+62 821-1040-9641 [email protected]
Wasiat Uni Tila

Bojonegara,
10 Oktober 2013
Hari ini saya bertemu lagi dengan
satu guru kehidupan. Tila namanya. Saya menanggilnya Uni—karena kami sama-sama urang awak—orang Padang. Tadinya saya
banyak diam dan khusuk dengan pekerjaan yang harus saya selesaikan. Tapi
kekhusukan saya diusik oleh logat Uni Tila yang tidak asing di telinga saya.
“Mbak Tila orang Padang?” saya beranikan bertanya. Perempuan berjilbab dan
berhelm itu menoleh, memperhatikan saya sejenak. “Iya, saya orang Padang.
Kenapa? Kamu juga?” jawabnya, sekaligus bertanya. “Ondeeeh, urang awak kironyo ….” 

Lalu banyak cerita mengalir dari
mulut masing-masing. Uni menceritakan kisah muramnya tentang kuliah, Tugas
Akhir, hingga kisah-kisah merantau dan sejarah pekerjaannya di banyak bidang;
karyawan fotokopi, bekerja di kantor Pos, kasir di supermarket, sampai
dipercaya menjadi subcon control oleh
sebuah perusahaan fabrikasi di Kota Baja ini—yang akhirnya saya dan Uni Tila
bisa saling kenal. “Uni memulainya dari nol, Wan,” ujarnya.
“Kalau Uni memulai dari nol, bearti
saya dari minus, Ni.”
***
Bojonegara,
19 Oktober 2013
Saya angkat topi sama kegigihan Uni
Tila. Ini hari Sabtu, dan perusahaan tempat beliau mengabdi meliburkan semua
karyawannya. Tapi tidak bagi Uni. Usai dhuha, Uni  muncul tanpa balutan seragam biru mudanya.
Beliau berpakaian biasa. Pakaian sehari-hari. Uni tak sendiri, turut bersama
beliau seorang perempuan sepantaran Uni. Barangkali temannya, saya berpikir.
Baa,
Wan
? Lai betah jo karajo nan kini?”
tanya Uni tentang pekerjaan saya. Saya menarik napas dalam-dalam, membiarkan
rongga dada saya terisi penuh, lalu mengembuskannya perlahan. “Barek, Ni. Kasadonyo sagalo baru.”
Uni Tila tersenyum, lalu beliau
berwasiat. “Wan, ado ciek pasan Uni nan
harus Iwan ingek, yo. Iwan tau ndak, urang awak tu buliehnyo hanyo tigo hari
andie di rantau urang nyo, Wan. Hari kaampek icak-icak cadiak, hari kalimo agak
mulai cadiak saketek, hari kaanam cadiak sabananyo, hari katujuah urang lain
pulo nan nyo cadiakan lai. Itu karakter urang awak. Gigiah
!”
Saya tersenyum. Tepatnya memaksa
diri untuk tersenyum. Kecut. Ini adalah hari ketigapuluh dua saya di sini.
Lalu?
Iwan
ndak paralu mamikiakan bana. Jalani sajo nan paralu. Tigo modal nan paralu kito
bao kama-kama. Nan partamo jujur, nan kaduo bertanggung jawab, nan katigo loyal
jo ka urang lain, dalam hal iko perusahaan atau induak samang bahaso awak. Kalau
katigo modal iko ado, kama se kito pai, Wan, pasti tapakai
!” Uni
mempertegas wasiatnya.
Hah! Ada sesuatu yang membah di dada
saya. Ada sesuatu yang lepas dalam kurungan di jiwa saya. Serupa perasaan anak
esde yang pertanyaannya dijawab dengan sangat baik oleh guru kesayangannya.
Serupa sitawa dan sidingin.
 
TINGGALKAN KOMENTAR

TULISAN TERKAIT:

Mak … Aku Segera Pulang 1:20 AM.Aku rasa malam mulai keriput pada kombinasi angka yang tertera di pojok kanan komputer basecamp. Sementara mata masih benderang menera...
Alam Takambang Jadi Guru Alam Takambang Jadi Guru Kamis, 24 Januari 2013 Hari ini adalah hari bersejarah bagi saya. Hari di mana saya memasuki babak baru dalam pe...
Kepada Za #1; Tentang Dia & Lelaki Penjual Sa... Kepada Za #1 Tentang Dia & Lelaki Penjual Sandal Serang, Desember tinggal 10 Za, lagi apa? Di sini masih kuyup. Kotaku diserbu huja...
Rumah Dunia! (Ini ceritaku, apa ceritamu?)         Ikuti Kompetisi Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2011. Klik di SINI Rumah Dunia!  (Ini ceritaku, apa c...
Sabtu Pagi di Bhayangkara Sabtu Pagi di Bhayangkara Beberapa minggu ini saya menjadi 'mandul' dalam menulis. Tidak tahu kenapa, saya menjadi larut dan terkurung di fase...
Nak, Jadilah Seperti Om Mushfi! Nak, Jadilah Seperti Om Mushfi! Tulisan di bawah ini hanya luapan sok tahu penulis, jadi jangan terlalu dihayati! Dear, Anak Ayah. Nak, ta...
Pelangi Sehabis Hujan Selalu Lebih Indah Pelangi Sehabis Hujan Selalu Lebih Indah 18 Maret 2013 Badan kurus saya masih terasa pegal, sepulang ‘ngobrol’ cukup lama dengan Ge Pamungk...
April yang socwiiit Alhamdulillah... April yang socwiiit; tulisan dan cerpen gue nongol di 3 media papan atas *ouyeee? iyain aja siy!* negeri ini. Hahahaaaa. Sueneng...