+62 821-1040-9641 [email protected]
        Ikuti Kompetisi Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2011. Klik di SINI
Rumah Dunia! 
(Ini ceritaku, apa ceritamu?)
Pertama kali ke RD
        Kalau boleh menertawakan kebodohan sendiri, aku ingin terbahak dan
terpingkal dengan kebodohan yang pernah aku lakukan. Bukan mengapa? Aku
menganggapnya ini sungguh bodoh. Ah! Mungkin kalian akan menganggap aku gaje alias gak jelas! Well, akan aku kisahkan sedikit mengenai kebodohan yang membawa keberuntungan itu, siapa tahu bisa menginspirasi. Begini, kawan;
           
Siapa yang tak kenal Rumah Dunia? Aku rasa tidak ada! Kecuali kalian
yang tidak berjenis sama denganku. Maksudku mempunyai hobi yang sama,
membaca! Ya! Membaca, kawan! Gara-gara membaca aku seperti ini.
Aku mengenal Rumah Dunia dari majalah bekas yang aku temukan di
perpustakaan sekolah saat aku masih berseragam putih abu-abu di sebuah
pelosok negeri di ranah Sumatera Barat sana. Jaman-jaman masih imut.
Annida nama majalah itu. Di sana aku baca rublik yang namanya BCN.
Sebuah halaman yang mengupas tuntas seluk-beluk bagaimana menjadi
seorang penulis. Dari sana aku kenal GOLA GONG. Dia sebut-sebut kata
Rumah Dunia.  Penasaranku muncul, dua onggok kata itu menjadi sebuah
tanya bagiku. Sehingga untuk selanjutkan aku selalu menanti kiriman
majalah Annida dari donatur yayasan tempat aku bersekolah. Maklum, aku
menimba ilmu di sebuah SMA boarding school yang hanya boleh
pulang sekali dalam sebulan. Setiap jatah pulang kampung, aku sempatkan
berburu majalah Annida di kota kecil Bukittingi sebelum aku melanjutkan
perjalan pulang ke rumah di Batusangkar. Rublik BCN menjadi santapan
paling nikmat dalam perjalanan menyusuri horizon berkelok di pinggang
Gunuang Marapi. Tulisan GOLA GONG menjadi magnet yang selalu menarikku
untuk membacanya. Waktu itu aku mengenal Rumah Dunia dan GOLA GONG ya
sejauh itu, tidak lebih!
            Tahun 2008 aku lulus
SMA. Saat SNMPTN aku memutuskan untuk kuliah di pulau Jawa. Dimanapun
itu, yang penting aku harus keluar dari Sumatera Barat. Hormon
‘Merantau-’ku mulai bekerja dan merangsang. Maka luluslah aku di Univ.
Sultan Ageng Tirtayasa yang belakangan aku ketahui ternyata berada di
Banten. Alamak! Mampuslah aku, begitu pikirku waktu itu.
           
Waktu terus berputar, kegiatan kuliah yang menguras otak sering kali
membuatku ‘galau’ bila berhapadan dengan mata kuliah yang paling aku
tidak suka. Hitungan! Arg! Apalagi pengalaman tragedi IPK Nasakom pernah menimpaku. Aku makin galau, aku stress! Aku ingin pulang kampung saja. Ondeh Mandeh, Si Chogah baru satahun marantau alah pulang? Hahay! Tak sanggup aku mendengar Mandeh berucap demikian bila niat ‘gila’ku itu benar-benar aku laksanakan.
            Dalam suasana masih ‘galau’, aku bertemu dengan Hilal Ahmad di Facebook.
Kebetulan waktu itu aku ingin menjadi model dalam sebuah rublik yang
dia pegang di koran lokal di propinsi ini (contoh brondong gak tau diri,
jangan dicontoh ya!). Beberapa kali berkomunikasi, kami makin akrab,
mungkin karena ada persamaan hobi_yang pasti persamaan nasib di antara
kami. Sama-sama perantau. Bedanya aku dari Padang, sedangkan Hilal dari
Lampung. Dari pertemanan itu aku belajar banyak hal dari Hilal; salah
satunya tentang menulis. Aku lihat cerpen-cerpennya di koran, di
majalah, di note, di situs-situs online. Bah! Ini orang keren bana! Pikirku, aku harus contoh dia.
           
Maka aku terbius untuk menulis di media. Aku praktekkan apa yang pernah
aku baca di BCN, aku laksanakan apa yang pernah di tulis GOLA GONG di
sana. Maka jadilah satu cerpen, dua cerpen, dan catatan-catatan kecil
lainnya. Aku kirimkan ke koran lokal di sini, ke Annida. Ai!
Ternyata dimuat sodara-sodara! Aku bisa seperti Hilal. (Tentunya
prosesnya tidak semudah itu, banyak lika-liku yang harus aku lewati;
ditolak, dicuekin, sampai dikacangin: curcol ni yee?).
           
Pertengahan 2010, aku makin gencar ‘menyaingi’ eksistensi Hilal di
dunia kepenulisan (cieeee… preet, hehee). Entah bagaimana awalnya, aku
pun lupa, suatu hari Hilal mengirimkan pesan ke inbox-ku. Dia
katakan Rumah Dunia mengadakan proyek penerbitan antologi cerpen. Lalu
dia ajak aku untuk turut serta. Hah? Rumah Dunia? Seketika memoriku
mengingat dua onggok kata yang dulu menjadi tanya bagiku. Rumah Dunia di
Serang? Bah! Alamaaaak, betapa bodohnya aku ini, dua tahun
keberadaanku di Banten, aku baru mengenal kalau kata yang sering
disebut-sebut itu berada di kota ini? Sungguh lucu, bukan?
            Semenjak itu, aku bertekat ‘kebodohan’ ini tidak boleh berlanjut. Maka dengan muka malu-malu aku datangi Rumah itu. Subhanallah!
Aku tengah berada di Rumah Dunia! Rumah yang dulu menjadi tanya di
otakku. Lantas, seketika jiwa narsisku meledak. Jepret! Jepret! Berpose
di gerbang Rumah Dunia adalah moment paling dahsyat yang selalu aku ingat.
           
Kunjunganku selanjutnya bukan sekedar untuk pose-pose. Aku ingin
melihat secara langsung sosok yang bernama GOLA GONG itu. Maka, ketika
peluncuran antologi Gilalova, akhirnya orang itu berhasil juga aku rekat
erat di kornea mataku. Low Profile! Santun! Dahsyat! Itulah kata yang sementara bisa aku katakan untuk menggambarkan sosok luar biasa itu.
           
Semenjak itu, aku selalu menyempatkan diri berkunjung ke Rumah Dunia.
Memang, karena aku mengenal Rumah Dunia ketika telah berada di semester
banyak, maka kedatanganku tidak bisa terlalu intens. Namun, ketika Rumah Dunia mengadakan acara kepenulisan dan literasi, aku selalu menyempatkan diri untuk ‘nongol’.
           
Di Rumah Dunia aku menemukan fenomena keakraban dan kebersamaan yang
berkualitas. Sebuah rumah yang mewadahi orang-orang macam aku ini untuk
berkembang, untuk mengeksplor diri, untuk mengekspresikan diri mereka
lewat tulisan. Di Rumah Dunia aku menemukan keluarga baru, keluarga yang
mengerti aku. Tawa, canda, dan cerita mengalir begitu saja. Lebur dan
meluber macam lelehan sebatang coklat yang dipanaskan. Tawa yang nikmat,
tawa yang mendamaikan. Tawa kami bersama GOLA GONG, bersama para
pencinta literasi. Ah! Andai saja kebeodohanku yang terlambat
mengenal Rumah Dunia tak pernah terjadi, tentu aku tidak akan pernah
mengalamai hal yang namanya ‘galau’ sebagai mahasiswa. (*)
*Ciruas-Serang, kontrakanku yang sumpek; 6 Juli 2011- 02:47  Pagi
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Pelangi Sehabis Hujan Selalu Lebih Indah Pelangi Sehabis Hujan Selalu Lebih Indah 18 Maret 2013 Badan kurus saya masih terasa pegal, sepulang ‘ngobrol’ cukup lama dengan Ge Pamungk...
Aku Ingin Tua dan Mati di Kampung Kita Tahun-tahun usai dan datang kembali, dan aku kian tua di sini. Di dadaku, Mak, tumbuh subur sebatang pohon. Pohon berdaun lebat dan akar kokoh m...
Sampai Mati pun, Aku Tidak Akan Melupakan Ini, San Sampai Mati pun, Aku Tidak Akan Melupakan Ini, San Oleh Setiawan Chogah  (Dimuat dalam antologi 'Seorang Nenek di Bawah Pohon Kasturi; 5...
Allah Akan Bayar Utang Saya Ping! Layar ponsel Dompet Dhuafa (DD) Banten berkedip, sebuah pesan BlackBerry Messenger  dari seorang teman di...
Andai Uang Tidak Pernah Diciptakan… Andai Uang Tidak Pernah Diciptakan... Uang..., uang..., dan uang. *silakan inap renungkan tiga kata serupa itu, Teman!* Well, masing-masing ...
Irvanisme, Sebuah Cara Memandang Hidup Hallo, Dunia! Sudah lama sekali saya tidak berkeluh kesah di sini, apalagi show off *whats?!, atau sekadar curhat nggak penting tentang hari-h...
MANTAN 4L4Y Bererapa minggu ini gue paling jijik yang namanya Alayer! Bukannya gue sok iya ato mau merasa paling bener sih. Tapi sumpah, di beranda Facebook gue...
Untuk Perempuan Mungil yang Kemaren Ulang Tahun Untuk Perempuan Mungil yang Kemaren Ulang Tahun Aku selalu dihadapkan pada sebuah kebingungan bila ada yang menanyaiku seperti ini; Siapakah yan...