+62 821-1040-9641 [email protected]

Saya kembali gemar ngadem di Path. Path itu kesannya lebih seru aja dibanding Facebook yang ke sini-sini, kok, kesannya makin crowded banget. Ya, meski setiap kali share moment di Path, paling banter saya dapet 5 loves. *Nasib. Tapi bukan itu toh tujuan kita ber-Path ria?

Sama seperti ketika main Fesbuk, di Path saya suka memperhatikan (ternayata yang benar itu ‘memperhatikan’, bukan ‘ memerhatikan’. Rujukannya KBBI IV) kegiatan teman-teman saya di “jalanan sempit” (baca: Path). Ada yang lucu, seru, menyedihkan, mengerikan, dan yang saya
suka ketika ada yang nge-share cerita-cerita inspiratif. Salah satunya kisah tentang perjalanan tiga kaleng coke di bawah ini, yang saya copas dari akun sahabat nge-Path saya, Kawula Banyu. 

***

Pada suatu hari, sebuah mobil distribusi coke datang untuk mengangkut minuman kaleng tersebut dengan tiga tujuan berbeda. Pemberhentian pertama di Indomaret. Kaleng coke diturunkan, dipajang di rak, diberi label harga Rp4.000,00. Kemudian, mobil melanjutkan perjalanannya, dan sampai di pemberhentian kedua, Sogo Super Store. Kaleng coke diturunkan, disimpan di kulkas, dijual Rp7.500,00.

Mobilterus berjalan, berhenti di pemberhentian ketiga, Hotel Sheraton. Kaleng coke diturunkan, tidak ditaruh di kulkas. Ketika ada yang memesan, baru coke dikeluarkan dari tempat penyimpannya bersama gelas kristal, ditambah es batu cube block. Pelayan meletakkannya di atas baki, mengantarkannya ke meja pemesan seraya membuka tutup kaleng coke dan menuangkan ke dalam gelas dengan sangat sopan dan hati-hati. Harga dibanderol Rp40.000,00.

Mengapa harga ketiga kaleng coke itu berbeda? Padahal ketiganya diproduksi di satu pabrik yang sama, diantar dengan mobil yang sama, kemasan pun sama, dan aroma serta rasanya juga sama.

 Jawawabnya, lingkunganlah yang membedakannya.

 Begitulah,ketika kita berada di lingkungan yang mendorong kita untuk berbuat baik, niscaya kita akan cemerlang. Sebaliknya, jika kita berada di lingkungan yang mengerdilkan kita, maka kerdillah kita. 

Bakat dan kemampuan yang sama di lingkungan yang berbeda akan menghasilkan nilai yang berbeda pula. So, pastikan diri kita berada di lingkungan yang mendorong kita untuk memiliki nilai lebih. Berteman dan bergaullah dengan orang-orang positif, lalu lihat apa yang terjadi! 🙂

 

TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Belajar dari Nurul F. Huda Malam belum lagi larut. Tetapi sudah cukup untuk membuat mata seorang gadis kecil berusia empat tahun terasa berat dan ingin mengatup. Terlebih ia...
Jadi Pemilih Cerdas, Yuk, SisBrew! Jadi Pemilih Cerdas, Yuk, SisBrew!  Pemilihan presiden dan wakil presiden negara kita tercinta ini, Indonesia, akan berlangsung kurang dar...
Writing Motivation , Menggairahkan Semangat Menuli... Ikuti Kompetisi Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2011. Klik di SINI Writing Motivation... *Sudaryono Achmad  Untuk apa menulis? Barang...
Catatan Pascawisuda: Menjadi Baringin di Tangah Pa... 22 November 2014 SUBUH masih pekat, kedua bola mata saya menjelma purnama, bulat, mengusir kantuk yang sebenarnya jauh sebelum subuh datang pun dia...
Kapan Lulus? *Pura-pura Budek Aja! Kapan Lulus? *Pura-pura Budek Aja! Yippiii...  April udah mau lewat, Cos! That mean sebentar lagi semester 7 segera berakhir. So what? Hei...
Ketika Saya Mengaku Kalah Ketika Saya Mengaku Kalah Semalaman saya berpikir, sebuah kejadian yang boleh saya katakan sangat langka dalam beberapa tahun terakhir ini....
Tidak Ada yang Tidak Mungkin Tidak Adayang Tidak Mungkin(*Dimuat di rublik Dapur Penulis Annida, 11 Juni 2011   Sebenernya saya malu untuk ikut ‘nimbrung’ di rublik baru Nid...
Dari Bobo, Annida, hingga Google Dari Bobo, Annida, Hingga Google Tadi siang, secara iseng-iseng saya meng-googling nama sendiri. Entah kenapa tiba-tiba saja keinginan itu muncul begi...