+62 821-1040-9641 [email protected]

Ibu dan Mak Wak selalu berpesan pada saya bila di akhir pekan mereka menelepon dari kampung. “Elok-elok di nagari uwang, Nak! Jan lupo jo joso uwang!”

“Baik-baik di negeri orang, Nak, jangan sampai lupa jasa orang lain yang membantu kita!” Demikianlah sekiranya bunyi pesan itu bila saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Hal inilah yang selalu saya pegang. Memang, secara ekonomi, Ibu dan Mak Wak memang tidak bisa membantu kehidupan saya di tanah rantau, tapi sebagai anak muda yang tengah labil—mencari jati diri, nasihat dan pandangan hidup seperti itu amat saya butuhkan.

Oh ya, ketika saya menulis curahan hati ini sebagai upaya melawan lupa, adalah memasuki bulan kedua saya bekerja di Dompet Dhuafa Banten. Hehehehe. Iya, saya harus jujur, selama ini saya memang tidak lagi jor-joran bercerita tentang diri
dan kehidupan saya di sosial media. Terakhir kali menulis, saya masih berstatus sebagai pegawai rendahan di perusahaan fabrikasi di daerah Bojonegara sana.

Setelah keluar sekitar bulan November (saya hanya bertahan sekitar 2 bulan lebih sedikit bekerja di perusahaan), saya menikmati peran saya sebagai pengangguran selama dua bulan lebih. Itu adalah masa-masa sulit buat saya, belum pernah saya berpikir bagaimana bisa bertahan hidup dengan Rp 50 ribu untuk satu minggu di kota seperti ini. Selama beberapa minggu setelah memutuskan untuk resign dari perusahaan, saya sempat gencar menyapa kenalan saya di BBM, dengan harapan mereka bisa membantu saya mencarikan pekerjaan. Pekerjaan apa saja, yang penting saya tidak nganggur!

Rata-rata menjawab, “Nanti saya kabarin ya, kalau ada pasti saya kasih tahu.” Sementara saya harus tetap makan. Otak saya benar-benar diperas untuk bisa berpikir, sementara tabungan semakin menipis. Itulah, Tuhan tidak pernah benar-benar tega kepada makhluknya, di saat-saat kritis, tiba-tiba Andhika, sahabat saya di Banten Pos mengajak bergabung sebagai kru Gen B, halaman remaja di koran itu. Hah, setidaknya saya aman, paling tidak untuk bertahan hidup.

Kembali menjadi wartawan membuat saya sempat tidak percaya bahwa hidup saya begitu menyedihkan. Bukannya semakin baik, saya merasa prestasi saya dalam hidup semakin menurun. Saya kembali gamang melangkah, mimpi-mimpi seperti buyar. Saya benar-benar tertekan. Apalagi saat itu Tugas Akhir saya menjadi terbengkalai. Kacau! Saya benar-benar hancur.

Namun demikianlah hidup. Saya mencoba berdamai dengan diri saya, saya ajak diri saya bicara. Bertanya tentang tujuan hidup saya yang sebenarnya dan hendak dibawa ake mana. Pada awalnya ego tetap menang. Rasa kecewa, marah, bahkan hina mengelilingi saya. Saya benar-benar tidak berguna. Saya telah gagal.

Di suatu pagi, saya membuka Facebook dengan bantuan wifi gratisan. Meski miskin semiskin-miskinnya, saya tidak sampai menjual ponsel pintar saya. Hehehehe. Oh ya, harus saya tuliskan di sini, sepanjang November sampai awal tahun 2014,
saya sering numpang makan di rumah Oni, sahabat saya orang Serang yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan tempat tinggal saya. Saya di Cinanggung, dan Oni di Ciwaktu, sekitar 400 meter dari Cinangggung.

Kembali ke Facebook. Sibuk membaca beranda dengan aneka macam status kawan-kawan maya saya, tiba-tiba saya teringat perihal pertemuan tak sengaja saya dengan Mbak Kemuning di depan Carrefour Serang. Waktu itu beliau mengatakan ingin ke Dompet Dhuafa. Mbak Kemuning ini adalah pekerja sosial, saya kenal beliau waktu saya masih mengabdi di Banten Muda.  Dompet Dhuafa. Ya, Dompet Dhuafa, saya pernah membaca pengumuman di Facebook yang
diposting oleh Fesbuk Banten News bahwa Dompet Dhuafa membuka lowongan pekerjaan. Meski postingan itu sudah lama, ada kekuatan yang mendorong saya untuk mencoba melakukan komunikasi dengan Dompet Dhuafa. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengetikkan “Dompet Dhuafa Banten” di kolom search Facebook, dan pagi itu juga saya langsung mengirimkan pesan lewat inbox Facebook.

09/01/2014 08:40 Setiawan Chogah

Assalamualkum. Selamat pagi, Dompet Dhuafa Banten. Apakah di DDB masih ada lowongan pekerjaan yang bisa saya kerjakan. Oh ya, perkenalkan, saya Iwan, mahasiswa tingkat akhir Teknik Industri Untirta dan tinggal di Serang. Saya berniat di masa pengerjaan Tugas Akhir saya punya kegiatan lain. Saya bisa mengoperasikan komputer (Ms.
Office, blogging). Di samping itu saya pernah bekerja part time sebagai staf administasi di sebuah perusahaan, serta memiliki beberapa pengalaman menulis di media massa. Sekiranya di DDB ada pekerjaan yang bisa saya kerjakan, dengan
senang hati Admin mau mengabari. Terima kasi sebelumnya. Wassalam. – Setiawan C

Pesan di atas langsung saya copy paste dari inbox Facebook saya dengan akun official Dompet Dhuafa Banten, tidak ada satu kata pun yang saya tambah atau saya kurangi. Saya tulis apa adanya diri saya, sejujur-jujurnya. Dan lihat! Kata-kata saya banyak yang salah, kan? Hehehehe. Demikianlah, ketika galau melanda, apapun menjadi serba-payah. Bahkan menulis bagi orang telah terbiasa menulis. Hmmm!

Gayung bersambut, hari itu juga saya menerima balasan dari Dompet Dhuafa Banten, saya diminta untuk datang ke kantor DD di Kepandean untuk walk in interview. Saya benar-benar terperangah, seakan tak percaya bahwa pesan saya akan dibalas secepat itu.

Akhirnya, di hari yang ditentukan oleh Dompet Dhuafa, lagi-lagi dengan bantuan Oni, di Jumat pagi, 10 Januari 2014 saya diantarkan Oni ke kantor DD. Dengan membaca CV dan beberapa majalah yang memuat tulisan saya serta beberapa antologi, saya memasuki kantor DD dan disambut oleh CS yang entah kebetulan, di kemudian hari akhirnya saya tahu bahwa kami pernah bertemu sebelumnya. (Mbak Wiwit, CS DD Banten adalah salah satu relawan FBn, kami pernah bertemu di acara pernikahan Kang Lulu, sahabat Kak Irvan yang juga kebetulan relawan Fbn).

Sekitar lima menit menunggu, saya dipersilakan naik ke lantai dua dan bertemu dengan Mas Imam, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten. Sekilas saya perhatikan, laki-laki itu sepantaran saya, masih muda, paling-paling beberapa tahun di atas saya.

Saya mencoba tenang, meski itu bukanlah interview pertama saya dalam mencari pekerjaan, tapi perasaan gugup dan deg-degan itu tetap ada.

Mas Imam bertanya tentang tujuan saya melamar pekerjaan di Dompet Dhuafa, tentang rencana saya, tentang kuliah saya, dan tentang apa yang bisa saya kerjakan untuk Dompet Dhuafa.

Saya menarik napas dalam-dalam, sebelum mengurai kisah perjalanan hidup saya yang berliku hingga sampai di hadapan laki-laki muda di depan saya kala itu, Mas Imam.

Sekira 30 menit saya bercerita, ya lebih tepat saya sebut bercerita tentang pengalaman, tentang apa saja yang telah saya kerjakan di pekerjaan saya sebelumnya, tentang hobi saya nge-blog dan menulis.

Saat itu Mas Imam tidak meberikan keputusan bahwa saya diterima atau ditolak. Beliau hanya mengatakan bahwa saya akan dikabari beberapa minggu ke depan. Saya ikhlas sekiranya memang nasib berkata bahwa saya tidak diterima, paling tidak saya telah berani berkata jujur tentang diri saya dan membawa kaki saya melangkah sampai ke hadapan Mas Imam. Saya telah berusaha.

Satu minggu usai interview, CS Dompet Dhuafa Banten Mbak Wiwit menelepon saya, saya diminta untuk kembali datang ke Dompet Dhuafa Banten. Alhamdulillah, akhirnya per tanggal 27 Januari 2014 saya bergabung di Dompet Dhuafa Banten sebagai marketing communication.

Apa pekerjaan saya? (Beri sayan waktu untuk diam sejenak)

Saya tidak bekerja! Ya, saya tidak bekerja. Karena tugas saya sebagai markom yang diberikan oleh Mas Imam adalah pekerjaan yang selama ini pernah saya impikan. Saya senang menulis, dan atas alasan itu pula saya bergabung dengan Banten Muda, dulu. Semenjak kuliah dan punya laptop, saya sudah rajin nge-blog, dan di DD Mas Imam memercayakan saya untuk menulis berita kegiatan DD dan diposting di blog DD, sama persis dengan apa yang dulu Kak Irvan percayakan pada saya di Banten Muda. Oh… beri saya waktu beberapa detik lagi untuk kembali diam.

Kak Irvan Hq, Mas Imam Baihaqi…

Lama! Lama saya terdiam di hari pertama saya masuk kerja di Dompet Dhuafa. Pun begitu di hari kedua, ketiga, hingga beberapa minggu ke depannya. Pekerjaan saya hari ini adalah pekerjaan yang pernah saya impikan bertahun-tahun sebelumnya. Pernah saya kerjakan di beberapa bulan sebelumnya. Dan kepada orang-orang yang pernah menyelamatkan saya, entah bagaimana caranya saya mengungkapkan rasa terima kasih saya.

Pengalaman mengajarkan saya banyak hal. Saya telah melakukan kesalahan dengan meninggalkan BM atas alasan yang saya nilai prinsipil dan terbaik menurut saya, namun belum tentu menurut organisasi yang saya tinggalkan. Kak Irvan pernah menyelamatkan saya ketika saya terlunta-lunta di kota ini. Lalu saya pergi…. ya, pergi. Maafkan saya.

Hfff… barangkali kalian berpikir bahwa saya berani sekali menulis segamblang itu di sini tentang kekurangan dan kesalahan-kesalahan saya. Ya, itulah adanya saya. Saya tidak mau pisang sampai berbuah dua kali. Sesakit-sakitnya dikhianati orang, lebih sakit lagi rasanya ketika yang mengkhianati orang, Bro. Saban hari hidup diburu rasa bersalah.

Demikianlah, hidup harus tetap berjalan, kan? Saat ini saya merasa bahwa saya telah selesai dengan diri saya sendiri. Apa lagi? Saya bekerja sesuai passion saya—melakukan hal-hal yang saya cintai. Saya bekerja dikelilingi oleh orang-orang baik, yang membuat saya semakin yakin bahwa ini akan berdampak pada diri saya untuk semakin baik pula. Saya menjadi sering bertemu dengan orang-orang yang nasibnya “barangkali” jauh lebih buruk dari apa yang pernah saya alami. Saya menjadi
sering bertemu dengan orang-orang dermawan yang membagi rezekinya untuk orang lain. Saya turut merasakan indahnya berbagi, meski hanya menjadi perantara. Damai rasanya bekerja seperti ini. Tentram.

Saat ini, saya bisa merasakan nikmatnya menyambut matahari pagi. Membanyangkan hal-hal luar biasa yang akan saya alami satu minggu ke depan di setiap hari Senin datang. Menulis, menulis, dan menulis. Saya menulis untuk melawan lupa. Sama halnya ketika kisah ini saya tuliskan di sini, agar saya tidak lupa jasa-jasa orang kepada saya. Jasa Kak Irvan, jasa Banten Muda, jasa Andhika (Banten Pos), jasa Mas Imam, dan jasa Dompet Dhuafa Banten.

Terima kasih telah mewarnai hidup saya. Terima kasih.

Serang, 16 Maret 2014. Menjelang adzan Subuh.


 

TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Pelangi Sehabis Hujan Selalu Lebih Indah Pelangi Sehabis Hujan Selalu Lebih Indah 18 Maret 2013 Badan kurus saya masih terasa pegal, sepulang ‘ngobrol’ cukup lama dengan Ge Pamungk...
Gue Patrick, Mereka Spongebob Gue Patrick, Mereka Spongebob “Kalau uang bisa membuatku melupakan sahabat terbaikku, maka aku lebih memilih untuk tidak punya uan...
Ciyus! Itu Beneran Wanda Hamidah? Ciyus! Itu Beneran Wanda Hamidah?  11 Februari 2013  Ini adalah minggu ketiga saya jadi jurnalis di Banten Muda. Sejauh ini s...
Aku Ingin Tua dan Mati di Kampung Kita Tahun-tahun usai dan datang kembali, dan aku kian tua di sini. Di dadaku, Mak, tumbuh subur sebatang pohon. Pohon berdaun lebat dan akar kokoh m...
Jangan Putus Asa, Percayalah dengan Kemampuanmu! Jangan Putus Asa, Percayalah dengan Kemampuanmu!  Bib... bib...  Hape cakep saya berdering dua kali. Ada SMS masuk, seperti ...
Mak … Aku Segera Pulang 1:20 AM.Aku rasa malam mulai keriput pada kombinasi angka yang tertera di pojok kanan komputer basecamp. Sementara mata masih benderang menera...
IPK atau SARJANA? IPK atau SARJANA? Seharian ini saya kembali dibuat galau oleh yang namanya perkuliahan. Yaa! KULIAH. Saya sengaja membuat kata itu uppercase b...
Aku, Mimpi, dan Tuhan Aku, Mimpi, dan Tuhan Kadang aku berpikir, Tuhan ternyata begitu telaten memprogram hidup setiap ciptaanNya. Semuanya terencana dengan ...