+62 821-1040-9641 [email protected]
Terimakasih Estin
Hari ini saya lagi bete. Bete se-bete-bete-nya! Apa pasal? Banyak!
Pertama; saya lagi emphet banget sama layanan provider yang (katanya) nomor satu di negeri ini. Peket BIS saya lagi habis, dan lagi butuh banget sama BBM. Saya langsung registrasi, tapi apa yang terjadi? Failed! Arrrrg!!! Awalnya saya pikir pulsa saya tidak cukup untuk memperpanjang paket, tapi ternyata bukan itu penyebabnya. Saya coba menghubungi CS, penjelasannya malah bolak-balik dan semakin gaje (doski malah promo produk terbaru mereka). Saya benar-benar meradang, dengan sangat bernafsu, saya mencopot sim card yang sudah setia menemani saya semenjak mampu beli hape itu, dan berniat mematahkannya menjadi dua bagian. Tapi… saya tidak tega. Hahahaa. Akhirnya sim card itu saya simpan di dompet, barangkali provider sialan itu memang lagi ada gangguan *ouyeee?*
Saya langsung ke counter sebelah, beli kartu baru. Yeeee! Cross kembali jadi BB. Hahahaa.
Ke dua; saya baru saja pulang dari Depok. Yaaa, wiken kemarin saya putuskan untuk menemui teman-teman lama saya (alumni SMAN Agam Cendekia Angkatan II). Sudah lama sekali saya tidak merefresh kenangan bersama sahabat terbaik yang pernah diberikan Tuhan pada saya. Disamping haha hihi, ada keperluan juga dengan Ruddi (saudara saya yang sekarang jadi creative di Trans TV); saya sudah memutuskan untuk menjemput kembali impian lama saya. Jadi artis! Hahaha.
Sesampai di Serang, hujan menyambut kedatangan saya. Basah-basah, saya naik ojek dari KSB ke Bhayangkara. Brrr… Tapi apa yang saya temukan sungguh membuat mood saya yang sudah buruk, menjadi semakin buruk. Toko saya dalam keadaan terkunci, kemarin sebelum ke Depok, saya menitipkan toko ke adik laki-laki saya, si Apdel. Tapi ternyata doi buka setengah hari doang (hadeeeh, hilang berapa rupiah itu? *plak!!!* hahahaaa). Sebenarnya bukan masalah rupiah yang hilang itu yang membuat saya pengin berteriak kencang sambil mengabsen penghuni Ragunan satu per satu. Tapi ini masalahnya; kunci dibawa adik saya ke Cinanggung! Heih! Kenapa nggak dititipin saja di Teteh sebelah?
Saya langsung mengdial nomor doi, dan emosi saya semakin tidak bisa dicontrol ketika doi bilang pusing. Woooiiii! Pusingan gue kaliii (ini skripsi kampret nggak running juga! optimis, wisuda ditunda 6 bulan lagi. Bodo amat!). Saya menunggu ojek, tapi nggak ada yang lewat. Sial! Bhayangkara-Cinanggung itu jauh banget, apalagi hujan-hujan begini, makin males, apalagi emosi saya lagi tidak ‘ganteng’, makin males lagi!
Saya ngomel-ngomel dalam hati. Sekitar 15 menit menanti, akhirnya ada juga tukang ojek yang sudi mengangkut badan capek saya untuk menjemput kunci. Sesampai di Cinanggung, saya pasang tampang kusut. Ambil kunci dan langsung balik kanan maju jalan. Ahaydeuh! Saya manja sekali ya? Hahaha…. *bodooo! namanya juga lagi marah*
Saya menyeret langkah tergesa-gesamenuju pangkalan ojek di perempatan Ciceri. Tanpa banyak bicara dan stay in cool, saya menaiki tukang ojek yang menghampiri saya, eh maksud saya menaiki motornya! Hahahaa.
Saya masih diam, dan menjadi hobi sekali berdiam. Tiba-tiba si Mamang ngajak saya ngobrol. Tepatnya si Mamangnya yang ngomong, saya diem aja.
“Aduuuh, Deek. Untung ada Adek. Dari tadi Mamang baru narik dua penumpang. Sepi!”
Saya makin diam. Tiba-tiba dada saya terasa hangat, seperti ada aliran yang listrik yang menjalar di sana. Saya tersentak! Lalu berusaha bersenyum. Ya Tuhaaan, ampuni saya. Saya hanya menanggapi obrolan si Mamang seperlunya, saya benar-benar merasa berdosa. Mengapa saya begitu angkuh dan bangga dengan kemarahan saya tadi? Haduuuh! Saya ini payah. Saya lupa kalau Tuhan begitu anggun membagi rezeki hamba-Nya. Seperti yang hari ini saya alami. Tuhan mengirimkan saya ke Cinangggung, gara-gara si Apdel lupa menitipkan kunci toko ke tetangga sebelah. Tadinya saya berpikir ini adalah kesalahan si Apdel! Tapi… Ah, ini sungguh cara yang anggun dari Tuhan. Ternyata di perempatan Ciceri, ada seorang tukang ojek yang lagi menunggu sedikit rezekinya dari saya. *merem-nggak bisa ngomong apa-apa lagi*
Akhirnya saya bisa juga masuk ke toko. Saya mengempaskan bokong tipis saya di kursi. Menyalakan laptop. Apalagi yang akan dilakukan seorang jomblo ketika sudah berhadapan dengan laptop dan siap connect ke internet, selain berselancar di dunia maya, mengecek Facebook, Twitter, E-Mail, dan komen Blog? Hahahaa.
Seharian nggak buka Efbe, notif saya melimpah, juga ada beberapa inbox. Saya check satu-satu. Bah! Saya terpaku pada sebuah inbox yang sangat panjang. Saya lihat pengirimnya, kami belum berteman. Kok bisa? Saya baca pelan-pelan isi pesannya. Saya menyulam senyum. Sisa-sisa capek, amarah, bete, dan emphet langsung lumer seperti coklat yang yang selalu tanpa sengaja saya letakkan di mesin laminator. Hahahaa.
Saya terpaku. Terdiam cukup lama. Ini inbox ke dua yang bernada sama, yang membuat saya terenyuh beberapa hari ini.

Hmm, terimakasih. Terimakasih sekali, buat kalian yang mau membaca tulisan saya, lalu menyukainnya. Sungguh, ini adalah bonus yang tidak pernah saya pikirkan ketika saya menulis. Bonus ini lebih mahal dari honorr cerpen-cerpen yang kalian baca. Swear! Saya terharu sekaliiiiiii! Hahahaa.
Oke, oke, oke, saya telah berjanji akan menekan kadar narsis saya di dumay. Untuk sahabat-sahabat saya, yang mencintai saya; saya akan terus menulis untuk kalian. Ya… saya tidak akan berhenti, kok. Hanya saja, saat ini ada hal yang lebih urgent, yang lebih prioritas buat saya. Kalau dulu menulis untuk honor; beli pulsa ponsel, pulsa modem, juga traktir teman-teman saya, makanya saya begitu getol untuk menulis minimal satu cerpen dalam satu hari. Ouuuuh, kalian tahu? Satu cerpen yang lahir itu belum tentu dimuat? Dan kalaupun dimuat, honornya baru cair satu bulan, bahkan sampai tiga bulan sesudahnya. Capek kan? Hahahaaaa. Yaa… sangat capek, tapi saya butuh, makanya saya tidak mengeluh saat itu.
Dan saat ini, Alhamdulillah, Tuhan memberi saya kesibukan, juga rezeki dengan cara lain. Sebagai cara bersyukur, saya harus totalitas di sana. Jadi… menulis cerpen mungkin bukanlah yang utama lagi, hanya sebagai terapi jiwa saja saat-saat saya butuh untuk menumpahkan kegelisahan dan kegalauan saya lewat tulisan. Ah, saya sudah seperti orang hebat saja, ya? Hahaha… Ya… mau bagaimana lagi? Saya harus melakukan ini. Mimpi saya harus segera saya ambil selagi masih diberi kesempatan untuk merangkulnya. Ya, kan? Anyway! Terimakasih banget nget nget nget buat kalian yang suka tulisan saya. Terimakasih yaa Estin. #BigHug.
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Guru Saya itu Bernama Imam Baihaqi Serang, 23 September 2014 Barangkali inilah yang disebut relativitas oleh Einstein. Saya mencatat, persis 8 bulan yang lalu saya datang dan melamar...
Perihal Menjaga Bakat Perihal Menjaga Bakat Ini adalah curhatan terjujur dari sekian ratus kali saya curhat ke kamu. Oke, saya tahu bagian ini tidak terlalu pent...
Taksi Goyang VS Taksi Songong Dudul Note  episode Taksi Goyang VS Taksi Songong Gue punya banyak cerita duka dan suka (atau suka duka? sama aja!) tentang taksi. Dan du...
Sabtu Pagi di Bhayangkara Sabtu Pagi di Bhayangkara Beberapa minggu ini saya menjadi 'mandul' dalam menulis. Tidak tahu kenapa, saya menjadi larut dan terkurung di fase...
KUTUKAN KANCUT MUSPI  Jumat, 08 April 2011Gue mungkin salah satu mahasiswa paling oon yang pernah dimiliki Untirta, hahaa; sumpah! Kejadian tadi pagi bener-bener gak ...
Nak, Jadilah Seperti Om Mushfi! Nak, Jadilah Seperti Om Mushfi! Tulisan di bawah ini hanya luapan sok tahu penulis, jadi jangan terlalu dihayati! Dear, Anak Ayah. Nak, ta...
Nama Saya Setiawan Chogah Nama Saya Setiawan Chogah Saya Pengin Jadi Artis Nama saya Setiawan Chogah. Sebenarnya itu bukan nama asli pemberian kedua orangtua saya. Tapi...
Sakit Dahulu, Senang Kemudian Sakit Dahulu, Senang Kemudian Perasaan udah lama banget gue gak update Blog keren ini *setidaknya kata gue, :D. Oke, dari pada Facebook-an ga...