+62 821-1040-9641 [email protected]

Pelangi Sehabis Hujan Selalu Lebih Indah
18 Maret 2013
Badan kurus saya masih terasa pegal,
sepulang ‘ngobrol’ cukup lama dengan Ge Pamungkas, pemenang kompetisi Stand Up
Comedy sesion 2 Kompas TV. Banyak pelajaran hebat yang saya dapatkan dari Ge.
Lain kali akan saya ceritakan di sini.

“Chog, lo udah makan blom?” Bemby,
sahabat saya bertanya ketika kami telah membelah jalanan dari Pakupatan menuju
A. Yani dengan matic merah kepunyaan jurnalis RadarBanten.com itu.

“Belom, Bemb. Mau makan dulu?”
“Oh yaudah, kita mampir ke Pontir
dulu, ya. Giliran gue yang traktir lo,” Bembi membelokkan motornya ke arah Trip
Jamaksari dari lampu merah Ciceri.
Kami memasuki pusat kuliner dan
tongkrongan Agaser (Anak Gaul Serang. Red) itu di kala langit Serang mulai
buram. Memilih meja di Pondok Tiara 2, Bembi memesan bakso, sementara saya
memesan minum saja. Usai menyeruput dua teguk Coffe Blend dari sedotannya,
tenggorokan saya terasa sedikit lega. Lega yang menjalar sampai ke perut lalu
berefek pada mata yang langsung ‘melek’.
Saya mengeluarkan novel Bidadari
Terakhir dari tas saya. Membolak-balik halaman buku yang baru sampai tadi
siang, lalu menghirup aromanya. Saya sangat suka aroma buku, apalagi buku-buku
lama. Kebiasaan aneh itu selalu saya rindukan dan sedikit terobati ketika
berkunjung ke Rumah Dunia.
“Buku apaan tuh, Chog?” Bembi
bertanya.
Saya hanya tersenyum.
“Dih, kampret nih maho. Ditanya malah
senyum-senyum sange!”
Saya ngakak. Bembi memang suka
nyablak kalau nongong. Satu minggu ini kami menjadi sangat akrab, selain
sama-sama bemburu berita, saya suka personality Bembi yang asyik, brutal, dan
songong. Saya memang bukan tipe orang yang selektif dalam memilih teman.
Teman-teman saya rupa-rupa warnanya. Macam balon saja. Hehehe.
Bembi itu adalah salah satu teman
saya yang jujur dalam berteman. Tiga hari yang lalu, seusai meliput acara bedah
buku Sartika Dian Nuraini di auditorium Untirta, saya dan Bembi terlibat
percakapan serius. Bembi bercerita banyak hal tentang masa lalunya. Tentang
pengalaman menjadi duta pariwisata, Kang Serang. Tentang kenakalan masa SMA,
tentang perjuangan mengikutin kontes modelling, juga tentang cerita-cerita
kocak selama bergabung bersama kru Expresi Radar Banten. Bembi katakan dulu dia
pernah berjualan koran di lapak gang IAIN, di tahun yang sama ketika saya
bekerja di fotokopi depan jembatan penyeberangan Ciceri. Bembi menceritakan
tentang dirinya pada saya, tentang alasannya mengapa mau berteman dengan saya,
tentang banyak hal.
Saya dan Bembi banyak persamaan,
mesti kami beda keyakinan. Bembi mengajarkan saya tentang arti toleransi.
Persahabatan tidak pernah memandang latar belakang; suku, agama, dan segala
tetek bengek lainnya. Bersahabat ya bersahabat saja. “Gak butuh kenalan ketika
lo menolong orang yang kecelakaan, kan?” begitu kata Ge waktu kami ngobrol
tadi.
“Iniiii, buku barunya Agnes Davonar.
Lo wajib baca!”
“Kenapa emangnya?”
“Pokoknya ini buku keren abis!”
“Ciyus miapah?”
“Mipalalo berasep. Hahaha.”
Saya kembali membolak-balik halaman
Bidadari Terakhir. Berhenti cukup lama di halaman persembahan. Tertegun di
kalimat ucapan terima kasih Agnes kepada para penggemarnya yang sudah sangat
lama menunggu novel ini lahir, kepada Rasya yang kisah hidupnya diangkat di novel
ini, kepada Kaskuser yang mendukung kisah Rasya dan Evaria untuk diangkat ke
layar lebar, kepada Facebooker yang mencapai 15.000 lebih komentar menunggu
terbitnya novel Bidadari Terakhir di fanspage Agnes Davonar. Juga kepada saya
yang diberi kesempatan oleh Agnes untuk menjadi editornya dalam novel
terbarunya ini.
Saya menarik napas cukup dalam, lalu
mengembuskannya perlahan. Saya ingin menikmati suasana santai ini dengan
cara-cara saya.
Kembali saya membalikkan buku di
tangan saya. Singgah ke halaman depannya dengan coverbergambar sosok “Rasa dan
Evaria”. Agnes Davonar. Ah, saya seperti bermimpi saja ketika nama saya ada di
buku penulis yang dinobatkan sebagai salah satu penulis terkaya di Indonesia
ini. Ketika Agnes memercayakan saya ‘menggarap’ Bidadari Terakhir bersama-sama.
Rasanya baru kemarin saya jatuh pasca
perseteruan dengan redaktur majalah ternama di negeri ini. Perseteruan yang
sampai saat ini reda tanpa pernah saya paham penyebabnya. Saya berhenti menulis
di media, beberapa teman yang penulis yang dulunya akrab jadi menjauh, mencipta
jarak, mungkin mengira saya anak muda berbahaya, amoral, dan harus dijauhi demi
menjaga eksistensi. Ah, mereka itu brengsek!
Saya menerima kekalahan saya. Tak
satu pun karya yang muncul lagi di majalah dan tabloid. Tadinya saya mengira
itu adalah akhir dari karir saya sebagai penulis cupu. Hahaha. Ya ya ya, saya
terlalu berani mencap diri saya penulis dengan pernah melahirkan beberapa
cerpen cemen di media dan antologi.
Saya telah pasrah dan memilih diam.
Kadang menangis sedih ketika sisi melankolik saya memberontak. Taik! Sebenarnya
saya benci sekali dengan air mata.
Beruntung, masih ada orang-orang yang
mau menganggap saya teman. Yang mengompori saya untuk move on dan berlaku manis
lagi. Hk! Manis, pura-pura manis tepatnya. Tapi entahlah, dari mereka juga saya
masih kuat menghela napas dan berpikir keras untuk tetap menulis. Toh dulu
tujuan saya menulis bukan untuk mencari popularitas. Bukan, bukan sama sekali.
Saya menulis untuk berteriak. Menumpahkan segala keresahan saya tentang hidup
yang terkadang tidak mau berpihak, tentang Tuhan yang begitu lihai
mengaduk-aduk perasaan, tentang luapan kegembiraan saya, pun tentang kesedihan
yang membuat badan saya tak pernah lagi mau menambah bobotnya dari angka 45.
Tentang cinta yang tak mau berkarib. Saya juga menulis untuk uang. Kapitalis?
Sabodo teuing!
Saya mencoba bangkit. Mengirim CV dan
portofolio ke beberapa kenalan. Dengan segala kepasrahan diri, saya menyerahkan
semuanya pada Tuhan. Kalaupun saya harus mati di sini, di tanah rantau, saya
sudah tidak lagi peduli. Ah, lebay mungkin. Tapi itulah saya ketika itu.
Tetesan air mata yang tumpah di buku harian saya masih menyisakan keriput pada
lembarannya. Tuhan, Kau di mana? Aku butuh pertolonganMu. Dengan nelangsa yang
bersarang di dada, saya mengetik pesan di inbox Facebook pada Pak Irvan. Ya,
waktu itu saya masih memanggilnya dengan kata “Pak”. BBM dari Kak Erin, Guntur,
Kerio, dan beberapa sahabat saya yang masih tersisa seperti asupan energi pada
saya untuk menggerakkan jari-jari menari di tuts keyboard komputer saya. Saya
menyeka air mata diam-diam ketika Kak Irvan mengirimkan sebuah pesan di inbox
Facebook, “… ingat ya justru pada titik terendah itulah, Allah tidak memberi
jalan dan celah kepada kita, kecuali untuk naik dan bangkit.”
Tuhan memang bersifat Iroodah, Dia
Maha Berkehendak. Pun Maha Berkuasa. Di titik itu Dia merangkul saya. Setelah
teriakan panjang saya di sujud-sudud terakhir di penghujung malam yang tak
pernah disahutiNya. Tuhan, apakah Kau telah menulikan telingaMu untuk
mendengarkan isak dan tangisku? Oh, Tuhanku, Illahi Rabbi, aku kesakitan. Bila
enggan mengobati lukaku, peluk saja aku, Tuhan. Peluk sebentar saja. Saya masih
hafal betul ceracau kacau saya pada Tuhan. Kedengarannya mungkin aneh mengadili
Tuhan. Kalian mau marah? Apa hak? Itu urusan saya dengan Tuhan saya, bukan? Tak
seorang pun yang berhak mencampuri hubungan saya dengan Tuhan saya. Saya tetap
mesra dengan Dia mesti terkadang saya purikan, pundung, serupa anak kecil yang
tidak dibelikan permen warna-warni oleh ibunya. Begitulah hubungan saya dengan
Tuhan saya. Fair, kan?
Sebuah mention di Twitter saya
@setiawanchogah. Dari @agnesdavonar. Tawaran untuk menjadi editor di novel
terbarunya. Saya me-refresh beberapa kali halaman Twitter saya, curiga itu bukan
mentionAgnes buat saya. Saya berteriak nyaring. Alhamdulillah, Tuhaaaaaan,
terima kasih. Dalam haru biru saya menjatuhkan kening saya di meja komputer
saya. Memejamkan mata. Menyesap syukur dan memburu Tuhan ke langit dalam
imajinasi saya. Menciumi tanganNya, seperti saya merindukan aroma tangan ibu
saya. Mata saya berpendar.
Kamis, 31 Januari 2013. Hari di mana
saya menerima bab pertama dari Bidadari Terakhir yang harus saya sunting. Hari
itu juga saya kembali mengirimkannya ke e-mail Agnes, dan dia suka. Saya resmi
menjadi editor Agnes di tanggal itu juga.
Dua belas hari lamanya saya dan Agnes
berkumunikasi lewat BBM, inbox Facebook, dan terkadang Agnes yang menelopon
saya terkait Bidadari Terakhir. Tentang beberapa pilihan kata yang saya ajukan,
tentang kalimat yang saya cut, atau penambahan di beberapa halaman memperkuat
jalan cerita. Seru! Bidadari Terakhir adalah kisah yang tadinya tidak bisa
diterima nalar saya, tentang Rasya yang menerima Evaria dengan segala baik dan
buruknya. Tapi ini adalah kisah nyata, Rasya dan Eva hidup di atas bumi yang
sama dengan kita. Saya menikmati profesi baru saya di sela membantu teman-teman
di Banten Muda. Kak Irvan mulai memercayakan saya untuk terjun ke lapangan,
meliput event-event kampus dan kegiatan positif tentang Banten. Saya semakin
melupakan luka yang sebenarnya tidak perlu diratapi bila saya mengingatnya saat
ini. Saya baru saja memasuki gerbang dunia jurnalistik, bertemu dengan publik
figur, ngobrol dan berfoto dengan mereka, menulis straight news untuk web BieM,
kontributor lepas untuk rubrik NewsCees majalah Story.
Haru membanjiri ruang dada saya
ketika akhirnya tabloid Banten Muda akan kembali terbit dengan format baru.
Kang Niduparas Erlang, pemimpin redaksi dan Na Lesmana sang redaktur pelaksana
memercayakan saya untuk bertanggung jawab di beberapa rublik. Oh, Tuhan. Ampuni
dosa-dosa hamba. Ampuni, ampuni, ampuni.
Saya menatap pada jari-jari di tangan
saya. Masing-masing masih berjumlah lima di kedua tangan saya. Kaki-kaki yang
yang masih mampu diajak berlari, mata yang menangkap indahnya pagi di Kota
Serang. Saya meraba perut yang sampai saat ini masih bisa saya isi ketika
lapar. Tuhanku, ampuni dosa-dosaku. Ampuni.
“Anjrit! Lo gak ngarang kan, Cong?”
“Ngarang gundul lo! Hahaha. Gue udah
capek kali ngarang-ngarang, hidup gue udah kayak karangan fiksi. Cabut, yuk!”
Bembi menatap layar ponselnya. “Sip
sip, gue bayar dulu, ya!”
Kami meninggalkan Pondok Tiara dengan
tampang kekenyangan. Merindukan kasur di peraduan masing-masing, menunggu pagi,
menunggu hujan dan matahari. Orang-orang bilang, pelangi setelah hujan selalu
terlihat lebih indah. Iya, tah? Iya, geh!
***

TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

GAGAL KE AMRIK  Kiriman dari Cepy di USA Percakapan ini terjadi kira'' 2 tahun yang lalu. Ceritanya gue masuk ke dalam 4 besar kandidat buat Schoolarship ke A...
Wasiat Uni Tila Wasiat Uni Tila Bojonegara, 10 Oktober 2013 Hari ini saya bertemu lagi dengan satu guru kehidupan. Tila namanya. Saya menanggilnya Uni...
Di Balik Nama Setiawan ‘Chogah’ Buat Abang gua yang bentar lagi jadi Sarjana   Aku benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Bang Ardi. Abang yang sudah kuanggap...
Insomnia Brengsek Insomnia Brengsek Minggu ini, penyakit paling brengsek saya kembali kumat. Pokoknya brengsek! Kalau saja saya diberi beberapa pilihan, dan ad...
Untuk Perempuan Mungil yang Kemaren Ulang Tahun Untuk Perempuan Mungil yang Kemaren Ulang Tahun Aku selalu dihadapkan pada sebuah kebingungan bila ada yang menanyaiku seperti ini; Siapakah yan...
Taksi Goyang VS Taksi Songong Dudul Note  episode Taksi Goyang VS Taksi Songong Gue punya banyak cerita duka dan suka (atau suka duka? sama aja!) tentang taksi. Dan du...
ADSC, GalNas, 18 Desember; Ini Ceritaku Aku tidak tahu ingin memulai dari mana ceritaku ini. Aku bingung, aku ingin menceritakan banyak hal, banyak kejutan, dan…, hmmm, aku rasa lebih baik...
Rumah Dunia! (Ini ceritaku, apa ceritamu?)         Ikuti Kompetisi Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2011. Klik di SINI Rumah Dunia!  (Ini ceritaku, apa c...