+62 821-1040-9641 [email protected]
Nak, Jadilah Seperti Om Mushfi!


Tulisan di bawah ini hanya luapan sok tahu penulis, jadi jangan
terlalu dihayati
!

Dear, Anak Ayah.

Nak, tadi malam, dalam perjalanan dari Cilegon ke Serang, langit
tak berhenti mengguyur bumi Tirtayasa. Air di mana-mana, sepatu ayah yang
murahan ini basah kuyup. Kamu harus tahu, Nak. Ini adalah sepatu kesayangan
ayah. Ayah membelinya dengan uang ayah sendiri waktu ayah dan Om Hilal
berkesempatan ke Jakarta, dan kamu tahu kan, Nak, kalau ayahmu ini besar di
garis hidup yang penuh luka-liku. Hidup yang kaya akan cerita petualangan dan
perjuangan.
Oh ya, Nak. Om Hilal itu sahabat ayah; salah satu dari sahabat-sahabat
ayah yang lain yang harus kamu tahu, tentu juga kamu hormati. Kelak, ketika
kamu telah hadir di dunia ini, kau pun harus berteman dengan banyak orang. Biar
kau tak gamang ketika berada di keramaian. Biar kau tahu kalau yang namanya
manusia itu beraneka corak, Nak. Sama dengan baju-baju lucumu yang akan ayah
dan ibumu belikan kelak, akhlak manusia pun begitu beragam.
Ayah paling kaya dalam urusan berteman. Teman ayah ada di mana-mana.
Nanti kau juga harus begitu, Nak! Nanti, kau boleh berteman dengan anak-anaknya
teman ayah; dengan anaknya tante Widi di Bogor, anaknya Bude Nopita di Solo,
atau dengan anaknya Tante Naminist kalau kau mau jadi petualang. Ayah yakin
kelak anaknya Tante Naminist akan tangguh seperti mamanya yang selalu jadi
tempat bertanya bagi ayah kalau tersesat di kota sebesar Jakarta.
Tapi satu keinginan ayah (kalau boleh ayah meminta, dan kau tak
keberatan), jadilah seperti om-mu, Nak! Om Mushfi. Dia salah satu sahabat
terbaik yang ayah punya. Ayah tidak akan mengikat kau. Ayah akan berikan
kebebasan untukmu, kau mau menjadi apa asalkan kau suka, dan kau bisa
bertanggung jawab dengan pilihanmu itu, ayah dan juga ibumu kelak, Insya Allah
akan mendukung. Tapi satu pesan ayah, jadilah orang yang pemurah. Contohlah Om
Mushfi-mu! Beberapa hari yang lalu, ayah mendapat SMS dari guru ayah waktu SMA.
Dia katakan kalau salah satu adik kelas ayah di Cendekia baru saja lulus dan
diterima di UI. Kau harus tahu, Nak, UI itu tempat kuliahnya orang-orang
pintar, nanti kalau ayah sanggup menguliahkan kau, dan kalau kau mau, pilihalah
UI, di sana jua Om Mushfimu pernah berkuliah.
Adik kelas ayah rupanya bernasib yang sama seperti nasip ayahmu.
Dia berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, Nak. Keinginan dan
kemampuannya untuk kuliah layaklah untuk kau tiru. Dan kau tahu, Nak? Ayah
berada dalam kebingungan yang amat sangat ketika guru ayah meminta ayah untuk
membantunya. Aduhai, Nak! Ayah sungguh bingung. Di satu sisi ayah ingin sekali
membantu, tapi ayah harus sadar dengan sisi-sisi lain yang ayah punya; membantu
diri ayah saja, ayah masih kesulitan. Tapi, Nak! Niat baik tetaplah harus
dijalankan. Pegang teguhlah nasihat ayah ini! Luruskanlah nawaitu, niscaya
Allah, Tuhan yang maha pemurah tidak akan pernah sia-sia. Allah tidak punya
sifat aniaya, Nak. Kau harus percaya, bahwa Allah ada dalam setiap helaan
napasmu, dalam setiap aliran darahmu, Allah besertamu selalu. Selalu!
Pun demikian dengan adik kelas ayah, dalam kebingungan, ayah
teringat Om Mushfimu. Ayah forward pesan singkat yang ayah terima. Kau
tahu mengapa ayah melakukan itu, Nak? Yaa! Sebab ayah tahu Om Mushfimu akan
membantu dia. Seperti yang ayah katakan tadi, Om-mu itu sangat pemurah. Sudah
hampir delapan tahun kami bersahabat, dan tentunya kelak bila kau bertemu
dengan Om Musfhi, angka itu sudah bertambah menjadi lebih besar. Tapi ayah
percaya Om Mushfi akan tetap seperti yang dulu, hari ini, dan Insya Allah
nanti, dia kan tetap menjadi orang yang baik, dan sekali lagi kau harus tiru
dia.
Jangan kau kira persahabatan ayah dan Om-mu itu lancar seperti sarasah
yang mengalir tanpa hambatan, Nak! Pernah satu tahun kami tak bertegur sapa.
Waktu itu ayah masih labil dalam berpikir dan ego pun masih begitu berkuasa.
Masih kelas 2 SMA. Tapi itu adalah hal yang lumrah, Nak. Manusia wajar sekali
bila melakukan kesalahan, dan agama kita mengajarkan sebaik-baiknya orang
adalah orang yang menyadari kesalahannya lalu berusaha untuk memperbaikinya.
Itulah yang selalu ayah coba. Menjadi orang yang tahu diri dan tahu akan
kesalaan. Kedengarannya sungguh ideal sekali, Nak. Tapi ketika dilakukan,
susahnya minta ampun. Tugas kita hanya mencoba, Anakku! Untuk sukses atau tidak
percayakan saja pada Allah yang punya keputusan. Teruslah mencoba dan mencoba.
Nak, kelak kau sudah dewasa, dan tentu saat itu ayah bukanlah anak
muda seperti diri ayah saat ini. Mungkin saat itu ayah akan sedikit sekali
berbicara, mengeja namamu saja mungkin ayah akan sangat kepayahan. Maka dari
itu, Nak. Sebelum hari itu datang, ayah berpesan dari sekarang; jadilah orang
baik-baik. Banyak sekali Anakku manfaat yang akan kau petik dari kebaikan. Kau akan
dicintai banyak orang, didoakan banyak orang, disayang Tuhan dan malaikat, dan
perlu kau tahu, laki-laki baik-baik diciptakan untuk peremuan yang baik-baik,
begitupun sebaliknya. Semoga kelak kau mendapatkan yang terbaik dalam hidupmu,
Nak. Amin.
Baiklah pada semua orang! Bila kau punya rezeki berlebih,
keluarkanlah hak-hak fakir di hartamu, dan berjiwa dermawanlah bila kau kelak
jadi orang kaya! Bantulah anak-anak tetangga yang tak mampu bersekolah,
santunilah anak yatim dan piatu, maka hidupmu akan bahagia. Semoga ya Anakku,
kelak, ketika kau lahir dan tumbuh, ayah bisa menyaksikan itu semua. Aamiin.
(*Ketika membuka folder poto-poto semasa SMA. Serang, 7 Juni 2012.
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Aku Ingin Tua dan Mati di Kampung Kita Tahun-tahun usai dan datang kembali, dan aku kian tua di sini. Di dadaku, Mak, tumbuh subur sebatang pohon. Pohon berdaun lebat dan akar kokoh m...
Terakhir Kali Saya Terharu Terakhir Kali Saya Terharu Saya itu tipe orang yang susah sekali menghayati sesakralan sebuah peristiwa. Apapun itu bawaannya selalu 'cengenge...
Pelangi Sehabis Hujan Selalu Lebih Indah Pelangi Sehabis Hujan Selalu Lebih Indah 18 Maret 2013 Badan kurus saya masih terasa pegal, sepulang ‘ngobrol’ cukup lama dengan Ge Pamungk...
Aku, Mimpi, dan Tuhan Aku, Mimpi, dan Tuhan Kadang aku berpikir, Tuhan ternyata begitu telaten memprogram hidup setiap ciptaanNya. Semuanya terencana dengan ...
Gue Patrick, Mereka Spongebob Gue Patrick, Mereka Spongebob “Kalau uang bisa membuatku melupakan sahabat terbaikku, maka aku lebih memilih untuk tidak punya uan...
Catatan Pascawisuda: Menjadi Baringin di Tangah Pa... 22 November 2014 SUBUH masih pekat, kedua bola mata saya menjelma purnama, bulat, mengusir kantuk yang sebenarnya jauh sebelum subuh datang pun dia...
Hai, Mimpi-mimpiku, Apa Kabar Kalian Sekarang? Rantau berkalang rindu, 26 Juni 2015 Saya merasa berdosa pada halaman yang dulu saya bangga-banggakan ini. Halaman yang pernah begitu set...
Terimakasih Estin Terimakasih Estin Hari ini saya lagi bete. Bete se-bete-bete-nya! Apa pasal? Banyak! Pertama; saya lagi emphet banget sama layanan pro...