aha, layaknya seorang pencinta musik Dewa, Ungu, Agnes, bahkan Ayu Ting Ting, pun begitu...
Ide Tulisanmu!!! Hai Sobat Chogah!!! Masih bingung untuk mendapatkan ide menulis? Setelah membaca postingan ini tentunya gak bingung lagi doong. Berikut saya coba shar...
April yang socwiiit Alhamdulillah... April yang socwiiit; tulisan dan cerpen gue nongol di 3 media papan atas *ouyeee? iyain aja siy!* negeri ini. Hahahaaaa. Sueneng...
Tips Sederhana Penulisan Artikel Non Fiksi Sobat lebih suka menulis artikel nonfiksi atau fiksi? atau suka dua-duanya? Bagi Sobat yang suka banget menulis artikel nonfiksi ada beberapa kiat da...
Allah Akan Bayar Utang Saya Ping!Layar ponsel Dompet Dhuafa (DD) Banten berkedip, sebuah pesan BlackBerry Messenger  dari seorang teman di...
Bro, Saya Takut Dibilang Sombong Bro, Saya Takut Dibilang SombongKadang, saya pengin ngegigitin pohon jambu di halaman rumah tetangga saya setiap kali m...
Bagikan tulisan ini: