+62 821-1040-9641 chogah.dd@gmail.com
Satu Tahun Lagi, Mak Dang 
Naskah ini saya ikutsertakan dalam Menulis Kisah Reflektif “Man Jadda Wajada” bareng A. Fuadi 2011 lalu.

MAK DANG, entah bagaimana aku mampu membalas segala kebaikannya padaku. Mak Dang, laki-laki yang yang menjadi tempatku mengadu, tumpuan hidupku. Inilah kisahku, aku dan Mak Dang. 
Kawan, sebelum aku berkisah mengenai Mak Dang, aku ingin menjelaskan suatu hal penting pada kalian. Mengapa aku katakan penting? Karena apabila hal ini aku tiadakan, maka kalian akan mengira ceritaku mengada-ada dan tak masuk di akal.
Baiklah, begini hal penting itu; Aku. Seorang anak laki-laki asli Minangkabau. Di sebuah nagari di pelosok Ranah Minang aku terlahir. Atar nama nagari itu, kira-kira seratus duapuluh lima kilometer dari Kota Padang. Sekarang aku ingin bertanya, apa yang ada di pikiran kalian ketika mendengar anak laki-laki Minangkabau? Aku coba menebak, setiap kali aku bercerita soal ini ke kawan-kawanku, mereka selalu mengeluarkan pendapat skeptisnya terhadapku. Mereka katakan aku Padang Pelit! Padang Bengkok! Alamaaak! Aku harap bukan pendapat serupa yang kini ada di pikiran kalian. 
Begini, Kawan, aku menyadari dan aku tahu, image pelit telah terlanjur melekat pada sukuku, Minangkabau. Tapi perlu untuk kalian ketahui, atau barangkali kalian akan paham kalau pelitnya kami bukanlah sembarang pelit. Pelit kami termanajemen dengan baik, penuh perencanaan, ah! Aku rasa ini bagian yang tak penting untuk aku jelaskan, silakan saja kalian pelajari ilmu manajemen dan teknik industri, aku rasa kedua ilmu itu akan membenarkan ‘pelit’nya orang-orang kami yang sering kalian jadikan bahan tertawaan itu. Efektifitas dan efisiensi, Kawan. 
Tebakan keduaku, yang ada di pikiran kalian mungkin kata ‘merantau’. Aha! Ya, bagi kami laki-laki Minang, merantau itu sudah merupakan keharusan. Orang-orang tua kami menyebutnya ‘Mambangkik Batang Tarandam’. Mencari pengalaman dan pegangan hidup, kemandirian, dan setelah sukses membangun nagari di kampung halaman. Konsep dan pemikiran ini sudah ditanamkan kedua orangtuaku semenjak aku anak-anak. Di usia es-de, di pikiranku sudah terbayang, kalau suatu hari kelak aku pun akan merantau. Meninggalkan nagari Atar, dan mencari keberuntungan di rantau orang. 
Tapi ada hal lain yang mungkin tidak kalian ketahui. Begini, ketika seorang anak laki-laki berkelakuan congkak dan berperagai cingkahak[1], tentulah yang akan menanggung malu adalah kedua orangtua mereka. Itu sudah wajar, bukan? Namun ada yang istimewa di suku kami. Ketika seorang anak berperilaku buruk, seorang mamak[2] pun akan ikut menjadi bahan omongan orang sekampung. Ya, mamak mempunyai peran penting bagi kehidupan seorang keponakan. Orang-orang tua di nagari-ku menyebutnya dalam pepatah adat ‘anak dipangku, kamanakan dibimbiang’. Sebuah pepatah yang menjelaskan bahwa seorang mamak dan kemenakannya ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. 
Mungkin hal ini juga yang membuat Mak Dang begitu mempunyai arti besar dalam pencapaian hidupku selama ini. Kau tahu, Kawan, Mak Dang adalah adik laki-laki ibuku yang kedua. Yang pertama aku panggil dia Mak Ongku, dan yang paling bungsu aku panggil Mak Enek. Tapi entah kenapa, Mak Dang bernilai lebih di mataku. Begini ceritanya. 
Aku sadar, aku anak yang dilahirkan sebagai laki-laki yang andal bermimpi. Bisa sekolah tinggi dan menjadi sarjana pertama dari keturunan suku Patopang[3] di keturunan saparuik-ku. Tapi ada satu hal yang aku alpa tentangnya. Kemiskinan. Aku selalu tak tahan menahan pendar air mata ketika berbicara soal kemiskinan. Aku punya cerita tragis tentang ini. Kemiskinan nyaris membuat mimpi-mimpiku seperti punguk merindukan bulan. Ah! Aku masih ingat, Kawan. Kalau dulu, di keluargaku, makan ala kadarnya sudah hal paling biasa. Berutang ke warung, ke tetangga, sudah sering aku lakukan ketika persediaan beras kami habis dan uang pegangan Amak tidak ada. Aku pun masih ingat, kami hanya menikmati nikmatnya makan pakai telur dan ikan sekali dalam beberapa bulan, itu pun kalau upah Abak sebagai buruh bangunan bersisa setelah memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan uang sekolahku lunas dibayar. 
Kawan, aku benci yang namanya miskin. Kemiskinan juga yang telah memisahkan Amak dan Abakku. Kemiskinan yang telah membuat aku dan adik-adikku hidup dan disekolahkan orang lain. Menpadat kasih sayang dari Ibu dan Bapak yang lain. Ah! Sedih, Kawan. Sungguh sedih aku mengingat hal tentang kemiskinan. 
Namun, seperti dulu Abakku berkata. Sekali layar terkembang, pantang perahu berbalik arah. Aku sudah terlanjur menyulam mimpi, maka aku harus selesaikan menjadi sebuah tenunan yang indah, yang kelak aku berikan pada Abak dan Amakku. 
Beruntung aku dianungrahi Allah kemampuan yang lebih di bidang akademis. Bukan bermaksud menyombongkan diri. Apalah arti kecerdasan tanpa dibarengi dengan kemampuan finansial yang memadai. Semenjak es-de lalu es-em-pe, aku selalu membuat Amak tersenyum dan menangis haru dengan juara satu yang tertulis di raporku setiap kali hari pembagian rapor tiba. 
Beruntung juga aku, sampai bangku es-em-a dapat beasiswa. Jadi beban Amak bisa sedikit terbantu. Namun masalah datang ketika aku menamatkan es-em-a tahun 2008. Mimpiku butuh satu malam lagi untuk menjadi kenyataan. Aku harus kuliah. Bah! Biaya dari mana? 
Di usia itu, jiwa merantauku mencuat. Dan Mak Dang menyadari tanggung jawab yang segera harus dia tunaikan. Membimbing kemenakan. Kehidupan Mak Dang yang memilih beristri orang rantau, nyaris membuat lupa akan tanggung jawabnya. Namun kali ini, aku menuntut itu. Tepatnya aku butuh, maka aku menuntutnya. 
September 2008. Aku datangi Mak Dang ke Banten. Aku sengaja memilih Universitas Tirtayasa ketika tes Seleksi Nasional Masuk perguruan Tinggi Negeri di Padang. Dan Allah mengabulkan doa-doaku. Aku lulus di pilihan pertama. 
Tak gampang menuntut hakku sebagai kemenakan pada Mak Dang, mamak-ku. Mukaku benar-benar aku tebalkan. Di awal keberadaanku di Banten. Aku dititipkan Mak Dang di rumah Etek[4]ku. Etek pun sudah bersuami dan mempunyai anak. Ah, bisalah kalian bayangkan bagaimana susahnya aku bertenggang rasa dan berperang dengan batin setiap kali mau bertindak. Aku mahasiswa, aku kuliah, dan aku punya kegiatan yang seabrek-abrek di kampus. Setiap kali aku sampai di rumah, letih dan penat benar-benar mengusai, tentu aku memilih beristirahat. Beristirahat? Ah, Kawan. Yang beristirahat hanya ragaku saja, sedangkan jiwa, menangis menahan malu. Bagaimana ketika suami Etek cemberut ketika aku pulang malam, bagaimana suami Etek berkias ketika aku langsung masuk kamar, dan omongan-omongan tak sedap lainnya ketika aku tidak sempat membantunya bekerja di kedai fotokopi yang keluarga Etek kelola. Aku makan hati. Aku benar-benar tidak bahagia. 
Kesabaranku menemui puncak ketika satu semester telah aku habiskan sebagai mahasiswa dengan prestasi yang luar biasa. IPK 1,80. Bah! Mau aku sembunyikan kemana muka ini, Kawan? 
Aku pergi dari rumah Etek, semua baju-bajuku aku masukkan ke ransel besar yang dulu aku bawa dari Padang. Aku tinggalkan rumah Etek dengan sebuah harapan mendapat tempat bersadar di ‘beringin besar’ yang telah di tanam Mak Dang. 
Kesedihanku sedikit terobati, ketika Mak Dang menempatkanku di cabang fotokopinya di daerah Walantaka. Limapuluh kilometer lebih dari kampusku di Cilegon. Tapi aku tak persoalkan hal itu. Bagiku, yang terpenting aku bahagia menjalankan kehidupanku sebagai mahasiswa tanpa ada yang harus ditenggang. Aku hidup berdua dengan karyawan Mak Dang. Aku dipercaya untuk mengelola keuangan fotokopi. Dari sana pula dana kuliah aku bayar. 
Ternyata benar, Kawan. Allah tidak akan menguji hamba-Nya melampui batas kemampuannya. Janji Allah itu yang menjadi kekuatanku untuk bertahan sejauh ini. 
Ada cerita lain yang mungkin kelak akan jadi pelajaran bagiku ketika aku punya keturunan. Pelajaran bagiku ketika aku memilih pendamping hidup, memilih istri yang kelak akan jadi ibu bagi anak-anakku, dan Etek bagi kemenakanku. 
Begini, Kawan. Seperti yang tadi aku ceritakan. Mak Dang memilih beristri orang rantau dan menetap di kampung istrinya. Bukan cerita asing lagi, aku rasa setiap kemenakan keturunan Minangkabau merasakan apa yang kini aku rasakan. Perlakuan dan sikap istri Mamak terhadap kemanakan yang menggantung hidup kepada keluarga mereka. Ceritanya persis seperti sebuah sinetron Indonesia. 
Ada sebuah cerita yang membuat aku menangis dalam senyum kecut ketika pulang dari rumah Mamak mengambil uang bulanan kuliahku. Dua atus ribu per bulan. Itu jumlah yang dulu dijanjikan Mak Dang dan Mak Enek untuk alokasi ongkos dan jajanku kuliah ke Cilegon dari Serang. 
Sore itu, aku sampai di fotokopi keluarga Mamak. Aku tidak menemui Mamak di sana, kata istrinya, beliau ada keperluan ke luar. Bukan kata istrinya, tapi jawaban istrinya ketika aku mengajukan pertanyaan perihal keberadaan Mamak-ku. 
Satu jam aku menunggu Mamak di teras fotokopinya. Sendiri. Harap-harap cemas. Mamak tak juga kunjung datang. 
Dalam suasana menunggu Mamak, aku mengenang masa-masa hidup di kampung bersama Amak dulu. Katika masa pembayaran SPP datang, aku akan bercerita pada Amak setelah kami selesai makan malam di dapur. Tanpa beban, aku bisa mengutarakan kalau aku butuh uang untuk bayar SPP dengan perasaan yang lapang. Lalu Amak memberikan buku tabungan beasiswaku. Lalu aku menuju kantor Pos di pusat kecamanatan. Sepuluh kilometer dari Atar. 
Tapi kali ini suasananya berbeda seratus delapanpuluh derajat. Tidak ada Amak di sampingku, yang ada hanya istri Mamak yang dari tadi tidak menganggap keberadaanku, atau sengaja berpura-pura kalau dia tidak melihatku. 
Aku mengulum tangis pilu ketika aku tidak mendapatkan suara ramah istri Mamak yang mempersilakan aku masuk, menyuguhkan secangkir teh manis atau kue kering di atas meja. Ah! Aku terlalu berharap untuk diperlakukan istimewa sebagai tamu. Aku lupa kalau kedatanganku bukan sebagai tamu. Aku datang sebagai pengemis. 
Tak apa, Kawan. Biarlah istri Mamak bermuka masam setiap kali aku datang berkunjung ke kediaman mereka. Biarlah suami Etek dulu berceloteh, kias mengias ketika aku pulang malam. Biarlah. 
Aku masih punya Mak Dang yang memberikan kekuatan padaku dengan petuah-petuahnya. Kalau anak laki-laki tak boleh cengeng, anak laki-laki tak boleh manja. Dulu, Mak Dang memulai hidup di rantau dengan perjuangan yang melebihi perjuanganku menebalkan muka. Cerita Mak Dang padaku, di tahun kedatangannya di Banten 1991 dulu, Mak Dang berjuang hidup dengan uang serba pas-pasan. Memulai usaha dengan modal seadanya dan perencanaan serta pertimbangan bisnis yang matang yang sering kali diartikan ‘pelit’ oleh kalian selama ini. Hidup butuh perjuangan, butuh perencanaan, dan butuh perhitungan yang tepat. Itu kata-kata Mak Dang setiap kali memberiku petuah di sepanjang perjalanan Serang-Cikande ketika menganjarku ke kontrakan di Walantaka. Mak Dang adalah guruku dalam bertahan hidup di rantau. Tak-tik yang dulu dipakai Mak Dang, beliau coba menurunkannya padaku. Bisnis yang di Walantaka yang tengah aku kelola diperuntukkan untuk keluarga di pangka[5]. Untuk uang bulanan Inyiak[6], memperbaiki rumah gadang, dan biaya tak terduga yang dibutuh oleh keluarga di kampung. 
Mak Dang tahu betul tanggung jawabnya sebagai Mamak-ku. Mak Dang pandai betul menjalankan perannya sebagai Mamak dan andal sebagai ayah bagi anak-anaknya. Terbukti, anak Mak Dang besekolah dengan fasilitas yang tak bisa dibandingkan dengan cara aku dulu bersekolah, namun aku bersyukur, Mak Dang tak lupa dengan tanggung jawabnya pada masa depanku, pada mimpi-mimpiku, pada gelar sarjana yang kelak akan menjadi gelar pertama di keluarga sekaumku, dari keturunan Inyiak. 
Saat ini, aku sudah semester ketujuh. Itu artinya, waktuku tinggal sebentar lagi untuk menuntaskan mimpiku untuk menjadi sarjana. Satu tahun lagi, Mak Dang. Insya Allah. Aku jadi sarjana. 
Terima kasih yaa Allah. Jalan hidupku begitu berliku, aku jadi tahu senang, setelah Kau berikan sakit yang lebih dulu aku rasakan. Aku mohon yaa Allah, masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Biar kelak aku bisa membalas segala kebaikan Mamak-mamak-ku, biar kelak pun aku mampu menjadi Mamak yang bertanggung jawab pada kemenakanku dan imam yang baik bagi istri dan anak-anakku. Aamiin (*) 
Walantaka – Jumat, 30 September 2011 
[1] Cingkahak berarti bandel 
[2]Mamak, berati Paman (Adik/ kakak laki-laki dari Ibu) berdasarkan struktur kemasyarakatan Minangkabau 
[3] Patopang, salah satu suku di Minangkabau selain Caniago, Bodi, Piliang, Tanjuang, dll 
[4] Etek, adalah sebutan untuk adik perempuan ibu 
[5] Di Pangka, berati keluarga besar sekaum dari kaum ibu 
[6] Inyiak, bearti Nenek (Ibu dari Ibu dan Paman)
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Maafin Gue, N. N, malam ini gue ngeliatin foto-foto lu sangat lama. Lama banget! Gak tau kenapa, tiba-tiba saja mencuat suatu rasa ikhlas di hati gue buat nge...
Jadi Artis? Enak Kali Yaaa? Jadi Artis? Enak Kali Yaa?Seperti biasa, sebagai penderita insomnia parah, gue gak bisa tidur. Gue buka-buka folder poto di lappie dan nemuin berepa p...
Aku, Mimpi, dan Tuhan Aku, Mimpi, dan TuhanKadang aku berpikir, Tuhan ternyata begitu telaten memprogram hidup setiap ciptaanNya. Semuanya terencana dengan ...
Rumah Dunia! (Ini ceritaku, apa ceritamu?)         Ikuti Kompetisi Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2011. Klik di SINI Rumah Dunia!  (Ini ceritaku, apa c...
Nama Saya Setiawan Chogah Nama Saya Setiawan ChogahSaya Pengin Jadi ArtisNama saya Setiawan Chogah. Sebenarnya itu bukan nama asli pemberian kedua orangtua saya. Tapi...
Ikutlah Bersama Saya, Kawan! Ikuti Kompetisi Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2011. Klik di SINIMenebus Mimpi dari MenulisCerpen perdana di Tribun Jabar  ...
FILE DURJANA  Beberapa hari yang lalu laptop gue terjangkit virus sialan. Sebenernya salah gue juga sih. Waktu itu ceritanya gue lagi maen ke konternya si K...
Galau Maning, Soooon. Galau Maning, SoooonEduuuun; gue selalu gak habis pikir sama 'otak' gue yang sebenernya gak bego-bego amat. But, kenapa tiap akhir semester gu...
Bagikan tulisan ini: