+62 821-1040-9641 [email protected]


Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur dihatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya
Bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja

 

Aku begitu suka dengan puisi Rako Prijanto ini, tidak tahu kenapa?
Apa karena aku punya kisah ‘tersendiri’ tentang perempuan? Atau karena statusku yang hingga detik ini masih jomblo tulen? Ah, mana kutahu? Apalah arti sebuah status, terlepas dari pacaran atau bukan, bagiku inti dari sebuah hubungan adalah kenyamanan. Hei! Jangan dulu berprasangka kalau aku tidak laku! Hehehee. Bukan sama sekali, mungkin gara-gara pengalaman, perjalanan hidup, lalu merubah menjadi prinsip – aku tipe lelaki yang memandang pacaran bukanlah sebuah kebutuhan, bahkan sesuatu yang harus aku hindari. Cintaku, hanya untuk dia yang menjadi pertama dan terakhir bagiku kelak. InsyaAllah.
Alamak, ceritaku jadi panjang lebar begini. Baiklah. Bicara soal perempuan, aku selalu tidak kuat menahan haru setiap kali menyusun keping kenangan yang terbentuk dari perkenalan kami. Perempuan-perempuan yang bernilai 10 dalam hidupku. Ibuku, Makwakku, Bunda guruku dari esde sampai es em a, lalu para perempuan yang aku temui secara tidak sengaja, lalu menjadi akrab, dan kami pun bersahabat.
Hari ini, aku ingin berkisah tentang seorang perempuan yang pada akhirnya mengambil peran dalam perjalanan hidupku.
Anda dan Triani Retno A Full
Berteman di Facebook sejak Oktober 2010
Ya, begitu Facebook mencatat waktu perkenalan kami pertama kali. Aku meng-add dia setelah beberapa kali melihat namanya wara-wiri di komen diskusi kepengarangan. Maklum, di tahun itu aku memulai niatku untuk jadi orang yang bisa mengarang. Mengarang fiksi!
Awalnya, aku mengenalnya sebagai perempuan biasa. Bahkan terlalu biasa. Di Facebook kami memang berteman, hanya sebatas berteman, tidak ada sesuatu yang mengistimewakan pertemanan itu.
Namun, suatu malam di Februari 2011, perempuan itu meninggalkan komentar di salah satu ilustrasi cerpenku yang aku upload ke Facebook.
“Masih Adakah Surga di Kaki Mimi? Cerpen yang saya tulis ketika KD-Raul memenuhi tayangan infotainment. Penulis kadang memang rada gmana2 gtu, tapi saya tidak menulis soal KD kok. Cerpen ini dimuat di Radar Banten; Koran no 1 di Propinsi Banten. Halah! Hehe”
Triani Retno A Full Ide memang bisa datang dari mana aja, ya….
25 Februari pukul 1:03

Setiawan Chogah Persis!!! curhat sama saya dong Mbak, biar saya dpet ide lagi.. Lho?? hehe
25 Februari pukul 1:08

Triani Retno A Full Hahaha…. gimana kalo kamu aja yang curhat duluan?
25 Februari pukul 1:10

Setiawan Chogah jangan mbak…. saya orangnya pemalu dan tertutup.. hhhiiiii
25 Februari pukul 1:14
Triani Retno A Full oh, selain kuliah dan nulis, jualan palu juga ya? Hehehe…
25 Februari pukul 1:29
Dih! Dia lucu, aku terkekeh membaca komentarnya yang terakhir.
Februari berlalu, pun demikian pertemanan kami hanya sebatas memberi komentar. Itu pun sangat jarang dan tidak terlalu penting.
Suatu hari, di penghujung bulan. Aku kaget membaca cerpen duet di majalah Story. Triani Retno! Hah? Perempuan itu…,
Semenjak hari itu aku berusaha untuk sok dekat dengan dia. Aku mencari tahu tentang dia, alamak!Aku sungguh malu pada diriku sendiri setelah tahu siapa perempuan yang dulu aku anggap biasa itu. Dia penulis senior!
1 September 2011
Misiku berhasil. Aku dan Mbak Enno makin dekat. Kedekatan yang begitu manis, seperti ibu dengan anak. Ah, Mbak Enno pasti tidak terima dengan analogiku. Baiklah, kami bagai adik dengan kakak. Percakapan-percakapan yang terjadi antara kami makin manis saja. Aku seperti menemukan kakak perempuan yang mengerti aku. Tahu tentang kebutuhanku, dan paham betul dengan ceritaku sebagai adik laki-lakinya yang jomblo, sendiri di rantau orang.
Aku semakin malu ketika mengetahui Mbak Enno telah eksis semenjak membaca komentarnya di salah satu forum diskusi kepengarangan “Cerpen pertamaku dimuat di Aneka Ria (sekarang Aneka Yess) tahun 1995.” Bah! Di tahun itu aku masih ingusan, belum bisa mengeja a b c, dan masih nyaman mandi bugil di sungai kecil di depan rumahku. 1995 VS 2010. Bukan angka yang pantas untuk dibandingkan! Aku menjadi begitu kecil. Namun, diam-diam ada bangga yang tiba-tiba membuncah dari dadaku. Perempuan hebat itu mau bersahabat denganku, berbagi cerita tentang proses kreatif melahirkan sebuah cerpen, sampai saling menguatkan ketika salah satu di antara kami tengah diselimuti aura sedih (biasanya jatahku lebih banyak dinasehatin Mbak Enno, maklum faktor usia. Hihhiii.).
Ah, hari ini. Perempuan itu lagi-lagi membuat aku kelu. Aku bagai pengarang yang kehabisan kata-kata. Tidak tahu harus berbuat apa. Triani Retno hari ini adalah hari ulang tahunnya, begitu Facebook memberi tahu di berandaku. Kakak perempuanku berulang tahun. Aku tidak tahu harus memberi apa. Malah, kekeluanku semakin menjadi-jadi ketika tadi sore aku ingin membuang suntuk. Aku tengah tidak enak badan, dan penyakit akan semakin ‘kurang ajar’ kalau dimanjakan. Maka dengan semangat yang sedikit dipaksakan aku berangkat ke Serang, ke rumah bibiku.
“Da, ada kiriman,” kata Afdal adikku ketika aku menginjak lantai photo copy.
Aku menerimanya. Sebuah bingkisan berwarna putih. Aku baca perlahan-lahan. Kiriman dari Bandung. Mbak Ennoooo…, *kehabisan kata – diam 15 menit*
Walantaka, 9:27PM
Aku telah sampai di kontakanku. Aku membuka bingkisan dari Mbak Enno dengan pelan. Seperti kebiasaanku, aku selalu menyimpan sampul kiriman yang aku terima, baik dari majalah, dari penerbit, dan dari sahabat-sahabatku.
Dua buah bukunya Mbak Enno. Aku buka halaman pertama, beberapa kalimat manis menyambutku di sana. Ah, Mbak Enno. Ternyata Mbak beneran…,
Selamat Ulang Tahun Mbakku. Maaf, seharusnya aku yang memberi kado buat Mbak. Tapi kenyataannya malah terbalik. Untuk saat itu mungkin aku belum bisa memberi kado apa-apa buat Mbak. Hanya harapan dan doa, semoga Mbak Enno senantiasa diberi kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan. Semoga makin gape dalam mengarang, semakin disayang sahabat-sahabatnya. Dan aku berjanji, akan membayar keterlambatanku mengenal karya-karyamu ya Mbak. Terima kasih banyak telah mau bersahabat denganku, mengajarkan banyak hal tentang hidup padaku, aku yakin dan percaya, persahabatan kita InsyaAllah abadi-selamanya. :))
Aku dan Mbak Enno. Akhirnya waktu mempertemukan kita juga ya Mbak. :)) 
Bingkisan manis dari Mbak Enno :)) 
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Sakit Dahulu, Senang Kemudian Sakit Dahulu, Senang Kemudian Perasaan udah lama banget gue gak update Blog keren ini *setidaknya kata gue, :D. Oke, dari pada Facebook-an ga...
Mak … Aku Segera Pulang 1:20 AM.Aku rasa malam mulai keriput pada kombinasi angka yang tertera di pojok kanan komputer basecamp. Sementara mata masih benderang menera...
HepiBesDe, DR Bego! Gue oon banget dah;  Kenapa gue ampe lupa , kalo hari ini sodara gue si Kancut ulang taon (tu anak ternyata pernah lahir juga, heheee),&nbs...
Rumah Dunia! (Ini ceritaku, apa ceritamu?)         Ikuti Kompetisi Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2011. Klik di SINI Rumah Dunia!  (Ini ceritaku, apa c...
KUTUKAN KANCUT MUSPI  Jumat, 08 April 2011Gue mungkin salah satu mahasiswa paling oon yang pernah dimiliki Untirta, hahaa; sumpah! Kejadian tadi pagi bener-bener gak ...
Pelangi Sehabis Hujan Selalu Lebih Indah Pelangi Sehabis Hujan Selalu Lebih Indah 18 Maret 2013 Badan kurus saya masih terasa pegal, sepulang ‘ngobrol’ cukup lama dengan Ge Pamungk...
Irvanisme, Sebuah Cara Memandang Hidup Hallo, Dunia! Sudah lama sekali saya tidak berkeluh kesah di sini, apalagi show off *whats?!, atau sekadar curhat nggak penting tentang hari-h...
Satu Tahun Lagi, Mak Dang Satu Tahun Lagi, Mak Dang  Naskah ini saya ikutsertakan dalam Menulis Kisah Reflektif “Man Jadda Wajada” bareng A. Fuadi 2011 lalu. ...