+62 821-1040-9641 [email protected]
Terakhir Kali Saya Terharu
Saya itu tipe orang yang susah sekali menghayati sesakralan sebuah
peristiwa. Apapun itu bawaannya selalu ‘cengengesan’. Tapi jarang
bukan bearti tidak pernah dong. Kalau saya tidak lupa hal-hal sakral dalam
hidup saya selalu berhubungan dengan yang namanya teman. Ya teman, saya kapok
dan sedikit skeptis dengan kata sahabat. Hanya orang-orang tertentu yang pantas
saya labelling dengan kata itu.

Well, sebenarnya kali ini saya mau bercerita tentang sesuatu hal yang
membuat saya terharu beberapa hari ini *sudah ketauan dari judul note lu,
monyong!*. Terharu… *ada jedah* Saya sendiri sebenarnya tidak begitu paham
dan kenal apa ciri-ciri dari perasaan yang dinamakan terharu itu? Indikator apa
saja yang bisa dijadikan parameter dari sebuah keterharuan? *halah, bahasa lo,
nyet! hahahha*. Eh beneran, bagi saya terharu itu punya definisi sendiri, yang
mungkin berbeda dengan pengertian yang orang lain punya. Misal; dibilang
pinter, terharuuuu, dibilang cakep, terharuuu *oke, memang kedua kata itu tidak
pernah diucapkan seseorang kepada saya, jadi saya tidak pernah merasakan
terharu yang seperti itu. hahaaha*
Mungkin haru bagi saya itu adalah ketika cerpen pertama saya mejeng di
P’Mails Padang Ekspres tahun 2006 atau 2007 yang lalu *saya lupa persisnya
kapan, plak!*, atau ketika Bidadari di Lampu Merah yang saya tulis semasa di
Agam Cendekia dulu dimuat oleh Annida, atau juga ketika cerpen Kiara yang saya
tulis buat sahabat saya Almh. Lesni Rossa dimuat oleh majalah Story tahun lalu.
Ya, mungkin itulah yang namanya terharu dalam versi saya. 
Tapi dari semua contoh haru saya di atas, tidak melebihi keharuan yang saya rasakan
satu hari yang lalu (Rabu, 4 Juli 2012). Sebuah achievement luar
biasa yang bisa saya capai di tanggal itu. Mungkin semua orang di friendlist saya
sudah tahu kalau saya gemar sekali bergalau ria; itu tergambar dari
status-status dan note gaje saya. Oke, saya akui saya suka sekali galau ketika
mengingat nasip saya yang satu ini, salah jurusan! Deuuuh! Barangkali ini bukan
pembahasan yang menarik ya? Sudah terlalu sering saya berkeluh seoal ini.
Bosen. Hahahahaa. Actually, saya tidak semenderita itu kok. Saya menikmati
 kesesatan saya di jurusan teknik. Swear! Seandainya saya tidak
masuk jurusan teknik industri 4 tahun yang lalu, belum tentu saya akan berada
di fase ini, teknik industri mengajarkan saya untuk berpikir secara runtun,
efektif, dan efisien. Saya menjadi tidak suka berleha-leha, meminimalkan yang
namanya birokrasi. Saya terbiasa untuk bertindak begitu ada ide. Haseeek.
Back to the topic! 
Kemaren, saya baru saja menyelesaikan laporan kerja praktek saya di sebuah
perusahaan isi ulang gas elpiji. Bukan main-main, laporan yang seharusnya kelar
dalam satu semester saya justru nambah satu semester lagi *kemaruk*. Satu tahun
untuk menyusun sebuah laporan kerja prakter yang notabene cuma 50 halaman!
Oooooh, dan ketika laporan itu sudah terjilid rapi dan berada di tangan saya,
kemaren itu. Saya menjadi ragu apakah perasaan saya waktu itu bisa
dikategorikan sebagai perasaan terharu?
Saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Siang itu
ada kelegaan di dada saya, ada perasaan senang, puas, bangga, dan seakan tak
percaya kalau jilid kuning itu merupakan pertanda kalau perjuangan saya tinggal
satu langkah. Dan setelah itu, saya akan menanggalkan identitas saya sebagai
mahasiswa. *sedih*
Tapi itulah yang namanya hidup. Ada awal pasti ada akhir *aduuuh, kesanya
saya ini sudah mau diwisuda saja, skripsi saja belom digarap, hahahhaa*. Tapi
jujur, saya merasakan kelegaaan yang membah dari dada saya, mengalir melalui
napas dan diam-diam mengendap di kelopak mata saya begitu sampai di ruangan 2 x 1 yang menjadi saksi bisu saya selama mengerjakan laporan ini. 2 x 1! Saya
tidak bohong, Fandi, teman saya itu adalah saksi hidup dalam hal ini. Beberapa
kali dia perkunjung ke kontrakan saya yang di Bhayangkara itu, dia tahu
kehidupan saya seperti apa dan bagaimana. Selayang pandang, saya ingin bercerita
tentang Fandi.
Antara saya dan Fandi ada kemiripan kisah dalam hal yang namanya laporan
kerja praktek. Fandi itu pintar sebenarnya, sama seperti saya, tapi belum
kelihatan saja. Hahahahaa. Saya butuh 2 semester untuk mengerjakan laporan KP,
sementara Fandi lebih unggul. Tidak etis kalau saya sebutkan angka pastinya di
sini. Selama satu semester kemaren kami bertekat untuk move on dan
melakukan perubahan besar-besaran. Saya kuat di narasi dan deskripsi semetara
Fandi jago di sofware dan pengolahan angka. Saling bantu dan tolong, kadang
saya yang bermalam di kost-annya Fandi di Palm Hills Cilegon, kadang Fandi yang
datang ke kontrakan saya di Serang untuk mengerjakan KP. Begitulah, persamaan
nasip memang menjadi alasan kuat untuk bersekutu dan menyatukan kekuatan.
Tsaaaah!

Talking about kontibusi, saya tidak mau menutup mata kalau ini adalah
prestasi pribadi saya. Banyak orang yang mendorong saya dari belakang, yang
berkoar-koar di chat room ketika saya lengah dengan kerempongan
facebook, yang menjitak saya ketika mereka bertemu saya di takol atau
berpapasan di kampus, yang tidak bosan-bosannya mengirimi saya SMS semangat,
dan yang ikhlas dan rela kertas dan tintanya saya habisin untuk mem-print out laporan
KP saya.
Saya sangat besyukur dan bahagia tak terkira ketika Tuhan memberikan saya
teman-teman yang baik seperti mereka. Ketika mereka mencela saya, menjitak
saya, membentak saya; saya justru senang. Karena saya tahu begitulah cara
mereka mencintai dan menyayangi saya. Saya tahu ketika saya telah lulus nanti
hal-hal kecil semacam inilah yang akan sangat saya rindukan. 
Seperti Atul, salah satu teman saya yang terkadang sangat ‘kurang ajar’
kepada saya. Atul itu orang yang kelewat baik kepada saya. Dan kebaikan dia
itu saya balas dengan kekurangajaran yang lebih wow dari kurang ajarnya dia
kepada saya *ngerti gak?*. Jadi begini, Atul itu adalah kakak tingkat saya.
Kebetulan beliau *jadi berasa tua banget lo ya, Tul?* pernah cuti dan jadilah
dia satu kelas dengan saya di beberapa mata kuliah. Saya kenal Atul beberapa
semester yang lalu di sebuah matakuliah praktikum. Kami menjadi sering
berinteraksi, Atul menjadi rajin mengirimkan SMS kepada saya, “Chogaaaaah,
BAB II lo yang bikin yaa!”, “Woyyyy Ontaaaa, bab II udah
beloom?”, “Gaaah! Ke lab sekarang, mau nilai gak lo?”,
“Bebeeeek, bimbingan jam 2 ya! Jangan gak dateng lo, gue coret nama lo,
nyahok!”
SMS-SMS seperti itulah yang satu semester ini tidak pernah lagi masuk di inbox hape
saya. Atul sudah lulus dan bekerja di dinas perhubungan prov. Banten *tepuk
tangan doong buat Atul* Di sini juga letak kegalauan saya sekarang-sekarang
ini. Bagaimana tidak? Beberapa teman seangkatan saya sudah lulus. Saya termasuk
golongan mahasiswa cupu di kampus, teman bermain saya boileh dihitung dengan
jari. Intan, yang sering SMSan tentang tugas tinggal menunggu waktu wisuda
Oktober ini, Sudirman fokus ke Tugas Akhir dan tidak pernah lagi ketemu di
kampus. Atul yang dulu sering curcol tentang pengalamannya bekerja di
perusahaan asuransi dan juga sering mentraktir saya di takol kini sudah
berseragam pejabat. Silakan bayangkan betapa merananya saya ini!
Sebetulnya saya tidak semerana itu kok *plin plan lu ah!*. Beneran! Saya
cukup beruntung dibandingkan teman-teman saya yang lain. Saya mendapat dosen
pembimbing yang sangat baik! Dosen mana yang mau menelopon mahasiswanya untuk
mengingatkan jadwal bimbingan? Dosen mana yang mau memburu mahasiswanya ke
facebook untuk mengingatkan deadline laporan? Dosen mana yang hanya membimbing
BAB Pengolahan Data saja dengan alasan BAB yang lainya hanya permainan kata dan
beliau percaya saya sudah andal dalam hal itu. Alamaaaaak! Betapa beruntungnya
saya ini. hanya saja terkadang saya terlalu memanjakan diri saya. Sudah
penyakit anak muda barangkali!
Beberapa hari sebelum pengumpulan laporan saya dibuat kalang kabut dan
galau luar biasa dengancost yang harus saya keluarkan untuk biaya print
out dan penjilidan. Semua orang sudah tahu kalau saya kuliah tanpa dana
dari orang tua *halah, emanganya lo seleb, gah?* Hahahaa. Beneran deh, saya
jungkir balik memikirkan hal ini. Harga print satu lembar di kota ini Rp 500;
kalikan 50 lembar, plus jilid hard cover 3 buah masing-masih Rp 25 ribu.
Hellllloooow? Saya gak bisa ngitungnya, dan pastinya itu sangat mahal buat
saya. Hahahahahaaa. Tapi kembali saya diberikan keajaiban olah Tuhan. Entahlah,
mungkin ini juga menjadi pelengkap keharuan saya.
Ceritanya begini; beberapa waktu yang lalu saya pernah update status di
facebook dengan keluhan saya dengan biaya yang harus saya keluarkan untuk
ngeprint *kuliah ini mahal, sodara-sodara!* Lalu, tanpa saya minta si Atul
meng-SMS saya, “Wooooy Ontaaa! Lu ngapain ngeprint di luar? ke rumah gue
aja! Tinta bekas ngeprint TA gue masih banyaaak.””Serius lo?”,
“Iyeee, lu puas-puasin deh tuh ngeprint, kertas tuh juga masih dua tumpuk!
Aduhaaaai! Silakan bayangkan bagaimana perasaan saya waktu itu! Bukan saya
memanfaatkan teman, tapi saat ini saya tidak mau menolak manfaat yang dia
berikan. Saya butuh pertolongan! Hahahahahaaa. Sore harinya saya datang ke
rumah Atul. Jujur sejujurnya saat itu di dalam kantol celana saya hanya ada 1
lembar uang seribu dan 1 lembar uang dua ribuan. Total Rp 3000! Jatah harian
saya sudah habis buat memprint beberapa (banyak) lembar sebelum Atul mengirimkan
kabar gembira kepada saya. Dan kalain tahu? Begitu selesai memprint, Atul
memaksa saya untuk makan kwetieau *haduh, saya tidak tahu spellnya seperti apa*
yang katanya enak banget. Alhamdulillah, saat itu saya juga sangat kelaparan
sebenarnya. Hahahaa. 
Itulah terakhir kalinya saya merasakan perasaan yang namanya terharu.
Akumulasi dari kebaikan-kebaikan yang saya panen dari orang lain, dari
teman-teman saya, dari orang-orang yang melihat diri saya sebagai temannya yang
tak luput dari salah dan dosa *kok jadi kayak lagu dangdut?* Ya, mereka melihat
saya, dan memperlakukan saya sebagai Setiawan Chogah yang mereka kenal. Sebagai
manusia yang sangat biasa. Tidak seperti teman-teman di facebook ini yang
kadang ‘latah’ sok kenal saya, lalu menilai dan mendefinisikan saya dari status
dan komentar-komentar saya. Saya cukup kaget dan marah dengan kejadian beberapa
minggu yang lalu. Ketika ada orang yang tidak suka atau karena apa memparodikan
nama keberuntungan saya dengan nama yang sangat bertolakbelakang dengan arti
kata yang dia parodikan. Beberapa kali saya bilang, saya ini bukan orang yang
sangat baik. Saya bukan malaikat. Saya bukan sosok yang sangat ideal. Saya
masih dalam pencarian jati diri saya. Saya masih berjalan di usia 23 tahun yang
secara emosi masih sangat jauh dari matang. Saya sama seperti anak muda pada
umumnya, saya juga bisa senang, kecewa, sedih, dan marah. Lalu ketika komen
saya yang lagi tidak mau diganggu, atau status saya yang satir dan kadang ada
pihak yang merasa saya sungging, kemudian mereka marah dan meng-remove saya
dari daftar pertemanan mereka. Hei, saya memang sering ceplas-ceplos, tapi saya
tidak pernah sampai meremove teman-teman saya kok, mereka yang meremove saya,
itu hak mereka. 
Terima kasih kepada mereka yang kenal saya seutuhnya. Yang mau berteman
dengan saya. Yang ikhlas mencintai dan menyayangi saya. Terima kasih atas
support dan doa kalian kepada saya. Tanpa kalian saya bukan apa-apa. Luph U
all.
Bhayangkara, 6 Juli 2012. 2:21 AM 

  

Printer dan netbuk atul yang saya sandera
Akhirnya lahir juga kau, Anakku!
Tanda jadi
Rekaman proses melahirkan

TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Aku Ingin Tua dan Mati di Kampung Kita Tahun-tahun usai dan datang kembali, dan aku kian tua di sini. Di dadaku, Mak, tumbuh subur sebatang pohon. Pohon berdaun lebat dan akar kokoh m...
April yang socwiiit Alhamdulillah... April yang socwiiit; tulisan dan cerpen gue nongol di 3 media papan atas *ouyeee? iyain aja siy!* negeri ini. Hahahaaaa. Sueneng...
Maaak, Buyung Masuk Koran Kalo baca judul postingan gue ini, mencerminkan kalo gue narsis banget ya? Hahaa, sabodo teuinglah! mao bilang gue narsis, monggo! mau bilang gue peme...
Perihal Menjaga Bakat Perihal Menjaga Bakat Ini adalah curhatan terjujur dari sekian ratus kali saya curhat ke kamu. Oke, saya tahu bagian ini tidak terlalu pent...
Kepada Za #1; Tentang Dia & Lelaki Penjual Sa... Kepada Za #1 Tentang Dia & Lelaki Penjual Sandal Serang, Desember tinggal 10 Za, lagi apa? Di sini masih kuyup. Kotaku diserbu huja...
Ciyus! Itu Beneran Wanda Hamidah? Ciyus! Itu Beneran Wanda Hamidah?  11 Februari 2013  Ini adalah minggu ketiga saya jadi jurnalis di Banten Muda. Sejauh ini s...
Nak, Jadilah Seperti Om Mushfi! Nak, Jadilah Seperti Om Mushfi! Tulisan di bawah ini hanya luapan sok tahu penulis, jadi jangan terlalu dihayati! Dear, Anak Ayah. Nak, ta...
Untuk Perempuan Mungil yang Kemaren Ulang Tahun Untuk Perempuan Mungil yang Kemaren Ulang Tahun Aku selalu dihadapkan pada sebuah kebingungan bila ada yang menanyaiku seperti ini; Siapakah yan...