+62 821-1040-9641 [email protected]
*Kang Arul
Keluhan bukan barang baru bagi penulis. Bahkan penulis yang sudah menghasilkan buku pun kerapkali mengeluh ketika menjalani profesi menulis. Apalagi penulis pemula atau mereka yang mencoba-coba memulai karirnya dalam menulis. Selalu saja ada kalimat yang terlontar dari lubuk hati yang paling dalam:
“Wah, ide buntu. Mau nulis apa, nih?”
“Habis paragraf ini apa ya?”
“Masih bertahan di halaman 10, kapan nyampe halaman 100-nya?”
“Duh, jangan pekan ini, deh. Sebulan lagi tulisannya selesai.”
“Nggak ada komputer. Kalau ada laptop enak nih nulis.”
“Nyari data kudu ke warnet dulu. Internet nggak ada di rumah.”
Bla… bla… bla…
Inilah sebagian zona nyaman yang sering menghinggapi. Ibarat kata pepatah ‘rumput tetanga jauh lebih hijau dari rumput di halaman sendiri’. Seringkali ketika menulis kita melihat di luar diri dan langsung menjatuhkan penilaian bahwa itulah yang nyaman dalam menulis.
Misalnya, di rumah tidak ada notebook yang ada hanya komputer personal atau PC. Itu pun harus dipakai bergantian dengan orang-orang di dalam rumah. Sesaat muncullah bisikan dalam hati, “Kalau punya laptop enak nih kerja. Kalau PC punya sendiri di dalam kamr bakalan selesai tulisannya. Wah, kalau punya PC dan laptop enak kerja di mana saja.”
Menciptakan zona nyaman itu hulunya adalah menciptakan enaknya menurut diri kita sendiri ketika menulis. Melihat bahwa, misalnya, penulis x yang sudah terkenal diketahui nyaman menulis di mana saja karena ada laptop selalu dibawa di tas punggungnya. Dan seandainya  memiliki laptop kita mengira akan sama produktifitasnya dengan penulis x itu.
Padahal, zona (yang kita kira) nyaman itu sebenarnya tidak seratus persen bisa bikin kita nyaman dalam menulis. Laptop yang kita punya pun bisa menjadi pangkal ketidak nyamanan. “Wah, laptop layarnya 14 inci, coba kalau 10 inci. Kecil enak dibawa kemana-mana.”
So, sekali-kali ketika menulis keluarlah dari zona nyaman itu. Jika tidak punya buku referensi, jalan ke perpustakaan atau ‘numpang’ baca di toko buku. Menulislah dengan apa yang ada dan apa yang kita punya.
Percayalah, kepayahan dalam menyelesaikan 100 halaman dikemudian hari nilai kepayahan itu akan tergantikan dengan perasaan luar biasa; mengetahui buku diterbitkan, takjub memandang nama kita ada di kaver buku, diberi selamat oleh pembaca,  dan syukur-syukur buku jadi best seller.
Ibarat kata-kata bijak, setiap kesulitan akhirnya akan ada kemudahan…
(www.menulisyuk.com)
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Allah Akan Bayar Utang Saya Ping! Layar ponsel Dompet Dhuafa (DD) Banten berkedip, sebuah pesan BlackBerry Messenger  dari seorang teman di...
Kapan Lulus? *Pura-pura Budek Aja! Kapan Lulus? *Pura-pura Budek Aja! Yippiii...  April udah mau lewat, Cos! That mean sebentar lagi semester 7 segera berakhir. So what? Hei...
IPK atau SARJANA? IPK atau SARJANA? Seharian ini saya kembali dibuat galau oleh yang namanya perkuliahan. Yaa! KULIAH. Saya sengaja membuat kata itu uppercase b...
Gak Pede? Self Talk Aja Lagi! Gak Pede? Self Talk Aja Lagi! Oleh Setiawan Chogah Sobat, jangan katakan kalau kalian belum pernah menonton film besutan hollywood yang dib...
Kisah Perjalanan Tiga Kaleng Coke, Kita yang Mana? Saya kembali gemar ngadem di Path. Path itu kesannya lebih seru aja dibanding Facebook yang ke sini-sini, kok, kesannya makin crowded banget. Ya, mesk...
Ramuan Menjaga Gairah Menulis  *Kang Arul “Lemes gue, Kang.” “Loh, kenapa?” “Kerjaan banyak numpuk. Bla… bla….” “Namanya juga orang kerja.” “Ya, tapi bikin lemes nih. Sa...
Sabtu Pagi di Bhayangkara Sabtu Pagi di Bhayangkara Beberapa minggu ini saya menjadi 'mandul' dalam menulis. Tidak tahu kenapa, saya menjadi larut dan terkurung di fase...
Belajar Menulis dari TEORI? Itu Salah!  Belajar Menulis dari TEORI? Itu Salah! Manusia punya sifat-sifat alamiah dalam belajar. Kadal dan kambing juga punya sifat alamiah dalam ...