+62 821-1040-9641 [email protected]
Tips Agar Tokoh Cerpenmu ‘Kuat’ dan ‘Hidup’
*Oleh Setiawan Chogah-Dimuat di Annida-Online, 15 Mei 2011  (postingan dengan teks asli)
            Yuhuu Sobat Nida, bagaimana dengan aktivitas menulis kalian? Masih semangatkah? Oya, sebelum kita membahas judul di atas, saya punya oleh-oleh buat sobat Nida sekalian. Beberapa hari yang lalu saya bermain ke lapaknya Mas Fahri Asiza. Tau kan siapa dia? Omigoot, jangan bilang gak tau ya Sobat! Ada quotes dahsyat yang cukup menjadi bahan pemikiran bagi saya, Mas Fahri bilang begini “Dalam setiap menulis, saya tidak punya pretensi apa-apa. Saya juga tidak ingin terkesan pintar, saya juga tidak mau menggurui. Yang saya berikan, saya hanya ingin menghibur dengan memberikan sedikit pencerahan (andaikata memang itu bisa masuk dan diterima). Hal lain, terkadang saya tidak pernah memikirkan tokoh-tokoh saya. Semuanya tercipta begitu saja.”      
            Oke, silahkan dihayati dan semoga menginspirasi. Well, Sobat Nida yang selalu ceria, hehee. Ngomongin soal tokoh, saya termasuk penulis pemula yang sulit untuk menciptakan karakter tokoh yang kuat dan hidup. Dalam beberapa cerpen yang saya tulis (Kayak cerpen saya udah banyak aja ya? Hehee) selalu mendapatkan kritikan dari pembaca, awalnya memang membuat kuping panas, tapi kemudian saya berfikir, cerpen saya dikritik bearti mereka membaca dan memperhatikan tulisan saya, bukankah itu sebuah anugerah? Hehee.
            Lalu saya mencari cara bagaimana menguatkan tokoh yang saya ciptakan dalam cerpen-cerpen selanjutnya. Beberapa siasat pernah saya lakukan, dan Alhamdulillah cukup mampuni, berikut saya coba share sama Sobat sekalian:
  • ·         Gunakan Nama Orang-Orang yang Kita Kenal
Dalam cerpen saya Ibuku Sahabatku (Dimuat Annida April 2010) saya menggunakan nama Ridho. Ridho sendiri adalah nama sahabat saya waktu SMA (dan Alhamdulillah sampai sekarang kita masih bersahabat.) Di cerpen itu saya gambarkan bagaimana Ridho sehari-sehari bersikap. Bagaimana cara dia berbicara, saya seperti menulis buku diary, saya menceritakan tokoh Ridho apa adanya, sehingga tidak ada kesan ‘pemaksaan karakter’, semuanya terasa menjadi begitu natural. Jurus ini mungkin juga bisa Sobat gunakan dalam menulis cerpen. Masukkan saja karakter teman-teman Sobat ke dalamnya, gambarkan seperti apa adanya si tokoh itu dalam dunia nyata. Itu akan sangat terasa feelnya saat Sobat membaca ulang tulisan Sobat.
  • ·         Dirikan Bank Nama
Tidak mampu mendirikan Bank yang berisikan uang? Ya sudah, kita dirikan saja bank nama. Cara ini saya dapatkan saat mengikuti sebuah pelatihan menulis bersama mbak Reni Erina (Managing Editor Majalah Story) di Kebun Raya Bogor bulan lalu. Ternyata saya cukup berhasil. Prosesnya seperti ini; Sobat tentu hapal nama-nama orang yang ada di sekitar Sobat, baik itu di lingkungan kompleks, di sekolah, di kampus, atau di kantor. Nah, dari sekian banyak orang-orang tersebut, cobalah membuat list nama mereka dalam sebuah catatan (sebaiknya dalam note khusus, biar tidak gampang hilang/ rusak). Di bawah namanya tulislah karakter orang yang punya nama tersebut. Misalnya; Dedi = Cowok, 22 Tahun, Kurus, Humoris, Kocak, Suka Traktir, Banyak Temennya, dan Lumayan Ganteng *hihihi. Ardan = Cowok, tinggal di komplek sebelah, orangnya begeng, galak, ngerokok, suka nongkrong di pos ronda, suka ngajakin nyolong mangga, dsb. Dari contoh di atas, kita sudah punya dua tokoh dengan karakter yang berbeda. Gampang kan? Ketika Sobat membutuhkan tokoh yang antagonis, maka Sobat tinggal buka Bank Naskah dari cari nama yang mempunyai karakter antagonis, dst.
  • ·         Wawancara Tokoh
Cerpen ‘Bukan Sultanurbaya’ (Annida, November 2010), saya membuat beberapa dialog antara tokoh aku dengan ibunya. Sebenarnya dialog itu benar-benar terjadi antara saya dan Amak di kampung. Lalu saya adopsi dalam cerpen BS. Ketika saya membaca ulang naskah tersebut, saya merasakan karakter tokoh aku dan si ibu begitu kuat dan seakan ‘hidup’ (Hal ini pun dibenarkan beberapa sahabat saya yang membaca BS). Jadi, ketika Sobat ingin meng-‘hidupkan’ sebuah tokoh, cobahlah dengan memanfaatkan teknik dialog. Wawancaralah tokoh si A (yang ada di bank naskah), ingat kalimat yang diucapkannya dan perhatikan bagaimana dia mengucapkannya, lalu tuangkan dalam tulisan Sobat. InsyaAllah ketika dibaca akan ada kesan hidup dan emosianal yang lebih terbangun dalam dialog tersebut. Sebab dialog tersebut pernah ada dan nyata, tidak kita buat-buat.
Nah, gimana Sobat? Ayo segera tulis cerpenmu dengan mencoba tips asli pengalaman pribadi yang pernah saya lakukan lalu kirim ke Annida. Semoga bermanfaat ya. ^^

TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Tips Memikat Hati Redaksi Oleh: Setiawan ChogahSobat, apa yang kalian rasakan ketika cerpen kalian dimuat oleh sebuah media, entah itu majalah, tabloid, koran, maupun media onl...
Ikutan Ajang Audisi Naskah Unyu AJANG Unyu, paliiiing UNYU Yang merasa masih unyu se-unyu-unyunya (meskipun udah momong 3 anak, yang penting masih ngerasa unyu), silakan ...
PROMOSI BLOG PROMOSI BLOG Sumber: Gugel.com Sumber pengunjung blog kita bisa dari direktori web, mesin pencari, tautan / link dari website lain dan kunjungan...
MAU JADI PENULIS? Gambar dari mbah Gugel Bagi kamu para teenager entah cowok apa cewek, daripada nganggur gak jelas, mendingan ikuti aja cara-cara jitu yang otomatis...
Stop Berteriak yang Tidak Penting! Stop Berteriak yang Tidak Penting! (Sabili No 9/ XIX, 2012) Saya percaya Sobat telah membaca artikel saya di Teropong eLKa No. 5 TH. XIX 8 D...
Expired Certificate *Gedeg!!! Expired Certificate #Gedeg!!! Gue lagi gedeg banget gara-gara hape gue gak bisa diisntal beberapa aplikasi yang menurut gue Keren Abees. Weke...
Membuat Ending yang Menarik Sobat, merasa sering bingung ketika menulis pada saat di akhir cerita agar ending dari cerita yang kita buat menjadi lebih menarik dan greget? Nah s...
Gak Gaul Kalo Gak Galau Gak Gaul Kalo Gak Galau Guys, beberapa minggu terakhir ini gue itu kok bangga banget ya dengan kegalauan gue? Ya yaa, gak tau kenapa, begitu ga...